Mencari Peluang, Membidik Pasar

Kang Putu

 

“WUK, apa yang kaupikirkan? Kulihat kau sering melamun,” tanya Mas Djoko. Ya, Minggu pagi ini Mas Djoko kembali melihat sang istri tercinta duduk termangu di depan pesawat televisi. Padahal, pandang mata perempuan manis itu tak tertuju ke layar kaca.

Bahkan kerap pula tangis Kinanti, anak mereka, tak mengusik Mbak Winda dari keterdiaman. Tentu saja Mas Djoko khawatir. Jangan-jangan…. “Wuk,” ujar Mas Djoko lembut, seraya menyentuh pundak sang istri.

Sentuhan itu mengagetkan Mbak Winda. Dia terlonjak. “Eh, apa? Ada apa? Kinanti kenapa?” ucap Mbak Winda tergagap-gagap.

“Kinanti masih tidur, Wuk. Kau tak perlu cemas,” sahut sang suami, seraya menekan kekhawatiran. Dia duduk di samping sang istri, menggapai remote control dan mematikan pesawat televisi.

Mbak Winda menghela nafas panjang. Wajahnya pias. Mas Djoko tercekat. “Wuk, kau sakit? Wajahmu pucat sekali.”

“Ah, nggak kok. Cuma agak capek. Semalam kurang tidur. Kinan agak rewel,” sahut Mbak Winda.

“Sori, Wuk, semalam aku memang harus ke kantor. Lembur.”

“Mas pulang pukul berapa?”

“Hampir pukul 03.00. Kinan klisikan. Dua kali aku mengganti popok, sebelum tertidur entah pukul berapa,” jawab Mas Djoko. Dia merasa agak bersalah karena kerap kali meninggalkan sang istri dan anak mereka yang belum genap berusia dua bulan. Habis bagaimana lagi? Sebagai pegawai dia toh tak bisa menolak perintah atasan? Apalagi menjelang, selama, dan setelah pemilihan presiden putaran pertama ini. Dan, dia pun yakin akan makin sering meninggalkan anak-istri memasuki putaran kedua pemilihan presiden kelak.

Sejenak ruang keluarga di rumah kontrakan mereka terasa hening. Cuma terdengar tik-tok jam dinding dan degup jantung mereka.

Mbak Winda beranjak ke dalam kamar. Dia menengok Kinanti yang masih pulas. Belum terlalu siang memang. Baru pukul 10.00, namun entah kenapa, dia malas ke dapur. Dia merebahkan diri di samping bayi perempuan mereka.

Mas Djoko mengikuti sang istri. Dia duduk di tepi pembaringan. Ekor matanya melirik sang istri, lalu beralih memperhatikan Kinanti.

“Mas, kalau ingin sarapan bikin mi. Aku lagi malas masak,” ujar Mbak Winda.

“Nantilah, aku belum lapar,” kata Mas Djoko. “Ya, bagaimana aku enak makan melihatmu begitu pias? Apa yang kaupikirkan? Apa yang jadi beban pikiranmu?” batin Mas Djoko, seraya menatap lembut istrinya.

Mbak Winda seolah menangkap berbagai pertanyaan dalam benak sang suami. Dia melengos. Entah kenapa rasa sedih dan kecewa menyelinap dalam hati. Kecewa soal apa? Pada siapa? Mas Djoko! Kenapa? Entahlah. Namun ketika Mas Djoko perlahan-lahan keluar kamar setelah mengelus pipi Kinanti, muncul perasaan bersalah di hati Mbak Winda.

Dia bangkit dari pembaringan dan menyusul sang suami keluar kamar. Dia melihat Mas Djoko duduk di teras samping sembari merokok. Meracuni paru-paru dengan nikotin adalah salah satu kebiasaan buruk sang suami yang belum bisa dia ubah.

Dia duduk di samping Mas Djoko. Sang suami menoleh dan tersenyum tipis, seraya mematikan rokok ke asbak. “Kalau capek sebaiknya tiduran dulu, Wuk,” kata Mas Djoko.

“Sudah cukup kok. Bener, Mas, nggak mau sarapan dulu?”

“Nantilah. Kau sendiri kapan sarapan? Wuk, kamu mesti memperhatikan kebutuhan gizimu lo. Menyusui membutuhkan banyak kalori, vitamin, mineral, gizi kan?”

“Sudah kok. Sebelum Mas Djoko bangun aku menggoreng nasi,” sahut Mbak Winda. Dan, ketika melihat sang suami hendak berbicara lagi, dia segera menyambung ucapannya, “Sudahlah, Mas. Aku ingin omong. Mumpung Mas punya waktu.”

Mas Djoko menatap perempuan yang makin hari kian tak mungkin dia khianati itu. Perempuan yang kian membuncahkan rasa asih, meluapkan cinta tak habis-habis.

“Mas, jangan tersinggung ya. Akhir-akhir ini aku memang sering merenung-renung. Aku memikirkan kemungkinan bekerja kembali. Namun apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kukerjakan? Usiaku tak memungkinkan lagi untuk melamar kerja. Apalagi aku memang tak ingin jadi pekerja orang lain. Ora ketang kecil-kecilan, Mas, aku ingin jadi majikan bagi diri sendiri. Syukur-syukur bisa mempekerjakan orang lain. Padahal, yang paling mungkin berjualan, entah di rumah, entah di mana. Namun berjualan apa? Bukahkah Mas Djoko tak ingin aku membuka warung makan lagi?”

Ah, ah, sekali omong meluncurlah sederetan kalimat panjang sehingga membuat pipi Mbak Winda memerah. Nafasnya agak tersengal. Diam-diam Mas Djoko menangkap hasrat terpendam, gejolak tertahan sang istri. Ya, hasrat dan gejolak untuk tak mau tinggal diam sebagai boneka indah. Hasrat dan gejolak untuk mewujudkan impian menjadi perempuan mandiri.

“Aku sudah melihat banyak contoh di sekeliling kita. Aku sudah kerap menimbang-nimbang apa yang bisa kulakukan. Namun, lagi-lagi, aku berpikir apa yang bisa kukerjakan adalah memasak dan menjual makanan. Ya, buka warung makan.”

“Tapi, Wuk, kau kelak bakal….”

“Ya, aku pasti repot dan kecapekan. Itu pasti. Pekerjaan apa sih yang tak membuat orang repot dan capek? Namun persoalannya bukan itu, Mas. Itu bisa kuatasi, misalnya berpartner dengan Mbak Endang. Berdua tentu lebih meringankan beban bukan? Mas, aku toh tak bisa memaksakan diri bekerja di luar keahlianku? Aku bisa memasak, aku suka melayani orang. Itu satu. Kedua, bukankah usaha di bidang makanan tak bakal pernah terlindas krisis? Bahkan saat sakit atau perang sekalipun orang butuh makan bukan?”

Mas Djoko nyaris tak berkedip menatap sang istri yang tampak makin ayu ketika berbicara penuh semangat. Namun Mbak Winda tak mengacuhkan pandang mata sang suami. Dia merasa inilah saat menumpahkan segala pemikiran, angan-angan, dan impian. Ya, saat ini.

“Sebulan lalu aku dan Mbak Endang berbincang soal kemungkinan bekerja bersama membuka warung makan. Mbak Endang antusias. Dia pernah memasak untuk warung sate dan soto milik temanmu Prabowo kan? Aku yakin kami bisa membagi waktu antara urusan rumah dan warung.”

Mas Djoko terdiam. Mbak Winda tak mau kehilangan momentum. Karena itulah dia kembali mencerocos. “Cuma sekarang aku bingung. Apa menu utama warung kami? Di mana pula mesti berjualan? Rumah pun masih ngontrak.”

“Wuk, kau yakin benar memasak dan membuka warung makan pilihan paling tepat dan paling mungkin kauwujudkan?”

“Ya.”

“Ada dua hal penting harus kaupertimbangkan. Pertama, apa menu yang bakal kaujual. Cari yang paling memberikan peluang untuk membidik pasar. Maksudku, bisa saja menu itu sederhana tetapi belum ada yang menjual. Namun, tentu saja, tetap harus enak, lezat, dan menarik dalam penyajian. Pilihan menu itu harus mempertimbangkan aspek paling menonjol dari motif konsumen untuk menikmatinya. Makan demi perut semata-mata, misalnya sarapan bagi orang kantoran, anak sekolah, dan pekerja, atau makan sebagai bagian dari hiburan, gaya hidup, sembari nongkrong dan menikmati suasana malam tentu berbeda penyikapan. Sama-sama menyajikan pecel, misalnya, tentu berbeda jika kaujual di rumah kita untuk melayani warga kampung pada pagi hari dan pecel Yu Sri di Simpanglima pada malam hari. Nah, kedua, soal tempat akhirnya menjadi penting. Karena dari atau di tempat itulah kau membidik pasar. Harus ada kejelasan siapa konsumen yang kausasar.”

etalase-tradisional

Mas Djoko tiba-tiba tersenyum kecut. “Ah, kenapa aku jadi seperti dosen memberikan kuliah?” batin dia.

“Jadi, apa yang harus kujual? Di mana aku harus berjualan?” tanya Mbak Winda.

“Ah, nantilah kita pikirkan lagi. Toh tabungan kita belum mencukupi? Lagipula, lain kali, aku ingin menceritakan soal kegagalan mencari peluang dan membidik pasar sebagai pelajaran. Ya, sebagai bandingan. Biar kelak kau lebih mantap bekerja,” kata Mas Djoko.

Mbak Winda mengurungkan niat mencecar sang suami agar meneruskan kisah. Dia segera beranjak ke dalam rumah, karena terdengar tangis Kinanti.

 

5 Comments to "Mencari Peluang, Membidik Pasar"

  1. Anthony Lim  5 September, 2013 at 04:47

    Lha terus? Solusinya apa? Emang ending critanya dibuat menggantungbegini ya ?

  2. J C  3 September, 2013 at 21:04

    Ikut mumet bacanya…hahaha…

  3. EA.Inakawa  3 September, 2013 at 04:15

    Gampang Wuk jualan SAWUT aja, belajar dari Mbak Hennie……..jangan dengar Mas Djoko, peluang pasar apaaan ? ntar keduluan tetangga sebelah, buka warung SAWUT modalnya murahhhhhhhhhh, ayo buruan

  4. Dj. 813  2 September, 2013 at 22:31

    Padahal Dj. tidak bisa dagang…
    Hahahahahahahaha….!!!
    Terimakasih kang Putu.
    Salam,

  5. James  2 September, 2013 at 11:02

    SATOE, Peluang Pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.