“What Good is A Love Affair, When You Can’t See Eye To Eye?”

Pratiwi Setyaningrum

 

“What good is a love affair, when you can’t see eye to eye?”

Kalimat dari lagu hit tahun sembilan belas tujuh dua “If You Don’t Know Me by Now” karya Kenny Gamble dan Leon Huff, dan yang kemudian dinyanyikan kembali oleh Simply Red dan menjadi hit di sembilan belas delapan sembilan ini, bagi saya sangat kena dengan apa yang saya perbincangkan bersama seorang teman, di pelataran TIM (Gedung Taman Ismail Marzuki – Jakarta Pusat) di bawah naungan bias purnama hampir jadi kemarin malam. Kami membincangkan tentang kisah cinta dari pelaku pertemanan di dunia maya, dalam hal ini media sosial Facebook.

missingpiece

Ya saya tahu ini sepertinya sudah bahan bahasan basi, kerna fenomena multi simpul / tali bundet percintaan di dunia satu ini sudah seolah dimafhumi. “Sudah seolah”, bukannya seolah sudah, kerna sesungguhnya, saya yakin, dari batin terdalam, orang-orang ketar-ketir alias was-was, berharap anggota keluarganya tak ada yang terlibat dalam bundetannya.

Saya ingin berbagi pendapat mengenai hal ini, setelah menjadi anggota facebook sejak dua ribu sembilan. Setelah bertemu dan mengenal, langsung maupun hanya hasil chat. Setelah memikirkannya baik-baik, baik sendiri maupun bersama teman lain. Saya ingin membahas latar belakang emosi yang bergejolak di sana.

A. Yang Pernah Ada dan Sekarang Hilang

“Bertolaklah dari sana dan maju terus selama 3 hari ke arah timur, kau akan sampai di Diomira, sebuah kota dengan 60 kubah perak, patung-patung perunggu segala dewa, jalan-jalan bersalut timah, sebuah teater kristal, dan seekor ayam emas di atas menara yang berkokok setiap paginya. Semua keindahan ini akan segera nampak akrab bagi para pengunjung, yang juga telah menyaksikannya di kota-kota lain. Tetapi kekhasan kota ini bagi mereka yang datang ke sana pada malam bulan September, tatkala hari-hari berjalan lebih pendek, dan lampu-lampu aneka warna dinyalakan serentak di pintu-pintu kedai makanan, serta suara perempuan yang menyeru ooh! dari sebuah teras, adalah rasa cemburu yang mereka rasakan terhadap orang-orang yang kini meyakini bahwa sebelumnya mereka pernah mengalami malam yang serupa, dan berpikir bahwa mereka, pada saat itu, merasa bahagia. [Kota-kota & Kenangan -1 ~ Kota-kota Imajiner, Italo Calvino, hal.5]

Saya yang membuang kalimat-kalimat yang lain, dan menyisakan yang tidak diliputi nuansa-nuansa, kemudian menemukan kalimat ini : “..kekhasan kota ini bagi mereka yang datang ke sana, adalah rasa cemburu yang mereka rasakan terhadap orang-orang yang kini meyakini bahwa sebelumnya mereka pernah mengalami malam yang serupa, dan berpikir bahwa mereka, pada saat itu, merasa bahagia.”

——–

Saya bertemu dia di sebuah acara launching buku, sekitar tahun 2010, mari kita namai saja ia: Kamboja. Kami telah berteman di Facebook sejak 2009 namun baru mendapat kesempatan bertemu langsung di acara tersebut. Awalnya saya tidak segera mengenalinya yang duduk di sebelah saya, dan Kamboja yang lebih dulu memperkenalkan diri.

Setelah beberapa pengetesan, pencocokan kisah, dan mendengarkan caranya berbincang, pilihan-pilihan katanya, barulah saya yakin itu memang dia. Aku biasa dipanggil Kamboja, begitu jawabnya ketika saya tanya  apakah itu nama aslimu. Kamboja bercerita bahwa ia membutuhkan untuk menjadi Kamboja di Facebook. Katanya ia ingin menjadi seperti dahulu, “..ketika semua orang menyapaku dengan ringan, ramah dan bahkan bergosip. Aku suka ketika mereka curhat padaku tanpa sungkan. Aku akan membaca kisah mereka dengan sedikit iri. Seperti juga aku kini sedikit iri kepadamu.” Kenapa? tanyaku dengan suara pelan, tak ingin mengganggu yang di sebelah-sebelah kami. Saat itu teman-teman lainnya –yang sepertinya adalah nama-nama di facebook yang belum sempat kami temukan– sedang bergantian membaca puisi atau menyanyi di panggung. Aku bertanya sambil memperhatikan bahwa di pangkuannya ada sebuah buku berwarna merah jambu. Seperti warna Kamboja.

Kau lihat buku ini? Ini buku harian anakku semasa SMP. Isinya konyol-konyol, penuh dengan khayalannya akan lelakinya kelak di masa depan. Aku mendapat buku ini dari ibunya yang tak pernah menjadi istriku, sepuluh hari setelah kematiannya. Anakku pasti sudah seumuran gadis di panggung itu sekarang, jelas Kamboja sembari sayu memandang ke panggung –seorang gadis berambut di ikat satu sedang membaca puisi, senyumnya sangat manis– lalu kembali memandangku dengan kilat kebahagiaan yang tersisa.

“Aku kenal gadis itu, dia sedang sangat merasa bahagia kerna menemukan kembali lelaki yang menurutnya sebaik hati pacarnya almarhum. Aku tahu lelaki yang ia maksud, aku tahu lelaki ini tak sebaik yang dia sangka, namun aku tak akan memberitahunya sekarang. Kau tahu? Kebahagiaan seperti itu sangatlah langka, seperti menemukan perhiasan kesayangan yang telah lama hilang. Dia sungguh beruntung bisa mengalami rasa itu.

Kami sering berbincang di inbox, kisahnya lebih lanjut. Tapi sekarang dia tak mengenaliku. Tolong, jangan katakan padanya bahwa Ibu angkat yang selama ini ia temukan di Facebook itu hanyalah aku. Aku sering dilanda keraguan, apakah jika gadis-gadis Facebook yang curhat padaku itu adalah putriku sendiri yang kuhadapi, akankah aku memperlakukan dia seperti ini? Kau kini tahu, aku tak akan pernah tahu.”

Dan, lelaki separuh baya itu kemudian menunduk, menyembunyikan genangan bening yang sempat kulihat memenuhi coklat matanya…

 

B. Ikatan-ikatan (on progress – to be continued)

 

3 Comments to "“What Good is A Love Affair, When You Can’t See Eye To Eye?”"

  1. Dewi Aichi  10 September, 2013 at 05:20

    Wah menarik sekali, penasaran….lanjutannya ya mba Tiwi…ngga pakai lama..

  2. J C  7 September, 2013 at 08:16

    Ditunggu lanjutannya…

  3. [email protected]  6 September, 2013 at 09:43

    nomor satu di hari jumat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.