Dua Orang Mantan

Teguh Afandi

 

Roda berputar seperti hidup juga bergilir. Kemarin hidup mungkin sekarang sudah terbujur kaku. Kemarin miskin mungkin hari ini sudah menjadi kaya-raya raja minyak. Bahkan yang lebih ekstrim kemarin laki-laki sekarang menjadi perempuan (ex: kasus Anastasya alias Rahmat Sulistyo). Rasulullah berhadist dengan jelas bahwa “Iman seseorang itu naik dan turun”. Itulah seseorang. Hati yang begitu lembut mudah sekali bergerak dan berubah sisi. Iman seseorang memang seperti gelombang, kadang naik kadang turun. Kisah-kisah berikut adalah bukti bahwa gelombang iman itu benar. Kisah dua orang mantan. Dua orang bekas. Dua orang bekas yang berbeda kelas.

mantan

Mantan Pertama

Seorang seniman bernama Iwan. Dia adalah seniman pinggiran Tanjung Priok (bukan bermaksud merendahkan namun itulah yang tersurat dari ucapannya) “Seniman pinggiran Tanjung Priok, berbeda dengan kamu”. Pertemuan dengan Iwan-lelaki dengan rambut gimbal dan pakaian yang tidak pernah tercium setrikaan- di sebuah toko buku dekat Taman Ismail Marzuki usai menyaksikan pementasan Puisi Taufiq Ismail.

“Aku tidak percaya partai!”, dia membuka percakapan begitu saja diluar perkiraan. Kuduga ia akan membicarakan cerpen atau novel para sastrawan. Atau mengkritik kasus plagiat sebuah cerpen KOMPAS yang sedang heboh di dunia maya.

“Terlebih saya tidak percaya para politisi yang berdasi. Busuk saya memandangnya.”

Nadanya benar-benar geram. Suara yang keluar bukan basa-basi politisi. Dia menyampaikan dengan perasaan dan kesungguhan.

“Semua nggak ada yang benar. Mencari pembenaran dengan mengatasnamakan agama. Rebutan kursi dengan dalil dari kitab suci. Seandainya saja ada hukuman pasti dia akan mendapat hukuman paling berat dan pertama”, Iwan benar-benar membenci. Bahkan ia berkata partai besar ia benci, partai kecil bikin Iwan geli.

“Tapi kan tidak semua”, ajakan diskusi Iwan aku tanggapi dingin, kurasakan agar tidak berat sebelah aku berpendapat. Tetap netral, netral sebagai pemula sastrawan. Kita berpisah setelah beberapa buku masuk dalam kantong plastik dan lembaran biru berpindah ke kotak kasir toko buku.

Dua bulan pasca itu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Di antara kepala-kepala orang berdesakan. Berebutan oksigen di bawah terik surya pukul sebelas. Meski lapangan sebesar ini tetap saja terasa panas dan gerah. Terlebih Jakarta sudah tidak lagi sesejuk dulu lagi. Iwan menyapaku.

“Assalamu’alaikum Mbak…! Masih ingat saya? Iwan Mbak…? Yang dulu bertemu di toko buku dekat TIM”

Aku mencoba mencari Iwan siapa dia dalam pikiranku. Dahi mengernyit mencoba mencari celah siapa dia.

“Iwan mbak. Dulu rambut saya gimbal. Sekarang sudah potong mungkin mbak sedikit lupa”

Benar saja. Dia Iwan. Rambutnya kini telah rapi dipotong dan disisir. Dan ditutup dengan sebuah topi. Yang membuatku kaku dan kelu dilidahku.

“Ya Mbak… sekarang saya ikut berkontribusi disini Mbak. Kecil-kecilan sih emang.”

Bagaimana bisa?

Sambil kuteduhkan diri, dia membeberkan semuanya.

“Seminggu setelah ketemu dengan Mbak di TIM itu. Tanjung Priol banjir besar. Dan mereka yang bertopi sama dengan topi ini segera membantu. Mendirikan tenda dan memberikan semua yang mereka bisa. Bahan makanan, obat dan bahkan selimut bagi kami. Dari sinilah saya banyak berkomunikasi dengan mereka”

“Mereka memang unik Mbak. Sudah sering saya berdemonstrasi meski hanya puluhan pasti rusuh. Lha ini ribuan orang tapi tetap damai tidak ada sedikitpun huru-hara. Saya lebih respect lagi ternyata saat saya bilang tertarik bukan ditawari partai malah ditawari ngaji. Diajarinya saya belajar alquran dan membacanya. Dan sekarang meski terbata saya mulai bisa mengeja alquran. Saya mulai menata hidup bukan hanya untuk hidup. Hidup yang bermakna untuk manusia dan Tuhan. Aktivitas seni belum saya tinggalkan, dan seni menjadi sarana saya mengekspresikan kalimat Allah”

Subhanallah, Mahasuci Allah penguasa hati.

(ditulis ulang dengan dari kisah “INDONESIA BELUM MENYERAH!” Helvy Tiana Rose dalam buku “BUKAN NEGERI DONGENG” berbagai bumbu biar seru)

 

Mantan Kedua

Dia adalah lelaki yang hebat. Dia lulus dengan predikat cumlaude di UGM di Jogja. Dia sekarang bekerja di sebuah kantor sebuah kementrian (sengaja tidak disebutkan) di Jakarta. Bahkan prestasinya sewaktu kuliah bukan hal yang mudah dicapai orang. Dua semester ikut Exchange Program dialam program Under Graduate Fullbright (atau apalah). Beberapa kali mengikuti seminar luar negeri dan konferensi. Bahkan dia adalah seorang aktivis dakwah. Meski dia bukanlah aktivis di Lembaga Dakwah Kampus, namun keterlibatannya dalam berbagai agenda dakwah sudah menjadi bukti keseriusannya memperbaiki diri.

Dia kini menjadi rekan kerjaku yang sangat hebat. Kecerdasan dan kehebatan dalam beruursan kerja membuat ia cepat promosi. Dua tahun saja dia sudah menjadi manager senior. Saat ada presentasi di luar negeri selalu dia yang diajukan. Bahkan kalau tidak salah dia akan segera melanjutkan studi di salah satu negara di Eropa. Ini jauh lebih membuatku iri. Begitu cerdas dan begitu hebat.

Hingga suatu siang disela-sela makan siang di kantin. Dia mengomentari sebuah berita anak SMA yang sedang berdoa dimakan gusdur menjelang UAN.

“Bullshit mereka itu. Daripada berjam-jam di depan makam mending kalian belajar.”

“Ya mungkin ia ingin mencari ketenangan. Biar belajarnya nyaman”, aku menjawab maklum aku juga belum paham tentang masalah seperti itu.

“Segera yuk kita selesaikan makan. Keburu masuk. Belum sholat lohor ni..”

“Bentaran ah…kaya mau kiamat aja. Nanti kamu kaya anak-anak SMA itu, meminta-minta tanpa usaha”

“???”

Telak kalah. Aku berangsur pergi duluan ke masjid. Selesai dari masjid aku mampir mencari segelas kopi agar tidak mengantuk. Kulihat sahabatku ini masih di meja yang sama dengan laptop apple di depannya. Senyum sendiri.

“Sudah sholat??”, tanyaku.

Hanya dijawab dengan anggukan kepala. Kuyakin dia belum sholat. Wajahnya masih belum basah karena wudlu. Semoga ia tetap sudah sholat. Kembali ke kesibukan kerja. Aku sudah tidak lagi mengecek apakah sahabatku ini sudah sholat atau belum. Hingga jam selesai kantor aku sudah janjian dengannya untuk mencari sebuah buku di gramedia. Karena sudah hampir larut aku mengaknya sholat di masjid kantor.

“Oya sekalian jama, aku belum sholat dhuhur”

“???”

Allah akbar. Aku tidak lagi berani menasihati. Seolah malu dengannya. Kuyakin dia masih ingat ayat-ayat alquran yang dibaca beserta artinya di depan murobbi. Atau materi-materi yang disampaikannya. Di Jogja ia begitu santun kepada Tuhan. Hampir lima waktu ia jamaah di masjid. Membaca alquran seusai sholat lima waktu. Apakah Jakarta sudah mengubah sifat baik kepada Tuhan? Apakah lima belas menit untuk Allah menjadi sangat mahal di Jakarta dibanding Jogja? Apakah ilmu-ilmunya kini sudah tidak lagi berguna di dunia praktik?

Jakarta kuakui memang sangat keras. Kita lena sebentar saja kita sudah terlambat bus way. Berbeda dengan Jogja, selesai kuliah masih ada beberapa waktu untuk sekedar koran. Atau merebahkan tulang belakang. Di Jakarta sangat tidak mungkin sebelum maghrib sudah di rumah. Semua serba keras dan dituntut cepat. Namun apakah tidak bisa kita menyempatkan lima belas menit untuk semabahyang…?

(Dari Kisah seorang sahabat-dengan bumbu fiksi ala kadarnya)

Down-Hill

Allah menciptakan waktu semua sama untuk setiap manusia. 24 Jam. 7 hari. 12 bulan. Dan tetap 1 tahun. Namun ada yang menggunakannya penuh dengan kebaikan. Ada yang susah hanya untuk sekedar mengatur dirinya. Ada yang ibadahnya hingga tidak hanya 17 rekaat setiap hari. Ada yang bahkan tidak sempat untuk sholat. Astaghfirullah.

Keimanan dan sifat seseorang memang mudah berubah. “Iman itu naik dan turun”. Istiqomah memang susah. Apalagi saat sudah sendirian tidak ada saudara yang mengingatkan. Tidak ada murobbi yang men-charge energi ibadah setiap pekan. Hal ini sangat riskan akan kelunturan iman. Terlebih ibadah wajib jangan sampai terlewatkan apalagi sengaja ditinggalkan. Allah akan sangat cemburu, apabila kita yang sudah diberi berjuta kenikmatan justru munafik lupa pada DIRINYA.

Allah-dzat yang membolak-balikkan hati, Kuatkanlah hati hamba dalam ketaqwaan

Allah-dzat yang membolak-balikkan hati, Kuatkanlah hati hamba dalam keimanan

Allah-dzat yang membolak-balikkan hati, Kuatkanlah hati hamba dalam Islam

Allah-dzat yang membolak-balikkan hati, Kuatkanlah hati hamba dalam dakwah kebenaran

***

 

Jogja-24 April 2011

 

6 Comments to "Dua Orang Mantan"

  1. J C  7 September, 2013 at 08:03

    2 mantan? Yah sama lah kayak aku…

  2. djasMerahputih  6 September, 2013 at 07:34

    Kualitas seseorang bisa dilihat dari hubungan dengan Tuhannya. Perubahan adalah wajar, yang tidak wajar kalau keburukan menjadi bertambah buruk.. sebab bukan lagi naik turun namanya, tapi turun temurun….

  3. Dj. 813  6 September, 2013 at 00:25

    Setiap detik semua berubah, itu sangat jellas.
    Orang baik bisia menjadi jahat dan sebaliknya.
    Tapi yang sangat disayangkan, kalau orang jahat, menjadi lebih jahat.
    Itu perubahan atau bukan ya…???
    Salam,

  4. Dewi Aichi  5 September, 2013 at 22:46

    Yah….semuanya bisa berubah…entah itu lebih baik, ataupun sebaliknya.

  5. Dewi Aichi  5 September, 2013 at 21:19

    Cuma dua ya mas hi hi hi…..

    mau mandi dulu ahhh…abis ini baru komentar…

  6. [email protected]  5 September, 2013 at 09:50

    nomor satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.