Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Penulis: Pralampita Lembahmata

Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Tebal: x + 520

ISBN: 978-979-22-6730-3

bonsai

Salah satu cara untuk menuangkan pengalaman hidup seseorang/keluarga, selain melalui cara biografi adalah dengan menjadikan kisahnya menjadi novel. Ada beberapa keuntungan menggunakan novel sebagai sarana untuk mengisahkan hikayat seseorang/keluarga. Novel lebih memberi ruang bagi penulis untuk berimprovisasi, mendramatisir kejadian dan memberi tema pada kisah seseorang/keluarga yang diceritakan. Penulis ‘boleh’ menambal bagian-bagian yang kosong yang biasanya ditemukan dalam menulis biografi seseorang/keluarga. Novel juga membebaskan penulisnya dari detail kesejarahan kisah yang dituangkannya. Penulis tak perlu khawatir tentang keakuratan kejadian, tempat, waktu dan hubungan satu dengan lainnya.

Pralampita Lembahmata memilih novel sebagai sarana untuk menuangkan hikayat hidup sebuah keluarga Cina Benteng. Kisah tersebut adalah kisah tentang keluarga Bunarman dalam lima generasi. Sebuah kisah keluarga Cina Benteng dalam rentang 100 tahun. Hikayat keluarga yang hancur lebur karena letusan gunung Krakatau dan berhasil bangkit kembali diantara ombak besar perubahan jaman di Indonesia. Hantaman ombak kehidupan menerpa keluarga ini. Namun kegigihan dan perjuangan membuat keluarga ini mampu bangkit kembali dari segala keterpurukan tersebut.

Kisah lima generasi ini diikat melalui kisah sebuah bonsai cemara (Hinoki cypress). Bunarman ingin membuat sebuah monumen keluarga yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Bunarman memilih bonsai cemara. Hikayat keluarga selama 100 tahun diurai secara paralel dengan nasib bonsai tersebut. Pemilihan bonsai sebagai pengikat kisah ini sungguh sangat menarik. Bonsai itu kecil, indah, dan perlu perawatan yang tiada henti. Cina Peranakan mirip dengan bonsai, mereka kecil, indah, hidupnya penuh dengan lekukan dan pesona dan memerlukan usaha yang terus-menerus supaya bisa tetap hidup dan memancarkan keindahannya. ‘Penyiksaan’ melalui pemangkasan cabang dan akar sering harus diterima oleh bonsai supaya keindahannya tetap terjaga. Bukankan Cina Peranakan juga sering mengalami ‘pemangkasan seperti bonsai?

Ada nilai-nilai kehidupan yang disampaikan oleh Pralampita dalam novel ini. Nilai tersebut adalah mengejar pendidikan, hemat, kerja keras, kesetiaan dan persahabatan. Nilai-nilai ini sepertinya melekat pada para Cina Peranakan. Nilai-nilai inilah yang selama ini membuat Cina Peranakan berhasil survive dalam segala guncangan yang menerpa mereka. Secara cantik Pralampita mengemas rangkaian kisah-kisah yang menunjukkan dengan tajam penerapan nilai-nilai tersebut melalui tokoh-tokohnya. Pralampita secara halus memasukkan ajaran-ajaran Tao dan Konghucu yang merupakan akar dari nilai-nilai yang dijlentrehkannya. Tidak ada khotbah atau pemaparan yang berlebihan dari ajaran-ajaran tersebut karena Pralampita mengemasnya dalam bentuk dialog atau perenungan. Dalam hal ini Pralampita sangat berhasil.

Pralampita juga menyampaikan bahwa Cina Benteng adalah Cina Peranakan yang sudah tercampur secara darah dan budaya dengan suku-suku setempat. Bahkan secara khusus Pralampita memuat dalam novelnya pernikahan antara Si Bunga Peony dengan seorang suku Jawa mantan laskar Mataram yang taat menjalankan ibadah Islam. Dari pernikahan inilah Bunarman lahir.

Kehadiran tokoh-tokoh lain di sekitar tokoh utama sangat membantu mengalirnya hikayat keluarga ini. Saya tidak yakin bahwa semua tokoh-tokoh di luar tokoh utama tersebut adalah nyata. Maksud saya, belum tentu tokoh-tokoh tersebut memang menyejarah. Seandainyapun mereka adalah tokoh yang nyata, belum tentu kisah hidupnya persis seperti yang tertuang dalam novel ini. Namun kehadiran mereka dan kisah mereka menjadi pelengkap yang indah dalam novel ini. Inilah kemewahan yang didapat oleh Pralampita karena dia memilih menggunakan novel sebagai sarana. Pralampita bisa ‘memanipulasi’ kisah hidup tokoh-tokoh pembantu untuk memperkuat alur cerita.

Kalau ada hal yang kurang dari novel ini adalah penggambaran geografis tempat dimana kisah ini terjadi. Seandainya Kali Cisadane, pasar-pasar, ruangan-ruangan dan perniknya di rumah-rumah yang dipakai oleh para tokohnya digambarkan dengan lebih detail, maka kita akan mendapatkan kesan yang lebih mendalam tentang kehidupan Cina Benteng dari sejak 100 tahun yang lalu.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

27 Comments to "Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng"

  1. Handoko Widagdo  27 August, 2013 at 08:12

    Mas Iwan, jika kejadian dalam novel ini bukan kejadian yang sesungguhnya, saya kecewa dengan penulis yang membunuh suami Jawa dalam novel ini.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 August, 2013 at 07:05

    Orang Indonesia senang memang dengan kisah-kisah tragis. Beda dengan HC Andersen.

  3. Handoko Widagdo  27 August, 2013 at 06:43

    Dalam novel ini, si lelaki Jawa harus mati karena letusan Krakatau. Itulah yang saya anggap Krakatau memisahkan perjodohan Jawa-Cina. Seakan penulisnya mau melestarikan pandangan bahwa perjodohan Jawa-Cina itu tidak baik.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 August, 2013 at 06:37

    Oh….Krakatau itu menyatukan. Bukan memisahkan..

  5. Handoko Widagdo  27 August, 2013 at 06:31

    Sayangnya Krakatau dijadikan sarana pemisahan jejodohan Jawa-Cina.

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  26 August, 2013 at 22:04

    Oh Krakatau….. Kau segalanya…

  7. Handoko Widagdo  23 August, 2013 at 16:07

    Linda, tolong buku ini dibaca setelah selesai membaca buku Hikayat Cina Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.