Supir pada Masa Kolonial

Joko Prayitno

 

Semenjak jalan-jalan di Hindia Belanda mulai dibangun sebagai sarana mobilitas eksploitasi kolonial maka semenjak itu pula persentuhan peradaban modern mulai merambah ke dalam wilayah-wilayah di kepulauan Hindia. Jawa, dapat dikatakan menjadi tempat pertama dari persentuhan dan gesekan laju modernitas ini. Mulai dari pendidikan hingga teknologi modern menghinggapi kehidupan masyarakat Hindia Belanda saat itu sehingga tak heran pemerintah kolonial Hindia Belanda mengimbanginya dengan membangun sarana dan prasarana modernitas ini.

collectie_tropenmuseum_een_amko_kleine_taxi_java_tmnr_10013851

Taxi di Jawa Tahun 1930-an (Koleksi Tropen MuseumTMnr_10013851)

 

collectie_tropenmuseum_kleine_taxi_soerabaia_tmnr_10013841

Taxi di Surabaya tahun 1936 (Koleksi Tropen Museum TMnr 10013841)

Masuknya mobil sebagai sarana transportasi modern ke Hindia Belanda diimbangi dengan pembangunan jalan-jalan yang mulus bahkan dengan teknologi pengerasan jalan menggunakan aspal, kita dapat melihat jalan yang mulus dan keras yang dapat dilalui oleh mobil kecil maupun besar. Buku Rudolf Mrazek yang berjudul Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in Colony, menjelaskan semua ini. Bagaimana jalan-jalan di Hindia Belanda telah menjelma menjadi sebuah pameran dengan menciptakan tontonan perbedaan kelas yang gamblang terlihat mata. Mulai masyarakat yang berjalan kaki, naik sepeda, naik delman, dolar, andong, trem dan bahkan mobil-mobil pribadi yang memenuhi jalanan. Tidak hanya itu, mobil telah menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Hindia Belanda terutama sebagai supir.

Supir mobil, tidak jauh berbeda dengan kusir yaitu orang yang ahli mengendarai alat transportasi. Supir mobil pun pada masa kolonial terbagi menjadi dua yaitu supir pribadi dan supir mobil angkutan umum. Coba saja cermati dialog-dialog dalam novel Rumah Kaca milik Pramoedya Ananta Toer yang banyak menceritakan perjalanan menggunakan mobil baik mobil pribadi maupun mobil sewaan (Taxi).

collectie_tropenmuseum_een_demo_met_chauffeur_tmnr_60042793

Supir tahun 1930-an (Koleksi: Tropen Museum TMnr 60042793)

Supir pribadi biasanya bekerja bagi tuan-tuan Eropa ataupun bangsawan yang memiliki mobil, mereka merupakan bagian dari domestic workers, sedangkan supir kendaraan umum merupakan supir yang menjalankan mobil yang disewakan dan biasanya mereka bekerja kepada juragan atau pemilik mobil yang disewakan. Rudolf Mrazek sekali lagi menggambarkan bagaimana gambaran supir taxi dalam sebuah foto memperlihatkan sebuah mobil yang modern, dengan sopir orang Indonesia, menggunakan peci yang sejak tahun 1930-an menjadi penanda bagi kaum nasionalis radikal. Mereka juga memiliki sebuah serikat pekerja terutama di Yogyakarta dengan nama PCM (Persatoean Chaeffeur Mataram) yang didirikan sekitar tahun 1931-an. Memang pada awal abad ke-20 profesi supir merupakan profesi yang yang bagus dengan bayaran yang tinggi dan hampir semua masyarakat seperti Belanda, China dan Indonesia suka menjadi supir tetapi seiring berjalannya waktu hanya bangsa Indonesia saja yang tetap menjadi supir, bangsa Belanda dan China telah meninggalkan profesi ini.

So, modernitas kembali membuka lembaran bentuk profesi baru untuk menjalankan mesin-mesinnya dengan menciptakan Supir sebagai profesi untuk menjalankan mobil. Dari profesi yang baik bagi semua bangsa menjadi profesi bagi kaum pribumi…!!

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/08/31/supir-pada-masa-kolonial-belanda/

 

9 Comments to "Supir pada Masa Kolonial"

  1. Joko Prayitno  10 September, 2013 at 19:07

    Pak Handoko: Parmin pak nama supirnya hahhahhahaha
    Mas Sumonggo: Tapi kecelakaan lalu lintas sudah banyak lho…
    Mas Joseph: Iya mas…masih mikir judulnya nih….baiknya apa??? Tolong kasih masukan mas Joseph…Thanks..

  2. J C  7 September, 2013 at 08:07

    Foto 1 dan 2 kayak bemo bentuknya, atau jangan-jangan memang bemo…

    Mas Joko, beneran lho, ayo diseriusi usulanku tempo hari…

  3. Sumonggo  6 September, 2013 at 09:56

    Luar biasa foto-fotonya Pak Joko, masa itu pasti belum ada polisi tidur dan zebra cross? Belum ada yang ngebut, masih bisa mudah menyeberang. Dan belum ada lampu merah.

  4. Dewi Aichi  6 September, 2013 at 09:27

    Pak Handoko, lha pripun niki…orang Solo malah tanya sama orang Jogja…..wakakaka….ngga tau pak ….siapaaaa…siapaaa????

  5. Handoko Widagdo  6 September, 2013 at 06:56

    Kalau sopirnya mobil pertama di Jawa yang dimiliki Raja Surakarta siapa ya namanya?

  6. Dj. 813  6 September, 2013 at 00:13

    Mas Joko P.
    Matur Nuwun mas….
    Jadi ingat ayah Dj. yang jaman belanda, juga sopir.
    Salam sejahtera dari Mainz.

  7. Joko Prayitno  5 September, 2013 at 17:35

    Thanks atas kunjungannya kawan2….

  8. djasMerahputih  5 September, 2013 at 16:26

    Semangat Tempoe Doeloe…
    Tertarik dgn gambar terakhir, sepintas bentuknya seperti mengadopsi bentuk bendi atau dokar di tanah air…
    Koleksi foto yang sangat unik…!!

    Trims sudah berbagi.. Salam Nusantara..

  9. James  5 September, 2013 at 11:18

    SATOE, itu Bemo di tahun 30 an sudah ada di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.