Membuat Sawut, Mengenang Makanan Masa Kecil

Hennie Triana Oberst

 

Aku ingat dulu sering bermain dan mengunjungi saudara sepupuku yang rumahnya dekat dengan rumahku, kadang kami mampir ke rumah Neneknya yang hanya bersebelahan dengan rumahnya. Mbah Jo biasanya kami memanggilnya, yang rajin memasak makanan dan cemilan dengan menggunakan kayu bakar. Kadang kami berjongkok di dekat tungku api tersebut, sambil kadang ikut meniup dari cerobong yang terbuat dari besi untuk membuat bara api semakin besar. Kadang kami membakar kertas yang kami buat seperti gulungan yang  merupakan rokok, tetapi panjang dan lebih besar, hanya tanpa isi apa-apa. Tentu saja kami terbatuk-batuk ketika berusaha menghirup bakaran kertas tersebut menirukan gaya orang dewasa ketika menghisap rokok.

Aku suka sekali berkunjung ke rumah Mbah Jo ini, memandang beliau yang duduk menyibukkan dirinya dengan memasak untuk keluarganya sambil bersenandung, rasanya menyenangkan sekali. Mungkin juga salah satu daya tariknya adalah kemurahhatian beliau untuk selalu membagi makanan yang beliau buat. Kadang hanya pisang rebus yang disantap dengan parutan kelapa, tapi ada beberapa jenis makanan lainnya yang sering dibuat, termasuk salah satunya adalah “sawut”.

Sawut adalah salah satu jajanan tradisional yang dibuat dari singkong yang diparut kasar, kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan gula merah. Kemudian dikukus. Walaupun cara membuatnya tidak selalu sama, tapi pada dasarnya penyajian akhirnya adalah campuran dari ketiga bahan tersebut.

Aku mengenal sawut ini dari beliau, karena di rumah kami dulu, seingatku belum pernah ada yang membuat sawut. Makanan khas dari daerah asal Mbah Jo, dari Jawa, tapi aku juga lupa tepatnya dari mana. Sangat sederhana sebenarnya makanan ini, tapi rasanya singkong yang dipadu parutan kelapa dan gula merah itu mendatangkan kenikmatan yang luar biasa.

Agak sulit memang di Medan untuk menemukan makanan ini, mungkin jika pun ada biasanya dibuat dan dikonsumsi oleh keluarga sendiri, dan biasanya  keluarga turunan dari Jawa. Tapi belum tentu semua rajin untuk membuatnya, seperti contohnya keluarga kami.

Pernah juga ada yang membuat parutan singkong dengan kelapa dan irisan gula merah ini dan membungkusnya dengan daun pisang, kemudian dikukus. Membayangkan lezat makanan sederhana ini, membuatku ingin mencobanya.

sawut

Kebetulan di kota tempat tinggalku selalu ada dijual singkong di supermarket, gula merah juga, dan bahkan buah kelapa yang masih bulat juga ada. Tapi untuk kelapa parut aku memilih kemasan kelapa parut saja. Jadi aku mencoba untuk membuat jajanan Sawut ini.

Tidak memerlukan waktu lama untuk membuat makanan ini. Hasilnya juga cukup lumayan mengobati rindu makanan tradisonal yang mungkin sekarang makin jarang didapatkan.

 

Salam kuliner!

(Germany, 2013.08.25)

 

24 Comments to "Membuat Sawut, Mengenang Makanan Masa Kecil"

  1. Hennie Triana Oberst  10 October, 2013 at 18:28

    Lani, mungkin istilahnya beda ya di daerah asalmu? Sawut itu singkong yang diparut kasar, direbus dan ditaburi kelapa parut dan gula merah.

  2. Lani  7 October, 2013 at 12:08

    sawut=tiwul-kah???????? aku kok malah bingung……..tp ndak jd bingung klu tinggal mangap ngemplok……….kkkkkkkkk

  3. Hennie Triana Oberst  2 September, 2013 at 02:04

    Inakawa, benar sekali, makanan tradisional memang yang paling ngangeni.
    Biar nggak kangen lagi bisa juga belahan hati diajari bikinnya, jadi kapan-kapan bisa dibikinin hehehe..
    Terima kasih ya.
    Salam hangat.

  4. EA.Inakawa  2 September, 2013 at 01:00

    @ Hennie : begitulah kita kita ini, jauh sudah berjalan akhirnya balik juga kebelakang…..rindu makanan traditional ini sering sekali saya alami, repotnya….. kemana mau dicari, malasnya….. kalau disuruh masak sendiri, Saya sendiri ketemunya makan sawut ketika bertugas di gubuk jawa tengah. salam sejuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *