Migrasi Dalam Negeri (2 – habis)

djas Merahputih

 

Pada dasarnya negara-negara di dunia ini dapat dikategorikan ke dalam dua karakter berbeda yaitu Negara Maritim seperti Indonesia, Philipina, Jepang, Inggris dan negeri kepulauan lainnya. Negara lain yang menghuni daratan yang luas dan terbagi ke dalam masing-masing wilayah teritorialnya digolongkan ke dalam Negara berkarakter Kontinen. Tentu perbedaan karakter keduanya akan terlihat lebih jauh dalam kebijakan dan fokus penyelenggaraan negara yang akan diambil.

Akan halnya Republik #Jancukers tidak termasuk ke dalam kedua golongan karakter negara tersebut. Negeri ini dalam perkembangan “ilmu pengetahuan” termutakhir digolongkan ke dalam negeri Awang-awang atau lebih sederhana lagi adalah “Negeri di Awan”. Teritorialnya melingkupi udara di atas permukaan darat dan laut dalam sebuah negara. Dan dapat dilihat dengan jelas dari perilaku para seniman dan budayawan di negara asalnya.

republik jancuk

Kesan pertama saat memasuki sebuah negeri yang bernama Republik #Jancukers ini adalah begitu lancar dan cepatnya segala urusan dapat diselesaikan. Sehingga dalam dekade pertama berdirinya saja Republik ini telah berhasil memakmurkan segenap warga negara dan rakyatnya. Teks proklamasinya menyatakan bahwa segala sesuatu tidak saja diselenggarakan secara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tetapi juga harus dinyatakan dalam serendah-rendahnya jumlah karakter (hal. 8). Hal ini nampaknya juga terinspirasi dari pengalaman sebuah negara bayangan NKRI yakni Negara Kesatuan Retweet Indonesia. Walaupun disebut sebagai negara bayangan namun langkah negeri ini jauh lebih cepat melampaui negara aslinya sendiri. Sebuah hal berkebalikan dengan tokoh kartun Lucky luke yang mampu menembak lebih cepat dari bayangannya.

Dalam hal kebiasaan para pemimpinnya, juga dapat ditemui bagaimana segala sesuatu dalam urusan negara ini wajib dipersingkat dan dipercepat. Jika pada zaman Bung Karno sering kita jumpai pidato panjang lebar dan berapi-api maka di negeri #Jancukers berlaku suatu prinsip bahwa pidato dilarang terlalu panjang lebar, sedikit panjang lebar saja sudah haram. Sebab terlalu panjang kasihan ibu-ibu dan kalau terlalu lebar kasihan para bapak-bapaknya. Tentu paradigma ini sangat sesuai dengan “zaman yang berlari” sekarang ini. Apalagi dalam kenyataannya seseorang bisa saja hidup lama di luar negeri tapi takkan mampu berlama-lama hidup di luar zaman (hal. 8).

Beralih ke lain hal adalah bagaimana para pemangku negara (di negeri ini kata pemerintah tak pernah digunakan) menangani persoalan kemiskinan. Di negeri #Jancukers fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, dalam arti tak akan pernah kelaparan dan kehausan serta diberi tempat berteduh yang layak. Lebih dari itu, selain fakir miskin dan anak-anak terlantar maka kaum jompo dan jomblo juga mendapatkan perhatian yang serupa.

Mungkin agak lucu kedengarannya bahwa di negeri #Jancukers  setiap jomblo diberi pasangan part timer oleh negara (hal. 13). Padanannya kira-kira mirip kawin kontraklah di negara Republik Indonesia. Kemudian lebih detail lagi kementrian agama di Republik #Jancukers disarankan agar perlu benar-benar memperhatikan para jomblo yang Ateis. Sebab kemungkinan mereka masih bertanya-tanya di tangan siapakah jodoh mereka berada. Hansip dan Penghulu dengan mudah akan mengaku-ngaku hal tersebut sebagai kewenangan mereka. Perkecualian bisa terjadi pada Johan, sebab andaipun dia Ateis dia akan tetap teringat bahwa namanya adalah singkatan dari JOdoh di tangan tuHAN.

Kehidupan dalam masyarakat di negeri #Jancukers selain serba cepat dan tertata dengan baik, adalah meratanya kesadaran para warga negara bahwa Mengisi Kemerdekaan adalah jauh lebih penting daripada sekedar Memproklamirkan Kemerdekaan. Dan oleh karenanya para motivator ditugaskan untuk terus menjaga dan menggelorakan semangat bekerja warganya agar sanggup mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Karena tugas mulianya ini para motivator begitu dihargai dan dihormati sehingga mereka diberikan gelar sebagai “Motivancuk..!!” (hal. 20). Kesadaran para warga tersebut juga dibarengi dengan keseriusan pemimpin dan pengelola negeri dalam mengurus masyarakatnya. Acara dan seremonial pelantikan para petinggi negeri misalnya dilakukan secara sederhana dan terkesan seadanya, sebab di benak mereka telah menanti berbagai persoalan yang harus disikapi dengan serius dan memerlukan perhatian khusus. Bukan malah sebaliknya, sangat serius dalam acara seremonial sehingga kehabisan energi untuk urusan-urusan kemasyarakatan para warganya.

Masih banyak hal menarik lainnya dapat kita renungkan dari keberadaan Republik #Jancukers ini, namun akan membutuhkan semacam laporan khusus (Lapsus) tersendiri untuk menguliti satu persatu kebiasaan-kebiasaan unggul yang ada. Salah satu di antaranya adalah kebijakan bahwa mobil kepresidenan diharuskan mengalah pada mobil yang mengangkut perempuan yang akan segera melahirkan, siapapun perempuan itu. Pakai tas Hermes ataupun tas kresek..!! Sebuah perhargaan mewah dan begitu tinggi terhadap eksistensi seorang calon bayi dan wanita yang mengandungnya. Sebab di Republik #Jancukers tumbuh kesadaran bahwa mereka tak akan pernah tahu di mana dan dari rahim siapa pemimpin-pemimpin masa depan mereka akan lahir. Persis kebalikannya seperti Firaun yang tidak pernah tahu bayi laki-laki mana yang akan menghancurkan kekuasaannya sehingga harus memerintahkan seluruh bayi laki-laki yang baru lahir agar segera dibunuh.

sujiwo-tejo

Di sebuah negara bernama Republik Indonesia (sorry to say) sebagian para pemudanya malah melakukan hal unik dan aneh berkaitan dengan bayi dan perempuan tadi. Sebelum menyebutkan hal unik dan aneh itu sebaiknya kita tengok jauh ke belakang, ke bilik-bilik sejarah negeri tercinta dimana para pejuang kemerdekaan rela berkorban darah dan air mata sampai-sampai empat pejuang yang akan dihukum mati masih bisa tersenyum hanya dengan keyakinan bahwa perjuangan mereka pasti akan terwujud oleh seorang pemuda bernama Soekarno. Sebuah pengorbanan luar biasa dan tanpa pamrih yang jika saja seluruh darah dan air mata mereka dikumpulkan menjadi satu tentu akan sanggup memenuhi sebuah danau, dimana dalam danau tersebut dapat dijadikan tempat untuk menceburkan para pengkhianat kemerdekaan agar segera sadar dan terbangun dari kesetanan mereka.

Hal unik dan aneh yang ingin disebutkan tadi adalah bagaimana sebagian pemuda sebagai generasi penerus di Republik Indonesia tercinta justru mengorbankan janin dan wanita calon ibu muda dari bangsanya sendiri. Bagaimana dengan tanpa malu dan rasa bersalah sepasang muda-mudi sepakat untuk mencoba menghapus jejak dosa-dosa mereka dengan mengorbankan darah daging yang tumbuh akibat kenikmatan berdua. Bagaimana di tengah ketampanan dan kejantanan seorang pemuda namun dengan jelas memperlihatkan jiwa kerdil, renta dan pengecut yang mereka miliki. Bagaimana begitu kontras kedua generasi tersebut dalam bersikap dan berjuang. Dan seseorang hanya mampu berujar, “Dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu nuranimu..?” Nurani yang peka dan takjub pada kekuatan serta keberanian generasi-generasi pendahulu kita.

——————————-

Sang cucu yang akhirnya pamit kepada kakek tercinta dengan berat hati mengayunkan langkah gontai menuju sebuah negeri seperti yang diceritakan oleh kakeknya tadi. Sang kakek tidak akan menyesal sebab di negeri baru tersebut akhirnya sang cucu mampu melepaskan segala kekhawatirannya tentang masa depan keluarga dan keturunannya kelak. Walaupun negeri tersebut hanyalah sebuah negeri awang-awang, sebuah Negeri di Awan…!!

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Migrasi Dalam Negeri (2 – habis)"

  1. djasMerahputih  4 September, 2013 at 13:43

    7: bebas visa kok… Persyaratannya cuma satu. Pada saat ke sana pastikan anda dalam keadaan sadar dan sedang tidak dalam pengaruh “kemunafikan”.. (begitu pesan bpk presiden #Jancukers). Kalo jadi ke sana ajak2 ya mas chandra…?

  2. chandra Sasadara  4 September, 2013 at 11:26

    mau segera mengurus visa ke negeri jancukers ni..hehehee

  3. djasMerahputih  4 September, 2013 at 06:54

    3: Negeri yang unik… !!
    Semoga sukses peluncuran bunya kang JC.. good luck!!
    4: Tapi berbeda suasananya dengan Republik #Jancukers kan Inakawa…??

  4. djasMerahputih  4 September, 2013 at 06:50

    1: Oke bpk paspampres, silakan tanda-tangan dulu absennya ya..
    2: Negeri di awang-awang, ntar kalo mba alvina naik pesawat tolong mampir yaahh…!!

  5. EA.Inakawa  4 September, 2013 at 00:41

    Saya pernah tinggal disebuah Negeri yang disebut Negeri Diatas Awan ” Ethiopia ” karena ketinggiannya 2500 mtr diatas permukaan laut……Thx Djas Merah Putih atas artikelnya, berat…..tapi bagus untuk sebuah renungan, salam sejuk

  6. J C  3 September, 2013 at 21:18

    Renungan yang dalam dan mengena sekali. Negeri ini dalam satu sisi mencapai kemajuan yang signifikan, di saat yang sama sisi lainnya mencapai titik korupsi masif yang tak pernah terjadi sebelumnya…

  7. Alvina VB  3 September, 2013 at 09:28

    Ternyata oh ternyata…..negri di awan…..

  8. [email protected]  3 September, 2013 at 09:15

    NOMOR SATOE….
    absen dulu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *