Migrasi Dalam Negeri (1)

djas Merahputih

 

Apa…?? Kok bisa..? Maksudnya apa…? Mungkin kata-kata tersebut langsung terlontar saat membaca judul tulisan ini. Sebab “migrasi” dalam tatanan kehidupan global berarti perpindahan penduduk antar negara. Sebuah kata yang belum tentu cocok untuk menjelaskan proses perpindahan satwa terutama burung dan ikan pada saat-saat pergantian musim. Sebab satwa-satwa itu tidak bisa diidentifikasi berdasarkan kewarganegaraan mereka, iya kan?

migrasi01

Migrasi dalam dunia satwa adalah proses alami. Hal tersebut dipicu oleh kebutuhan rasa aman dan nyaman yang menjadi faktor utama bagi kelangsungan hidup species mereka. Prinsip tersebut tidak hanya berlaku pada dunia satwa, melainkan juga dapat terasa dalam perilaku manusia terutama kaitannya sebagai warga negara dan juga dalam interaksi sosial mereka. Fenomena TKI yang rela meninggalkan keluarga mereka di kampung demi kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya merupakan contoh paling nyata dan terjadi di depan mata. Sebuah naluri alami untuk berusaha “mempertahankan kelangsungan species” makhluk hidup sebagai bagian dari mata rantai kehidupan alam semesta.

Dalam kerangka sebuah negara, kewajiban untuk menjaga dan menjamin kelangsungan hidup masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah setempat. Proses migrasi dalam skala besar adalah indikator nyata bagi kegagalan sebuah pemerintahan dalam mengelola rasa aman dan nyaman para penduduknya. Seorang kepala daerah yang dengan bangga menyebut wilayahnya sebagai pemasok terbesar para “pahlawan devisa” – sebuah gelar aneh bagi para TKI – sesungguhnya tengah mencoreng mukanya sendiri sebagai pemimpin yang gagal menjamin keamanan dan kenyamanan warganya. Sebab jika saja tempat kelahiran mereka dapat menjamin kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya tentu sebuah hal yang tidak umum untuk bepergian jauh dan meninggalkan sanak keluarga yang mereka cintai, apalagi dalam waktu relatif lama.

migrasi02

Bagi seorang seniman dan budayawan, proses migrasi bukanlah sesuatu yang wajib dikawal oleh fisik dan raga mereka. Komunitas seniman dan budayawan inilah yang kemudian mampu melakukan sebuah bentuk migrasi seperti dalam judul tulisan ini. Tidak percaya…? Anda boleh saja menduga kalau komunitas ini jangan-jangan memiliki fasilitas ekslusif untuk melakukannya. Tapi silakan menyaksikan sendiri bagaimana komunitas ini bermigrasi dari sebuah negara bernama Republik Indonesia menuju sebuah negeri bernama Republik Impian, Republik Cinta dan terakhir adalah Republik #Jancukers….!!! Sebuah migrasi pemikiran dan intelektualitas seorang seniman dan budayawan yang telah kehilangan rasa aman dan nyamannya, di kampung halaman sendiri. Sesuatu yang seharusnya dirasakan sebagai tamparan TERKERAS bagi pengelola negeri ini untuk segera sadar dan bertindak cepat dalam menjaga rasa aman dan menjamin kebutuhan dasar para warganya.

Sujiwo Tejo dengan sedih bahkan mengawali bukunya dengan kalimat, “Jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu..”. Seorang warga negara Republik Indonesia ini akhirnya memutuskan untuk “bermigrasi” ke dalam sebuah negeri bernama Republik Jancukers. Tentu ada baiknya kita lihat apa saja yang menarik dalam negeri barunya itu sehingga para penduduk merasa aman dan begitu nyaman menetap dan beranak pinak di dalamnya. Namun sebelum ke sana perlu kita perhatikan dulu penyebab atau pemicu seseorang hingga akhirnya merasa perlu bermigrasi “keluar” dari Republik Indonesia.

Republik Indonesia adalah sebuah tatanan geografis yang begitu sempurna. Letaknya sebagai wilayah transisi dari dua buah benua dan samudera seharusnya mampu menjadikan wilayah ini kaya dan makmur bahkan tanpa mengandalkan sumber daya alamnya sekalipun. Lihat saja singapura, sebuah negara dengan luas wilayah dan jumlah penduduk tidak sebesar Jakarta namun kemampuannya untuk mengakuisisi BUMN di Republik Indonesia merupakan sebuah tanda tanya besar dan begitu aneh. Apalagi jika melihat sumber daya alam Republik Indonesia yang begitu melimpah mulai dari hulu sungai hingga lautannya, dari sawah hingga hutan dan pegunungannya bahkan hingga ke perut bumi nusantara, seluruhnya penuh dengan limpahan kekayaan alam. Tapi tetap saja para pemimpin negeri yang telah berjuang selama 68 tahun ini belum mampu menyejahterakan segenap rakyatnya. Sebuah penantian yang terlalu lama apalagi jika dibandingkan dengan daya bangkit bangsa Jepang yang hanya butuh waktu 30 tahun dari sebuah bangsa yang kalah perang menjadi sebuah negara besar dan disegani serta sanggup menjamin kesejahteraan para warga negaranya.

Jika sebuah generasi kita sepakati berjangka 21 tahun, itu berarti dalam usia kemerdekaan yang 68 tahun ini seorang kakek/nenek yang miskin masih sempat menyaksikan anak dan cucunya menjadi penerus kemiskinan mereka. Sang cucu yang menuju dewasa tentu akan berpikir jika semuanya tetap berlangsung seperti yang ada sekarang suatu saat kelak ia pun akan menyaksikan cucu-cucunya menjadi penerus-penerus kemiskinan itu.

Apakah hal tersebut berkaitan dengan pasal dalam UUD 45 yang menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara “ (?) Sebab kata dipelihara berarti memungkinkan sesuatu untuk hidup lama dan beranak pinak..? Maka mungkin jika diamandemen sebaiknya berbunyi, “fakir miskin dan anak-anak terlantar diberdayakan oleh negara”. Tentunya pasal-pasal dalam UUD sebuah negara haruslah dapat menginspirasi para warganya menuju tatanan hidup yang dicita-citakan bersama.

Akhirnya seorang kakek teladan dalam suasana keprihatinan hidup keluarga dan keturunannya hanya mampu berkata kepada cucunya,” Cu…, jika kamu tidak ingin melihat anak cucumu kelak hidup miskin dan serba terbatas seperti kita sekarang ini, datangilah olehmu sebuah negeri yang disebutkan oleh teman-teman kakek sebagai tempat yang aman, nyaman dan sejahtera. Pergilah ke sebuah negeri bernama “Republik Jancukers..!!” (bersambung)

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Migrasi Dalam Negeri (1)"

  1. Bagong Julianto  2 September, 2013 at 23:45

    Republik jancukers… presidennya diamputers…. hehehe…

  2. djas Mpu  30 August, 2013 at 07:31

    15: he he… jadi malu.. jgn dibahas di sini deh om.. di rumah pak lurah aja… Salam kenal buat mba dewi ya om.. sehat sukses selalu..!!

  3. djas Mpu  30 August, 2013 at 07:18

    13: bener mba dewi, semoga masyarakat Indonesia bisa lebih cerdas di 2014 nanti.
    14: sabar ya mba alvina.. sambungannya msh dlm proses produksi.. thanks sdh mampir..

  4. Dj. 813  30 August, 2013 at 00:48

    djasMerahputih Says:
    August 29th, 2013 at 17:37

    Dan kayaknya usaha DJ ngga sia-sia… he he he… sayang grand daughternya belum ada yg gede-gede… (maksudnya apa..???)
    ————————————————————-

    Grand daughter memang belum ada yang gede, tapi kami punya putri yang sudah besar.
    Mungkin sudah terlalu tua untuk Jasmerahputih.
    Karena Dewi, sudah umur 33 tahun.
    Dia guru agama dan Biology, belu punya pacar, hidup sendiri di appartmentnya.

  5. Alvina VB  30 August, 2013 at 00:32

    Jas merah-putih: Di mana letak negri Rep. Jancukers? Ditunggu sambungannya…..

  6. Dewi Aichi  29 August, 2013 at 21:38

    Sepakat, meskipun miskin, harus cerdas memilih pengelola negeri ini, jangan karena uang, kita asal pilih orang yang ngga bener, yang penting dapat amplop, tingkat kelurahan saja sudah main amplop, apalagi yang lebih tinggi.

  7. djasMerahputih  29 August, 2013 at 21:34

    10: djas Merahputih, alinea terakhir bacanya sambil merasa pilu dan ngilu…
    ——————————————-

    Benar kang JC, Sujiwo Tejo sendiri pernah mengingatkan dalam tulisannya; dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu…? untuk menggugah kesadaran para pemimpin negeri Indonesia agar dapat segera berbenah dan memutus mata rantai kemiskinan yang ada.

  8. djasMerahputih  29 August, 2013 at 21:16

    9: Atau kitanya saja yang mengembangkan makna ” dipelihara ” menjadi makna yang negatif itu tadi he he..
    —————————————————–

    Betul mba Dewi.. Para pendiri negeri kita tentunya tidak akan pernah menyangka kalo niat baik beliau-beliau malah ditafsirkan terbalik oleh para pengelola negeri. Tentu maksudnya agar fakir miskin dan anak terlantar tidak disia-siakan dan ditelantarkan bergitu saja. Semoga keadaan seperti ini akan segera teratasi.. Kuncinya, masyarakat harus cerdas dalam memilih para pemimpinnya dengan tidak menjual murah hak suara mereka.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.