Zout Kathedraal – Salt Cathedral

Nunuk Pulandari

 

Catedral de Sal, sebuah Kathedraal yang keberadaannya  cukup dalam di bawah timbunan garam – tanah dari sebuah pertambangan garam kuno.

Seperti yang kita ketahui jutaan tahun yang lalu bumi kita sebagian besar terdiri dari lautan. Terjadinya  pergeseran lapisan tektonis di lautan Karibia yang sampai di Amerika Latin, adalah awal dari tempat dimana Bogota pada saat ini berada. Temperatur bumi yang semakin panas telah menyebabkan terjadinya proses pengeringan di bagian dalam lautan dan karenanya menyebabkan timbulnya butiran-butiran garam. Dalam perjalanan waktu yang ada, timbunan garam yang menggunung di bawah tumpukan tanah ini dijadikan pertambangan garam sehingga terbentuklah terowongan  yang panjang dengan gua-guanya.

Pada awalnya pertambangan ini sudah digunakan oleh salah satu suku Indian yang bernama Muisca. Mereka sudah menggunakannya jauh sebelum bangsa Spanyol datang dan menduduki Amerika Latin. Lalu pembangunan dan penyempurnaannya baru dimulai pada awal abad ke 20 yang lalu. Pada saat ini gua garam yang ada tertutupi oleh lapisan tanah dan karang-karang yang tebalnya mencapai 40 meter. Semua yang berada di pertambangan kuno ini sebagian besar hanya garam, garam dan garam. Untuk mengeceknya dimanapun teman-teman berada bisa mencicipinya dengan mengusapkan jari kita ke dinding (yang terlihat memutih) dan merasainya dengan lidah kita…. Uaaasiiin sekali rasanya.

Pertambangan garam di  Zipaquirá sesungguhnya adalah sebuah “penimbunan” garam yang pada akhirnya membentuk semacam batu karang yang terbesar di dunia.

salt-cathedral (1)

Foto 1. Terowongan dengan dinding dari garam

 

Kathedraal garam yang kita saksikan ini merupakan salah satu dari dua yang ada di dunia. Kathedral garam yang satunya berada di  Polandia, di ibu kota Warschau

Indahnya dinding-dinding dan plafond yang ada, seperti yang terlihat di sekitar dinding terowongan dan Kathedral, terbentuk dari kristal-kristal yang berasal dari pertambangan garamnya. Bila kita amati kristal-kristal itu akan terlihat bagaikan lautan jamur yang memutih. Penataan lampu di kemudian hari terutama yang berada di persimpangan terakhir disekitar Kathedraal sangat menakjubkan. Suatu permainan dari penataan lampu yang bisa memberikan effek pengalaman yang spiritueel bagi para pengunjungnya, juga bagi yang tidak beragama Katholik atau Prostetan seperti saya. Setidaknya bisa mengingatkan kita akan kebesaran dan keagungan Penciptanya.

salt-cathedral (2)

Foto 2. Dinding garam dalam sinaran permainan effek lampu

 

salt-cathedral (3)

Foto 3. Putihnya garam yang menutupi dinding

Teman-teman, untuk mengunjungi Kathedral ini sebelumnya kita harus melalui lorong-lorong  yang panjang totalnya mencapai 386 meter. Berjalan diantara dua dinding yang berjarak tidak begitu lebar dan atap plafondnya tidak begitu tinggi serta  minim penerangan ternyata tidak selalu memberikan rasa yang  nyaman.  (lihat Foto 4 dan 5)

salt-cathedral (4)

Foto 4. Gelapnya terowongan yang ada

 

salt-cathedral (5)

Foto 5. Penerangan dalam terowongan memang sangat minim

Pada awal keberadaan  di dalam terowongan akan tercium bau belerang atau bau telur busuk yang terasa  agak menyesakkan dada. Ketika berjalan merambat dalam kegelapan dan mencium bau yang tidak sedap ini, sejenak seperti terbisikkan di hati untuk kembali dan tidak meneruskan perjalanan. Beruntung bahwa saya masih bisa mengantisipasi bisikan di atas dan  tetap melanjutkan perjalanan sampai gua yang berada di ujung akhir terowongan yang letaknya beberapa puluh meter di bawah lantai pintu masuknya. Alangkah akan menyesalnya kalau saya sampai tidak sempat menyaksikan salah satu keajaiban dunia yang tiada taranya.

salt-cathedral (6)

Foto 6. Dalam kegelapan kadang terlihat sinaran lampu yang menggambarkan berbagai bendera

Untuk menunjukkan rasa persahabatan dengan Negara-negara yang ada di dunia dan sekaligus untuk memberikan sedikit penerangan bagi yang melewatinya, secara bergantian ditampilkan spot dari bendera-bendera Negara-negara itu.

salt-cathedral (7)

Foto 7. Efek permainan sinar yang membentuk bendera juga dapat memberikan penerangan bagi pengunjungnya

Berjalan melalui lorong-lorong dalam terowongan di gua ini, di kiri dan kanannya kita akan menjumpai dan melewati Kapel-kapel kecil sebanyak 14 buah. Hal ini terlihat dari penomoran yang tertuliskan dalam abjad Romawi yang cukup besar di sekitar Kapel yang dimaksudkan.  Keberadaan Kapel-kapel dengan penomorannya yang jelas dalam intinya menggambarkan ceritera tentang 14 tahapan dari perjalanan Yesus yang penuh derita. Dan baru setelah  melewati ke 14 Kapel tersebut,  kita akan sampai di  tiga jalan terowongan yang menggambarkan Kelahiran Yesus, KehidupanNya dan Kematian Yesus Christus.  Dalam hal ini saya hanya menyertakan beberapa Foto yang  bisa ditangkap camera (TANPA menggunakan Blitz).

salt-cathedral (8)

Foto 8. Beberapa Kapel masih dalam renovasi (pengembangan lebih lanjut)

 

salt-cathedral (9)

Foto 9. Tangga-tangga yang bisa digunakan untuk duduk ketika kita ingin berdoa di Kapel yang ada

 

salt-cathedral (10)

Foto 10. Di setiap Kapel selalu tersedia fasilitas untuk berdoa dan mengaguminya

 

salt-cathedral (11)

Foto 11. Entah sampai dimana akhir batas lorong bangunan Kapel ini akan berakhir

 

salt-cathedral (12)

Foto 12. Salah satu Kapel yang sedang dalam pengembangan/perbaikan

 

salt-cathedral (13)

Foto 13. Berjalan perlahan menyusuri lorong yang gelap

 

salt-cathedral (14)

Foto 14. Salah satu Penomoran yang sempat tertangkap lensa camera, di Kapel ke 13

 

salt-cathedral (15)

Foto 15. Tampak lapisan garam yang berkilauan karena air di sekitar Kapel baru dan tangga yang masih dalam pembangunan

Dalam tahun 1950 Kathedral dirombak dan pada tahun 1954 diresmikan penggunaannya. Sekali lagi dengan alasan demi keselamatan para pengunjungnya, gereja ini baru diresmikan kembali untuk ditutup pada tahun 1990. Dan pada tahun yang sama juga diresmikan penyempurnaan dan pembangunan kompleks  tersebut. Akhirnya baru pada tahun 1995 penggunaannya secara umum bisa kita saksikan sampai saat kini.

salt-cathedral (16)

Foto 16. Salah satu moment perjalanan hidup Yesus disajikan dalam bentuk theatral di atas

 

salt-cathedral (17)

Foto 17. Dinding garam yang dapat menunjukkan betapa indahnya alam kita; Mbak Mie n Konco Ngajeng

 

salt-cathedral (18)

Foto 18. Salah satu Salib Yesus yang terbesar dari Kathedraal Garam (?)

 

salt-cathedral (19)

Foto 19. Salib besar terlihat dari dekat

 

salt-cathedral (20)

Foto 20,  ???? (lupa namanya?)

 

salt-cathedral (22)

Foto 21. Kathedraal terlihat dari dekat dengan sebagian bangku-bangku bagi para jemaahnya

Memasuki Kathedraal yang ada, segera terasakan seperti adanya “tenaga magisch” yang mengajak  untuk duduk dan seolah mendorong untuk mengosongkan diri sambil berdoa.   Pada saat saya sampai di Kathedraal, suasananya masih sepi karena kami sengaja berangkat agak pagi.  Terasa “adem” dan “tentram” duduk di salah satu bangku yang tersedia sambil menikmati keheningan dan kedamaian yang terpancar di  ruang itu. Terpikirkan:”Alangkah nyamannya kalau bisa semedi di ruang yang suci ini”…. Memang meskipun saya non Kristian tetapi setiap kali saya mengunjungi Gereja dan Kathedraal akan terasa betapa damai dan tenteramnya berada di dalam “gedung” yang luas.  Selain itu dalam keheningan yang ada saya juga bisa senyaman mungkin menikmati  semua yang ada di sana.

Sampai saat ini ruang  Kathedraal masih digunakan, juga untuk pernikahan dll. Sebuah Kathedral yang cukup luas dengan ukuran :  10m lebarnya x 80 m panjangnya x 16 m tingginya.  Dalam Kathedral bisa ditampung  tamu yang duduk sebanyak plus minus 260 orang. Dan 50 Tamu yang berdiri. Tetapi dalam kenyataannya bila bangku-bangku itu ditiadakan, Kathedral ini bisa menampung sebanyak plus minus 700 tamu, walaupun mungkin agak berdesakan.

Seandainya teman-teman berdiri di sekitar Kathedral ini, berarti  posisi teman-teman ada di suatu lokasi yang letaknya sekitar 33m lebih dalam, dari lokasi  keberadaan Pintu Masuk di awal  terowongan gua. Dan di atas kepala teman-teman masih ada  bukit karang yang terbentuk dari garam  yang tebalnya mencapai sekitar 180 m. Bayangkan betapa tebalnya garam yang sudah menjadi karang dan membentuk “bukit”…

salt-cathedral (23)

Foto 21. Garam yang mengeras terlihat seperti batu marmer

 

salt-cathedral (24)

Foto 22,  ??? (lupa ceritanya)

 

salt-cathedral (25)

Foto 23.  Lorong penghubung dengan Gua dimana terdapat Toko cindera mata

 

salt-cathedral (26)

Foto 24. Sebagian etalage dengan oleh-oleh yang bisa kita beli di toko cindera mata

 

salt-cathedral (27)

Foto 25. Batu Emerald yang menjadi kebanggaan Negeri Colombia

 

Teman-teman, dari perjalanan ini sesungguhnya saya mengira akan melihat Kathedraal yang 100% terbuat dari garam. Karena hal ini juga telah diceriterakan oleh banyak orang pada saya. Tetapi ternyata yang ditemukan adalah sebuah Kathedraal yang berada di pertambangan garam yang berada di kedalaman tanah. Dari hasil penggalian garam di pertambangan ini orang telah membangun sebuah Kathedraal. Jadi Kathedraalnya memang tidak 100%  terbuat dari garam. Di dinding-dinding terowongan memang terlihat keberadaan garamnya masih banyak bertebaran di semua tempat, tetapi tidak semuanya yang berada di Gua Garam ini telah dibuat dari garam dengan berbagai alasannya, seperti yang utama demi keamanan dan keselamatan para pengunjungnya.  Demikian juga dengan Kathedraalnya.

Dari permukaan bumi Kathedraal ini secara total berada dalam kedalaman kurang lebih sejauh 120 m di bawahnya. Permukaan luasnya secara keseluruhan ada 2.440 meter persegi.  Dan seperti teman-teman ketahui pertambangan garam ini masih selalu aktief dan dalam kesehariaannya bisa memproduksi garam sebanyak plus minus 750 ton .

Prettig lezen en tot weer schrijven, Nu2k

 

71 Comments to "Zout Kathedraal – Salt Cathedral"

  1. nu2k  4 September, 2013 at 23:40

    Lupa kangmas O d Boom, waduuuuhhhh tentang permogean saya kurang tahu. Nanti kalau saya bertemu dengan Mas Sony akan saya tanyakan. Atau anda tanya sendirilah… Hé, hé, hé…
    Kalau tentang siapa yang untung dengan kus, kus, kus yang empat kali…Ya, kangmas sendiri.. Lha wong yang satu “nyuri” atau minta tambah tanpa tanya dulu… Ha, ha, haaaa. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.