Romantika Bung Tomo

Osa Kurniawan Ilham

 

Saya tidak perlu memperkenalkan lagi pahlawan kita bernama Soetomo atau Bung Tomo. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tentu tidak pernah lepas keterkaitannya dengan Bung Tomo. Nah, saya mau berbagi sisi lain dari Bung Tomo, yaitu sisi romantikanya.

bungtomo01

Bung Tomo

(Sumber: Sulistina Sutomo, Bung Tomo Suamiku, Pustaka Sinar Harapan, 2008)

Bung Tomo pernah bersumpah bahwa dia tidak akan menikah kalau perjuangan belum selesai dan kemerdekaan total belum tercapai. Cuma masalahnya sampai tahun 1947 Bung Tomo adalah buronan kelas atas Belanda karena kepiawaiannya dalam mengagitasi dan memprovokasi perjuangan rakyat dalam melawan Belanda. Karena itulah ada rencana pemerintah untuk menerbangkan Bung Tomo pada tahun 1947 ke Australia untuk melanjutkan perjuangan propaganda dari sana.

Berkaitan dengan hal ini banyak pemimpin pejuang yang takut kalau Bung Tomo di sana malah kecantol sama gadis Australia yang memang kebanyakan cantik dan agak agresif, mengingat Bung Tomo adalah pemuda yang tampan, selalu berpenampilan rapi dan dendi.  Akhirnya diputuskan bahwa Bung Tomo harus menikah dulu tanggal 19 Juni 1947 sebelum berangkat ke Australia.  Tapi ada syaratnya, selama 40 hari pertama menikah mereka dilarang berhubungan suami isteri karena kalau mereka melanggarnya maka medan pertempuran bisa dibobol tentara Belanda.

Ada masalah lain. Masa perjuangan revolusi paska proklamasi 17 Agustus 1945 secara tidak langsung memunculkan pendapat bahwa revolusi juga menuntut pengorbanan segala-galanya termasuk perkawinan sebagai kenikmatan pribadi. Iklan-iklan perkawinan dan pertunangan di surat kabar seringkali membuat jengkel para pejuang yang berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan saat itu adalah bertentangan dengan sifat revolusi. Karena itulah makanya Bung Tomo seperti memiliki perasaan bersalah karena menikah pada waktu revolusi. Bahkan ia meminta ijin dari kelompoknya sebelum melaksanakan pernikahan termasuk sumpah untuk tidak menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami-isteri.

Hal itu terlihat jalas dalam sebuah iklan di harian Boeroeh, 16 Juni 1947 berikut ini:

MENIKAH

Mengingat gentingnya masa, maka perkawinan kawan kami SOETOMO (Bung Tomo) dengan PI SOELISTINA, yang akan berlangsung bertemunya nanti pada tanggal 19 Juni 1947 jam 19.00 tidak kami kehendaki akan dirayakan dengan cara bagaimanapun juga. Pucuk Pimpinan Pemberontakan menyetujui perkawinan kedua kawan seperjuangan itu, berdasarkan perjanjian mereka.

1.            Setelah ikatan persahabatan mereka diresmikan itu, mereka akan lebih memperhebat perjuangan untuk Rakyat dan Revolusi.

2.            Meskipun perkawinan telah dilangsungkan, mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami-isteri sebelum ancaman terhadap kedaulatan Negara dan Rakyat dapat dihalaukan.

Kami akan berterima kasih, bila kawan-kawan seperjuangan dari jauh berkenan memberikan berkah pangestu kepada kedua mempelai itu.

TETAP MERDEKA

Dewan Pimpinan Harian Pucuk Pimpinan

Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia

Jl. Rampal 75 Malang

 

Hari pernikahan pun tiba. Saat menikah Bung Tomo menyerahkan 2 kain batik kembar sebagai peningset dan calon istrinya sudah membayangkan Bung Tomo akan menjadi pengantin dengan beskap dan kain batik itu. Tapi Bung Tomo datang dengan mengenakan setelan tentara dril warna hijau dengan topi tentara dengan warna yang sama. Untuk penanda sebagai pengantin, ada rangkaian kembang melati yang dikalungkan di lehernya.

bungtomo02

Usai acara pernikahan, malam pengantin pun tiba. Karena mereka sudah bersumpah untuk bertarak selama 40  maka mereka mengisi malam pertama dengan ngobrol ngalor kidul mengenai pengalaman masing-masing di medan tempur. Bu Soelistina pun mengakui sebenarnya susah banget mentaati sumpah untuk bertarak itu, karena itu mereka berdua tidak berani tidur, kuatir kalau terlalu mesra sampai akhirnya melupakan janji. Syukurlah sampai fajar menyingsing tidak terjadi apa-apa walaupun ranjang begitu sempit dan berderit kalau mereka berdua bergerak sedikit saja he..he…

Kata Bu Soelistina, ketika pagi tantenya masuk ke kamar untuk menyuguhkan teh sambil melirik kamar tidur yang masih bersih tidak ada noda darah. Bisa jadi dia heran, malam pertama kok nggak ngapa-ngapain atau sebaliknya jangan-jangan mereka berdua sudah bayar uang muka di depan he..he..Harap maklum karena baik ibu atau tantenya tidak diberitahu mengenai sumpah bertarak itu. Karena itu sumpah di kalangan internal para laskar pejuang saja. Jadi Bu soelistina melewatkan 40 hari itu dengan ikut mendampingi aktivitas perjuangan Bung Tomo juga belajar memasak pada Bung Tomo karena Bu Soelistina sama sekali tidak bisa memasak sementara Bung Tomo jago memasak. Bu Soelistina juga melewatkan 40 hari itu dengan mendapatkan pelajaran dari ibu-ibu senior mengenai bagaimana menjalani hidup sebagai suami isteri.

Bung Tomo akhirnya tidak jadi diterbangkan ke Australia karena lapangan terbang Bugis di Malang terlanjur dikuasai Belanda lewat agresi militernya. Lalu bagaimana mereka mengakhiri masa bertarak 40 hari itu?

Mereka berdua mengakhiri masa bertarak 40 hari itu di sebuah kamar 5m x 5m di Markas BPRI di Jalan Balapan Yogyakarta. Di kamar yang berfungsi sebagai kamar tidur, kamar makan dan ruang tamu itulah mereka menjalani malam pengantinnya. Sehari sebelumnya Bung Tomo memberikan buku Kamasutra untuk dibaca oleh isterinya dan langsung mereka praktekkan keesokan harinya. Kasur dipindahkan oleh Bung Tomo ke bagian tengah kamar. Lampu dimatikannya dan diganti oleh terang nyala lilin. Begitulah….Malam pengantin kami romantis banget, kata Bu Soelistina dalam bukunya, Bung Tomo Suamiku.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 23 Agustus 2013)

 

14 Comments to "Romantika Bung Tomo"

  1. elnino  9 September, 2013 at 17:51

    Wuah, perngorbanan yg luar biasa. Berpantang malam pengantin sampai 40 hari, sampai segitunya ya, demi perjuangan yg sedang dilakukan.
    Kalo gak salah anaknya Bambang Sulistomo ya? Anaknya juga cakep mirip ayahnya.

  2. Mawar09  28 August, 2013 at 22:33

    Osa Ki : terima kasih artikelnya. Memang Bung Tomo itu tampan, suka lihat matanya. Sama dengan Alvina, saya juga lagi mikir kok jaman itu bisa gampang dapat buka kamasutra, atau memang sudah lama di koleksi oleh beliau? salam!

  3. osa ki  28 August, 2013 at 22:06

    Saya juga heran kok bisa2nya bung Tomo dapat buku kamasutra. Mungkin isinya hanya tulisan aja kali. Pembacanya disuruh membayangkan sendiri he…he…

    O ya terimakasih atas provokasi untuk nulis bukunya

  4. Alvina VB  28 August, 2013 at 20:13

    Bung Osa K.I., ini cerita Roman jaman perjuangan dulu ya….
    (cuma mikir, kok jaman perjuangan dulu buku kamasutra gampang dapetnya? he…he…..)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.