Maafkan Aku Bunda (3)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Ku peluk Ayah, ku cium pipinya dan aku berbicara untuk memberinya beberapa syarat, “Ayah, andai benar Tante Lida itu akan menikah dengan Ayah, aku mau tidak mau akan setuju, tapi ada syaratnya”.

Wajah Ayah nampak tercengang, “Hah? Setuju? Kamu yakin sayang? Apa syaratnya? Ayah mau dengar dan Ayah usahakan untuk dapat memenuhinya”

“Aku mau kita tetap bisa jalan-jalan berdua, lalu aku juga nggak mau manggil Tante Lida dengan kata ‘IBU’, aku juga nggak mau kebutuhan aku dikurangi gara-gara ada dia, gimana Ayah? Gampangkan syarat dari aku?”, Aku bicara secara spontan dan semua itu jelas di luar tahu Oma dan Bude.

Ayah memelukku, Ayah nampak berbahagia, “Tahukah kamu Nak? Kamu-lah harta Ayah yang paling berharga, Ayah memilih Tante Lida karena tahu dia juga sangat sayang dan mencintai kamu, tapi kalau kamu keberatan untuk memanggil Ibu, Ayah ngerti kok, kita tetap bisa menjadi keluarga yang bahagia”.

*****

Dan setiba di rumah, aku habis kena omel Oma, “Aduh Cucu Oma kenapa jadi bodoh, jadi kamu setuju Ayahmu mau nikah sama Shalida? Gimana nak kalau kamu dianiaya? Bisa mati Oma kalau itu sampai terjadi”, Oma berbicara sambil menangis, aku sendiri diam terpaku, semua ini sebenarnya di luar batas pemikiranku.

Akhirnya Oma memberi berbagai wejangan kepadaku dan itu sebenarnya yang makin membuatku jauh dengan Ibu Tiriku. Oma melarangku mengikuti segala perintah Tante Lida dan kalau Ayah memaksa maka aku wajib mengadu kepada Oma, Aku juga harus mengawasi jangan sampai Tante Shalida menguras harta Ayah, intinya apapun yang aku lihat atau dengar harus diadukan kepada Oma dan Bude.

*****

Pesta pernikahan Ayahku sangat sederhana, hanya ada penghulu dan Paman dari Tante Shalida sebagai saksi. Eyang Hudi dan Eyang Dinar juga hadir, merekalah yang membuatku mau ikut diacara akad nikah itu, maklumlah beberapa tahun terakhir Eyang pindah ke Palembang dan rumah mereka di Jakarta sudah dijual lantaran terlalu besar untuk dihuni berdua.

Eyang Dinar nampak menyukai Tante Shalida, diciuminya wajah Tante Lida dengan penuh kasih, tak lupa Eyang Dinar berpesan agar Tante Lida menyayangiku bagai putrinya sendiri. Semua terlihat normal dan baik-baik saja, namun dalam hatiku selalu tersulut kebencian yang selalu hadir karena rasa curiga, aku selalu berprasangka buruk, seburuk kisah Ibu Tiri yang selama ini kudengar.

*****

Dan kehidupan rumah tangga Ayah berjalan tanpa suatu kendala apapun. Tante Lida berhenti bekerja, bahkan dia mulai memakai jilbab. Memasak, merapihkan rumah, dan segala kegiatan ibu rumah tangga lainnya. Namun mungkin aku tumbuh menjadi wanita yang jahat, ada saja rasa curiga yang membutakan hatiku, aku berusaha melihat Tante Lida dari sisi yang buruk.

Sabtu pagi adalah acara rutin sarapan bersama, 4 tahun aku lalui ritual itu bersama Ayah dan Tante Lida dan 4 tahun itu juga aku bagaikan duri dalam daging. Selalu saja protes bahwa sosis-nya terlalu mentah, roti isi telur membuatku gemuk, kopinya tidak berkwalitas baik dan sejuta cela lainnya yang kucari-cari.

Namun Tante Lida tetap saja terus bersabar dan kadang justru Ayah yang marah dan membentakku hingga aku menangis penuh kecewa mengadu pada Oma.

Dan Oma tak bosan mengatakan bahwa Tante Lida itu pura-pura baik karena takut pada Oma. Lalu Oma kerap bertanya apa Tante Lida pernah terlihat muntah-muntah tanda mengidam? Dan tiap kujawab dengan gelengan kepala, Oma langsung bicara pada Bude Yanti bahwa ia yakin Shalida itu mandul.

Aku bagaikan agen rahasia berhati busuk, apa saja aku laporkan pada Oma, seperti siang itu, sepulang dari kampus aku mampir ke rumah Oma, dan memberikan hasil pantauan seminggu. “Oma tau nggak? Tante kan kemaren beli perhiasan lagi tuh sama Ayah, mereka jalan berdua sepulang Ayah dari kantor”.

“Dasar perempuan serakah! Mata duitan! Sayang besok kamu jangan mau kalah, minta dibelanjain juga sama Ayahmu, gila aja tuh perempuan, rajin belanja tapi lupa sama kamu ahhhh rasanya pengen Oma caci maki saja”, Jawab Oma dengan geram.

“Jangan Oma, nanti ketahuan aku yang mengadu, tapi soal minta belanja, jangan khawatir, aku kan pegang juga kartu kredit tambahan hadiah masuk kuliah, aku akan belanja”, Aku bicara dengan sangat antusias, persis perempuan tolol. Namun saat itu aku justru merasa bagai perempuan paling brillian saja.

*****

Dan aku pun benar-benar belanja habis-habisan, aku menggesekkan kartu kredit itu dipusat perbelanjaan mewah, aneka barang sengaja aku beli, sepatu, tas, aneka busana, kosmetik, “what you see is what you get”, itu lah  prinsipku. Dan saat pulang ke rumah aku begitu repot membawa puluhan kantung belanjaan ke kamarku di lantai dua.

Tentu saja Tante Lida melihatku dan dia bertanya, “Arin sayang? Kamu belanja kok banyak sekali? Apa Ayahmu sudah memberi izin?”

“Tante ini aneh ya? Kenapa mesti izin? Ayah kerja kan buat memenuhi hidupku? Lagian sekali-kali ngeborong barang bermerek kan nggak salah? Lagian Ayahku kan Vice President di kantor, so what gitu loch!!”, Jawabku dengan kurang ajar, “Kalau Tante iri, ya sana belanja saja sendiri kan Tante dikasih Ayah kartu kredit juga? Malah lebih banyak tuh kartunya”.

“Masyaallah Arin, ngapain Tante iri? Tante cuma nggak mau kamu dimarahi Ayahmu, itu saja nak!”, Tante Lida menatapku dengan mata berkaca-kaca, entah karena tersinggung atau justru merasa kehabisan akal menghadapi tuduhanku.

“Udah ahh, kalau Tante nggak ngadu yang aneh-aneh, aku yakin Ayah nggak bakal marah kok, ya udah ya Tante, aku mau ke kamar, mau nyobain belanjaan aku”, Dan aku pun tenggelam dengan aneka barang yang berhasil aku beli dalam waktu 4 jam.

Di dalam kamar aku memutar lagu Kesha berjudul Tik Tok dan aku mencoba aneka gaun, tas dan sepatu melenggang membayangkan sedang berada di suatu peragaan busana papan atas.

*****

Dan 3 minggu kemudian ku dengar suara Ayah memanggil namaku dengan bentakan, aku benci itu! Aku turun ke lantai bawah, Ayah duduk di sofa dengan wajah kesal, aku dengan langkah diseret menuju kursi di depannya.

Ayah pun segera saja mengacung acungkan lembaran tagihan kartu kredit ke hadapanku, “Arin!!!! Kamu mau jadi gadis bodoh ya?!! Ini ada tagihan kartu kredit! Di sini ada nominal 52 juta rupiah!!!! Kamu beli apa saja???? Ini sudah keterlaluan”, Ujar Ayah dengan wajah merah padam.

dining-room

Aku tercengang mendengar angka itu, ahh apa iya waktu itu aku menghabiskan sebanyak itu? Pasti Tante Lida juga pakai kartu kredit itu, dia kan juga dikasih Ayah, dia kan pemegang kartu utama, “Kok Ayah nuduh aku? Bisa aja Tante Lida tuh, aku sih emang pakai tapi kayanya gak sebanyak itu, lagi diskon kok waktu aku belanja, pasti deh ada laporan nggak bener nih”, Aku membela diri.

“Laporan apa? Ayah liat semua ini dari tagihan bulanan, Ibumu nggak pernah bicara apapun!!! Atau kamu belanja atas izin dia?”, Ayah berkata sambil menatapku tajam.

“Dia bukan Ibuku! Dan yang jelas kartu itu kan Tante Lida juga punya, jangan main nyalahin aku aja Yah!”, Jawabku tanpa rasa bersalah. Tak lama Tante Lida datang, pulang dari mini market dan Ayah langsung mengajaknya bicara.

“Bunda, Ayah mau tanya, apa kamu pernah belanja dan habis 52 juta? Ini ada tagihan sekitar 57 juta dan 52 jutanya itu adalah transaksi dalam satu hari”, Ayah pun menyodorkan tagihan bulanan.

Tante Shalida terbelalak, “Wah aku paling pakai kalau ke supermarket, belanja mingguan, kalau beli barang-barang kan terakhir sama kamu Mas? Bulan lalu. Jangan-jangan salah cetak, nanti aku coba telepon costumer servicenya”.

Ayah menggeleng dan bicara, “Nggak usah sayang, semua yang tertera di lembar tagihan ini benar, lihat saja ada Christian Dior, Versace, Sogo wah dalam satu hari saja lebih dari 12 toko!! Yang salah dan bodoh ya pelakunya bukan tagihannya!”.

Sindiran Ayah membuat telingaku bagai ditusuk, sakit sekali hatiku mendengarnya, “Iya aku memang beli tas, sepatu, baju, buku dan lain-lain. Itu lagi diskon semua! Ayah kok sekarang mulai hitung-hitungan?? Aku malam ini juga mau ke rumah Oma, Ayah benar-benar sudah berubah”, Aku bicara dengan airmata membasahi pipi.

“Kamu tidak boleh keluar rumah, kunci mobilmu Ayah sita dan kamulah yang berubah jadi tolol, biar diskon tetap saja masih jutaan, kalau beli satu atau dua barang sih Ayah tidak masalah, lha ini?”, Sambil berbicara Ayah pun berjalan ke arah buffet dan mengambil kunci mobilku, dan melihat itu tangisku meledak, sudah dikatai tolol, aku juga tidak boleh pergi membawa mobilku. Aku berlari ke kamar dan menelpon Oma dengan isak tangis.

Dan Oma memegang janjinya, akan menjadi malaikat yang siap untuk melindungiku. Oma dengan segera datang menjemputku dan aku mendengar Oma berdebat dengan Ayah. ” Yusuf, kamu kok tega memaki-maki Arin? Hanya gara-gara dia belanja? Aku akan ganti semua belanjaan Arin, biar kamu puas! Perhitungan banged sama anak, dia itu anakmu satu-satunya, anaknya KARIN juga! Itu lho anak kandungku yang sudah meninggal!”, Oma menekankan kata ‘Karin’ demi menyindir Tante Lida yang duduk di sebelah Ayah.

“Lho Mami ini apa-apaan? Arin itu belanja 52 juta dalam satu hari? Apa itu pantas dilakukan anak 18 tahun?? Bukan masalah uangnya Mi, tapi cara dia itu!”, Jawab Ayah dengan sengit.

“Ohhh hebat! Kamu sudah berani teriak ke Mami?! Oke aku cuma mantan mertua, tapi Arin tetap Cucu aku! Belom lupakan? Dia itu lahir dari rahim anakku, Masih ingatkan sama Karin??? Anakku yang sempat menjadi istrimu?”, Oma bicara dengan tegas namun tajam, Ayah terduduk dengan wajah pucat pasi lantaran terluka oleh ucapan Oma.

Tante Lida berusaha meredakan emosi Ayah, “sabar Mas, biar tenang dulu yaa”, Ujarnya seraya merangkul Ayah dan kemudian memaksa Ayah minum segelas air.

******

Dan aku pun berangkat ke rumah Oma dengan penuh rasa kemenangan. Sepanjang jalan Oma mengomel, “Biar nanti Oma suruh asisten Oma buat antar duit ke Ayahmu jadi dia nggak perlu ribut gara-gara duit segitu, Shalida bener-bener sangat membawa pengaruh buruk!”.

Dan seminggu kemudian aku kembali ke rumah Ayah, aku melihat Tante Lida sedang duduk sendirian di meja makan dan buru buru bangkit saat melihatku datang. “Oh kamu sudah pulang? Bisa nggak Tante bicara sebentar sama kamu nak? Sepertinya ada salah paham di sini”, Suara Tante Lida terdengar tegas walau tetap lembut.

Aku pun duduk tanpa membantah, lalu Tante Lida bicara, “Arin, Ayahmu merasa terhina dengan sikap Oma, apa kamu nggak tahu? Oma kamu mengirim uang cash 52 juta beberapa hari lalu? Tahukah kamu alasan Ayahmu marah?? Bukan karena nggak bisa bayar 52 juta, tapi cara kamu memakai kartu itu dengan tidak bijak”.

Aku menghela nafas, tak ku sangka Oma benar-benar mengirim uang kepada Ayah, kulirik sebuah amplop besar warna coklat tergeletak di meja makan. “Ya salah Ayah pakai marah segala, aku kan pengen belanja sekali-kali, lagian aku juga lihat Tante Lida beli perhiasan jutaan dan aku nggak ribut, aneh banget sih?!”, aku menyahut.

Tante Lida mengkerutkan keningnya, “Perhiasan yang mana?? Cincin berlian?? Masyaallah Arin, kenapa kamu kira itu punya Tante? Itu cincin kawin milik Almarhumah Ibu kamu, Ayahmu menjatuhkannya dan 2 mata berliannya lepas, susah payah kami mencarinya hingga akhirnya ketemu. Dan mau nggak mau kita service ke toko perhiasan! Tante pribadi kurang suka pakai perhiasan!”.

Aku melongo, ternyata aku salah duga, namun gengsi juga kalau terlihat salah, maka lagi-lagi aku berkelit dan mencari cari kesalahan Tante, “Kalau memang cincin itu kepunyaan Almarhum Ibu, ngapain Tante sok ikut repot ngurusin?”, sungguh aku merasa menang, merasa jenius dapat memojokkan Tante Lida.

“Mau tau alasannya?! Karena Ayah kamu adalah suamiku dan aku berhak mendampingi dia dan sebagai istri aku wajib membantu dia, Ayahmu mana tahu soal perhiasan dan untuk itu aku antar. Dulu bos Tante, Miss Yashaki Maori sering menyuruh Tante membawa perhiasannya untuk dicuci atau diservice! Kok bisa-bisanya kamu nuduh aku beli perhiasan”, Tante Lida bicara serius dan juga tegas, aku sebenarnya agak malu sudah salah tuduh.

“Salah Tante pokoknya, siapa suruh ikut repot ngurus barang-barang Ibuku, kan nggak ada yang nyuruh, jadi kan wajar kalau aku salah sangka”, Jawabku tetap tidak mau kalah.

“Arin, kamu harus belajar berfikir positif, alasanku ikut repot ngurusin barang-barang Almarhum Ibumu, karena aku mencintai Ayahmu, barang-barang Almarhum Ibumu selalu dijaga olehnya! Aku tidak mau menghapus segala kenangan tentang Mbak Karin, aku mendampingi Ayahmu di masa sekarang ini, namun bukan berarti aku harus ganggu masa lalunya!”, Tante Lida bicara dengan tegas, aku diam menunduk, kehabisan kata, bahkan tak berani untuk mengadu pada Oma. Lidahku kelu membisu oleh fakta yang sebelumnya tidak aku ketahui.

 

8 Comments to "Maafkan Aku Bunda (3)"

  1. [email protected]  29 August, 2013 at 10:54

    BWAHAHAHAHAHAHHAHAHA….

  2. Alvina VB  28 August, 2013 at 21:12

    Memang sich ibu tiri indentik sangat kejam, ttp saya punya temen sekolah duluuuu yg punya ibu tiri baik banget, katanya malah lebih baik dari ibu kandungnya, gak cerewet, gak pernah dimarahin, terserah aja suka2 sendiri mau ngapain aja enggak pernah ditegur, pokoknya ibu tirinya katanya cool banget. Trus saya jadi mikir, lah..ini sih ibu tiri EGP aja, lah wong bukan anaknya sich…..

  3. J C  28 August, 2013 at 10:09

    Aku asli ngakaaaakkk baca komentar Kang Chandra…

  4. Lani  27 August, 2013 at 12:59

    CHANDRA S: wakakak………..jd oma minta dinikah sama mantune????? hahaha………

  5. chandra Sasadara  27 August, 2013 at 11:52

    si Yusuf (bapak Arin) memang ga peka, jelas si Oma (mantan mertua) itu minta dinikahi..wkwkwkwk

  6. Dewi Aichi  27 August, 2013 at 09:39

    Arin….bersikap begitu akibat ulah omanya….wah oma..omaaaaaa….kenal dulu dong sama tante Lida…baru menilai…..

  7. Lani  27 August, 2013 at 09:21

    Kesalah pahaman membawa bencana

  8. Lani  27 August, 2013 at 08:50

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.