[Serial de Passer] Awan-awan di Belahan Bumi Utara

Dian Nugraheni

 

Bila jalan memang sudah dibukakan, semua tak akan terasa mustahil, itulah yang terjadi pada Astari. Di usianya yang ke 30, Astari sudah 3 tahun menjalani kariernya sebagai tangan kanan manajer operasional di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang jasa.

Tak hanya itu, Astari pun telah merebut hati keluarga dari pemilik PT. Antar Lintas, begitu nama perusahaan tersebut. Ya, suatu hubungan kerja yang lucu, tapi Astari merasa tidak rugi untuk menjalaninya. Kenapa lucu..?

Karena, sang Ibu dari Pak Budi, pemilik perusahaan itu, sangat suka didampingi oleh Astari kemana pun dia pergi.Bu Minto, begitu nama Ibunda dari Pak Budi, sudah sepuh, tua, cukup thuyuk-thuyuk, tapi masih suka jalan ke mal, duduk-duduk di sebuah kafe di Plaza terkenal di Jakarta, katanya, “aku pengen liat Yuni Shara, katanya dia suka kongkow di sini..”

Begitulah..sering kali Bu Minto minta ditemani berlama-lama duduk, minum kopi , sampai suatu hari, keinginannya terpenuhi, Yuni Shara dan dua orang teman wanitanya, datang dan duduk bersantai-santai di kafe itu. “Ohh, ternyata Yuni Shara kecil bener..” hanya itu komentar Bu Minto, kemudian mengajak pulang, dan lain waktu, tak lagi mengajak duduk minum kopi di kafe di mana dia sudah melihat Yuni Shara..ha..ha.., lucu..

Dan, ketika keluarga besar Pak Budi, menghadiri wisuda salah satu anaknya yang study di Amerika Serikat, Astari pun diajak, tugasnya, mendampingi bu Minto. Sebelum berangkat, tak lupa Astari menghubungi beberapa teman yang tinggal di Amerika, tepatnya di Washington, DC. Wahyuning yang menikah dengan warga negara Amerika, dan Gunarto, yang konon kabarnya, datang dengan visa turis, kemudian menjadi pendatang gelap di negeri itu, menetap, dan bekerja mencari nafkah di sana.

Sampai di Washington, DC, setelah semua acara keluarga Pak Budi selesai, Astari diberi waktu satu hari satu malam untuk bertemu kawan-kawannya itu. Omong punya omong, Wahyuning dan Gunarto membujuk-bujuk Astari untuk tidak ikut pulang ke Indonesia, “di sini aja, meski kamu cuma pakai visa turis, cukup amanlah.., tetep aja bisa kerja cari duit, asal kita nggak bikin masalah, nggak kriminal, nggak akan ada sweeping. Ada pun, sangat kecil kemungkinannya…” bujuk Wahyuning dan Gunarto.

Seribu kalimat bujukan dilontarkan oleh kedua temannya itu. Reaksi Astari, dari yang semula kaget, mementahkan, tapi akhirnya, terasa ajaib, karena Astari pun terbawa keinginan untuk tidak pulang lagi ke Indonesia..

Ya, buat apa pulang, tak ada lagi Embah Lukito. Kakek Neneknya sudah meninggal. Dan, benar kata Yu Rumi.., Ibunya pulang ketika Astari kelas satu SMA. Tapi, menjelang wisuda kelulusannya dari sebuah Perguruan Tinggi, Ibunya meninggal. Hanya 3 bibi dan 2 paman, yang masih ada di kota asalnya.

Pak Budi terkejut ketika mendengar permintaan Astari, “Pak, boleh ya saya nggak ikut pulang..?”

“Nggak ikut pulang gimana..?” kata Pak Budi agak nyolot.

“Saya mau tinggal di sini sama teman saya…”

“Astari, kamu itu karyawanku, aku membawamu ke sini untuk mendampingi Ibu, Bu Minto. Waktunya pulang, kamu pun harus mendampinginya sampai di Indonesia. Lagian, kamu ini anak perempuan, sendiri di negeri orang..ini hidupmu..apa kamu sudah pikirkan masak-masak..?”

Astari bertahan dengan pendapatnya, bahwa Wahyuning dan Gunarto akan mendampinginya selama Astari belum mandiri di Amerika. Akhirnya, Pak Budi pun menyerah, keluarga itu pulang tanpa Astari, bahkan Pak Budi dengan inisiatif sendiri, meminjamkan uang sebesar $5.000 untuk pegangan Astari di awal hidupnya di Amerika, “Kau boleh kembalikan kapan saja, ketika kamu punya uang, dan nggak usah cash…” Sedangkan Bu Minto, misuh-misuh alias ngomel-ngomel.., kehilangan asisten buat jalan-jalan…

*******************

Benar kata Wahyuning dan Gunarto, perjalanan hidup Astari di negeri rantau itu, terasa baik-baik saja. Gunarto membantu Astari mencari kerja, dan mengawali kariernya di sebuah restoran Asia, Astari bekerja sebagai pencuci piring…

Tak ada yang dikeluhkan Astari, selain hati yang tarik ulur, antara ingin mengarungi hidup di negeri orang, dan perasaan rindu pulang ke kampungnya, kepada keluarganya yang hanya tinggal Paman, Bibi, dan sepupu-sepupunya, kepada sawah dan pasar tempatnya bermain ketika kecil, kepada kawan-kawannya di PT.Antar Lintas…

Tapi ketika dua minggu selanjutnya dia menerima upah pertamanya.., Astari merasa takjub, menghitung-hitung nilai uang yang diterimanya di negeri bule ini, jika dibandingkan dengan gaji sebulan yang dia terima ketika di Indonesia.

Ya.., begitulah akhirnya, waktu berjalan, dollar menjadi daya tarik yang luar biasa, pekerjaannya pun sudah bukan mencuci piring lagi, ketika Christy, sang pemilik restoran ngobrol dengan Astari, dan tahu bahwa Astari punya keahlian memasak, hampir semua makanan terkenal Indonesia, bisa Astari buat dengan memuaskan, maka, Astari pun naik pangkat, jadi juru masak di resto itu. Capeknya sama saja dengan cuci piring, tapi upah per jamnya tentu mengalami penambahan.

Dan Astari pun rajin bergaul dengan orang-orang Indonesia di Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat, kadang bila waktu luang, Astari ikut latihan menari daerah Indonesia, atau ikut nembang Jawa dengan warga negara Indonesia lainnya yang tinggal di seputaran Washington,DC.

****************************

Tak terasa waktu berjalan, Astari sudah 7 tahun berada di Washington, DC untuk mengadu nasib. Selain dollar, tentu saja, banyak hal lain ditemuinya di sana. Perbedaan budaya, bahasa, dan bangsa, dan lain-lain membuat Astari tertantang untuk terus mempelajari hidup dari “jalanan”.., lewat pengalaman hidupnya sehari-hari. Kadang, Astari menganggap, hal-hal kecil, atau pun yang lebih besar yang terjadi padanya, adalah sebuah keajaiban, yang tak pernah terpikirkan oleh Astari.

Hingga, suatu keajaiban lain terjadi, Astari bertemu Suryo, anak Yu Rumi, dalam ajang sakti berjuluk FaceBook.., setelah pertemuan nyata yang terakhir dengan Suryo, mungkin sembilan atau sepuluh tahun lalu, ketika Astari menghadiri pernikahan Suryo dengan Sisi, gadis pintar, manis, kaya raya, dan datang dari keluarga bangsawan. Itulah kriteria yang memang Suryo inginkan, nyaris sempurna. Setelah pernikahan mereka, Astari dan Suryo, anehnya, tak pernah saling berkabar maupun bertemu, seperti hilang ditelan kehidupannya masing-masing.

Astari ingat, waktu itu Yu Rumi berkecil hati, “Kenapa Suryo milih gadis kaya raya, ningrat lagi.., aku takut, suatu hari kalau ada masalah dalam rumah tangganya, Suryo malah diinjak-injak oleh Istri dan keluarganya..”

“Lah, ya nggak gitu Yu Rumi.., Sisi kan juga gadis yang berpendidikan tinggi, aku rasa pola pikirnya nggak akan seperti itu..” kata Astari.

“Yahh, mugo-mogo wae, Nduk..semuanya akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kalau aku, aku lebih suka kamu yang jadi istri Suryo, kowe ki wes koyo anakku dewe, tak kan ada masalah yang nggak bisa diselesaikan kalau dasarnya kasih sayang..” begitu kata Yu Rumi sambil menggenggam tangan Astari yang sedang meronce melati untuk penghias kamar pengantin Suryo dan Sisi. Astari terdiam, sedikit melamun, membayangkan, andaikan dia sedang meronce bunga untuk perkawinannya sendiri, dengan Suryo. Kalaupun sedari dulu kala Astari merasa “aman’ di dekat Suryo, tapi Astari tak sempat menterjemahkannya sebagai cinta laki-laki dan perempuan. Dan dia segera menguasai dirinya sendiri, “Suryo kan nggak pernah pacaran sama aku, Yu Rumi..” protes Astari.

“Ha..ha..ha.., ra sah pacaran, wong kalian sudah bergaul dari kecil, sudah sama-sama tau watak masing-masing..” Yu Rumi masih ngeyel dengan angan-angannya.
*************************

“Aku akan ke Amerika untuk suatu urusan, aku ingin ketemu kamu, ada titipan dari Ibu” begitu berita yang dikirim Suryo melalui inbox di FaceBook Astari.

Demikianlah, Suryo sudah memastikan kapan akan datang, bagaimana dan di mana Suryo akan menemui Astari. Rasanya sibuk amat.., sedangkan Astari, kalaupun merasa senang, karena akan bertemu kawan masa kecilnya dulu, yang sudah sekian lama tak bertemu, selebihnya, biasa-biasa saja. Ya.., perjalanan hidupnya selama ini sudah mengajarkan padanya, untuk bersikap biasa-biasa saja dalam menghadapi banyak hal. Tak terlalu berharap, tak juga menolak, tak terlalu sedih, tak terlalu gembira.., dan seterusnya….

***************************

Sungai Potomac, sungai lebar bagaikan danau kecil di kota Washington,DC, tepatnya di seberang kota tua Gergetown, rame dikunjungi orang ketika musim Salju mulai menghilang, dan musim semi mulai hadir. Orang-orang ini duduk-duduk menikmati matahari yang baru menghangat, bersama teman atau keluarganya, mengajak jalan-jalan anjingnya, atau minum-minum kopi di restoran sepanjang tepi sungai Potomac. Suhu masih sekitar 5 derajat Celcius, meski matahari menyala terang, tapi panasnya tak sanggup mengalahkan hawa dingin yang masih mengkristal. Di situlah, Suryo dan Astari berjanji untuk ketemu.

Mantel tipis panjang, sweater, syal batik, sepatu boot dari kulit balik, dan sarung tangan masih dikenakan Astari untuk menghalau dingin ketika dia menemui Suryo di sebuah kedai minum di tepian sungai Potomac. Suryo ditemani seorang teman dari Indonesia yang sedang sekolah di Amerika. Setelah berkenalan dan sedikit basa-basi, Didik, begitu nama teman Suryo, pamitan, “Yok, ntar kalau mau dijemput, call aja. Syukur-syukur kalau berani pulang ke apartemen sendiri..ha..ha..ha..” kata Didik berpesan pada Suryo.

Astari masih berdiri, ujung bawah mantelnya teribak-sibak oleh angin dingin yang cukup kuat, syalnya berkibar-kibar, rambutnya yang sebahu pun teriap-riap karenanya, “Hai..” hanya itu yang keluar dari mulut Astari, kemudian Suryo menghampirinya, memeluk Astari berlama-lama. Astari melepaskan diri, memandang wajah Suryo, dan tertawa, “Hai, mengapa menangis..? Ha..ha..ha..”

Ya, Suryo menangis…, sedang Astari tertawa…

Mereka duduk memesan kopi panas untuk teman ngobrol. Suryo lama memandangi Astari sambil tersenyum, “apa kabar Astari.., kamu menghilang begitu saja.., sudah berapa lama kita nggak ketemu..?”

Astari tertawa-tawa, “Menghilang..? Dari mana ? Aku ada kok. Berapa tahun nggak ketemu..? Ha..ha.., aku nggak ngitung..”

Setelah sedikit ngobrol saling menanyakan kabar, Suryo mengeluarkan sebuah bungkusan rapi, “Dari Ibu, buat kamu. Bukalah..”

“Nanti aja, di rumah..” kata Astari. “Makasih..” lanjut Astari, mendekap bungkusan itu, sambil menahan tangis, ingatannya kembali ke masa kecil, ketika Yu Rumi adalah satu-satunya orang dewasa yang mengerti tentang perasaannya.

“Bukalah.., ayo..” kata Suryo.

Astari pun membuka bungkusan, “ohh..” Astari kehilangan kata-kata, kembali didekapnya barang titipan dari Yu Rumi.

“Suryo.., Yu Rumi tau aku ingin kain dan kebaya.., akan aku pakai bila ada pesta.., sudah lama sekali aku berpikir ingin dikirim kain dan kebaya.., tapi takut merepotkan…” pekik Astari dengan nada sangat gembira.

“Astari, itu bukan kain dan kebaya buat ke pesta, itu kain dan kebaya untuk kamu menikah. Lihat corak kainnya, itu Sido Mukti, kain yang dipakai orang Jawa bila menikah..” Suryo menjelaskan.

Astari tergagap, “Apa..? Menikah..? Ohh.., ya.., tapi buat pesta juga bagus kok.., mana orang sini tau ini Sido Mukti atau bukan, aku aja nggak paham kok…”

“Astari, tolong dengarkan, Yu Rumi, Ibuku, sekarang sering sakit-sakitan, ya mungkin karena sudah mulai sepuh. Ibu mewanti-wanti padaku, untuk…menjemputmu.., pulang ke Indonesia..” kata Suryo.

“Hahhh..? Menjemput gimana..? Pulang buat apa..?” pekik Astari lagi.

“Ibu menginginkan kita.., pulang, kita menikah…” kata Suryo lagi.

“Apa..? Nggak salah dengar nih..? Kita menikah bagaimana..? Kamu punya istri, punya keluarga.., ngapain aku menikah denganmu..? Aneh..!”

“Astari, banyak yang aku pikirkan selama ini, dan aku juga berpikir, benar kata Ibu, seharusnya aku menikahi kamu waktu itu…”

“Halahhh.., jangan nglantur.., kamu ini kenapa sih..? Nggak pernah ketemu, ketemu-ketemu bilang kita menikah..aturan mana yang bikin kamu datang, menjemput, dan mau menikahi aku..?!” protes Astari.

“Perkawinanku tidak seperti yang aku harapkan, Astari, kami nggak punya anak sampai hari ini, dan….”

“Stop..! Stop..! Jangan bicara soal perkawinanmu, itu bukan masalahku, dan aku nggak mau dengar. Aku bukan kaleng sampah tempat buang unek-unek macam itu. Itu urusan kamu sendiri..!” cegah Astari.

“Oke, Astari, tapi aku datang untuk menjemputmu, kamu harus menikah, punya anak, …” kata Suryo.

“Hei..! Gud for you, tapi jangan pernah mengatur hidup orang…, aku baik-baik saja di sini, aku nggak punya masalah yang membuat aku harus pulang denganmu. Kalau pun aku akan pulang, itu urusanku sendiri. Dan asal kamu tahu, aku punya 5 anak di Indonesia” sergah Astari.

“Anak dari mana, kamu tidak pernah menikah, tak pernah ada berita kamu hamil, apalagi sampai 5 kehamilan..” kata Suryo nggak kalah ngeyelnya.

“Mereka anak asuhku, di kota kita, Witri yang mengurusnya untuk aku..” Astari menyebut nama Witri, salah satu teman sepermainan mereka ketika kecil.

“Astari.., aku selalu kalah bicara denganmu. Tapi, tolong dengarkan aku, ayo kita pulang.., percayalah padaku, kita harus menikah..” kata Suryo sambil melangkah mendekati Astari yang berdiri memegang kopi dalam cup styrofoam.

“Jangan mendekat..! Kamu..gila..! Kalau kamu punya masalah, alangkah tidak adilnya bila masalah itu kamu timpakan padaku. Hidupku.., sudah penuh dengan masa-masa sengsara, dan sekarang, hidupku sederhana, aku tak mau mikir yang nggak perlu aku pikirkan. Jangan mimpi kau jadikan aku istri selain istri pertamamu..! Kamu menghina aku !! Kamu, … bang..sattt!! Kamu cuma mimpi.. You…, just, …see something there’s nothing..!” kata Astari, menggigil karena dinginnya angin utara, bercampur emosi yang meluap-luap, ketersinggungan yang sangat luar biasa.

“Astari.., terserah kamu mau bilang apa.., aku.., mencintaimu..!” teriak Suryo. Orang-orang yang sedang menikmati hangat matahari di tepian sungai Potomac, menoleh memandang mereka yang sedang saling berteriak, tapi Astari dan Suryo tak sempat peduli.

“Ha..ha..ha..ha..! Telan sendiri rasa cintamu. Buat apa kau bilang itu sekarang. Kamu, selalu bilang bahwa nama baik adalah nomer satu, dan kau sudah dapat Sisi, perempuan pintar, dari keluarga baik-baik, dan kaya raya.Makan tuh nama baik..!! Aku.., bukan perempuan yang kamu harapkan dalam hidupmu.. Dan kau.., sekarang adalah orang berkedudukan, terpandang. Kau, adalah salah satu pengurus negara. Pantas bila negara kita sakit, karena pengurus-pengurusnya adalah pribadi sakit macam kamu!” Astari tak peduli kata-katanya tambah kasar.

“Itu dulu, Astari, jangan sangkutkan aku dengan jabatan dan lain-lain, sekarang…” sela Suryo.

“Jangan teruskan..!” kata Astari, ketika Suryo mencengkeram tangan Astari, kopi dalam genggaman Astari tumpah, terasa panas di tangannya, Astari tambah ngamuk.

“Lepaskan..! Lepaskan kataku..! You, …just son of bi***..! Kamu..kamu yang pulang sana…!! Jangan kamu atur aku. Kamu.., pu..lang..!!” teriak Astari sambil mendorong Suryo menjauh.

Suryo menangkap tangan Astari, “Aku akan pulang, kalau bersamamu..”

Astari semakin membara, dilepaskannya tangannya dari genggaman Suryo, dan kembali mendorong dada Suryo, kemudian menuding-nuding muka Suryo, “Kau.., pulang.., aku bilang.., kau yang pulang..jangan recokin hidupku..!!”

Astari berlari, menjauh dari Suryo, sambil menahan sesak di dadanya, dia menangis…

“Astariii..!”

“Jangan cari aku..! Aku..muakkkk…! Nih, bawa pulang denganmu…” kata Astari sambil melempar sebuah kantong kecil terbuat dari beledu warna biru, berisi..kelereng yang diberikan Suryo pada masa kecilnya.Suryo terhenyak, demi menyadari yang dilempar Astari padanya adalah segenggam kelereng, dia langsung mengingat peristiwa Astari disiram seember air bekas cucian oleh Pak Tulus.

Mengapa Astari masih menyimpan kelereng ini selama puluhan tahun..? Apakah Astari, benar, memendam rasa cinta padanya.., seperti yang pernah dikatakan oleh Ibunya, dan dia tidak memperdulikan selama ini..? Hati Suryo makin terasa berat, mukanya memanas, kerongkongannya tercekat, air matanya kembali mengalir begitu saja, “harusnya aku tetap menjaga Astari, seperti aku menjaganya ketika kami main bersama dulu..di kali agar tak terbawa arus, di sawah agar tak terpeleset masuk ke lumpur, main kelereng…”

Tak hanya Suryo, hati Astari pun berkecamuk, “Huhh.., sembarangan saja bilang jemput ajak pulang, kita menikah, dan dia nggak bahagia dalam perkawinannya, EGP, emang gue pikirin. Bilang cinta.., cinta apa..? Basiiii…!! Dia pikir, dia bisa mengatur hidup orang..jangan harap. Bangsat..!” Astari kembali mengumpat, membebaskan rasa sakit hatinya meski hanya dalam bahasa batin.

Air bergoyang-goyang pelan memenuhi sungai Potomac. Awan-awan menyibak. Burung Albatros, berseluncur di langit yang membiru, sambil berkoar kecil bersahut-sahutan. Patio,meja berpayung, dengan beberapa bangku, milik restoran sepanjang sungai Potomac semakin ramai dipenuhi pengunjung.

Dalam pertemuan yang singkat, ada hati yang terluka, ada rasa yang terhina, ada kecewa yang datang, di hati Suryo maupun Astari…

Waktu yang berlalu, telah merubah banyak hal…, dan dalam waktu yang berjalan ke depan, perubahan akan terus terjadi.., entah seperti apa.., tak ada yang tahu pasti…

Salam de Passer, to be continued… (maybe yes.., maybe no…)

Carlin Spring
Arlington, Virginia,

Dian Nugraheni,
Tanggal 18 Mei 2010, jam 6.00 sore, hari Selasa..
(Saat ini aku sedang marahhhhh..hahh..hahh..hahh..hahhh..)

 

9 Comments to "[Serial de Passer] Awan-awan di Belahan Bumi Utara"

  1. Evi Irons  25 August, 2013 at 03:36

    Cerita di awal dan pertengahan menggairahkan dan menarik tapi setelah di pertengahan sampai habis tidak saya baca, malas, habisnya munafik sih! padahal mau tapi pura-pura gak mau, tape dwehhhh!

  2. probo  23 August, 2013 at 23:24

    Astari…tau-tau sudah gede

  3. elnino  23 August, 2013 at 23:15

    Babak baru kehidupan Astari. Ternyata masih harus menghadapi kepahitan meskipun Astari sudah jauh berkelana lintas benua. Dan kepahitan itu lagi2 berasal dari masa kecilnya..
    Lanjut doooong Dian

  4. Dj. 813  22 August, 2013 at 17:54

    Kalau orang Jawa bilang awan-awan, itu kan artinya siang-siang bukan….???
    salam,

  5. Lani  22 August, 2013 at 12:52

    4 Chandra S : klu didorong kejegur sungai Potomac jik untung……..gmn klu dijegurke Ciliwung?????? wahahaha………baru nyahok

  6. chandra Sasadara  22 August, 2013 at 12:15

    Pasti bukan si Suryo yg suka pidatodi tv itu kan?
    klo si Suryo yg di tv itu, astari harusnya memaki lebih tajam, kalau perlu dorong sampai masuk sungai Potomac..

  7. J C  22 August, 2013 at 10:38

    Kengiluan, kepiluan dan rasa yang sama tiap kali baca serial Astari ini…

    Dian, dirimu memang bener-bener apik menghidupkan tokoh Astari ini…

  8. Lani  22 August, 2013 at 09:54

    Dian……..lagi marah nulis crita ini……..jd kebawa marah2 mungkin dirimu jd Astari ya?

  9. Lani  22 August, 2013 at 09:02

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *