Kunang-kunang Merah

Abu Waswas

 

BAB I

KUNANG-KUNANG MERAH

 

Calon judul novel: ANGELIEN

Genre: fantasi, remaja

kunang-kunang

Kuterjaga akibat dengkuran si Bara di sampingku. Bunyinya keras melebihi koor jangkrik di belukar. Sangat mengganggu. Mulutnya menganga bersama iler mengalir ke pipi. Aih…. Kucipratkan air mineral ke muka ovalnya. Dia terperanjat sejenak. Tak lama kemudian tertidur. Mengorok lagi.

Kain putih kusibak. Aku keluar dari tenda. Menjelajah pandangan ke pepohonan bulian atau kayu besi yang jamak tertanam.  Cabangnya meliuk tertiup sepoi angin. Suasana bukit yang acapkali angker malamini menjelma bak taman surgawi, dihiasi gugus bintang dan bulan perak di langit barat. Pelarian yang menenteramkan.

“Siapa itu?” Seperti sepasang kunang-kunang mengintip dari rerimbunan. Baru kali ini aku melihat serangga bercahaya merah membara itu. Hanya dua. Kakiku melangkah, bulu roma bergidik sewaktu teringat dongeng pengantar tidur yang didendangkan oleh Mama.

Kunang-kunang ialah kuku orang mati yang bangkit dari liang kubur. Mereka beterbangan, bergerombol, berkisah tentang cerita semasa hidup. Kata Mama, kunang-kunang yang sinarnya paling terang itu milik jasad yang semasa hidupnya kurang bahagia. Berlaku sebaliknya. Ia berpendapat,itu kompensasi dari Sang Maha Hidup. Waktu itu aku percaya saja.

Malam kedua, ia teruskan dongengnya. Dongeng horor yang ampuh menakuti anak-anak agar lekas tidur. Seorang ibu yang cukup sinting, batinku.

“Tahu gak, kunang-kunang milik siapa yang cahayanya merah?” tanyanya sembilan tahun lalu. Mulutku bungkam.
“Milik orang mati yang diliputi dendam. Matinya dibunuh. Kamu jangan sampai melihatnya, atau lari!” lanjutnya.

 

Sontak kuambil langkah seribu hingga sandal terlepas. Telapak kakiku terasa perih tatkala menyentuh kerikil dan duri. Namun kuabaikan karena perasaan takut yang teramat. Akhirnya dongeng itu benar-benar ada.

 

“Bara! Gue lihat setan!” Napasku tersengal. Dia terpaksa bangun akibat tubrukan dengan badanku.
“Apa sih?” Dia belum menguasai keadaan.
“Bukan cuma sepasang kunang-kunang merah. Itu kayak sepasang bola mata berkedip.” Aku menggigil.
“Lu lihat alien?”

 

Bara sedang mencari sesuatu. Kantuknya masih melekat di mata. Senter yang didapatnya. Disorotkan ke mukaku yang pucat pasi.Tatapannya kesal. Dia merasa dikerjai. Usai mendengus, dia menyibak belahan kemah. Meninggalkanku. Mencari dua bola mata merah.

Kususul dia. Suasana mulai berubah. Kabut turun dan mengendap di lereng. Awan stratokumulus berarak di langit. Cahaya kilat sesekali berpendar dari kejauhan. Tak lama berselang suara langkah kaki terdengar.

 

“Kayaknya memang sepasang?” Apa dia melihatnya?
“Di mana?”
“Di sekitar kita.”

 

Kami bersiaga tanpa senjata. Saling berdiri membelakangi. Lampu senter di genggamannya. Raket nyamuk di genggamanku. Kepanikan kami disoraki lengking kodok. Seperti meledek.

Tak kusangka kalau acara kemah perpisahan tersyahdu berubah teror ala Jeepers Creepers. Kemah gaya koboi Gunung Brokeback. Lagi pula ini ideku sendiri untuk merayakan malam terakhir Bara di kota ini sebelum dua hari lagi dia merantau ke kota kembang. Menimba ilmu spesialis teknik perminyakan.

Ia akan meraih kebebasannya sebagai bujang penghuni kost. Suatu hal yang sulit jika masih tinggal di bawah bayang-bayang ayahnya yang keras. Aku kurang setuju dengan keputusannya. Belum siap ditinggalkan seorang teman yang sudah bersama sejak 13 tahun terakhir. Sudahlah. Bagaimanapun aku lelaki. Gengsi mencurahkan uneg-uneg macam itu di depannya secara langsung.

 

“Mending kita balik ke kemah.” Aku setuju.

 

Kami langsung menengok tenda. Menyudahi “persami” horor. Bebawaan mesti dikemas. Terus turun bukit, pergi dengan sedan merah yang diparkir di samping pos ronda. Pos berjarak 100 meterdari lereng. Dekat perumahan penduduk.

 

BUK!

Bara yang masuk lebih dulu ke tenda langsung terlempar ke hadapanku. Kepalanya berdarah. Aku tentu panik bukan kepalang.

 

“Siapa kalian?” Dua momok keluar dari dalam tenda. Sosoknya asing–alien. Posturnya pendek. Bermata merah nyala.Ternyata mereka si pemilik bola mata merah. Salah satu dari mereka memegang semacam belati. Senjata yang melukai temanku.

 

“Jangan mendekat!” Kumundurkan langkah . Bara dalam dekapanku. Darahnya tercium anyir. Tetes hujan melunturkan kepekatan warna merahnya.

 

Mereka mendekat aku menjauh. Mereka berbicara dalam bahasa asing aku berpikir untuk berbalik lari sambil membopong Bara ke perumahan penduduk. Dia perlu P3K. Sialnya, bobotnya yang tak ringan bisa menghambat pelarian.

Tanpa bermenit-menit, kubopong sang korban. Aku kabur secepat mungkin. Tubuhnya justru lebih ringan dari yang kusangka.

“Klot!” Mereka menyeru satu kata berbarengan. Mungkin perintah angkat tangan atau umpatan paling jorok di planet mereka. Aku bergeming. Dasar makhluk kelas tiga! Amfibi cebol! Umpatanku selesai diselingi desingan. Dalam interval setengah detik betisku terbakar.

 

“Aarrghh…!” Eranganku membahana. Bara jatuh terjerembab. Mungkin dia sudah mati. Celana jinsku koyak terbakar. Otot betis kiriku melepuh bagai tersiram cairan timah mendidih. Ternyata sebuah laser-revolveryang dipakai si cebol itu. Keparat!

 

“Apa salah kami, hei mother-f*ck*r!”

 

Irama napasku kacau. Rasa nyeri menjalar ke sekujur tubuh. Belum pernah kurasakan luka sesakit ini. Bahkan aku masih bisa tertawa saat obat bius penahan nyeri sewaktu disunat perlahan habis kemanjurannya.

Lamat-lamat rintihan Bara terdengar. Ia masih hidup. Mulutnya ingin mengucapkan sesuatu padaku. Kuhampiri.

“Mereka menginginkan sesuatu dari peninggalan bapaklu.”

 

Ceracauannya tidak ada juntrungannya. Tak kuhiraukan. Kemudian napasnya diburu waktu. Tak beraturan. Uratnya setegang senar gitar. Kalimat selanjutnya tak jelas terdengar. Bagaikan penyelam yang berbicara dalam air. Dia mengalami kepayahan menghadapi sakaratul maut.

Tak banyak yang bisa kuperbuat. Kebingungan yang mendominasiku. Semua terjadi begitu cepat dan singkat. Aku hampir tak percaya bahwa Bara harus mati. Sampai kurasakan hawa dingin di tubuhnya.

Berikutnya aku diseret paksa oleh mereka menjauhi mayat sobatku yang lemas. Mungkin nanti siang dia akan ditemui seorang kakek tua. Ditonton oleh warga. Dikerubungi lalat betina.

***

Kali pertama yang tertangkap reseptor kulitku ketika tersadar yaitu hawa dingin mencambuk kulit. Dinginnya dua kali freezer kulkas. Kuamati, ruangan bundar .Putih tawar tanpa ornamen maupun motif tertentu. Mirip dengan iglo–rumah orang Eskimo. Cuma tempat tidur dari jerami tempat aku merebah. Tapi tidak gatal dikulit.

Ada yang mendorong pintu. Wanita berparas ayu. Gadis sepertinya. Jaketnya biru stabilo. Rambutnya panjang. Ada semacam obor dibawanya. Dipautkan ke dinding. Dengan cepat api biru itu mengonveksikan kalor yang mampu menganulir kedinginan.

“Suhunya bisa kamu toleransi?” Ternyata dia berbahasa manusia. Bahasa Indonesia. Tampilannya juga tampilan manusia. Tetapi tidak! Daun telinganya runcing persis penduduk Planet Vulcan dalam StarTrek.

 

“Sudah hangat kok. Ajaib.”
“Siapa namamu?”
“Rio… Aww!”

 

Aku baru sadar kalau betis kiriku menderita luka bakar. Kini lukanya dibalut plester jumbo. Benar-benar jumbo. Selebar dasi bapakku. Warnanya pun merah muda.

 

“Besok sembuh total lho,” katanya. Senyumnya terbentuk.
“Kamu yang nempelin?”

 

Belum sempat dijawab ada lagi yang mengetuk pintu. Dia masuk membawa meja dorong. Perawakannya sama persis dengan dua makhluk yang menyerang aku dan Bara. Tetapi bukan dia. Di meja itu terhidang aneka makanan dan minuman. Untukku?

Dia menoleh ke arahku. Sempat membuatku terkejut dan copot jantung. Bukan masalah, dia hanya mencoba tersenyum. Posturnya pendek, 140an cm. Matanya merah, irisnya biru. Dia berbaju, semacam seragam. Kulitnya gelap. Sebetulnya coklat susu. Bersayap dan berbuntut pendek. Alien reptoidkah? Kepalanya bulat seperti manusia. Rambutnya gimbal. Jamaikan, mungkin.

“Saya sudah tahu semuanya,” si gadis setengah alien itu memulai obrolan. Teh panas dalam poci gelas dia tuangkan ke cawan mungil bergambar setengah lingkaran warna merah dan hitam yang menyatu dalam satu lingkaran. Aromanya tak asing. Teh hitam.

 

“Gula?”
“Dua saja.” Gadis itu menyemplungkan dua dadu gula batu. Manis moderat. Cita rasanya persis teh matang kemasan. Cuma lebih sepat. Ada kelembutan yang asing saat tercecap lidah.

 

“Turut berduka atas sahabat karibmu.”
“Terima kasih. Omong-omong, di mana kita?”
“Koridor Wakhan.” What the hell! Di luar bumikah? Kupikir di kutub.
“Di mana itu?”
“Hahaha, nilai geografimu payah ya?”

 

Pertama kali dia mengejek. “Wilayah terpencil di timur laut Afganistan, selatan Tajikistan,” sambungnya, “jalur di mana dulu Marco Polo bertualang.”
“Jalur Sutra!” sambarku yakin. Dia tertawa tanpa suara.
“Kamu harus segera pergi dari sini.” Bahasa matanya langsung tiba-tiba meyakinkan.
“Apa?”
“Atau kamu dibawa ke planet mereka nan dingin.”
“Kamu di pihakku?” Aku jadi bimbang dengan pernyataannya.
“Tidak juga.”
“Tapi, apa maksud dari semua ini?” Kedongkolanku membuncah.

“Tak ada waktu untuk menjelaskan maksud dan tujuan. Kamu akan tahu nanti?” kelitnya dengan nada santai.
“Nggak bisa.”
Mungkin dengan sangat gemas dia menarik tanganku. Memaksaku berdiri. Membisikiku perintah supaya aku melarikan diri.

 

“Berikan saputangan ini pada mereka, kaum Kirgis.” Saputangan bercorak sama dengan corak cawan tadi. Bisa jadi itu corak bendera kebangsaan mereka. Seperti bendera Jepang dua warna.

 

“Mereka pasti paham dan mengantarmu menuju pesawat yang membawamu pulang.”

“Aku bukan pilot berpengalaman.”
“Pesawat itu sudah diprogram untuk sampai mendarat di lapangan dekat rumahmu. Secara vertikal.” Maksud dia lapangan di sisi jalur rel kereta, tempat di mana aku sering bermain bola sepak.

“Penjagaannya?”

 

Aku waswas. Ingatanku mengembara ke adegan dan artistik film perang Hollywood. Kamp-kamp dengan pengawasan superketat oleh pasukan terlatih. Barikade ekstrakokoh.

“Karena tak mengira tawanannya akan kabur, mereka lengah. Bawa ini.” Pistol laser dia berikan. Kuanggukkan kepala tanda hormat dan terima kasih kepada dia. Aku segera menyelinap dalam gelap dan dingin.

 

Ku berjalan tertatih menuruni gunung. Betis masih terasa nyeri bila digerakkan. Hawa dingin masih setia meneror sejak keluar dari rumah bundar. Tempatnya memang indah—tetapi juga paling tidak ramah sedunia. Tanah mereka berupa dua lembah panjang yang diukir oleh gletser. Anginnya kencang. Aku tidak melihat pohon sama sekali.

Tiba-tiba gemuruh ledakan bersarang di permukaan sungai es di sampingku. Refleks badanku terpental. Ku meringis tanpa nada.

 

“Ademus!” Mereka? Pelarianku terlacak . Dalam samar magrib tampak dua alien-prajurit mengejarku. Gawat. Belum pun aku bangkit berondongan senapan mereka memborbardir gletser. Memuncratkan keping-keping es ke udara. Menghujaniku. Mereka sengaja tidak menghabisiku.

 

“Untuk Bara!” Kutembakkan amunisi sinar padat dua kali ke arah mereka. Tak kuperhatikan apa bidikanku tepat sasaran atau meleset sebab aku langsung terhuyung. Staminaku ambruk. Tubuhku yang sudah amat lelah terguling, tersuruk, terhantam ke kaki gunung. Aku akan mati?

 

Kupingku masih jelas menangkap langkah kaki kuda. Sepertinya lebih dari satu. Tak kuasa mata ini membuka selaputnya. Mereka saling mengobrol. Semoga mereka kaum pengembara yang kucari. Salah satu darinya membopongku. Menyandarkanku pada punggung penunggang yang lain. Lalu aku dililitkan kain yang menempel ke penunggang–pemboncengku.

kunang-kunang-merah

Ketika mereka jalan perlahan aku mulai melihat .Pakaian mereka panjang dan tebal. Mengingatkanku pada kaum Mongol. Kepalanya tertutup kain putih yang dililit. Yang ditunggangi ternyata yak, sapi jantan hitam. Tingginya sekitar 2 meter. Berbulu tebal. Tanduknya melengkung bak banteng.

Aku menoleh ke gunung di kejauhan–kamp para alien. Di sana ada gadis cantik, penolongku. Ada rasa sesal bercokol, aku lupa bertanya siapa namanya.
***
Gimana fantasi rekaanku? Lumayan atau malah very absurd? wkwkwk.

Angelien itu akronim dari angel and alien. Ada 2 makhluk yang akan diceritakan nanti. Juga manusia tentunya. Kasih masukan ya, apa yang kurang, apa bahasanya kurang komunikatif atau gimana? Apa banyak narasi dan deskripsi yaang mubazir?

Maaf, cuma bab 1 yg ku’publish, sisanya ya rahasia ^^. beli donk. Lagian baru nulis 3 bab kok. Susah ternyata bikin fantasi.

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Kunang-kunang Merah"

  1. J C  24 August, 2013 at 04:48

    Dilanjutkan saja…asik ini…

  2. Dewi Aichi  23 August, 2013 at 23:37

    Awan…sudah bagus imajinasimu, ceritanya juga bagus, bisa menyaingi Avatar nanti..dialognya menurutku sangat menarik, tegang dan ada beberapa yang lucu, misalnya soal ledekan tentang nilai geografi, terus keterkejutan tntang bahasa Indonesia yang digunakan oleh makhluk asing itu ha ha..

    Lanjutkan, segera jadiin novel ya…

  3. Dj. 813  23 August, 2013 at 17:31

    Mas Jenar…
    Tterimakasih untuk ceritanya.

    Dj. pernah kejedut, sampai bekunang-kunang….

    Salam,

  4. Handoko Widagdo  23 August, 2013 at 12:38

    Ku tunggu ajalah.

  5. Sumonggo  23 August, 2013 at 11:16

    Jika terjadi transaksi dagang dengan alien, membayarnya dengan mata uang apa? Maka akan ada kurs valuta alien. Tapi bagaimana jika di planet alien juga terjadi krisis moneter? Jika di planet alien masih banyak lahan kosong bisa dijalin kerjasama dengan Gubernur DKI untuk pembangunan rusun dan relokasi PKL.

  6. James  23 August, 2013 at 11:06

    SATOE, Kunang-kunang Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.