Tiga Sahabat (19): Orang Pintar

Wesiati Setyaningsih

 

Hari masih pagi dan kelas masih sepi.  Juwandi sedang asik di mejanya mengerjakan PR sementara dua orang lainnya berbincang-bincang. Pada saat itu Lukito berdiri di pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang hanya dihuni tiga orang termasuk Juwandi.  Demi dilihatnya Juwandi sedang duduk sendiri, segera dihampiri temannya itu.

“Ju,” Lukito menepuk keras pundak Juwandi.

Juwandi kaget menoleh.

“Ngapain, sih? Bikin kaget aja!”

“Tolong kasi tau, Aji kenapa!” kata Lukito sambil melemparkan tasnya ke meja di belakang Juwandi.

“Mang Aji kenapa?” Juwandi balik bertanya seraya kembali mengerjakan Prnya.

“Mang kenapa!” seru Lukito kesal.

“Dari kemarin suntuk begitu. Sejak..” Lukito berpikir. “Sejak kamu bilang ada orang yang mau beli ceritanya Mbak Iyem.”

“Lantas kenapa?” Juwandi bicara tanpa menoleh.

Tangannya masih sibuk menulis.

“Oh, baik.” Lukito mulai kesal. “Jadi aku bukan teman kalian.”

Kali ini Juwandi mulai mendongak. Buku tulis dan buku pelajaran di depannya dia tutup pelan lalu dia masukkan ke laci.

“Buat kalian, yang berarti cuma Anung. Aku cuma orang baru yang tidak ada artinya buat kalian berdua. Betapapun aku peduli sama kamu atau Aji, itu percuma! Enggak ada artinya.”

Suara Lukito semakin keras.

Juwandi berdiri dengan tenang. Dipegangnya pundak Lukito.

“Duduk dulu. Bukan begitu, Luk. Maaf kalo aku enggak cerita juga. Aku bingung mengatasi sikap Aji. Sementara Aji tidak mungkin menjelaskan kenapa dia galau. Untuk menjelaskan sesuatu yang bikin sakit hati, butuh kekuatan karena itu sama saja mengorek luka hati sendiri.”

Lukito melunak.

“Masalahnya aku kan enggak tau apa-apa. Sementara aku ingin bantu sebisaku.”

Juwandi menunduk sambil menghela nafas. Tampak dia menyesal sudah mengabaikan Lukito selama ini.

“Sini duduk.”

Lukito mengikuti ajakan Juwandi untuk duduk di sebelahnya.

“Jadi ceritanya, Mama Aji sudah meninggal.”

Lukito mengangguk, “Ya, itu aku sudah tahu. Lantas?”

“Iyem itu sudah kaya pengganti Mamanya. Memang enggak sepenuhnya, lah. Kita juga tahu. Tapi setidaknya Iyem merawat Aji dan adiknya seperti seorang ibu. Sosok seorang ibu itu yang dirindukan Aji. Dan itu didapat dari Iyem.”

Lukito mengangguk. “Terus dia takut Iyem pergi kenapa? Kan Iyem juga suatu saat pasti balik ke situ lagi..”

“Enggak lah. Kalo Iyem keluar dari situ ya kemungkinannya kecil dia balik situ lagi.”

“Kok bisa? Kan itu rumah Iyem.”

“Bukan, rumah Iyem di desa. Di situ Iyem cuma ikut.”

“Kan Iyem kakaknya Aji.”

Juwandi menggeleng. “Iyem itu pembantu rumah tangga di situ.”

“Oh,” Lukito terkejut. “Kirain..”

“Begitulah.”

Keduanya diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.

“Ada apa ini?”

Tiba-tiba Aji sudah berdiri di dekat mereka.

***

Siang itu begitu pelajaran usai dan guru keluar Lukito segera berdiri dan menenteng tasnya lalu menyeret Juwandi.

“Juwandi kamu pulang sama aku aja. Aji, kamu pulang sendiri, ya.”

Dengan terpaksa Juwandi mengikuti Lukito. Aji terheran-heran melihat dia ditinggalkan begitu saja.

“Kalian mau ke mana?”

Lukito berbalik dengan wajah bingung mencari kata-kata. Karena tak segera menemukan alasan juga akhirnya dia mengibaskan tangannya dan kembali berjalan cepat-cepat meninggalkan kelas. Juwandi berjalan pontang panting karena mengikuti Lukito yang menyeretnya begitu saja.

“Mau ke mana sih ini?” Juwandi bertanya dengan nada protes karena sejak tadi hanya ditarik begitu saja tanpa diberi tahu akan ke mana.

“Ke orang pintar. Kita harus tau apa yang akan terjadi sama Mbak Iyem. Apakah dia akan pulang atau tetap di rumah itu.”

“Apa?” Juwandi terperangah. “Kamu ini gila ya!”

“Kenapa gila?” Lukito menaiki motornya. “Naik!”

Juwandi mengikuti perintah Lukito untuk duduk di boncengan tapi wajahnya masih kesal.

“Cuma masalah beginian saja ditanyakan ke orang pintar. Sudah pasti lah Iyem pergi dari rumah itu. Kalo sudah kaya ngapain jadi pembantu rumah tangga? Gila aja. Aji yang harus bisa mengatasi masalah ini. Dalam hidup ini akan ada banyak kehilangan! Dia harus mampu mengatasi! Itu menambah kedewasaan dia.”

Lukito diam saja tidak menjawab.

“Bukan ke orang pintar macam ini!” Juwandi marah.

Lukito tidak terpengaruh. Dia larikan motornya ke suatu tempat. Juwandi mulai mengenali tempat itu. Motor berhenti tepat di depan warung makan dengan tulisan besar “KWEETIAU CIK LANI”.

“Ini warung Tante Lani kan? Orang pintar itu Tante Lani?”

“Bukan,” jawab Lukito pendek.

“Lantas?”

Lukito tidak menjawab tapi langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang letaknya tepat di belakang warung.

“Luke! Sini!” Tante Lani melambai dari dalam rumah.

Ternyata di dalam sudah menunggu Tante Lani dengan seorang lelaki dengan ikat kepala putih dan baju putih gombrong. Rambutnya gondrong dan penampilannya acak-acakan. Tapi senyum dan binar matanya tampak sangat bersahabat.

“Sini, kenalkan sama temenku. Mas Tok.” Tante Lani menyambut Lukito dan Juwandi dan meminta mereka untuk menyalami lelaki itu. Lelaki yang dipanggil Mas Tok itu mengulurkan tangannya yang keriput dan tersenyum lebar. Tampak gigi geliginya yang menghitam.

Lukito dan Juwandi menyalami dia bergantian.

“Ada apa ini?” tanya Mas Tok begitu dua anak itu duduk di hadapannya.

Tidak ada basa-basi, dia langsung menanyakan maksud kedua anak itu. Lukito menatap Juwandi lalu mengedikkan dagunya meminta Juwandi bicara. Juwandi menatap Lukito ragu-ragu.

“Kamu saja!” bisik Lukito meyakinkan.

Juwandi mengangguk meski masih tak yakin. Perlahan dia menceritakan perihal Aji. Mas Tok mendengarkan dengan seksama. Juwandi mulai merasa yakin karena tanggapan Mas Tok yang membuat dia nyaman bercerita. Setelah beberapa saat, semua sudah disampaikan pada Mas Tok.

“Jadi begitu Pak.”

“Panggil Mas Tok saja.” Tante Lani yang menyahut sambil meletakkan minum di meja.

Mas Tok mengangguk. Diambilnya gelas teh hangat yang disajikan Tante Lani. Diseruput pelan sambil menerawang. Matanya memejam ketika menelan, seolah merasakan bagaimana hangatnya teh mengaliri tenggorokannya, lalu turun ke dada dan berdiam di perutnya.

Diulanginya lagi menyeruput teh dengan cara yang sama. Lalu dengan gerakan pelan ditaruhnya gelas di meja. Juwandi dan Lukito menatap penuh harap akan adanya kata-kata dari Mas Tok, tapi tak ada dari mereka yang berani bertanya. Tante Lani sudah tidak ada lagi di situ. Sepertinya dia kembali ke warung.

Mas Tok mengangguk-angguk. Lukito dan Juwandi makin tak sabar menunggu.

“Dari yang aku lihat, “Mas Tok berhenti sebentar. “Tidak ada yang pergi.”

Juwandi dan Lukito berpandangan.

***

“Sudah dibilangin, enggak usah tanya-tanya sama orang pintar. Kamu ini!”  Juwandi mengomel sepanjang jalan.

Lukito tidak menanggapi apa-apa.

“Ini ke mana?”

Lukito belum pernah ke rumah Juwandi, jadi dia harus bertanya-tanya ke mana dia harus menempuh jalan.

“Belok kiri. Habis itu lurus. Nanti kita sampai di rumah yang warna hijau sebelah kiri.”

“Oke..”

Juwandi melanjutkan lagi omelannya. Tapi Lukito dengan tenang tidak menyahut sedikitpun. Perhatiannya hanya pada jalan menuju rumah Juwandi.

“Udah sampai, nih.” Lukito menghentikan motornya.

Juwandi turun masih dengan wajah masam.

“Huh. Bisa-bisanya urusan beginian sampai ketemu orang pintar segala. Pintar apaan? Jawabannya cuma gitu. Bohong belaka.”

“Lihat nanti aja.” Lukito tersenyum. “Kan Mbak Iyem memang belum pergi. Ngapain repot? Aji juga aneh. Semasa Mbak Iyem masih di situ, nikmati aja. Malah bete gara-gara mikir yang belum terjadi.”

Lukito memutar balik motornya, menoleh ke arah Juwandi sekilas seraya mengangguk dan berlalu. Juwandi melongo saja. Kalimat temannya tadi benar-benar menancap di hatinya. Semasa Iyem masih di rumah Aji, apa yang harus dikuatirkan? Tidak ada. Segera Juwandi menelpon Aji.

“Ji, kamu di rumah? Oh, oke. Aku ke situ ya. Eh, jemput ya? Alaah. Bisa dong. Jemput ya? Kan kamu sayang sama aku. Sip dah. Aku tunggu ya. “

Juwandi tersenyum puas.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Tiga Sahabat (19): Orang Pintar"

  1. J C  10 September, 2013 at 10:14

    Aku tetep kuetiau’nya saja…

  2. Hennie Triana Oberst  9 September, 2013 at 21:41

    Mas Tok ternyata “Orang Pintar”.
    Iyem nggak jadi pergi karena beneran nantinya jadi ibunya Aji ya?

  3. Linda Cheang  9 September, 2013 at 17:41

    wuaaaaa…..Buto-nya lagi sibuk peluncuran buku….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *