Tiga Sahabat (18) Kiriman

Wesiati Setyaningsih

 

“Mbak Iyem jadinya gimana?” Lukito menatap Juwandi dengan tak sabar.

Dia duduk di kursi depan Juwandi. Saat itu sedang istirahat dan kelas sepi. Aji yang duduk di samping Juwandi tampak tak acuh sambil meneruskan menulis di buku.

“Gimana apanya?”

“Jadi ketemu sama orang film?”

“Sudah, kemarin.”

“Orangnya datang?”

Juwandi mengangguk.

“Dan?”

“Tanya Aji, tuh.”

Lukito ganti menatap Aji. “Gimana, Ji?”

“Nggak gimana-gimana.” Aji menampakkan wajah tak peduli.

Atau sebenarnya dia sedang menyembunyikan kegelisahannya namun tak ingin kedua temannya tahu. Biasanya orang cenderung tampak gelisah ketika dia menyembunyikan sesuatu. Semakin dia tekan agar tak tampak, malah semakin tampak.

Lukito bengong.

“Ini kenapa, sih? Bukannya bangga punya kakak beruntung kaya gitu, malah sewot.”

“Dia bukan kakakku.”

Aji semakin kesal. Dengan kasar dia menutup buku dan meletakkan bolpoin lalu beranjak pergi. Langkahnya yang lebar-lebar seperti dihentakkan kuat-kuat.

“Ke mana, Ji?” Juwandi berteriak karena tiba-tiba Aji sudah jauh.

Aji tidak menjawab. Lukito dan Juwandi menatap Aji yang menghilang begitu lewat pintu kelas.

“Kenapa, sih dia?”

“Iyem dapat uang banyak. Seratus juta! Dibayar cash, kemarin.”

“Wuih…” Mata Lukito berbinar. Pupil matanya melebar. Tampak dia sangat takjub sekaligus girang.

“Masalahnya habis itu Iyem diminta nulis cerita yang mirip-mirip gitu lagi.”

“Wow! Itu kan keren. Aji punya kakak yang kaya raya. Kok masalah gimana?”

“Ya..” Kalimat Juwandi tak selesai.

“Kok Aji enggak suka?”

“Karena itu bisa berarti Iyem akan meninggalkan rumah Aji.”

“Kan nggak pa-pa. Punya kakak keren gitu harusnya didukung, dong.”

Juwandi menghela nafas. “Kamu nggak tau sih.”

“Apa yang aku nggak tau?”

“Iyem itu kan..”

Belum selesai kalimat Juwandi, terdengar sebuah pengumuman dari speaker di lapangan. Suaranya sampai ke dalam kelas sayup-sayup sehingga Lukito dan Juwandi terpaksa harus diam dan menajamkan telinga.

“Pengumuman. Kepada siswa bernama Lukito dengan panggilan Lucky Luke, diharap menuju pos satpan karena ditunggu saudaranya bernama tante Lani. Segera. Pengumuman diulang. Kepada siswa bernama Lukito dengan panggilan Lucky Luke, diharap menuju pos satpan karena ditunggu saudaranya bernama tante Lani. Segera. Terima kasih.”

Lukito menatap Juwandi dengan penuh tanda tanya seolah tak percaya dengan pendengarannya.

“Itu aku yang disebut?”

Juwandi mengangguk. “Siapa lagi di sekolah ini yang punya panggilan lebay gitu?”

Lukito meringis sambil bergegas berdiri. “Ikut, yuk!”

Juwandi segera ikut berdiri. Berdua mereka berlari menuju pos satpam. Di sana tampak Tante Lani yang bertubuh mungil dengan senyumnya yang lebar.

“Lucky Luke!” tangannya terbuka lebar.

“Tante..!” Lukito menghambur ke pelukan Tante Lani.

Juwandi hanya melengos melihat temannya beradegan ala sinetron. Ekspresi wajahnya campur aduk antara haru dan jengah.

“Ada apa ini, Tante? Aku ndak bisa lama-lama. Bentar lagi bel masuk.”

“Ndaaak. Tante ndak lama. Da (di) warung ndak da (ada) orang juga. Ini cuma mau kasi kamu kweetiau goreng. Ada tiga bungkus Tante bawa buat kamu sama temen kamu.”

Juwandi menoleh cepat. Wajahnya secerah matahari siang itu. Sumringah. Lukito menoleh ke arah Juwandi dan mengedipkan mata.

“Asik, nih. Mana tante!” Lukito mengulurkan tangannya menyambut tas plastik di tangan Tante Lani.

Dengan senyum puas tante Lani menyerahkan tas plastik berisi kweetiau goreng pada Lukito lalu pamit pulang setelah mencium kedua pipi keponakannya itu.

***

“Wuaaaah…!!” Juwandi berteriak girang sambil membuka bungkusan keetiau goreng dan menuang isinya ke piring.

Lukito tertawa-tawa. Mereka sedang berada di ruang tamu Aji, seperti hari-hari sebelumnya. Sepulang sekolah mereka main ke rumah Aji dan di sanalah mereka membuka kiriman Tante Lani.

“Ck, gila aja kirim ginian ke sekolah. Satu kelas bau kweetiau. Mana kirimnya pas istirahat jam kedua. Baunya jadi ke mana-mana waktu jam tujuh-delapan. Jam terakhir gitu kan udah lapar-laparnya. Gila kalian,” Aji ngomel panjang lebar.

Lukito menatap Juwandi. “Baru kali ini denger orang ini ngomel gini.”

“Enggak usah didengerin. Biar aja. Dia lagi bete jadi cuma lihat dari negatifnya aja. Kan lucu, Bu Dewi hidungnya jadi ngendus-ngendus gitu sambil bingung noleh ke sana ke mari, tanya-tanya, ini bau apa? Wahaha…” Juwandi terbahak-bahak.

“Buat kamu lucu, ya?” Aji bertanya pada Juwandi.

“Lucu, lah. Mana ada kejadian di kelas kaya gitu?” Juwandi masih tergelak-gelak.

Tawanya mereda ketika Aji tak juga merubah raut wajahnya. Masih saja Aji cemberut dan tidak membuka bungkusan di depannya. Sementara Lukito tampak bingung tak tahu harus berbuat apa.

“Ji,” Juwandi menatap Aji. “Aku tau perasaan kamu. Tapi coba deh, enggak usah begitu. Belum tentu apa yang kamu bayangkan bakal terjadi.”

“Kamu nggak tau apa-apa.”

“Siapa bilang? Aku tau kok. Aku tau rasanya kehilangan.”

“Tapi ini beda.”

“Siapa bilang? Kehilangan itu ya kehilangan. Di mana-mana sama aja. Itu karena kamu terlalu terikat pada sesuatu. Entah itu orang tua yang meninggal atau dompet ilang, itu sama aja. Cuma kamu yang bisa mengatasi perasaan kamu.”

“Memang. Dan kalian enggak usah sok peduli!”

“Sok peduli? Kaya kita baru ketemu kemarin aja!” Juwandi ikut meradang.

Lukito semakin kebingungan. “Kalian ngomongin apa sih? Kiriman Tanteku ini bikin masalah ya?”

Serentak Aji dan Juwandi menoleh pada Lukito dengan wajah yang sama garangnya. Masing-masing menyimpan amarahnya sendiri dan Lukito ketakutan. Air matanya mulai meleleh.

“Aku kan nggak ngapa-ngapain,” tangannya mengusap mata dengan cepat takut ketahuan kalau air matanya mulai menetes.

“Tega banget kalian melotot sama aku kaya gitu.” Suara Lukito parau.

Seketika Aji dan Juwandi tersadar bahwa ada Lukito yang merasa jadi korban. Urat wajah mereka yang tadinya kencang mulai melunak.

“Maaf.” Aji menunduk penuh rasa bersalah.

“Iya, maaf Luk. Kamu enggak salah apa-apa. Sudah, ayo makan, yuk.” Juwandi ikut menghibur.

Lukito makin sibuk mengusap matanya.

“Sudah. Nggak usah nangis. Kami enggak marah sama kamu, kok.”

“Enggak. Cuma sedih aja, kiriman Tanteku yang aku pikir bisa bikin kita semua gembira malah bikin ribut gini.”

“Woii.. Bukan kiriman Tantemu yang bikin ribut. Aji aja yang memang lagi ribet. Udah ayo makan.”

Pada saat yang sama Iyem keluar sambil membawa tiga gelas sirup dingin.

“Waaaah.. Siang ini masakan Iyem nggak laku, ya!”

Aji menatap Iyem dengan pandangan aneh. Juwandi mengamati temannya itu, lalu pura-pura asik dengan kweetiaunya.

“Ya ampun. Itu segitu banyak, Mas Juwandi bisa habis sendirian, ya?” Juwandi mendongak dengan mulut penuh kweetiau yang sebagian menggantung keluar.

Karena kerepotan dengan mulut yang penuh, dia tak bisa menjawab. Iyem terkikik.

“Kaya kambing jenggotan kalo kaya gitu cara makannya.”

“Yem,” Aji memanggil.

Iyem menoleh. “Iya, Mas. Mau Iyem bawain nasi ke sini? Kali aja nanti Mas Juwandi kurang kenyang, mie-nya bisa dimakan sama nasi.”

“Ini namanya kweetiau, Mbak Iyem.” Lukito yang sudah baikan meralat.

“Oh, gitu. Iyem nggak tau.” Iyem kembali tertawa.

“Yem,” Aji kembali memanggil.

Iyem kembali menoleh ke Aji.

“Ambil piring sana. Kita bagi dua jatahku. Enggak bakal kuat makan segini banyak.”

Juwandi tersedak. Buru-buru Lukito mengambilkan minum.

“Aduh, kenapa sih makan buru-buru gitu? Jadi kesedak, kan. Ati-ati, ah.” Lukito menepuk-nepuk punggung temannya itu.

Iyem masuk dan membawa piring serta semangkok nasi putih. Aji membagi kweetiau miliknya menjadi dua, untuk dia dan untuk Iyem. Juwandi ternganga. Lukito tersenyum. Katanya, “Wah, kalian memang kakak adik yang rukun ya…”

Juwandi batuk-batuk lagi dan kali ini lebih hebat daripada sebelumnya. Lukito kembali sibuk menepuk-nepuk punggung Juwandi.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Tiga Sahabat (18) Kiriman"

  1. [email protected]  3 September, 2013 at 08:57

    aku….. tidak cengeng….. hanya sedikit gampang mengeluarkan air mata saja…. istilah kerennya gampang terharu…. begituh….
    ihik…. ihik….

    tak apa… sempat bertemu dengan tante lani yang dari konak sono…. memang dia begitu…. kalo lagi error… masak kuetiau nya banyak2 gituh….
    kalo lagi error parah… malah gak masak kuetiau untuk bagi2…. payah memang….

    ini iyem mau kemana nih, jangan pergi dong iyem…. ntar gak ada yang bisa diliat, kan kasian si juwandi itu….

  2. chandra Sasadara  2 September, 2013 at 14:43

    meweeekkkk..si lukijooo

  3. Hennie Triana Oberst  2 September, 2013 at 02:02

    Lukito ternyata gampang hatinya halus ya, gampang mewek.
    Senangnya dengan persahabatan seperti ini.

  4. elnino  1 September, 2013 at 22:26

    Lukito ini kok ya naib eh, naif banget toh.. Ngira Iyem kakaknya Aji. Tapi mungkin karena perlakuan Aji yg sayang ke Iyem, ya gak heran kalo Lukito mengira mereka kakak beradik.
    Selain naif, Lukito ternyata gembeng ya…gara2 Aji galau berat, dia ketakutan n sedih, sampai mewek

  5. Dj. 813  1 September, 2013 at 16:24

    Nr. 1 Sahabat karib.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *