[Xixi Diary Sang Superstar] Putus Asa

Masopu

 

Gelap belum lagi sempurna tersapu dari muka bumi, saat sayup-sayup telinga Xixi mendengar raungan sirene ambulan datang mendekati hotel tempatnya menginap. Perlahan dikerjap-kerjapkannya mata indahnya yang baru terbangun dari lelap tidurnya. Saat suara sirene semakin kencang menyapa telinganya, dibalikkannya tubuhnya ke bagian kiri ranjang. Matanya tak menemukan sesosok tubuh yang dicarinya.

“Mimpi apa semalam, jam segini dia sudah mandi?” gumam Xixi. Segera diperbaiki letak bantal tidurnya. Disandarkan tubuhnya yang masih lemas ke bantal yang ditaruhnya berdiri di bagian atas ranjang. Baju tidurnya yang agak berantakan kini telah kembali rapi. Dirapikannya sedikit rambut lurusnya yang kini kembali berwarna hitam. Agak lama dia termangu. Telinganya tak mendengar adanya guyuran air dari shower di kamar mandi.

Perlahan dilangkahkannya kakinya ke arah kamar mandi. Perlahan tangannya mendorong daun pintu kamar mandi. Matanya tak menangkap sosok yang dicarinya di sana. Hanya kekosongan yang terpampang di sana. Lantai kamar mandi masih kering, pertanda sudah lama tak ada orang menggunanakannya. “Masak iya dia jalan-jalan ke luar tanpa cuci muka?” sebuah tanya mulai mengusik hati Xixi.

Suara sirene ambulance yang tadi nyaring menampar telinganya kini telah terhenti. Yang ada hanya suara riuh orang-orang menyapa telinganya. Suara mereka berasal dari arah halaman depan hotel. Didorong rasa penasaran, Xixi segera melangkah menuju ke arah jendela yang tertutup korden. Dibukanya sedikit. Dari celah-celahnya dilihat aktifitas orang ramai di bagian bawah sana. Tak sadar sudut matanya menangkap pita kuning bertulis “police line” menghias beberapa bagian halaman. Sementara beberapa orang terlihat hanya bisa melihat dari bagian luar pita. Di bagian dalam tampak beberapa polisi dan petugas medic sedang berunding.

jump

Didorong rasa penasaran yang datang menyapa, Xixi langkahkan kakinya menuju lobi hotel tempatnya menginap. Sambil berjalan, dirapikannya kembali rambutnya. Sementara sebuah jaket panjang menutupi sebagian baju tidurnya. Hanya bagian bawahnya saja yang terlihat menyembul keluar. Sesampainya di lobi hotel, dilihatnya kesibukan yang tampak di sana. Polisi dan petugas medic sedang mengerumuni sesosok tubuh yang tergeletak. Sesosok tubuh yang tak begitu jelas karena tertutup oleh lembaran koran.

Perlahan Xixi datang mendekati lokasi. Matanya terbelalak saat melihat sepasang sepatu yang tergeletak tak jauh dari tubuh tersebut. Sepasang sepatu hitam yang sangat dikenalnya. Degup jantungnya tak beraturan demi melihat sepasang sepatu tadi. Dengan segera didekatinya tubuh yang tertutup koran tersebut. Setelah itu dengan cepat dibukanya koran yang menutupi tubuh tersebut.

“Daniel…………..” pekik Xixi begitu melihat wajah yang tersembunyi di balik koran tersebut. Tubuhnya perlahan luruh ke tanah. Polisi dan petugas medis yang ada di sekitarnya segera memburu tubuhnya yang limbung. Sebelum tubuhnya terbanting ke tanah, seorang petugas medis berhasil menangkapnya. Tubuh Xixi yang jatuh tak sadarkan diri segera dibawa ke lobi hotel. Beberapa orang berusaha menyadarkannya. Sementara polisi dan petugas medis segera mengevakuasi tubuh Daniel dari lokasi.

Setelah tubuh Daniel berhasil dievakuasi ke ambulance, petugas segera menghampiri tubuh Xixi yang masih belum sadarkan diri. Mereka berusaha untuk menyadarkannya. Usaha yang mereka lakukan akhirnya berhasil, tapi sayang kondisi fisik Xixi yang lemah memaksa mereka membawanya ke rumah sakit juga. Dengan bantuan seorang perawat, akhirnya tubuh Xixi diantar ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat jenazah Daniel akan diotopsi.

Selama dalam perjalan, Xixi terus menangisi kepergian Daniel dengan cara yang tak diduganya. Terbayang kembali wajah Daniel yang hancur dan berlumuran darah. Wajah gantengnya saat itu tak terlihat, selain hanya darah yang menggenang mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Suara tangisannya perlahan semakin lemah, sebelum berganti dengan suara isakan pelan.

Sesampainya di rumah sakit, tubuh Daniel segera dibawa ke ruang otopsi. Sementara Xixi menjalani perawatan akibat kondisi fisiknya yang drop. Selain fisik yang drop, Xixi juga mengalami sedikit guncangan. Sementara polisi yang menyelidiki kasus tersebut akhirnya menyimpulkan Daniel positif bunuh diri, setelah polisi membaca selembar surat yang diketemukan di lokasi. Dalam suratnya, Daniel berkata kalau dia putus asa dengan vonis penyakit yang diterimanya. Bunuh diri baginya adalah jalan mengakhiri siksaan penyakit kutukan tersebut.

 

Denpasar, 05012012.2356

 

8 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Putus Asa"

  1. [email protected]  29 August, 2013 at 10:57

    wuiiiih… iqbal mana nih… ada kesempatan…

  2. Mawar09  28 August, 2013 at 23:47

    Bunuh diri? ngga deh ! kasihan dengan yang di tinggalkan !

  3. Alvina VB  28 August, 2013 at 20:58

    Bunuh diri….gak nyelesain masalah, malah bikin masalah baru utk yg ditinggalkan….

  4. Linda Cheang  28 August, 2013 at 14:41

    nggak enak banget, ih

  5. James  28 August, 2013 at 14:28

    Putus Asa = Dosa

  6. probo  28 August, 2013 at 10:55

    duuuuh…tragis banget

  7. J C  28 August, 2013 at 10:14

    Waduuuhhh ngenes benar…

  8. Lani  28 August, 2013 at 10:03

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.