Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)

Nyai EQ – sedang belajar menjadi ahli neraka

 

“Surga masih kosong kecuali para Nabi yang duduk diam tanpa kerjaan. Sedang umat-umatnya penuh sesak di Neraka: Artis, aktris, aktor, politikus, negarawan, gembel. Orang-orang terkenal dan tidak terkenal dari seluruh penjuru dunia. Anggur, daging babi, kokain, gelora birahi. Semua kesenangan dunia ada di Neraka jahanam

Surga yang sepi
 airnya jernih bening.
 Sayur dan buahnya segar.
 Musik dari harpa para bidadari dan bidadara. Tapi kosong

Maka, tidaklah aneh, bila para Nabi mengajukan petisi. “Tuhan, biarkan kami juga berada di Neraka bersama para pengikut kami, atau biarkan mereka pindah ke Surga, bersama kami.”

Tuhan belum mengambil keputusan
Tapi Dia tidak akan pernah menolak permohonan para Nabinya”.

(Sekar, Opium dan Ritual Bangun Pagi : Tuhan Tidak Akan Pernah Menolak, 2013: hal. 48)

HeavenorHell

Ruang meeting penuh dengan ibu-ibu dan bapak-bapak dosen yang nampak sholeh dan sholehah dengan baju batik dan kerudung aneka warna membalut seluruh aurat mereka. Saya datang menyelinap dari pintu belakang ruangan, lalu duduk di barisan belakang. Tentu saja sebagian aurat saya terbuka lebar untuk dinikmati siapa saja. Bukan maksud saya menggoda iman para lelaki, saya menghormati segala keindahan yang diberikan Tuhan pada saya. Semacam penghargaan atas karya besar Tuhan. Rambut wavy yang hitam mengkilat karena habis dikeramas dengan shampoo wangi, lengan yang sebagian dilukis dengan jarum tattoo, muka yang saya usap sedikit dengan bedak bayi, leher saya yang tidak pendek tapi juga tidak mengalun panjang, saya biarkan terbuka supaya bisa menikmati sentuhan udara dingin ruang ber AC.

Celana jeans hitam ketat berpadu dengan kaos coklat berkraag rendah tanpa lengan di tambah vest pendek kuning kunyit berlengan (sangat) pendek, rambut di kucir tinggi. Itulah saya, saat itu.

Topik meeting-nya adalah tentang entrepreneurship. Saya melihat ada 4 mahasiswi lain yang duduk di deretan tengah. Tentu saja juga berkerudung. Yang di depan, sang motivator, punya gelar yang berderet panjang sekali, sehingga saya sama sekali tidak berniat menghafalkannya. Bahkan saya tidak ingat namanya yang mana, entah bagaimana caranya dia mendapatkan gelar yang sebanyak itu, mengingat, katanya, usianya baru 35 tahun.

Yang saya ingat (kejadian ini berlangsung setahun yang lalu) adalah sebagian dari apa yang dibicarakan dalam forum tersebut. Terutama ketika dia mulai menyebut tentang pahala, surga dan neraka. Katanya, jika seseorang banyak senyum, banyak beribadah, beramal, maka dia akan masuk ke surga. Surga adalah tempat di mana seseorang akan mendapat apa saja yang diinginkan. Di surga, katanya, setiap orang yang berhasil masuk surga, akan mendapatkan 7 orang bidadari cantik yang tidak pernah mens (mohon dibaca sekali lagi : tidak pernah mens!).

Sampai di situ perhatian saya terhenti. Saya memikirkan apa yang baru saja dia katakan itu. Di surga setiap orang akan mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Setiap orang akan mendapatkan 7 bidadari yang tidak pernah mens (menstruasi). Saya heran dan shock!

demons-angel-heaven-hell

Mendapatkan apa saja yang diinginkan? –satu!

Sejak kapan ada bidadari menstruasi? –dua!

Lalu apa fungsinya bidadari yang tidak pernah mens itu ? –tiga!

Kenapa 7 bidadari? –empat! Ting!!

Pikiran saya mencoba melogika dengan khayalan. Mendapatkan apa saja yang diinginkan, hmmm…termasuk mendapatkan babi panggang dengan bumbu wijen yang yummy dan red wine kualitas terbaik yang ada di surga, coklat yang lezat dan meleleh di mulut dengan rasa yang fiuh! Setumpuk keju dan salami yang tidak bisa basi, lalu rumah kue dengan taman indah, kolam renang yang airnya sebiru mata boneka, perpustakaan penuh dengan semua buku yang saya sukai, yang tidak bisa saya beli sekarang karena harganya lebih dari gaji saya sebulan, sebuah studio musik dengan semua instrumen itu, dan hmm..dan musisi yang begitu brillian dan sexy….

Hhhmm tapi jika seorang mendapatkan 7 bidadari cantik yang tidak pernah mens, artinya setiap orang punya kesempatan luas untuk melakukan “kesenangan ragawi” bebas dengan para bidadari tersebut, sehari satu, atau sehari 7 kali, tergantung “kekuatan” masing-masing. Tapi bukankah dengan demikian, berarti ini melakukan apa yang di dunia disebut dengan istilah “zina”?  Dan itu berarti juga tiket menuju neraka? Lalu apa gunanya masuk surga kalau cuma sekedar lewat, seperti gaji sebulan pegawai negeri golongan 3 yang hanya numpang lewat sejenak, sebelum digunakan untuk membayar kredit ini itu. Atau kalau melakukannya dengan para bidadari yang tidak pernah mens itu, namanya bukan zina? Jika demikian, sebangsa mak Erot sudah pasti akan masuk surga.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan para perempuan yang berkerudung, sholehah dan lembut hati yang juga masuk surga? Apa mereka juga akan mendapatkan anugrah yang sama? 7 bidadari yang tidak pernah mens? Untuk apa? Tukang pijet? Melulur tubuh? Atau harus jadi lesbian kah? Atau mendapat 7 bidadara yang gagah perkasa dan tak pernah lelah? Hmmm…Kalau seperti itu, sepertinya mulai sekarang saya harus membuat amal kebaikan sebanyak mungkin, agar bisa masuk surga. Siapa tahu saya juga boleh milih tipe bidadara seperti apa yang saya inginkan. Bayangkan 7 bidadara yang ganteng, gagah perkasa, mantap dan segar sepanjang masa…

Lamunan saya terhenti ketika para peserta bertepuk tangan. Saya tertinggal satu obrolan panjang gara-gara membayangkan Johny Depp, eh bidadara se-sexy Johny Depp.

Selanjutnya, sang motivator melanjutkan bualannya dengan topik neraka. Saya menjadi bingung. Ini program motivasi atau pengajian ? Atau motivasi untuk jadi ahli surga? Entahlah, saya tertarik dengan bualannya tentang neraka. Dengan sangat menyakinkan, seolah-olah dia adalah salah satu arsitek neraka, diceritakannya bagaimana seluk-beluk neraka. Di mana neraka adalah tempat terpanas di dunia. (dalam hati saya membatin : kok di dunia? Lha memangnya neraka itu ada di mana?).

Lalu di sana para malaikat yang buruk rupa, kejam, bengis dan tak kenal ampun berkolaborasi dengan semua setan, iblis yang terkutuk untuk menyiksa manusia-manusia yang tidak pernah beramal, manusia-manusia yang semasa hidupnya mengumpulkan dosa bertumpuk-tumpuk. Macam-macam jenis siksaan tersebut. Benar-benar kejam. Lebih kejam dari siksaan jaman perang di dunia. Lebih kejam dari Hitler. Tentu saja, karena Hitler juga bakal dihukum di neraka tersebut. Siapa tahu Hitler bisa memberikan ide untuk menambah jenis hukuman di neraka. Pokoknya lebih kejam dari apapun.

heaven-or-hell

Saya terpesona dengan caranya menceritakan kekejaman tersebut. Seketika itu saya bisa membayangkan muka para malaikat penyiksa. Dan lebih terpesona lagi ketika menyaksikan raut muka para ibu dan bapak dosen yang sebagian sudah menyandang gelar doktor, tapi masih percaya pada obrolan tak bermutu seperti itu. Sungguh! saat itu saya merasa berada di dalam neraka paling kejam. Dan saya adalah salah satu dari malaikat penyiksa yang menanti giliran kerja.

Tak habis pikir. Rasio saya tidak mendapatkan jawaban apapun ketika mencoba melogika penjabaran di depan. Begitu banyak pertanyaan konyol yang kemudian memenuhi ruang otak saya.

Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan yang Maha Pengampun, Tuhan yang Maha Baik, bisa menjadi Maha Kejam juga? Dari 99 nama Tuhan yang saya tahu, tidak satupun yang menyebutkan bahwa Tuhan Maha Kejam. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh welas asih itu bisa dengan begitu gampangnya menurunkan azab. Sedikit-sedikit azab, bencana alam dibebankan pada Tuhan yang murka…ah! Lalu darimana ide kekejaman neraka itu datang, jika ajarannya adalah ajaran tentang kasih sayang Tuhan?

Bagaimana mungkin Tuhan membangun tempat yang begitu dahsyat dan kental dengan kekejaman? Dan mengijinkan semua aksi kekerasan itu berlangsung?

Tidak hanya di Endonesya, tapi kisah kekejaman neraka ini beredar di semua penjuru dunia, seolah-olah umat manusia mengamini ide kekejaman Tuhan tersebut. Entah, mungkin Adam punya dendam pribadi terhadap Tuhan, sehingga menyebarkan berita tersebut kepada anak cucunya secara turun temurun. Sebab hanya Adam dan Hawa saja yang tahu betul situasinya.

Saya kemudian membuka laptop, setengah mendengar sang motivator ngoceh, setengah lagi berselancar di dunia neraka maya. Mencari tahu.

Ada beberapa versi yang berbeda mengenai letak neraka. Di Endonesya, neraka dikatakan berada di suatu tempat di atas sana. Neraka punya beberapa lapis, yang makin dalam, makin kejam siksaannya. Namun, ada versi yang mengatakan bahwa neraka berada jauh di dasar bumi, mungkin dekat dengan magma yang, secara ilmiah, merupakan tempat berkumpulnya api maha panas yang menjadi penggerak dan sumber energi bumi. Beberapa versi menyatakan bahwa neraka adalah dunia bawah yang hitam pekat, gelap gulita, panas luar biasa. Dihuni oleh setan-setan paling buruk dan paling sadis. Diperintah oleh semacam penguasa alam bawah yang juga sangat-sangat luar biasa sadisnya. Entah bagaimana Tuhan memberikan ijin usaha pada penguasa jahat ini.

Dalam bahasa Enggris, neraka disebut dengan nama Hell, yang menurut sumber, berasal dari bahasa Inggris Kuno hel atau helle yang juga berarti kematian. Dari sejarah lain, Hell berasal dari kata halja, dari bahasa Proto-Germanic, yang berarti sesorang yang menyembunyikan sesuatu. Namun juga bisa berasal dari bahasa-bahasa Anglo-Saxon : hellja dan bahasa Icelandic víti “hell” yang artinya adalah hukuman.

Dari sumber yang ditemukan pada abad ke 13, dalam sebuah puisi dan prosa yang bernama Poetic Edda dan Prose Edda, hasil karya Snorri Sturluson, didapat informasi tentang kepercayaan pada apa yang disebut sebagai Norse Pagan, termasuk di dalamnya disebutkan nama Hel, sebagai nama penguasa dunia bawah yang mempunyai nama sama.

Neraka banyak disebut di beberapa mitologi dan hampir semua jenis agama. Neraka biasanya dikonotasikan sebagai tempat para setan dan jiwa-jiwa orang mati. Hukuman-hukuman yang diberlakukan di neraka selalu dihubungkan dengan dosa-dosa. Setiap jiwa berdosa mendapatkan hukuman yang berbeda-beda, sesuai dengan dosa yang dibuat semasa hidup. Neraka memiliki ruangan-ruangan khusus, semacam ruang penyiksaan, yang bertingkat-tingkat. Baik tingkat levelnya, maupun tingkat penyiksaannya. Pada umumnya neraka selalu dihubungkan dengan segala bentuk kesakitan.

Dalam kepercayaan Islam dan Kristiani, neraka selalu digambarkan sebagai tempat yang sangat panas. Tempat di mana api terpanas berada. Namun dalam kepercayaan Budha Tibet, selain neraka panas, ada juga neraka yang dingin. Sangat dingin sehingga tak kalah menyiksa seperti sangat panas. Namun dalam deskripsi Dante Inferno yang sangat terkenal, disebutkan bahwa ada neraka yang begitu dingin, sangat dingin seperti sebuah kolam darah yang dibekukan oleh ribuan dosa. Neraka yang dingin juga ditemukan dalam beberapa manuskrip. Dimulai dari manuskrip yang bernama Apocalypse of  Paul, dari awal abad ke 3, kemudian ada juga manuskrip Vision of Dryhthelm yang ditulis oleh Venerable Bede dari abad ke 7. St. Patrick’s Purgatory juga menjelaskan tentang neraka yang membekukan darah.

Dari abad ke 12 ditemukan sejumlah manuskrip tentang neraka yang beku, di antaranya adalah Visio Tnugdali dan Vision of the Monk of Enysham. Dan juga Vision of Thrkill dari awal abad ke 13. Manuskrip-manuskrip tersebut berasal dari agama Kristiani, yang menuliskan tentang mereka-mereka, para orang-orang “terpilih” yang pernah melakukan perjalanan singkat mengunjungi neraka. Untuk kemudian kembali guna menceritakan pengalaman mereka sebagai sebuah perjalanan rohani. Mirip seperti ketika nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan spiritual dengan menunggang mahluk ghaib bernama Buraq.

 

19 Comments to "Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)"

  1. Anung FP  14 September, 2013 at 06:44

    Aku hanyut dalam tulisan ini sampe-sampe “ngelamun”…
    Tq

  2. nti  1 September, 2013 at 14:14

    permisi…..salam.kenal untuk semua warga, BALTYRA…
    dua jempol untuk tulisan Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)
    Nyai EQ Sungguh Jenius…..
    Suka juga dengan komentar Mr. Dj :

    “Seorang yang tersesat, walau dia nangis dan teriak sehari 100 X serta berjanji akan berbuat baik, dia TIDAK AKAN menemukan jalan kembali.
    Kecuali kalau ada yang mengantarkan dia kembali.
    Jadi kita memerlukan orang yang bisia meengantar kita kembali, yaitu juru selamat yang Agung.
    Siapakah gerangan ???
    Ya sang anak, karena dia tahu dimana” rumah bapa Nya.””

    Dan dia tahu, Siapa “Nama Bapa Nya.”

    Salam,
    nti

  3. Alvina VB  1 September, 2013 at 02:40

    EQ: Kalau bicara ttg surga dan neraka tidak akan ada habis2nya, masih banyak pros dan cons; ttp kl ada org yg pernah rohnya di bawa ke neraka/ ke surga, tidak akan pernah main2 lagi dengan konsekuensi perbuatannya selama org tsb masih hidup. Peace!!!

  4. djas Mpu  31 August, 2013 at 21:54

    Memang kalau diamati terkadang penjelasan tentang surga dan neraka terlalu bersifat maskulin seakan-akan umat beragama itu hanya urusan kaum pria saja. Dan kalaupun dianggap setara maka logika seorang pria dikelilingi oleh 7 orang bidadari belum tentu sama dengan perasaan seorang wanita dikelilingi 7 orang bidadara. Namun yang jelas logika surga dan neraka di alam akhir sana takkan bisa dijelaskan dengan menggunakan logika alam semesta hidup kita sekarang. Sebagaimana logika matematika belum tentu berjalan dengan arah yang sama dalam dunia politik.

    Dalam politik 1+6 bukanlah tujuh. Tergantung siapa angka satu dan tujuh itu. Jika kedua angka tadi adalah para lawan politik maka 1+6 = 0. Sebab yang ada dalam logika politik adalah dukungan dan kepentingan abadi. Demikian pula 50+1 belum tentu 51 sebab jika kedua angka tadi adalah lawan politik maka 50+1 = 0 (kalah). Sebaliknya jika kawan 50+1 berarti 1 (menang).

    Teori tentang hari akhir hanya bisa dimengerti kalau seseorang sudah mampu membedakan dengan jelas arti dari tiga buah kata yaitu ADA, WUJUD dan NYATA. Jika tiga kata tersebut masih dianggap sama maka tak satupun penjelasan akan mampu memuaskan pikiran dan logika manusia. Dan sepertinya setiap orang akan terus bertanya-tanya seperti apakah keadaan sebenarnya di hari itu.

    Selamat menerka-nerka…

  5. djasMpu  31 August, 2013 at 21:20

    Memang kalau diamati terkadang penjelasan tentang surga dan neraka terlalu bersifat maskulin seakan-akan umat beragama itu hanya urusan kaum pria saja. Dan kalaupun dianggap setara maka logika seorang pria dikelilingi oleh 7 orang bidadari belum tentu sama dengan perasaan seorang wanita dikelilingi 7 orang bidadara. Namun yang jelas logika surga dan neraka di alam akhir sana takkan bisa dijelaskan dengan menggunakan logika alam semesta hidup kita sekarang. Sebagaimana logika matematika belum tentu berjalan dengan arah yang sama dalam dunia politik.

    Dalam politik 1+6 bukanlah tujuh. Tergantung siapa angka satu dan tujuh itu. Jika kedua angka tadi adalah para lawan politik maka 1+6 = 0. Sebab yang ada dalam logika politik adalah dukungan dan kepentingan abadi. Demikian pula 50+1 belum tentu 51 sebab jika kedua angka tadi adalah lawan politik maka 50+1 = 0 (kalah). Sebaliknya jika kawan 50+1 berarti 1 (menang).

    Teori tentang hari akhir hanya bisa dimengerti kalau seseorang sudah mampu membedakan dengan jelas arti dari tiga buah kata yaitu ADA, WUJUD dan NYATA. Jika tiga kata tersebut masih dianggap sama maka tak satupun penjelasan akan mampu memuaskan pikiran dan logika manusia. Dan sepertinya setiap orang akan terus bertanya-tanya seperti apakah keadaan sebenarnya di hari itu.

    Selamat menerka-nerka…

  6. anoew  31 August, 2013 at 19:24

    btw, orang yang homoseksuel dapat apa ya?) jika berjihad or something like that

    pertanyaan ini juga menggelitik saya dan, yang paling menggelitik lagi adalah apabila ada binatang -katakanlah anjing gila- yang membunuh sesamanya demi suatu kehormatan, dapat apakah dia?

  7. anoew  31 August, 2013 at 19:20

    Hahaha om SLB, iya juga sih… bener-bener rugi pikiran dan energi saya hanya untuk mencoba berpikir bahwa surga seperti ini dan neraka seperti itu.

    Sepakat dengan

    hidup menurut hati nurani sajalah, surga atau neraka dan dosa itu semuanya boleh percaya atau tidak

    maka pastinya hidup akan jadi lebih indah, lebih tenang dan nyaman tanpa dibayangi oleh reward or punishment, belaian atau cambukan dan sejenisnya. Hidup menurut hati nurani, apa yang dianggap baik, tentu baik pula bagi penciptanya.

    PS:
    Tentang perang salib itu, sungguh merupakan perbuatan keji atas nama agama. juga sejenis itu, pun tak ada bedanya. Tidaklah mungkin tuhan yang benar menyuruh membantai sesama manusia. Ini hanya pandangan saya saja sih.

    Begitu ya om?

  8. Swan Liong Be  31 August, 2013 at 19:07

    @Anoew: Usul saya, jangan terlalu menghamburkan pikiran tentang surga dan neraka,Tuhan koq kejam terhadap ciptaanya sendiri etc.. hidup menurut hati nurani sajalah, surga atau neraka dan dosa itu semuanya boleh percaya atau tidak; pokoknya saya sendiri belum pernah ketemu orang yang bisa cerita pengalamannya disurga atau dineraka, hehehe….
    Dulu waktu jaman perang salib semuanya yang ikut “membebaskan” tanah suci diberi pengampunan simultan dari dosa² dan masuk surga, sekarang malah dijanjikan bidadari sebanyak 72 (orang? malaikat? btw, orang yang homoseksuel dapat apa ya?) jika berjihad or something like that.

  9. anoew  31 August, 2013 at 18:02

    Sungguh aneh saya pikir bila Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya ini begitu kejam menyiksa ciptaannya sendiri di tempat apa yang dikenal sebagai neraka dan, sebaliknya memberikan kenikmatan jasmani (atau birahi?) di surga saat ciptaanNya mati. Lalu, jika nanti mati, apakah ciptaanNya itu -khususnya manusia- masih punya syahwat dan /atau nafsu birahi? Bagaimana jika di neraka, apakah juga bisa nafsu?

    Sungguh aneh tentang surga dengan bidadarinya yang TAK PERNAH MENS, TAK PERNAH BERKEMIH dan bagi pria, setelah selesai menyemburkan puncak birahinya konon TAK PERNAH LELAH. Alamak. Kalau begitu apa bedanya dengan dunia esek-esek ketika si manusia masih hidup di dunia?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.