Pedagang Ayam Keliling Masa Kolonial

Joko Prayitno

 

Mengulas aktifitas masyarakat tempo dulu selalu menarik walaupun dengan sedikit keterbatasan dalam hal data sejarah. Tetapi memang seharusnya bahwa setiap individu, kelompok masyarakat memiliki sejarah sendiri dan layak untuk ditulis walaupun tidak mendetail. Atau dapatlah kita sebut sebagai serpihan, puzzle, potongan yang akan melengkapi bagaimana masa lalu bergerak dan digerakkan. Sejarah memang tidak seharusnya dikuasai oleh tokoh-tokoh besar tanpa memberi ruang bagi masyarakat kecil untuk ditulis. Mungkin mereka tidak terlalu berarti bagi perubahan besar sejarah manusia tetapi setidaknya mereka berarti bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Maka tidak heran bahwa keberadaan masyarakat yang beraktifitas secara individu sering terlewatkan. Padahal aktifitas tersebut hingga saat ini masih bisa kita lihat.

kippenverkoper-op-java-1867

Pedagang ayam keliling di Jawa 1867 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bila kita amati lagi bahwa aktifitas masyarakat terutama dalam bidang ekonomi memiliki profesi yang begitu luas terutama dalam hal perdagangan. Mereka memiliki spesifikasi yang berbeda dengan produk yang berbeda. Pedagang ayam keliling merupakan salah satunya. Mereka tidak semata-mata beraktifitas sebagai pedagang saja tetapi terkadang aktifitas mereka juga mencakup aktifitas peternakan. Peternakan ayam yang mereka kelola biasanya berada di belakang rumah dengan kandang dari bambu dan dalam skala yang kecil. Usaha peternakan ayam merupakan upaya dari penambahan penghasilan keluarga.

kippenverkoper-op-java-1870

Pedagang ayam keliling di Jawa 1870 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Beberapa ayam yang telah cukup umur mereka jual dengan berkeliling desa ataupun dibawa ke pasar dengan pikulan. Mereka menawarkan ayam tersebut kepada keluarga-keluarga yang mampu yang biasanya kaum bangsawan, saudagar ataupun masyarakat Eropa. Selain dari rumah ke rumah beberapa desa juga terkadang memiliki pasar khusus hewan yang dibuka pada hari-hari tertentu. Para pedagang ayam berkumpul dipasar ini untuk memperjualkan hasil ternak mereka. Perhatikan foto koleksi kitlv di atas yang menampilkan pedagang ayam dengan pikulan dan kurungan yang terbuat dari bambu sedang menawarkan dagangannya kepada nyonya Eropa disebelah kanannya. Foto yang satu menampilkan seorang laki-laki tua dengan pikulan yang berisi ayam, lewat didepan sebuah rumah yang cukup besar, kemungkinan rumah Eropa ataupun bangsawan dan tentunya untuk menawarkan hasil ternaknya.

Di daerah pedesaan aktifitas pedagang ayam keliling ini masih sering terlihat dan biasanya sudah tidak memakai pikulan untuk membawa ayam-ayam tersebut tetapi dengan kendaraan sepeda motor berbronjong. Pasar hewan juga masih bertahan hingga sekarang begitu juga dengan hari pasarannya. Ada perubahan tetapitidak terlalu esensial, tetap mereka disebut pedagang ayam keliling.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/08/19/pedagang-ayam-keliling-masa-kolonial/

 

9 Comments to "Pedagang Ayam Keliling Masa Kolonial"

  1. Bagong Julianto  2 September, 2013 at 23:41

    Pedagang ayam jadul tampaknya hanya jual ayam utuhan. Pedagang ayam sekarang di sebagian pasar yang pernah saya lihat juga melayani jasa potong ayam kampung…..

  2. James  30 August, 2013 at 10:17

    Animal Cruelty, ayam digantung terbalik

  3. Alvina VB  30 August, 2013 at 01:07

    Foto2nya unik dan apik….
    Seingat saya,thn 60an-70an di pinggiran kota, masih suka ada org yg jualan ayam keliling kampung. Tanya si penjual ayam: buat bertelur/ buat dimasak/disembelih? katanya ada bedanya, gak pernah tanya bedanya apa ya…. jangan2 yg dah teler/ mau mati yg buat dimasak, ha..ha…..

  4. J C  29 August, 2013 at 20:24

    Yang aku lebih tertarik adalah keranjang/kandang bambu di latar belakang foto pertama…

  5. Dj. 813  29 August, 2013 at 18:30

    Terimakasih mas Joko Prayitno.

    Dj. jadi ingat saat ibu Dj. menengok Dj. yang saat itu ikut kaka di Makassar. 1970.
    Kaka bilang ke ibu yang sedang duduk diluar untuk lihat, siapa tahu ada penjual ayam lewat.
    Karena agak jauh maka ibu segera memanggil penjual ikan, sambil berteriak… Ayam…!!!
    Tapi yang dipanggil tidak ada reaksi.
    Olehnya tetangga ikutan teriak… Jangan…!!!
    Ibu… Ayam…!!!
    Tetangga… Jangan…!!!
    Ibu molai kesel, karena dia teriak panggil ayam, kok tetangga teriak “jangan”
    Dj. jelaskan, bu… bhs Makassara, Jangan itu artinya ayam, itu tetangga hanya ingin tolong.
    Ibu Dj. jadi tertawa….
    Hahahahahahahahahaha….!!!

    Salam,

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 August, 2013 at 18:17

    Artikel tentang negeri ini masa lalu selalu dengan kisah sedih.

  7. Dewi Aichi  29 August, 2013 at 17:25

    Ada beberapa tulisan Mas Joko tentang masa kolonial ini yang membuatku serasa menyusuri waktu itu dengan melihat foto foto, trenyuh, tapi juga sepertinya damai. Keinginan orang orang yang bekerja untuk hidup, bukan bekerja untuk mewah.

  8. Esti  29 August, 2013 at 13:07

    Thanks share articlenya pak Joko . Liat gambar yg kedua, kesian liat ayamnya. Mungkin sdh mati sebelum disembelih :'(

  9. [email protected]  29 August, 2013 at 11:05

    saya lebih suka soto ayam keliling….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.