Reuni SMA

Wesiati Setyaningsih

 

Ada saat di dalam hidup ini ketika kita melakukan sesuatu bukan semata-mata karena kita suka. Tapi semata-mata karena kita bisa membantu. Saya merasakan itu ketika membantu pelaksanaan reuni SMA angkatan saya.

Sebenarnya saya benci reuni. Itulah kenyataannya. Rasa percaya diri saya waktu SMA begitu rendah sehingga saya tidak terlalu banyak megenal teman. Teman dekat saya tidak banyak. Kenangan masa SMA saya juga tidak terlalu manis. Apa sih yang bisa saya lakukan kalau ibu saya termasuk guru ‘killer’ di sekolah itu? Saya harus jaim. Itulah kenapa saya tidak ingin kembali mengenang masa di mana saya adalah seorang remaja yang canggung, mudah merasa bersalah, tidak punya pendirian dan mudah berubah mood. Buat apa?

Datang ke acara reuni satu angkatan buat saya akan mengesalkan karena saya membayangkan sepanjang acara reuni saya akan seperti alien yang dicemplungkan ke bumi tanpa pembekalan. Adegan yang terbayang dalam benak saya adalah, ketika seorang teman bersalaman dan bertanya,

“Masih ingat saya nggak?”

Maka saya akan melongo sambil mengacak memori yang pernah tersimpan namun gagal memasangkan nama-nama di masa lalu dengan wajah di depan saya. Saya akan salah tingkah karena tak juga tahu namanya ataupun kenangan yang pernah terjalin bersamanya.

Atau malah saya akan ditanya,

“Wesi… Wesi.. yang mana ya?” lalu dia berusaha mengingat-ingat tapi tetap saja lupa.

Seorang teman SMP pernah mengeluh karena saya jarang datang di acara kumpul-kumpul dengan teman SMP. Sumpah bukan saya sombong. Tapi saya merasa tidak banyak yang bisa saya ingat dari masa SMP saya. Bisa jadi tidak banyak yang mengenal saya di SMP. Lebih parah, tidak banyak teman SMP yang saya ingat. Ditambah perjalanan waktu yang pasti membentuk karakter masing-masing, saya tidak yakin saya masih bisa nyambung dengan pembicaraan mereka. Itulah kenapa saya selalu minder kalau diajak kumpul-kumpul dengan teman SMP.

Semua berubah kemudian. Ketika kakak-kakak kelas saya di SMA mulai mengadakan reuni di aula sekolah, saya iri. Saya mengajar di tempat saya dulu sekolah SMA jadi saya tahu angkatan-angkatan yang mengadakan reuni. Kalau sudah begitu, guru-guru saya dulu yang sekarang sudah jadi teman saya, akan bertanya,

“Ini dulu angkatanmu ya?”

Kalau saya jawab, “bukan”, maka pertanyaan dilanjutkan dengan, “lah angkatanmu kapan?”

Begitulah yang harus saya hadapi. Jadi angkatan saya kapan? Akhirnya saya  memberanikan diri posting di grup alumni untuk melaksanakan reuni di aula SMA 9 Semarang, sekolah kami dulu yang sekarang jadi tempat saya mengajar.

Sambutan berdatangan. Tanggal dan waktu ditetapkan dan disetujui bersama. Saya dan teman-teman yang di Semarang mengatur persiapan tempat, perlengkapan dan katering, teman-teman yang di Jakarta juga mengumpulkan donasi dan merencanakan segala sesuatunya dari acara sampai souvenir dan kenang-kenangan untuk guru. Ketika teman-teman yang di Jakarta berkumpul dan berhasil mengumpulkan

Saya yang semula tidak pedulian, mulai mencari biodata teman-teman yang  tersimpan di sekolah. Dari sebuah buku bulukan ujungnya dimakan rayap, saya sudah pernah menyalinnya ke dalam Word. Berbekal itu saya, Wawan, Bagyo, Slamet, Indra, Tommy dan Fatmi, berkumpul di pemancingan untuk menulis nomor-nomor kontak yang kami punya. Setelah itu undangan dicetak Bagyo dan diedarkan Wawan, Bagyo dan Indra. Beberapa diundang lewat facebook.

Mencari alamat teman-teman yang sudah terpisah selama 22 tahun sungguh mudah. Kalau saya Cuma mendapat 2 kisah mencari alamat teman yang sudah pindah, Wawan punya banyak karena dia mengedarkan banyak undangan. Atta yang membantu mengedarkan undangan teman sekelasnya di IPS satu juga mengeluh pada saya bahwa semua yang dia datangi banyak yang sudah tidak di situ lagi. Sungguh sebuah usaha yang luar biasa dari teman-teman yang mengedarkan undangan.

Dila, sulung saya yang tahu benar bagaimana saya terhadap sebuah reuni, bertanya,

“Tumben mama heboh banget ngurusin reuni. Katanya enggak suka reuni.”

“Memang,” kata saya, “tapi  ini bukan masalah suka atau enggak.  Ini masalah, apa yang bisa kita lakukan. Mama kan sekolah di situ. Bisa ngurus gedung dan ini itu. Kenapa enggak? Mumpung masih ada umur, gunakan untuk melakukan apapun yang kita bisa. Gitu aja.”

“Iya sih, kaya di ‘5 cm’, jangan hidup kaya seonggok daging bernyawa.”

Waktu itu saya mengajak mencari rumah seorang teman yang ternyata sudah tidak tinggal di situ lagi dan undangan saya titipkan tetangganya karena rumah orang tuanya kosong.

Malam menjelang reuni, saya ke aula SMA 9 seperti yang sudah disepakati. Teman-teman sudah beberapa menunggu terutama yang akan tampil dengan band-nya. Pak Pri yang dulu guru kami juga hadir. Beliau akan membantu band dengan main keyboard. Kerja sama yang manis.

“Ini kursinya kapan kamu pasang?” tanya pak Pri.

“Besok. Kata mas Kartin besok,”  kata saya.

Mas Kartin itu tenaga kebersihan yang terjadwal mengurus gedung saat kami pakai hari Sabtu, 29 Desember 2012 itu.

“Nunggu Kartin lama, pasang sendiri saja,” kata pak Pri.

Saya melihat kursi-kursi lipat teronggok di luar aula. Atas saran pak Pri kami memasang kursi. teman-teman laki-laki mengambil, saya membantu membuka. Pak Pri ikut membantu. Ini kejadian langka karena biasanya guru Cuma datang waktu acara. Tapi pak Pri membantu memasang kursi. Beberapa teman perempuan yang ada memasukkan souvenir ke dalam kantong dari kain tile.

“Besok yang datang berapa?” tanya Ita.

“Wawan yang pegang data, tapi katering pesan 200,” kata saya.

Ketika Wawan datang, kami lihat catatannya, kalau yang baru mengatakan akan datang dan belum kirim uang memang jadi datang, maka semuanya ada 105 orang. Ditambah undangan untuk guru, bisa sekitar 125 orang.

“Souvenirnya kurang nih. Kemarin kan bilangnya seratus,” Ita mengeluh,”panitia enggak usah dulu ya?”

Tidak Cuma souvenir, door prize juga diharamkan untuk panitia. Semua untuk membahagiakan teman-teman yang datang saja.

Kami setuju. Apa sih yang enggak? Kami sudah sampai sini. Berlelah-lelah dari awal, kami Cuma berpikir agar tidak mengecewakan teman-teman yang datang.

Malam itu saya pulang jam sembilan malam, sementara teman-teman laki-laki masih tinggal karena menunggu sound system datang.  Ketika kemudian sound system datang dan teman-teman kebingungan mencari stop kontak, saya ditelpon Wawan jam dua belas malam, meminta saya bertanya pada penanggung jawab aula. Saya bilang bahwa sudah terlalu malam untuk meributkan stop kontak.

Pagi-pagi saya berencana berangkat setengah delapan pagi karena janjian dengan penanggung jawab barang inventaris sekolah. Tapi hujan deras turun. Saya kuatir dia tidak berangkat. Kemarinnya dia tidak masuk karena sakit. Hari ini hujan, kalau dia tidak berangkat karena hujan, bagaimana saya bisa pinjam LCD dan tiangnya? Aduh. Kenapa harus hujan?

Ternyata ketika saya sms bu Wahyu yang menangani bagian peminjaman dia sudah ada di kantor. Jadi saya segera berangkat, ngebon LCD. Dengan gerimis yang masih turun, saya ke aula dan menyaksikan sound system sudah terpasang semua. Wow! Ternyata Slamet yang bilang akan menyewa sound system benar-benar tidak main-main. Sepertinya semua akan luar biasa.

Acara dimulai. Semua urusan teknis yang harus dikoordinasi masih saja muncul. Kalau sedang tidak ada yang harus diurus, saya duduk kelelahan. Saya menikmati pemandangan saat teman-teman saling bersalaman, saling memeluk lalu berbincang. Semua dengan senyum. Saya Cuma menikmati dari tempat duduk saya,  bersebelahan dengan seorang teman sekelas yang sudah lama sekali tidak bertemu. Melihat saya berdiam diri dia menyenggol saya. Dia pikir ada sesuatu yang mengganggu saya.

Bukan. Tidak ada yang mengganggu saya saat itu meski saya sempat menerima candaan yang kurang menyenangkan, menyalahkan panitia karena ada beberapa teman yang dia tanyakan tidak datang. Tapi apa peduli saya mereka datang atau tidak? Kabar acara ini sudah menjangkau mereka. Keputusan hadir atau tidak bukan di tangan panitia. Jadi saya anggap dia sedang bercanda.

Saya tidak banyak bicara ke sana ke mari. Saya hanya memandang kursi-kursi yang sudah kacau balau karena teman-teman mulai bergerombol. Saya senang melihat mereka bersuka ria. Penampilan mereka sudah jauh berbeda dari waktu SMA dulu. Terlintas dalam pikiran saya, kehidupan seperti apa yang mereka lalui. Dengan kehidupan berliku yang telah saya sendiri alami, saya menatap teman-teman saya dan berpikir, apakah hidupmu menyenangkan? Apakah hidupmu menyedihkan sehingga acara ini menghiburmu? Banyak pertanyaan melintas-lintas dalam benak saya. Saya menikmati dalam diam penuh keharuan.

Saya terharu melihat pertemuan para sahabat yang mungkin sudah terpisah sejak 22 tahun lalu. Teman sebangku yang tak pernah lagi bertemu. Gebetan yang tiba-tiba tak bisa dihubungi lagi selulus SMA. Waktu itu belum ada hand phon dan bahkan telepon rumah tidak semua orang punya.  Komunikasi tidak semudah sekarang. Guru-guru yang bangga melihat murid-muridnya ‘sudah jadi orang’. Bagaimanapun, pertemuan itu selalu mengharukan.

“Kok diam saja?” teman saya menyenggol.

Saya menoleh.  Saya pikir tadi dia tidak keberatan saya Cuma duduk di sebelahnya dan tidak bertanya-tanya. Saya rasa dia juga berhak disapa atau ngobrol ini itu. Dulu dia sering dijodohkan dengan saya oleh seorang teman yang tengil.

“Kamu dulu naksir aku ya?” tanya saya iseng.

“Hai, jangan keras-keras dong tanyanya!”

Kami tertawa. Hari itu semua mencair. Setelah 22 tahun pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan jadi berani ditanyakan meski tidak akan mengubah apa-apa. Yang penting sedikit beban terlepas dan kita menjadi lega.

Saya memang tidak terlalu suka reuni. Tapi untuk kali ini semua perasaan saya yang mengganggu tentang reuni, entah kenapa, hilang menguap. Ini bukan tentang saya suka atau tidak. Ini adalah tentang sebuah misi untuk kebahagiaan banyak orang. Saya terharu sudah membantu mempertemukan sekitar 90 orang yang selama ini terpisah.

Akhirnya, reuni memang mengenang masa yang telah lewat. Namun bukan untuk menyesalinya, tapi untuk bersyukur saya sudah sampai sini. Saya yang dulu seorang remaja minder yang canggung, kini telah menjadi seorang perempuan yang matang dan bahagia dengan hidupnya.

reuni01

KEJUTAN DARI BU YAYUK. PAGI-PAGI SUDAH SMS BU YAYUK DAN LANGSUNG DISETUJUI. ACARA ‘TEBAK SIAPA SAYA’
reuni02
BAND SMALAN 90. KATANYA LAMA NGGAK LATIHAN, TAPI TETAP SAJA LUAR BIASA, MENGHANGATKAN SUASANA YANG DINGIN DIGUYUR HUJAN SEPAGIAN

 

reuni03

MC YANG RELA MELEPAS JOB JUTAAN DEMI REUNI SMA. HAHAHA…

 

reuni04

SEMUA GEMBIRA

 

reuni05

PANITIA LEGA. CUMA KETUA YANG JELAS KEDUDUKANNYA KARENA MESTI KASI SAMBUTAN. LAIN-LAINNYA ASAL KERJA YANG PENTING RELA MELUANGKAN WAKTU DAN TENAGA SERTA DANA

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Reuni SMA"

  1. phie  25 August, 2013 at 02:11

    Ci Lani: iya klo lg sempet aja nongol2 di sini mkne suka ketinggalan baca apa gosip! dodolan apem’e wis kukut…hahaha….

  2. Bagong Julianto  25 August, 2013 at 00:57

    Reuni… reuni….
    Asyik.. ada perubahan dan perbaikan opini Wesi,,,,,
    Reuni kalau diniati untuk membahagikan banyak kawan….whah sip tennan!

  3. Gunawan Prajogo  24 August, 2013 at 12:49

    Mbak Wes, alinea ke 15, kalimat pertama : Mencari alamat teman-teman yang sudah terpisah selama 22 tahun sungguh ……………mudah. Ada kata ” tidak ” yang terlupakan kalau dihubungkan dengan kalimat-kalimat berikutnya.

    Anyway, waduh gayane pakai bahasa linggis segala….hehehe…. suasana reuni selalu menyenangkan, semacam nostalgia. Sangat disayangkan, teman-teman yang tidak sukses didalam kehidupannya akan mencari seribu macam alasan untuk tidak datang…… karena malu dan sebagainya.

  4. Lani  24 August, 2013 at 10:30

    WESIATI : ktk melihat foto penyamaran bu Yayuk aku sempat ngakak………kudunge tumbuh rambut…………hahahah……….woalah jebule ngono ta critane………..hebat ya bu Yayuk mau dikerjain demi memeriahkan acara reunian……….semua jd seneng/gembira ria

  5. Lani  24 August, 2013 at 10:26

    12 PHIE : suwe ora jamu……..apa sdh pensiun le dodolan apem mekrok????? apa aktif tp hanya sbg silent reader??? Jebule dikau nek wis jahate ampyuuuuuuun…………..yaitulah menungso yo

  6. J C  24 August, 2013 at 09:16

    Wesiati, nanti kalau ada kesempatan pas ke Semarang, dan ada acara di bulan November, aku njaluk tulung aturkan waktu ketemu beliau ya…

  7. wesiati  24 August, 2013 at 08:57

    hennie : senang tapi capeeeek. soalnya ikutan jadi panitia.

    Mbak nunuk : guru pensiun 60 tahun. dosen pensiun 65. kalo struktural pensiun 56.

    Mbak Lani : hahaha… gitu aja meri.

    JC : Aku guru tapi masih muda. jadi belum bisa dikatakan awet muda. kalo sepuluh tahun lagi, baru deh, bisa dibilang gitu. heheheh… Iya, bu Rohyati masih ngajar dan termasuk senior di sini. kira2 2-3 tahun lagi pensiun. tapi jian.. masih sehat dan semangatnya luar biasa. karena di sekolah ini jam ngajarnya kurang, beliau ‘nyambi’ di sma swasta dekat sini : Mardisiswa

    Phie : aku juga kok. hahahahah… sing mbiyen kemayu-kemayu jebul yo ngono wae. wkekeke… yah akhirnya sawang sinawang. nggak usah iri atau jengkel sama jalan nasib orang lain.

  8. phie  24 August, 2013 at 08:37

    “Terlintas dalam pikiran saya, kehidupan seperti apa yang mereka lalui. Dengan kehidupan berliku yang telah saya sendiri alami, saya menatap teman-teman saya dan berpikir, apakah hidupmu menyenangkan? Apakah hidupmu menyedihkan sehingga acara ini menghiburmu? Banyak pertanyaan melintas-lintas dalam benak saya.”

    mbak Wesiati itu kalimatnya sungguh mengena krn saya jg sering mbatin kya gitu klo pas ktemu teman lama yg ga prnh kontak, atau di FB di-add tmn lama yg ga pernah kedengeran kabarnya. ada bbrp teman lama yg saya terima pertemanan di FB bukan krn saya pengin komunikasi tp ada dendam masa lalu gmn dulu dia dan tmn2nya sok jagoan dan suka ngebully toh skrg hidupnya susah. jd ya ngebatin aja “lihat nih hidupku skrg, mampus aja lu” …hahaha jahat sih ya tp gmnaaaa….saya jg manusia

  9. J C  24 August, 2013 at 04:49

    Wesiati, komentarmu untuk bu Nunuk dalam rangka ngalem (muji) diri sendiri yo? Kalau guru awet muda…

    Yang masih terheran-heran adalah guru fisika SMA’ku sekarang malah kolega dirimu… salam untuk beliau ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *