Orang-orang Baik

Awan Tenggara

 

Pak Muchtar, namanya. Ketika melihatnya dengan mata yang biasa, orang jelas hanya akan menganggapnya sebagai orang yang biasa. Begitupun saya ketika pertama kali bertemu beliau. Penampilannya yang apa adanya, juga cara berjalannya yang timpang, sudah pasti akan membuat orang-orang yang biasa berjalan dengan menengadahkan kepala menganggapnya sebagai seseorang yang tidak perlu dipandang. Tapi, tidak bagi saya. Jenis orang seperti Pak Muchtar inilah yang sejujurnya membuat saya tertarik. Bukan ada sebab lain, kecuali karena saya beranggapan bahwa sebagai pemuda yang menilai dirinya sendiri masih sering berlaku sombong, saya merasa akan bisa berguru tentang kerendahhatian kepada orang seperti beliau. Itulah kenapa jika ada orang yang terhadap Pak Muchtar ini sangat ingin menghindar, saya akan menjadi satu-satunya orang yang justru ingin mendekati.

Pak Muchtar adalah seorang pemilik warung yang terletak sekitar seratus meter dari tempat kerja saya yang baru di Magelang. Dan warung inilah yang kemudian membuat saya begitu ingin bicara lebih dalam dengan beliau. Secara tidak sengaja, saya datang ke warung tersebut ketika mencari rokok. Aneh, itulah kesan pertama yang saya dapatkan. Cuma rokok yang tidak tersedia di sana. Tapi, ada banyak sekali makanan dan minuman ringan yang dijajakan di etalasenya. Juga beragam ikan hias, pakan binatang dan mainan anak! Kombinasi inilah yang menjadi alasan kenapa saya menyebut warung dengan ukuran 4×4 meter yang terbuat dari bambu itu aneh. Kendati tidak mendapatkan apa yang saya cari di sana, keanehan warung Pak Muchtar inilah yang membuat saya tertarik untuk kembali mendatangi beliau di lain hari.

Sungguh ada sesuatu yang menggelitik hati saya ketika saya bicara dengan beliau.

“Ini namanya warung campur.” Kata Pak Muchtar sambil tertawa ketika saya bertanya perihal apa yang dijajakannya. Begitu semangatnya beliau ketika bercerita. Bahkan saya hampir tidak menemukan celah untuk turut andil di dalamnya. Maka, “Oh,Nggih to? (Baca : Oh ya?)” menjadi satu-satunya kata yang saya paling sering ucapkan dalam pembicaraan dengan Pak Muchtar ini sambil tersenyum kecil sepanjang pertemuan.

Yang menggelitik hati saya adalah apa yang disampaikan Pak Muchtar dalam ceritanya; Saya jarang menemukan orang kecil seperti beliau ini berbuat seperti apa yang disampaikannya. Normalnya, orang mencari rejeki dari berdagang adalah untuk menumpuk kekayaan, atau yang paling lazim adalah untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Tapi, Pak Muchtar lain. Beliau berdagang adalah untuk meringankan beban orang-orang yang lebih tidak mampu darinya dengan memberi santunan.

“Kalau untuk urusan makan sehari-hari saja istri saya juga jual makanan.” Katanya.

Tentu tidak baik menceritakan kebaikan diri sendiri kepada orang lain. Tapi, saya sangat tahu mana orang yang bercerita seperti itu sebab kepolosan dan mana orang yang bercerita seperti itu untuk menyombongkan diri. Dan bagi saya, Pak Muchtar termasuk dalam golongan yang pertama. Sebagai orang desa, beliau memang terlalu polos ketika bercerita.

Saya jadi ingat juga pernah bertemu dengan orang seperti Pak Muchtar ini beberapa waktu lalu. Namun, dari background yang berbeda dengan Pak Muchtar. Beliau adalah seorang Sekretaris Dewan di DPRD Provinsi Jawa Tengah. Beliau juga bercerita tentang hal yang hampir sama dengan Pak Muchtar. Bapak ini juga sangat baik, tapi menolak untuk dibalas kebaikannya. Contohnya ketika beliau bertamu ke tempat kerja saya di Magelang. Bapak ini selalu menolak saya bikinkan minuman, bahkan teh hangat tanpa gula pun tidak mau juga dengan alasan masih menderita penyakit entah. Padahal bukan karena sebelumnya beliau sudah mentraktir saya rokok sehingga saya menawarinya minum, tapi karena beliau memang adalah seorang tamu. Aneh, memang. Kenapa saya bilang aneh adalah karena ketika saya mengantarkan beliau mencari hotel untuk menginap di akhir pertemuan, kami ngopi dan ngeteh bareng di sebuah warung.

Ingat Pak Sekwan ini, saya juga jadi teringat seorang bapak yang dulu pernah mengobati penyakit saya. Bapak yang terakhir ini, ketika saya menelponnya dengan nomor dari operator Indos*t, beliau menolak mengangkatnya karena nomor beliau adalah nomor dari operator T*lkomsel. Tapi, setelah saya matikan karena tak diangkat-angkat, beliau malah menelpon saya dari nomor operator yang sama dengan nomor saya tidak lebih dari lima detik setelahnya (saya ketika itu tidak tahu kalau beliau punya dua nomor). Padahal bukan beliau yang butuh saya, melainkan sebaliknya. Apa artinya menelpon dengan operator yang sama tidak lebih dari lima detik setelah telepon saya matikan jika bukan karena beliau tidak ingin saya kehilangan banyak pulsa karena menelpon nomor beliau dari operator yang berbeda dengan nomornya? Padahal saya tidak pernah peduli akan kehilangan banyak pulsa ketika itu. Sungguh, ini memang merupakan hal kecil. Tapi ternyata, kebaikan walaupun kecil, orang akan selalu mengingatnya. Saya salah satu contoh orang yang mengingat itu.

orang-orang-baik

Tiga bapak yang saya ceritakan ini, kawan. Adalah bukti bahwa masih ada orang-orang yang baik di negri ini. Dan saya merasa menjadi orang yang beruntung karena telah dipertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang seperti beliau-beliau ini. Sungguh, apalagi ini namanya kalau bukan anugrah. Dan kalian, kawan, jika ingin ada orang yang nanti mengingatmu sebagai anugrah yang pernah diberikan Tuhan kepadanya maka, berbuat baiklah!

Hidup bukan hanya tentang lahir dan wafat. Hidup juga tentang berbuat dan diingat. Kau jahat, orang akan mengingat. Kau baik, orang akan mengingat. Dan kau boleh memilih mau diingat sebagai yang mana.

 

AwanTenggara,

Glagah, Juli 2013

 

10 Comments to "Orang-orang Baik"

  1. Dewi Aichi  27 August, 2013 at 04:13

    Terima kasih Mas Awan Tenggara, beruntung mengenalmu walau hanya beberapa jam tetapi sangat berkesan, dan tidak akan dilupakan, ramah, senyum dan enak mengobrol…menyejukkan tulisannya….semoga kita selalu berusaha untuk berbuat baik, sekecil apapun itu semoga bermanfaat.
    Fotonya sangat bagus.

  2. Dj. 813  27 August, 2013 at 02:58

    Mas Jenar..
    Terimakasih untuk renungannya.
    Dj. yakin, masih banyak orang baik didunia ini.
    Bahkan saangat buanyak, hanya biasanya orang baik
    tidak ingin dilihat dan mendapat pujian.
    Hanya orang congkak yang menginginkan agar orang tahu, apa yang dia peprbuat.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. Hennie Triana Oberst  27 August, 2013 at 00:42

    Tulisan yang menyejukkan. Memang masih banyak orang baik di sekitar kita.

  4. Lani  26 August, 2013 at 21:24

    HAND : halah………maunya ya Han?

  5. Handoko Widagdo  26 August, 2013 at 17:49

    Jadikanlah diriku menjadi orang baik yang bisa membaikan orang.

  6. elnino  26 August, 2013 at 14:17

    Nice writing..

  7. Lani  26 August, 2013 at 11:08

    Berbuat kebaikan dan kejahatan, dua2nya akan sll diingat oleh org lain, akan ttp jelas mrk mengingatnya dgn kondisi yg berbeda……..
    Utk aku pribadi, klu bisa berbuat baik/kebaikan……….mengapa hrs memilih berbuat jahat????? ya toh?

  8. James  26 August, 2013 at 11:04

    Doea, org paling baik

  9. J C  26 August, 2013 at 11:00

    Memang masih banyak sekali orang-orang baik di sekitar kita…

  10. Lani  26 August, 2013 at 10:49

    satoe org baik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.