Tikus

Wendly Jebatu Marot

 

Siang itu aku berjalan menyusuri kampung tani. Sengatan matahari membakar wajah telanjangku. Keringat membanjir membasahi muka dan seluruh tubuhku yangkurus. Langit begitu cerah! Surya pun leluasa memancarkan sinarnya yang panas menyengat tanpa terbendung setitik awan.

Gemuruh angin siang bolong menghantam atap seng rumah-rumah penduduk. Debu beterbangan tak karuan menyambutku lalu bersarang dan menempel di wajah basah keringatku. Dari kejauhan, lewat hembusan angin kencang siang bolong itu, akumendengar suara sayup-sayup memilukan. Awalnya aku kira suara itu adalah suara seorang ibu yang mengina bobo anaknya. Namun lama-kelamaan aku mendengar begitu jelas bahwa ternyata itu adalah suara tangisan.

Tangisan?

Sungguh pilu! Menyayat langit dan menghantam kalbu. Semakin mendekat, aku rasakan suara itu semakin menikam kalbu dan menimbulkan pilu.

Aku melangkah mendekati sumber suara itu. Ternyata seorang ibu sedang menangis.

Ibu itu menangis di pintu masuk rumahnya. Punggungnya tersandar di pintu dengan lutut menekuk. Rambut putihnya terurai berantakan. Ia meratapi lumbungnya yang sudah kosong. Padinya yang dulu penuh, kini sisa sekam dan tai tikus. Isinya sudah dimakan tikus. Iya. Tikus rakus. Tikus pelahap.

Sepanjang hari dia menangis, meratap sambil menyumpahi tikus-tikus itu.

Tikus sialan! Tikus rakus! Tikus tamak! Dasar tikus tak tahu diri!

Dan banyak kata sumpah serapah yang keluar dari bibir keringnya! Hanya kata-kata itu saja yang bisa dia keluarkan. Namun apa daya, tikus itu tak mengerti kata-kata umpatan itu; mereka senang. Kenyang perut senanglah hati! Mungkin mereka mendengungkan seruan itu sambil lari kian kemari. Hari ini lumbung ini, mari kita cari lagi yang lain!  Mereka tak tahu apa itu kesedihan.

Sedih memang melihat cara ibu itu meratapi lumbungnya. Air matanya mengundang pilu. Seperti aku pada saat itu, tak tahan menahan haru sampai air mataku pun ikut membanjir. Sementara itu, tikus-tikus masih berkeliaran,lalu-lalang keluar masuk lumbung kecil itu lewat lubang yang mereka korek sendiri.

Tikus-tikus itu gendut! Perutnya buncit! Mereka kekenyangan, sampai-sampai hampir tak bisa jalan lagi! Tapi aku yakin mereka sedang mencium dan menelusuri lumbung lain yang siap diserang.

Dasar tikus sialan! Gerutuku!

Ibu itu adalah seorang janda. Suaminya sudah lama meninggal tapi tak meninggalkan anak. Wajahnya dekil. Kulit keriput. Dia sudah lanjut usia. Air matanya mengalir deras membasahi pipi dan membanjiri tanah. Tangannya mengais-ngais tanah sambilmengutuki tikus-tikus rakus itu.

Dasar tikuts rakus! Tikus tamak! Tikus ingat perut sendiri!

Aku yang waktu itu sedang dalam perjalanan ke kampung coba mendekatinya dan menanyakan apa gerangan yang terjadi.

Dia tak menjawabku dengan kata terucap bibir. Dia cuma menunjuk ke arah lumbung yakni sebuah keranjang besar yang sudah usang. Aku melangkah dan menengok ke dalam lumbung itu; dan memang, aku melihat sebuah pemandangan yang memilukan.

Dalam lumbung itu, ada parade tikus-tikus seperti para pekerja tambang pasiratau menggali jalan zaman romusa dulu.

Antara rasa jijik dan rasa kasihan berbaur menjadi satu. Aku jijik melihat tikus-tikus buncit itu makan tak ada beban dan menjatuhkan sekam padi ke tanah lewat lubang-lubang kecil lumbung itu. Selain itu, aku juga merasa kasihan karena ibu itu tak memiliki cadangan makanan lagi. Lumbung itu sudah kosong. Mungkin tikus-tikus itu juga, sebentar lagi akan pergi dan mencari lumbung lainnya.

Lumbung itu terbuat dari anyaman buluh yang dicincang. Anyaman buluh itu yang kelihatan seperti gedek kemudian dilengkungkan dan membentuk silinder atau seperti keranjang besar. Alasnya terbuat dari bahan yang sama sedangkan tutupannya tidak lebih dari sehelai kain lusuh yang usur dan mudah koyak. Itulah lumbung khas orang kampong yang sudah diwariskan dari nenek moyang dulu.Mereka menyebutnya langkok atau cecerTak ada alternatif lain, lagi pula yang aku tahu ibu itu sudah sebatang kara. Suaminya sudah lamapergi menghadap sang Khalik. Siapa yang mau menolongnya membuatkan sebuah lumbung baru yang lebih elite?

Sedih memang! Pemandangan itu membuat air mata tak mampu dibendung lagi.

Dasar tikus rakus! Dasar tikus tak punya nurani, tahunya hanya terima bersih! Umpatku dalam hati.

Kemudian aku coba mengusir mereka dengan tongkat, namun mereka tak gubris.

Dasar tikus! Memang mereka binatang dan tak punya perasaan.

Aku tahu, hati sang ibu itu kini menjerit. Nasib buruk beruntun akan menjemputnya.

Bekal sudah habis!

Hujan belum datang!

Musim tanam juga menjadi tak jelas!

Aku tak kuasa menahan haru dan air mataku pun semakin deras membasahi pipiku, seperti kanal pada cadas.

Tikus rakus! Tikus tamak! Tikus buncit! Aku akan membuat perhitungan dengan kamu!

Janjiku dalam hati. Kita akan lihat, sejauh mana kekuatanmu!

Setelah beberapa menit melongo menatap isi lumbung itu, aku pergi menemui nenek tua itu. Aku memegang tangannya dan membawanya ke tempat yang agak teduh.Tapi aku tak mampu berkata apa-apa. Aku hanya diam. Aku mengusap air mataku dan air matanya tanpa sepatah kata. Kami berbicara dalam isakan tangis. Tak lama berselang, satu, dua, tiga orang datang mengerumuni nenek tua dan menyatakan ikut prihatin atas bencana yang menimpa mama tua itu.

Saya kira, kita mesti menemukan strategi baru untuk menjerat tikus-tikus rakus itu! Demikian suara seorang bapak dari barisan belakang.

Mau pasang jerat apa lagi? Kita sudah menggunakan banyak cara tapi semuanya sia-sia! Tikus-tikus itu rupanya pintar menghindar dari jerat! Timpal seorang bapak yang lainnya.

Kamu sudah pernah piara kucing? Tanyaku.

Aduh pak, kucing-kucing yang kami piara itu tak ada guna. Mereka bukannya memburu tikus, malah bermain bersama tikus lagi. Bayangkan pa, kucing juga ikut tidur bersama tikus dalam lumbung!

Aku tercengang. Masa tikus dengan kucing bersahabat?

Begitulah pak! Kami juga tak percaya dengan itu awalnya, tapi ketika kami menyaksikannya sendiri, kami tak bisa menyangkal bahwa hal itu memang benar-benar terjadi. Aneh memang pa, tapi nyata. Tanya saja mereka-mereka yang pernah mengalami musibah ini.

Semuanya mengangguk.

Kami sudah putus asa pak! Kami tidak tahu lagi cara apa yang harus dibuat untuk mengusir tikus-tikus itu. Kadang kami berpikir untuk lebih baik kami bakar saja perkampungan kami dan rumah-rumah kami, biar tikus-tikus itu juga ikut terpanggang!

Itu ide yang buruk pa! kataku. Kalau itu kita lakukan, nasib kita menjadi tambah hancur! Tanggapku.

Tapi harus gimana lagi pak? Bapak ini pendatang baru di sini, sehingga bapak tidak tahu apa yang kami rasakan selama ini. Ibu ini adalah korban yang kesekian di sini. Ada lagi bencana yang lebih besar dari ini akibat ulah tikus-tikus itu!

Aku coba berpikir, mencari solusi yang baru yang mudah-mudahan cuku pefektif. Aku merenung begitu lama, coba mencari jalan keluar yang terbaik tapi masih buntu.

“Kami sudah kehabisan cara pak!

Kami sudah tak tahu harus bagaimana lagi mengusir dan membasmi tikus-tikus ini! Kami datangkan kucing, malah kucing akrap dengan mereka!

Kami kerahkan anjing, tapi anjing hanya duduk melongo menunggu makanan! Tikus, kucing dan anjing sama saja bejatnya!” kata-kata ini masih terngiang di telingaku.

Aku mencari-cari akal, kira-kira apa yang bisa dibuat untuk membasmi tikus-tikus ini?

“Aku pikir, kita tidak perlu putus asa dengan tikus-tikus ini! Kita harus yakin bahwa kita bisa membasmi mereka! Untuk itu, mari kita duduk sama-sama,mencari solusi sama-sama membasmi tikus-tikus itu.”

Cara apa lagi pak? Kami sudah bilang bahwa tikus-tikus ini anti solusi. Biarkita tunggu saja mereka pergi sendiri! Apa lagi sekarang bekal kami sudah habisdan kami percaya mereka akan segera pergi!

Aku mengerti perasaan bapak dan semua orang kampung ini! Tapi jangan putus asa. Kalau pun mereka pergi sebentar, lain kali ketika kita panen, mereka akan datang lagi. Bahkan mungkin mereka jadikan rumah, pondok kita sebagai sarang!

Sekarang kita mesti ambil sikap dengan mengepung mereka dengan racun.

Aku tahu ini juga tak mempan. Tapi kita upayakan untuk menguranginya.

Dan kami pun sepakat.

Racun itu kami taru pada makanan umpan dan di lumbung-lumbung yang berisi sekam-sekam tempat tikus-tikus berparade dan beranak pinak.

Keesokan harinya kami melihat tikus-tikus itu terkapar di tempat-tempat kami menyimpan racun tikus. Bangkai-bangkai tikus memenuhi lumbung yang berisi sekam dan jalanan pun dipadati tikus-tikus mati yang sudah mulai membusuk. Semua orang yang lewat menutup hidungnya untuk mengurangi bau.

Sambil menggali lubang, seorang pemuda berceletuk:

“Kita masih punya satu tikus besar yang melindungi tikus-tikus.”

Aku mengerti maksudnya. Aku ingat bahwa di rumah bapak kepala kampung, tikus-tikus itu pasti masih hidup, karena hanya dia yang menolak rumah dan lumbungnya ditaruh racun tikus. Di sanalah sarang tikus yang belum diracuni.Tapi mau bilang apa? Dia sudah mati-matian tak mau rumah dan lumbungnya ditaruh racun tikus.

Alasannya sederhana. Dia tak butuh racun tikus itu karena dia belum pernah mengalami musibah seperti yang dialami nenak tadi. Kami juga tak memaksakan kehendak. Biarlah dia mengambil keputusannya sendiri. Dan memang, itulah yang terjadi. Rumahnya bebas dari racun tikus.

Sikap kepala kampung itu membuatku bingung. Aku tahu, tikus itu tidak bisadi musnahkan, karena mereka mempunyai lubang persembunyian dan mempunyai sarang yang empuk di tengah kampung itu. Bahkan di sana sekarang, tikus-tikus itu sudah tersebar ke seluruh kampung.

Racun tikus sudah habis. Walaupun demikian,aku tetap senang karena sebagian besar tikus itu sudah mati dan dikuburkan.

Aku pun pamit dari mereka yang sedang sibuk menguburkan bangkai tikus itudan pergi. Aku mau menghadap Kepala Kampung.

Di perjalanan tepatnya di depan rumah kepala kampung aku melihat lubang besar dan melihat tikus-tikus berparade memasuki rumah kepala kampung.

Tak lama berselang aku suara teriakan seorang ibu…

“Tikus sialan! Tolong!

Apa? Ibu itu meminta bantuan tikus sialan?

Aku dengar dari dalam rumah ada suara gaduh para penghuninya. Aku duga mereka sedang mengejar tikus-tikus itu. Lalu aku masuk dan melihat kepala kampung sedang kewalahan mengejar tikus-tikus itu dengan pentungan di tangan. Dengan nada garang, kepala kampung mengumpat tikus-tikus itu.

Tikus sialan! Tikus rakus! Tikus ta’i! Engkau menghabisi juga isi lumbungku?

Seluruh isi rumah juga ikut mengejar tikus-tikus itu tapi sia-sia karena tikus-tikus itu lebih gesit dari mereka.

Parade tikus-tikus dari lubang itu pun tak berujung seperti pawai Mobil di Kota Metropolitan yang menimbulkan kemacetan.

Dasar tikus rakus!

Sementara seisi rumah pak kepala kmpung sudah kewalahan. Aku melihat di lantai rumahnya ada banyak tikus yang berhasil dilumpuhkan. Tapi masih banyakyang sedang berparade menuju lumbung yang berada di loteng rumah itu.

Suara sorak-sorai para tikus itu memecah kebekuan dalam rumah. Sementara kepala kampung dan seisi rumahnya sudah tak berdaya karena kelelahan. Aku pun keluar dan pergi.

Kepala kampung dan tikus sama saja! Gerutuku dan pergi.

 

Eban, 15 Februari 2010.

 

14 Comments to "Tikus"

  1. wendly  10 September, 2013 at 07:07

    Tikus itu hama abadi di dunia, khususnya Indonesia

  2. Dewi Aichi  29 August, 2013 at 09:13

    Tikus ora urus……

    Ilustrasinya Top lho….ha ha

  3. anoew  28 August, 2013 at 23:49

    Mereka musti SESEKALI merenungkan kata-kata yang diuntai dengan eloknya oleh Ismail Marzuki

    Tanah airku Indonesia
    Negeri elok amat kucinta
    Tanah tumpah darahku yang mulia
    Yang kupuja sepanjang masa

    Tanah airku aman dan makmur
    Pulau kelapa yang amat subur
    Pulau melati pujaan bangsa
    Sejak dulu kala

    Reff:

    Melambai lambai
    Nyiur di pantai
    Berbisik bisik
    Raja Kelana

    Memuja pulau
    Nan indah permai
    Tanah Airku
    Indonesia

    http://www.youtube.com/watch?v=kO0M0In-8mU

  4. anoew  28 August, 2013 at 23:43

    Mencermati situasi kondisi negeri kita belakangan ini versus melihat youtube lagu Rayuan Pulau Kelapa sungguh, membuat saya miris dan mungkin bisa menangis darah bagi para pejuang kemerdekan yang mencita-citakan tanah air Indonesia bisa terwujud seperti apa yang dituliskan oleh Ismail Marjuki..

    Majulah Indonesiaku, tumpas dan bunuh jiwa korupsi dari tubuhmu. Bantai dan kikis sifat anarkis dari aliran darahmu. Buang…, buang sikap antitoleran dari sendi dan isi tempurungmu.

    Dan kau para tikus keparat, lekaslah jauh-jauh minggat dan KALAU BISA, bertobatlah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.