50 Tahun Majalah Intisari dengan Irawati Suwandhi dan Cinta Kasih

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

MAJALAH Intisari sudah menapak usia 50 tahun. Rentang waktu yang panjang untuk sebuah penerbitan majalah berbahasa Indonesia. Intisari adalah media terbitan kelompok Kompas Group yang paling tua. Bahkan lebih tua dari harian Kompas sendiri.

Ada tiga orang berjasa membangun majalah Intisari yang menjadi cikal bakal lahirnya berbagai media dari kelompok media paling sukses dan kaya di Tanah Air itu. Mereka adalah PK Ojong, Jakob Oetama dan Adisubrata. Lalu menyusul orang keempat, yaitu Irawati Suwandhi.

Sejak Maret 1964, Irawati Suwandhi mengasuh majalah ukuran mini itu selama lebih 27 tahun dengan cinta kasih. Sosok Irawati tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Mungkin tulisan ini satu-satunya yang pernah ‘mengorek-orek” sosok ibu yang kini usianya sudah lebih 80 tahun itu.

Selamat kepada Majalah Intisari atas hari jadinya ke 50 tahun. Saya dan mungkin banyak dari pembaca, tumbuh bersama majalah tersebut. (*)

Intisari 1 Intisari 2 Intisari 3 Intisari 4 Intisari 5 Intisari 6

 

26 Comments to "50 Tahun Majalah Intisari dengan Irawati Suwandhi dan Cinta Kasih"

  1. Wiwiek  1 October, 2013 at 16:46

    menarik sekali mas tulisannya. inspiratif. terima kasih.

  2. Mawar09  10 September, 2013 at 00:21

    Salah satu majalah kesukaan saya dulu. Terima kasih ISK untuk tulisannya, jadi tahu tentang Ibu Irawati.

  3. Alvina VB  7 September, 2013 at 08:33

    Wah dulu kita juga langganan Intisari…Baru tahu Intisari sudah 50thn. Terima kasih utk tulisannya bung Iwan…Met weekend sama keluarga tercinta…

  4. J C  7 September, 2013 at 08:11

    Mas Iwan, aku juga tumbuh di tengah produk Kompas Gramedia, dari Bobo, Hai, Intisari, Edisi Khusus Majalah Hai, Donal, Deni Manusia Ikan, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Mallory Towers, St. Claire, Trio Detektif, dan masih banyak lagi.

    Walaupun sebagian besar waktu itu masih produk import, tapi penanganan produk Kompas Gramedia waktu itu sangat terasa memang ada sentuhan personal, ditangani dengan passion. Sangat berbeda dengan sebagian besar produk Kompas Gramedia saat ini, karena sudah jadi industri penerbitan, tak bisa dihindari persaingan, kecepatan, komersialisasi, dsb yang membuat produk Kompas Gramedia sebagian kehilangan sentuhan rasa personal dari pengasuh di belakang layarnya. Termasuk Intisari sekarang pun sangat jauh beda “rasa” dibandingkan yang dulu.

    Entah hanya aku yang merasakannya atau memang mas Iwan juga merasakan hal yang sama?

  5. djasMerahputih  7 September, 2013 at 07:49

    Kisah ispiratif, kisah seorang ibu sejati yang selalu merawat asuhannya dengan penuh cinta kasih. Semoga ibu-ibu seperti Irawati Suwanti atau Ibu Robin di Bali (yang merawat dan membantu wanita melahirkan dengan penuh cinta kasih) masih bisa kita temukan pada generasi-generasi penerus bangsa ini..

    Thanks to ISK, Salam Nusantara.

  6. nu2k  7 September, 2013 at 03:18

    Dimas ISK, ha, ha, haaa… Saya mau yang gratisan saja… Pinjam buku detektiefnya nanti kalau ada di Jakarta… ha, ha, haaa.. Gratisan, itu yang paling murah dan banyak peminatnya…. Fijn weekend en doe doei, nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.