Nek Rahma

Adhe Nitha

 

Tubuh renta tidak berdaya, berjalan sempoyongan tidak tahu arah tujuan hendak kemana kaki melangkah dengan pakaian yang kusam lusuh dan hanyir bau penyakit kulit yang Ia deritanya, tidak ada yang merasa iba padanya semua sibuk pada dirinya sendiri dan bila pun menolong perlu berpikir dengan cibiran orang sekitar yang akan melihatnya dan mengolok-oloknya karena bau anyir itu sudah sangat mengganggu indra penciuman orang-orang yang berdekatan dengannya, luka itu bagai borok yang terkuak begitu saja tidak ada sedikit pun tanda-tanda kalau luka itu pernah tersentuh obat atau pernah dibersihkan karena luka itu menganga dan bernanah sehingga terkadang lalat-lalat pun menghampirinya.

Malang sekali nasib nek Rahma yang dilupakan anak, menantu dan cucu-cucunya seharusnya di usia senjanya dia dimanjakan dan dihibur oleh cucu-cunya tetapi ini sangat tak dipedulikan bahkan nek Rahma tidur dimana saja. Saat tidur di emperan pertokoan yang tutup di malam hari ia sempat diusir oleh preman sekitar dengan berdalih kalau itu adalah daerah kekuasaan kami jadi siap pun yang berada di sini harus meminta izin dan membayar sewa sebesar lima ribu rupiah. Karena tak ada uang yang ia miliki makan pun dari pemberian orang atau ya kalau tidak dari sisa-sisa makanan orang lain yang masih layak menurut dia agar dia dapat bertahan hidup.

Sangat jauh berbeda dari hidupnya dahulu dia amat sangat memiliki segalanya dan sangat memanjakan anak-anaknya, Mungkin karena sangat dimanjakan sehingga mereka malas mengurus ibunya dalam kondisi yang sangat rapuh di usia senjanya mereka lebih asik mengurusi bisnis-bisnis mereka dan mereka tidak pernah ingat bahwa mereka pun akan tua dan membutuhkan kasih sayang anak-anaknya di usia senja, anak-anak mereka tidak pernah tahu bahwa nek Rahma adalah nenek mereka yang butuh kasih sayang mereka dan merindukan canda tawa keriangan mereka.

 

Nek Rahma saat masih terlente (memiliki segalanya dulu) sangat dermawan membantu sesama dan tidak pernah mengharapkan pamrih atau pun sanjungan dari apa yang telah Dia berikan itu. Nek Rahma sempat membantu seorang anak tukang beca yang tinggal di perkampungan belakang rumah yang sangat megah yang nek Rahma tempati bersama lima anaknya, anak tukang beca ini menderita kanker paru-paru stadium dua yang kalau didiamkan bisa semakin parah dan menyebabkan kematian mendengar kabar tersebut dari para tetangganya Nek Rahma menyambangi rumah Pak Idris (tukang beca) yang harus melewati gang sempit dan becek berlumpur tetapi Ia tidak memperdulikannya, Dia terus berjalan menghampiri rumah Pak Idris dan begitu sampai di depan rumahnya Dia mengetuk pintunya serta mengucapkan salam. “tok…tok tok…permisi….Assalamuallaikum….”

Tidak perlu menunggu lama pintu terbuka dan disambut oleh istri Pak Idris yang bernama Bu Dina dengan menjawab salam yang tadi Nek Rahma ucapkan “waalaikumsallam silakan masuk bu, maaf rumah saya berantakan dan sangat kotor berbeda mungkin dengan rumah ibu yang sangat nyaman dan bersih”.

”Perkenalakan saya Rahma panggil saja Rahma”

“Saya Dina…oh ya bu ada keperluan apa ya ibu datang ke rumah kami?”

“Ini saya mendengar dari tetangga sekitar kalau anak ibu ini harus segera dioperasi kalau tidak bisa fatal akibatnya maka dari itu saya kemari ingin meringankan beban ibu dan keluarga yaitu dengan membiayai operasi anak ibu tersebut agar dia dapat melakukan aktifitasnya lagi dan tidak terganggu oleh penyakit yang menjalar di dalam tubuhnya, bagaimana bu? Semoga ibu mau menerimanya saya tak mengharapkan apa-apa bu asalkan anak ibu sembuh dan sehat kembali saya rasa itu dapat membuat saya bahagia lahir dan batin”.

“Terimakasih bu, saya dan keluarga sangat-sangat senang menerima dan tidak mungkin menolak demi kesembuhan anak kami yang masih memiliki masa depan itu bu”

“Oh ya dimana anak ibu bolehkah saya menjenguknya?”

“Tentu saja boleh bu,mari bu kemari di kamar belakang dia berada” Rio anak laki-laki yang menderita kanker paru-paru itu tertidur lemas mengharapkan sekali kesembuhan karena cahaya terang keluarganya di masa yang akan datang ada di pundaknya, tapi bila kondisi dia seperti ini apa daya.

“Dia sedang tidur bu, kalau begitu saya pamit saja dulu nanti besok sekitar pukul 10.00 pagi kita sama-sama berangkat ke rumah sakit untuk mendaftarkan Rio menjalankan operasi, baiklah bu saya permisi Assalamuallaikum”

“Waalaikumsallam,sampai besok bu”

Pukul 10.00 pagi yang di janjikan pun tiba Nek Rahma dan keluarga Pak Idris berangkat menuju rumah sakit yang terdekat. Kurang dari dua jam sampailah mereka di rumah sakit dan segera ditangani oleh pihak rumah sakit dan mendapat perawatan yang amat sangat intensif di kelas VIP.

Sekitar empat hari Rio harus dirawat inap dan pada hari kelima operasi siap dilakukan dengan cemas kami mengantar Rio sampai di depan pintu ruang operasi, lampu operasi, baju-baju steril, bius dan segala peralatan telah siap digunakan dan operasi pun sedang berjalan, menunggu dan menunggu tindakan dokter terhadap anak kami Rio di dalam sana hanya do’a yang kami ucapkan pada sang Khalik agar DIA memberi yang terbaik untuk permata hati kami.

Sekitar dua jam sudah dokter keluar dari ruang operasi dan mnegabarkan pada kami bahwa “operasi telah selesai dan berhasil tetapi Rio harus beristirahat dulu setelah operasi di ruang pemulihan jadi tidak dapat di temui sekarang nanti bila Rio sudah pulih dari bagian informasi ruang pemulihan akan memanggil nama salah satu anggota keluarga untuk menemui Rio”. “Alhamdulillah, baiklah Dok”

Sekitar dua jam sudah berlalu nama pa Idris terdengar dari pengeras suara itu suara dari bagian informasi di ruang pemulihan, Pa Idris begegas ke sana menemui Rio yang telah melalui masa-masa terberatnya, dipeluk dan di ciumnya anak lelaki kebanggaannya itu. Tidak lama setelah itu Rio dibawa ke ruang istirahatnya di kelas VIP semula. “Pak kalau begitu saya mohon pamit dulu, sebab nanti anak-anak saya menanyakan saya dari mana mereka suka susah diberi pengertian, Rio cepat sembuh ya nak besok saya akan datang lagi kemari oh ya, untuk urusan administrasi sudah beres semuanya. Assalamuallaikum”

“Waalaikumsallam”

Seminggu sudah pasca operasi, Rio sudah diizinkan pulang dan kami pun sangat gembira karena dia hanya tinggal cek up saja dengan rutin. Saat ini Rio dapat melanjukan sekolahnya yang sempat terputus dan Nek Rahma pun membantu dalam hal biaya.

Sepuluh tahun sudah peristiwa itu terjadi dan kini tak seorang pun yang memperdulikan Nek Rahma, Suatu siang Pa Idris menarik becak ke arah pertokoan di jalan Basuki Rahman beliau mengenali sosok yang merasa pernah dekat dengannya dan juga dengan keluarganya dengan setengah ragu-ragu dia menyapanya Nek Rahma?? Yang punya nama pun menoleh dan tersenyum sesuai dengan senyum khasnya yang sangat menjadi ciri dari dirinya. “Astagfirullah kenapa nenek ada di sini dengan keadaan seperti ini masya Allah…mari nek ikut saya ke rumah, nenek maukan tinggal di rumah saya, saya mana mungkin tega melihat orang sebaik nenek ada di jalanan seperti ini …. mari nek ikut saya pulang”

“Baiklah pa,tetapi apa saya tidak akan merepotkan bapak dan keluarga?”

“Tidak nek, karena ini Tidak seberapa dengan jasa nenek dulu membiayai Rio, Sekarang Rio sudah melanjutkan kuliahnya di bidang farmasi nek, mungkin saat ini Allah menugaskan Rio untuk merawat nenek dan menganggap nenek ini adalah neneknya sendiri”

Akhirnya Nek Rahma tinggal di rumah Pak Idris dan Bu Dina yang dulu pernah ditolongnya, Rio cahaya yang dulu diselamatkan dengan pertolongan Allah melalui Nek Rahma kini dialah yang merawat dan mengobati Nek Rahma hingga beliau tutup usia di usia senjanya yang berangka tujuh puluh enam tahun.

Grandma_by_Beleleu

Keluarga kecil inilah yang menjadi keluarganya sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya dan sebelum dia meninggal dunia dia sempat berpesan pada keluarga Pa Idris kalau nanti dia tidak ada dimana makamnya tidak perlu diberitahukan pada anak-anaknya karena mereka tidak akan mencarinya dan saya telah memaafkan kesalahan mereka, kekeliruan mereka dan kesombongan mereka. Untuk Rio kamu harus kejar cita-citamu agar dapat mengangkat harkat dan martabat orang tua mu di mata masyarakat tetapi kamu tidak boleh lupa pada orang tua mu dan berbaktilah pada mereka kareana mereka kamu ada dan untuk mereka kamu bertahan hidup, bahagiakan mereka nak semampu mu sebisa mu tetap di jalanNya.

by: Adhe_Nitha (Melody_Pujangga)
date:07072010.02:00WIB.

 

6 Comments to "Nek Rahma"

  1. J C  3 September, 2013 at 21:03

    Kisah yang sangat menyentuh…

  2. [email protected]  3 September, 2013 at 13:41

    cerita yang menyentuh hati… saat ini masih banyak orang yang sering melupakan orang tua atau kakek nenek…
    hormati orang tua dan sayangilah mereka….

  3. EA.Inakawa  3 September, 2013 at 03:49

    Adhe Nitha : Betapa banyak anak & cucu yang mengabaikan orang tua mereka, semoga KITA KITA bukan salah satu dari anak anak durhaka tersebut, ceritera bagus untuk sebuah pembelajaran. salam sejuk

  4. Dj. 813  3 September, 2013 at 02:13

    Adhe….
    Terimakasih untuk ceritanya yang mengharukan.
    Ditunggu cerita berikutnya.
    Salam,

  5. chandra Sasadara  2 September, 2013 at 14:34

    Dua…

  6. James  2 September, 2013 at 11:01

    SATOE,,,,,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.