Implementasi e-Learning dalam Meningkatkan Minat Belajar Warga

Nur Hadi

 

A.    Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran di sekolah selama ini selalu menempatkan warga sekolah sebagai obyek yang harus diisi oleh sejumlah ragam informasi dan sejumlah bahan-bahan ajar setumpuk lainnya. Terjadi komunikasi hanya satu arah yaitu antara tutor ke warga belajar dengan membelajarkan melalui pendekatan ekspositori yang merupakan andalan dalam metode pembelajaran. Interaksi semacam ini sudah berlangsung lama dan berdampak verbalisme semakin merajalela.

Pembelajaran semacam ini masih konvesional karena keterlibatan tutor dengan warga belajar dalam satu ruang kelas dalam bentuk tatap muka langsung dan model ini dianggap hal yang amat penting. Sehingga secara tidak langsung kreativitas dan daya tarik (minat) belajar warga belajar telah dirampas, sekolah cenderung kurang terarah dikarenakan kurikulum yang tidak serasi, malahan sekolah cenderung bersifat menunggu perkembangan.

Seiring dengan perkembangan teknologi terutama kemajuan teknologi komunikasi yang menyebabkan sistem penyampaian materi pelajaran dapat dilakukan tanpa harus tatap muka antara tutor dengan warga belajar, akan tetapi bentuk belajar yang terpisah antara tutor dengan warga belajar dilakukan bersamaan.

Pelbagai penerapan yang mungkin dapat digunakan antara lain jaringan komputer, internet, laboratorium, dan lain-lain, pembelajaran dengan menggunakan teknologi sering disebut dengan Elektronic Leraning (E. Learning), sangat layak untuk diterapkan karena dapat memberikan beberapa bantuan yang sangat bermanfaat dalam pelaksanaan pembelajaran (Isjoni, dkk, 2008:10).

Manfaat yang dapat diambil adalah dapat meningkatkan minat belajar warga belajar. Sebab, pada dasarnya pembelajaran E. Learning bukanlah pembelajaran yang hanya sebatas memperkenalkan teknologi semata kepada warga belajar, tetapi membantu kepada tutor untuk mengintegrasikan teknologi selama proses pembelajaran, bagaimana tutor dapat mengejawantahkan kurikulum dalam pembelajaran. Selain itu, media dan sumber pembelajaran memainkan peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan media dan bahan sumber E. Learning yang sesuai bukan saja dapat membantu penyampaian isi pelajaran, tetapi juga dapat menarik minat warga belajar dalam mengikuti pembelajaran dan membuat warga belajar menjadi tidak bosan.

 B.     Pembahasan Masalah

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya kualitas baik dilihat dari proses yang sedang berjalan maupun hasil pendidikan itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari laporan Bank Dunia tentang hasil (mutu) pendidikan Indonesia yang sangat memprihatinkan. Sedangkan dari segi proses pendidikan khususnya pembelajaran sebagian besar tutor lebih cenderung bertumpu pada aspek kognitiftingkat rendah seperti mengingat, menghafal, dan menumpuk informasi. Oleh karena itu, beragam tudingan yang disampaikan ke pihak pemerintah yang kurang peduli terhadap pendidikan bangsanya sering muncul ke permukaan.

Dikaitkan dengan tuntutan masa depan yang bukan hanya bersifat kompetetif tapi juga sangat terkait dengan berbagai kemajuan teknologi dan informasi maka kualitas sistem pembelajaran yang dikembangkan harus mampu secara cepat memperbaiki berbagai kelemahan yang ada. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah mengubah sistem pembelajaran konvensional dengan system pembelajaran yang lebih efektif dan efisien dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Pembelajaran dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi jaringan internet merupakan salah satu alternatif yang tepat dan dapat mengatasi berbagai persoalan pembelajaran, walaupun sistem pendidikan di Indonesia keberadaannya sangat heterogen karena terbentur masalah letak geografis yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan teknologi informasi (Sa’ud, 2011:179-180).

Kenyataan ini harus disadari bahwa perkembangan teknologi informasi telah memasuki berbagai sendi kehidupan, termasuk dunia pendidikan lebih khususnya pembelajaran telah diintervensi oleh keberadaan teknologi. Seiring dengan perkembangan aplikasi teknologi informasi dalam dunia pendidikan, maka berbagai bahan belajar pun telah diproduksi dan dikonsumsi oleh pembelajar melalui medium teknologi dalam bentuk kemasan yang sangat bervariasi seperti: facebook, twitter, blog, website, dan sebagainya. Dimana hal ini sangat berbeda dengan proses pembelajaran tradisional (konvesional) yang mengandalkan tutor sebagai sumber belajar yang pertama dan utama sedangkan sumber yang lain hanyalah pelengkap.

 

  • Elektronic Learning (E. Learning)

Electronic Learning (E. Learning) pada hakikatnya adalah belajar atau pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi komputer atau internet. Teknologi pembelajaran seperti itu juga dapat disebut pembelajaran berbasis web (Web Based Instuction) (Sa’ud, 2011:181).

Pada dasarnya pembelajaran E. Learning bukanlah pembelajaran yang hanya sebatas memperkenalkan teknologi semata keepada warga belajar, tetapi membantu kepada tutor untuk mengintegrasikan teknologi selama proses pembelajaran, bagaimana tutor dapat mengejawantahkan kurikulum dalam pembelajaran (Isjoni, dkk, 2008:34). Tetapi E. Learning termasuk media, setidaknya menurut teori- merupakan modal dasar ke arah sukses pendidikan, kalau pun tidak dianggap kunci. Teknologi pendidikan mengarah kepada prosedur ilmiah berdasarkan metodologi tertentu dalam rangka penyelenggaraan pendidikan. Ia tidak sama dengan pola-pola tradisional dalam kegiatan pendidikan (Danim, 2008:14). Oleh karena itu, tutor harus melakukan terobosan baru dalam pelaksanaan E. Learning dalam proses pembelajaran, dan sebaliknya tutor harus meninggalkan proses pembelajaran konvensional (cara-cara lama) yang selama ini dinilai kurang efektif.

Menurut Sa’ud (2011:201-203), ada beberapa model pembelajaran E. Learning yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan mendayagunakan internet, yaitu: (1) Web Course;  (2) Web Centric Course; dan (3) Web Enhanced Course.

Pertama, Web Course adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet. Warga belajar dan tutor sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara keduanya bisa dilakukan setiap saat. Komunikasi lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous. Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian, karena semua proses pembelajaran sepenuhnya dengan menggunakan fasilitas internet seperti: email, chat rooms, bulletin board dan online conference. Selain itu, sistem ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai sumber belajar (digital), baik yang dikembangkan sendiri maupun dengan menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sudah tersedia pada internet, seperti data base statistic berita yang sudah tersedia pada internet, seperti data base statistic dan informasi, e-book, perpustakaan elektronik dan lain-lain.

Bentuk pembelajaran model ini biasanya digunakan keperlukan pendidikan jarak jauh (distance education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual universitas ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian diberikan sertifikat.    

Kedua, Web Centric Course, adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bagian bahan belajar, diskusi, dan penugasan. Sedangkan konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka, walaupun dalam proses belajarnya sebagian dilakukan dengan tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proses pembelajaran melalui internet.

Bentuk ini memberikan makna bahwa kegiatan belajar bergeser kegiatan di kelas menjadi kegiatan melalui internet sama dengan bentuk web course, warga belajar dan tutor sepenuhnya terpisah tetapi pada waktu-waktu yang telah ditetapkan, keduanya bertatap muka baik di sekolah maupun di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti di ruang perpustakaan, taman bacaan, ataupun di balai pertemuan.

Penerapan bentuk ini sebagaimana yang telah dilakukan pada perguruan tinggi terkemuka yang menggunakan sistem belajar secara of campus.

Ketiga, Web Enhanced Course adalah pemanfaatan internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama web lite course (jaringan pembelajaran dengan biaya murah), karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.

Peranan internet di sini adalah untuk menyediakan sumber-sumber belajar yang sangat kaya akan informasi dengan cara memberikan alamat-alamat atau membuat link ke perlabagai sumber belajar yang sesuai dan bisa diakses secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan komunikasi antara tutor dengan warga belajar secara timbal balik (feed back). Dialog atau komunikasi dua arah tersebut dimaksudkan untuk keperluan berdiskusi, berkomunikasi, maupun untuk bekerja secara kelompok.

Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya (Web Course dan Web Centric Course), bentuk Web Enhanced Course ini prosentase pembelajaran melalui internet berbasis teknologi informasi, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan internet secara lebih kompleks, seperti web course dan web centric course.

Baik pada model ataupun web course, web centric course, dan web enhanced course, terdapat beberapa komponen aktivitas seperti informasi, bahan belajar, pembelajaran ataupun komunikasi, penilaian yang bervariasi. Secara umum komponen aktivitas dan strukturnya dapat diterapkan dalam pengembangan pembelajaran melalui internet.

 

  • Implementasi E. Learning dalam Meningkatkan Minat Belajar

Pembelajaran berbasis E.Learning merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan,yaitu kebutuhan untuk belajar lebih aktif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat, dan sebagainya melalui teknologi.

Menurut Sa’ud (2011: 206) dan Isjoni, dkk (2008:42), bahwa aplikasi dalam proses pembelajaran berbasis E. Learning mencakup tentang perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Pertama, Perencanaan, pada dasarnya merupakan gambaran rencana (skenario) yang memproyeksi mengenai beberapa aktivitas dan tindakan yang akan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran E. Learning perencanaan memuat tentang rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan komputer, baik intranet maupun internet, yang memuat 3 (tiga) komponen yaitu: materi atau bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi.

Bahan ajar berfungsi untuk memberi makna terhadap upaya pencapaian tujuan E. Learning yaitu selain dapat memanfaatkan buku yang sudah tersedia, juga dapat secara langsung mengakses bahan ajar atau informasi pada beberapa halaman web yang sudah dibuat atau ditentukan sebelumnya. Sehingga perolehan informasi semakin luas, mendalam, dan bervariasi.

Kegiatan pembelajaran yang tercakup pada perencanaan pada intinya berisi mengenai deskripsi materi bahan ajar, metode pembelajaran, dan alat atau media pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran E. Learning penentuan bahan ajar hanya memuat pokok-pokonya saja, sementara deskripsi lengkap dari pokok-pokok bahan ajar disediakan dalam halaman web yang akan diakses warga belajar.

Kedua, Implementasi, di dalamnya terdapat model penerapan E. Learning yang bisa digunakan, yaitu: Selective Model, Sequential Model, Static Station Model, dan Laboratory Model.

Selective Model, model ini digunakan jika jumlah komputer di sekolah sangat terbatas (misalnya hanya ada satu komputer). Dalam hal ini tutor harus memilih salah satu alat atau media yang tersedia yang dirasakan tepat untuk menyampaikan bahan pelajaran. Jika tutor menemukan bahan E. Learning yang bermutu dari internet, maka dengan terpaksa tutor hanya dapat menunjukkan bahan pelajaran tersebut kepada warga belajar sebagai bahan demonstrasi saja. Jika terdapat lebih dari satu komputer maka warga belajar harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung.

Sequential Model, model ini digunakan juika komputer di sekolah terbatas (misalnya hanya ada dua atau tiga komputer). Para warga belajar dalam kelompok kecil secara bergiliran menggunakan komputer untuk mencari sumber pelajaran yang dibutuhkan. Warga belajar menggunakan E. Learning sebagai bahan rujukan untuk mencari informasi baru.

Static Station Model, model ini jikakomputer di sekolah terbatas, sebagaimana pada model Sequential Model. Dalam model ini tutor memiliki beberapa sumber belajar yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Bahan E. Learning digunakan oleh satau atau dua kelompok warga belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kelompok warga belajar lainnya menggunakan sumber belajar yang lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama.  

Laboratory Model, model ini digunakan jika tersedia sejumlah komputer di sekolah atau laboratorium yang dilengkapi dengan jaringan internet, mana warga sekolah dapat menggunakannya secara leluasa (setiap warga sekolah menghadapi satu komputer). Dalam halini bahan E. Learning dapat digunakan untuk seluruh warga sekolah sebagai bahan pembelajaran mandiri.

Ketiga, Evaluasi, berfungsi untuk mengukur sejauhmana tujuan pembelajarantelah dicapai dan tindakan apa yang harus dilakukan apabila tujuan tersebut belum dicapai. Dalam konteks pembelajaran E. Learning evaluasi yang dilakukan dapat dengan cara bervariasi, setiap warga belajar dapat melihat dan mengikuti komando (perintah atau suruhan) di halaman web. Bisa berupa pernyataan, tugas-tugas, dan atau latihan-latihan yang harus dikerjakan warga belajar.

Terkait dengan aplikasi E. Learning di atas, maka untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

kawasan-e-learning

Gambar. Kawasan E. Learning

 (Diadaptasi dari Seels & Richey, 1994)

 

Aplikasi pembelajaran E. Learning yang diutarakan Sa’ud di atas,  selaras dengan pendapat Reigeluth & Merill dalam Miarso (2004:529), bahwa pembelajaran sebaiknya didasarkan pada teori pembelajaran yang bersifat preskiptif yaitu teori yang memberikan “resep” untuk mengatasi masalah belajar.

Selain itu implementasi E. Learning juga selaras dengan pendapat Romiszowski dalam Miarso (2004:530-532) bahwa strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu ekspositori (penjelasan) dan diskoveri (penemuan).

Strategi ekspositori didasarkan pada pemrosesan informasi (information processing learning) dengan beberapa kegiatan, sebagai berikut:

  1. Warga belajar menerima informasi mengenai prinsip atau dalil yang dijelaskan dengan memberikan contoh;
  2. Terjadi pemahaman pada diri warga belajar atas prinsip atau dalil yang diberikan;
  3. Warga belajar menarik kesimpulan berdasarkan kepentingannya yang khusus; dan
  4. Terbentuknya dalil pada diri warga belajar, yang merupakan hasil pengolahan prinsip atau dalil dalam situasi yang sebenarnya.

Adapun langkah yang dilakukan dalam strategi ekspositori sebagai berikut:

  1. Informasi disajikan kepada warga belajar;
  2. Diberikan tes penguasaan, serta penyajian ulang bilamana dipandang perlu;
  3. Diberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal, dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah; dan
  4. Diberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah yang sebenarnya.

Sedangkan strategi diskoveri didasarkan pada teori pemrosesan pengalaman atau sering disebut teori belajar berdasarkan pengalaman (experiential learning). Pada garis besarnya proses belajar ini berlangsung sebagai berikut:

  1. Warga belajar bertindak dalam suatu peristiwa khusus;
  2. Timbul pemahaman pada diri warga belajar atas peristiwa khusus itu;
  3. Warga belajar menggenaralisasikan peristiwa khusus itu menjadi suatu prinsip umum; dan
  4. Terbentuknya tindakan warga belajar yang sesuai dengan prinsip itu dalam situasi atau peristiwa baru.

Adapun langkah yang dilakukan dalam strategi diskoveri sebagai berikut:

  1. Diberikan kesempatan pada warga sekolah untuk berbuat dan mengamati akibat dari suatu tindakan;
  2. Diberikan tes pemahaman tentang adanya hubungan sebab-akibat serta diberikan kesempatan ulang untuk berbuat bilamana dipandang perlu;
  3. Diusahakan terbentuknya prinsip umum dengan latihan pendalaman dan pengamatan tindakan lebih banyak;
  4. Diberikan kesempatan untuk penerapan informasi yang baru dipelajari dalam situasi yang sebenarnya.

Sedangkan pendekatan yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran E. Learning menurut Sudjana (2005; 154-155), sebagai berikut:

  1. Pendekatan pembelajaran kontekstual  (coontextual teaching an learning)

Yaitu pendekatan yang disesuaikan  dengan konteks dimana warga belajar berada. Dalam pendekatan ini yang dikembangkan adalah pembelajaran konstruktivisme (membangun) yang membuka peluang seluas-luasnya kepada warga belajar untuk memberdayakan diri atau mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Pendekatan ini akan membantu menciptakan warga belajar akan menjadi aktif dan bertanggung jawab terhadap belajarnya.

  1. Pendekatan inquiry/discovery

Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pendekatan ini menempatkan warga belajar lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam pemecahan masalah. Warga belajar betul-betul ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Peranan  tutor dalam pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar.

Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan modern yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan. Pendekatan ini akan dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) tutor harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan selama proses pembelajaran; (2) titor harus terampil menumbuhkan motivasi belajar warga belajar dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan; (3) adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup; (4) adanya kebebasan warga belajar untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi; (5) partisipasi setiap warga belajar dalam kegiatan belajar, dan (6) tutor tidak banyak campur tangan  dan intervensi terhadap kegiatan belajar warga belajar.

Selain itu, pembelajaran E. Learning dapat juga dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut:

  1. Menggunakan sepenuhnya fasilitas internet yang telah ada, seperti: email, Internet Relay Chat (IRC), word wide web (www), search engine, milling list (millis) dan File Transfer Protocol (FTP).
  2. Menggunakan software pengembang program pembelajaran dengan internet yang dikenal dengan web course tools, yang bi antaranya bisa didapatkan secara gratis ataupun bisa juga dengan membelinya. Ada beberapa vendor yang mengembangkan web course tools webCT, webfuse, Top class dan lain-lain.
  3. Mengembangkan sendiri program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan (tailor made), dengan menggunakan bahasa pemrograman seperti Active Server Pages (ASP) dan lain-lain.

Ketiga pengembangan tersebut ada kelebihan dan kekurangan, misalnya pengembangan program pembelajaran dengan menggunakan fasilitas internet mempunyai kelebihan biaya sangat murah dibandingkan dengan yang lain, namun ada kekurangan yaitu dalam pengelolaan agak sulit karena sifatnya tidak terintgrasi. Sedangkan apabila menggunakan web course tools atau pengembangan secara tailor mode biaya jauh lebih mahal, namun memiliki kelebihan yakni mudah dalam pengembangan dan pengelolaannya, lebih power full, dan sesuai dengan kebutuhan. Untuk memilih salah satu cara yang dipakai, ditentukan pada pertimbangan sebagaimana di atas. Namun, pada dasarnya pendayagunaan internet untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan adalah hal yang sangat layak untuk segera dilaksanakan secara luas di institusi-institusi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Dengan demikian, dalam penerapan E. Learning dalam proses pembelajaran ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebagai berikut:

  1. Keuntungan, sejauhmana sistem pembelajaran berbasis E. Learning akan memberikan keuntungan bagi institusi, staf tutor, pengelola, dan terutama keuntungan yang akan diperoleh warga belajar dalam meningkatkan kualitas jika dibandingkan dengan penyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara konvensional.
  2. Biaya pengembangan infrastruktur serta pengadaan peralatan software.
  3. Biaya yang diperlukan untuk pengembangan infrastruktur, mengadakan peralatan serta software perlu dipertimbangkan karena biayanya tidak sedikit.
  4. Biaya oprasional dan perawatan berbasis E. Learning tidak sedikit.
  5. Sumber daya manusia juga harus dipertimbangkan sejauhmana kompetensi dan integritasnya.
  6. Warga belajar atau tutor juga harus dipertimbangkan, sejauahmana kesiapannya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan E. Learning.
  • Implikasi Penerapan E. Learning dalam Meningkatkan Minat Belajar

Miarso (2004:601) mengatakan (berkiblat dari meresume) hasil penelitian yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1968, bahwa  pembelajaran E. Learning (atau pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran) mampu membawa beberapa manfaat atau implikasi, sebagai berikut:

  1. Meningkatkan produktivitas pendidikan dengan jalan: (a) memperlaju penahapan belajar; (b) membangun pendidik (guru, tutor) untuk menggunakan waktunya secara lebih baik; dan (c) mengurangi beban pendidik (guru, tutor) dalam menyajikan informasi, sehingga pendidik (guru, tutor) lebih banyak membina dan mengembangkan kegiatan belajar para warga belajar.
  2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan: (a) mengurangi kontrol pendidik (guru, tutor) dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan warga belajar untuk berkembang sesuai dengan kemampuan individu.
  3. Memberikan dasar pembelajaran yang lebih ilmiah dengan jalan: (a) perencanaan program pembelajaran secara bersistem; dan (b) pengembangan bahan ajaran yang dilandasi penelitian.
  4. Meningkatkan kemampuan pembelajaran dengan memperluas jangkauan penyajian, di satu sisi. Penyajian pesan dapat lebih konkrit, di sisi lain.
  5. Memungkinkan belajar lebih akrab, karena dapat: (a) mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah; dan (b) memberikan pengalaman tangan pertama.
  6. Memungkinkan pemerataan pendidikan yang bermutu, terutama dengan: (a) dimanfaatkan bersama tenaga atau kejadian langka; dan (b) didatangkannya pendidikan kepada warga belajar yang memerlukan.

Dengan demikian, media dan sumber pembelajaran memainkan peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan media dan bahan sumber E. Learning yang sesuai bukan saja dapat membantu penyampaian isi pelajaran, tetapi juga dapat menarik minat warga belajar dalam mengikuti pembelajaran dan membuat warga belajar menjadi tidak bosan. Hal ini selaras dengan pendapat Gagne dan Briggs (1979) bahwa E. Learning sebagai alat untuk merangsang pembelajaran.

Implementasi E. Learning dalam pembelajaran harus berdasarkan nilai pengalaman, hal ini sebagaimana dirinci Edgar Dale (1978), yaitu ada  12 (dua belas) tingkatan pengalaman. Tingkatan paling tinggi nilainya adalah pengalaman yang paling konkrit dan yang paling rendah adalah pengalaman yang paling abstrak, seperti yang telah ia gambrkan dalam ”kerucut pengalaman (the cone of experiences)” di bawah ini:

kerucut-edgar-dale

Gambar. Kerucut Pengalaman Edgar Dale (1969)

Berdasarkan kerucut pengalaman Dale, pengalaman yang paling tinggi nilainya adalah Direct Purposeful Experiences, yaitu pengalaman yang diperoleh dari hasil kontak langsung yang secara sadar dilakukan dan ada tujuan tertentu dengan lingkungan, obyek, binatang, manusia dan sebagainya. Tingkatan kedua adalah pengalaman yang diperoleh dari kontak melalu model, benda tiruan atau simulasi (Contrived Experiences). Pengalaman tingkat berikut dan seterusnya adalah Dramatized Experiences, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui permainan (permainan pembelajaran), sandiwara boneka, permainan peranan, dan drama sosial atau psikologis. Demonstration diperoleh melalui pertunjukan baik dengan cara melihat maupun melakukan sendiri. Study Trips melalui karya wisata, Exhibition melalui menyaksikan pameran. Education Television melalui televisi pendidikan. Motion Picture melalui gambar atau film hidup, atau bioskop. Still Picture melalui gambar mati, slide atau fotografi. Radio and Recordings melalui siaran radio atau rekaman suara (audio recording). Visual Symbol melalui simbol yang dapat dilihat seperti grafik, bagan atau diagram, dan Verbal Symbol diperoleh melalui penuturan dengan kata-kata.

Kerucut itu menggambarkan tentang arti dan kedalamnya pengalaman yang diperoleh berdasarkan tingkatan di muka. Artinya, bahwa tutor dalam pembelajaran harus mampu mempertimbangkan dan atau memilih metode yang layak digunakan selama pembelajaran. Jika hal ini bisa dilakukan oleh tutor maka pembelajaran itu akan berjalan sesuai harapan, seperti yang tersirat pada tabel, bahwa pengalaman nomor 1 (satu) adalah yang paling tinggi nilainya dan nomor terakhir paling rendah. Ternyata pembelajaran melalui kata-kata mempunyai nilai yang sangat rendah dalam alur pengalaman manusia. Mengapa demikian? Karena, kata-kata yang disampaikan oleh pendidik belum tentu akan mampu dipahami sepenuhnya oleh warga belajar, di satu sisi.

Di sisi yang lain, karena kata-kata yang disampaikan oleh tutor  masih bersifat abstrak. Artinya, warga sekolah masih menginterpretasikan kata-kata yang telah diterima tersebut. Di dalam menginterpretasikan kata-kata yang diterima setiap warga belajar tidaklah sama. Oleh karena itu, agar pembelajaran dapat memberikan pengalaman yang lebih berarti bagi warga belajar, perlu dipikirkan bentuk-bentuk E.Learning tertentu yang dapat membawa peserta didik kepada pengalaman yang lebih kongkrit (Ali, 2007: 89-91). Dengan demikian, bahwa penggunaan E.Learning mampu memberi beberapa keuntungan. Sebab, bahasa yang makin abstrak makin sulit dipahami dan makin kurang nilai pendidikan, kurang dapat melekat dalam memori warga belajar. Sebaliknya, bahasa yang makin kongkrit, makin dapat dirasakan dan dapat memberi nilai pendidikan, karena dapat melekat, tidak mudah lupa dan memberi kesan yang lebih mendalam.

Menurut Commission on Instructional Technology (1972) mengidentifikasi beberapa keuntungan pemanfaatan E. Learning, yaitu:

  1. E. Learning mampu membuat pendidikan lebih produktif;
  2. E. Learning mampu menunjang pembelajaran individual, atau dengan kata lain memungkinkan penerapan individualisasi dalam pembelajaran;
  3. E. Learning mampu membuat pembelajaran lebih ilmiah (scientific), yaitu memungkinkan tutor  dan warga belajar menciptakan rangkaian kerja yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus ia pahami;
  4. E. Learning mampu membuat pembelajaran lebih ”power full”, yaitu dapat menimbulkan suatu obyek tak terwujud ke dalam realita atau mendekati realita, memberi kemantapan dan percepatan pemahaman warga belajar, menata waktu secara efektif dan efisien, mereduksi dan atau menyederhanakan suatu peristiwa tertentu;
  5. E. Learning mampu membuat pembelajaran lebih ”immediate”, yang mana dilukiskan sebagai jembatan antara dunia luar (word outside) dengan dunia dalam (word inside); dan
  6. E. Learning mampu mempercepat pendidikan lebih ”equal” (Danim, 2008: 11-12).

Sedangkan menurut Donald P. Ely (1979) yang dikutip Sudarwan Danim (2008:12), bahwa E. Learning dalam pembelajaran memiliki beberapa manfaat, yaitu: meningkatkan produktivitas pendidikan, memberikan kemungkinan pembelajaran bersifat individual, memberi dasar yang lebih dinamis terhadap pendidikan, pembelajaran lebih mantap, memungkinkan belajar secara seketika dan penyajian pendidikan lebih luas. Sehingga warga belajar dalam dalam mengikuti pembelajaran tidak cepat bosan dan dalam dirinya muncul dorongan atau minat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran secara sungguh-sungguh.

Minat merupakan salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya usaha warga belajar dalam belajar (Sastrawijaya, 1991:85). Perhatian warga belajar akan besar jika tugas belajar itu mempunyai nilai pribadi atau minat untuk mempelajari besar. Minat sangat erat hubungannya dengan kebutuhan. Minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan merupakan faktor pendorong bagi anak dalam melaksanakan usahanya. Sehingga minat sangat penting dalam pendidikan, sebab merupakan sumber dari usaha (Nurkancana & Sumartana,1986:219-220). Hasilnya adalah bahwa pembelajaran lebih mudah dan warga belajar dapat bertanggung jawab untuk melanjutkan belajar dengan bebas. Minat dapat dipertahankan dengan menyajikan pengalaman yang bervariasi (Sastrawijaya, 1991:85). Apabila minat belajar warga belajar sudah tumbuh, maka akan berfikir dengan dorogan dan perhatian yang penuh dan optimal belajarnya akan berhasil. Tanpa ada minat, maka semangat belajar tidak akan tumbuh dan secara otomatis kegagalan yang akan didapatkannya.

Statemen ini selaras dengan Soenyoto (1986:85), bahwa minat sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar, karena belajar harus dengan minat atau perhatian. Artinya, pembelajaran akan berjalan lancar bila ada minat, jika warga belajar malas, tidak belajar akan gagal karena tidak ada minat.  Dengan demikian, minat adalah kecenderungan hati dari diri individu untuk menentukan sikap dan mendorong beraktivitas yang menyebabkan warga belajar berbuat atau mengerjakan sesuatu. Karena minat bukanlah sesuatu yang dimiliki begitu saja, melainkan sesuatu yang dapat dikembangkan (Singer, 1987:93).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar warga sekolah, sebagaimana diungkapkan Slameto (1987:56), yaitu: faktor yang berasal dari dalam (intern) individu, meliputi: (1) faktor jasmani, yang terdiri dari: faktor kesehatan, dan faktor cacat tubuh; (2) faktor psikologi (inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan; (3) faktor kelelahan.

Sedangkan faktor yang berasal dari luar (ekstern) individu, meliputi: (1) faktor keluarga terdiri dari: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan; (2) faktor sekolah yang terdiri dari, metode mengajar, kurikulum, relasi tutor dengan warga belajar, relasi warga belajar dengan warga belajar, disiplin sekolah, media pembelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, dan metode pembelajaran; (3) faktor masyarakat yang terdiri dari; kegiatan warga belajar dalam masyarakat, mass media (media massa), teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

 

Cara Meningkatkan Minat Belajar kepada Warga Belajar

Kegiatan belajar warga belajar dapat terjadi apabila warga belajar ada perhatian dan dorongan terhadap stimulasi  belajar. Untuk itu maka tutor harus berupaya menimbulkan dan mempertahankan perhatian dan dorongan belajar kepada warga belajar dilakukan tutor sebelum mengajar dimulai, pada saat berlangsungnya proses pembelajaran terutama pada saat warga belajar melakukan kegiatan belajar dan pada saat-saat kondisi belajar warga belajar mengalami kemunduran.

Agar warga belajar memiliki hasil belajar yang baik, maka perlu sekali minat itu ditingkatkan. Adapun cara membangkitkan minat belajar warga belajar dengan cara sebagai berikut: (a) membangkitkan adanya suatu kebutuhan; (b) menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau; (c) memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang maksimal; dan (d) menggunakan berbagai macam bentuk mengajar (Sadiman, 1988:93).

Sedangkan menurut Soeyanto (1986:75-76), ada beberapa cara untuk meningkatkan minat belajar kepada warga belajar, yaitu: (a) susunlah rencana, katakanlah dalam hati sedalam-dalamnya bahwa dengan rencana itu akan dilaksanakan belajar; (b) carilah sesuatu yang menarik perhatian dari bahan yang dipelajari; dan (c) tidak bersikap meng-anaktiri-kan dari suatu mata pelajaran.

 

C.    Penutup

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pembelajaran E. Learning bukanlah pembelajaran yang hanya sebatas memperkenalkan teknologi semata keepada warga belajar, tetapi membantu kepada tutor untuk mengintegrasikan teknologi selama proses pembelajaran, bagaimana tutor dapat mengejawantahkan kurikulum dalam pembelajaran.

Interaksi antara warga belajar dengan tutor merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Karena, pembelajaran yang baik akan mampu menarik minat para warga belajar serta keterkaitannya dengan aktivitas dalam proses pembelajaran.

Media dan sumber pembelajaran memainkan peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan media dan bahan sumber E. Learning yang sesuai bukan saja dapat membantu penyampaian isi pelajaran, tetapi juga dapat menarik minat warga belajar dalam mengikuti pembelajaran dan membuat warga belajar menjadi tidak bosan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 2007. Pendidikdalam Proses Belajar Megajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Danim, Sudirman. 2008. Media Komunikasi Pendidikan; Pelayanan Profesional Pembelajaran dan Mutu Hasil Belajar [Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi]. Jakarta: Bumi Aksara.

Isjoni, dkk. 2008. ICT untuk Sekolah Unggul: Pengintegrasian Teknologi Informasi dalam pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Nurkancana, Wayan, dan Sumartono, P.P.N. 1986.Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Sa’ud, Syaefudin, Udin. 2011. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Alfabeta.

Sastrawijaya, Tresna, A. 1991. Pengembagan Program Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Singer, Kurt. 1987. Membina Hasrat Belajar di Sekolah.terj. Bergman Sitorus, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Slametho. 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soenyoto, Agoes. 1986. Bimbingan ke Arah Belajar yang Sukses.Jakarta: Aksara Baru.

Sudjana, Nana, 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

 

10 Comments to "Implementasi e-Learning dalam Meningkatkan Minat Belajar Warga"

  1. Hadie Itoe P'tunjuks  14 September, 2013 at 12:28

    @ J C…..”mentalitas dan kesiapan sumber daya manusianya….Masyarakat lebih fasih dengan Facebook, Instagram, BBM dibanding dengan yang seperti ini…” SEBENARNYA GK JUGA. sebnrnya SDM kita juga mampu untuk lakukan semua itu. contohnya banyak banget….banyak orng indonesia yang nalarnya bagus, bahkan sampai “dikontrak dan menjadi tenaga ahli di beberapa PT luar negeri yang mutunya setinggi langit”. persoalannya sebenarnya hanya 1…negeri ini belum mampu menghargai orang pintar dengan sebenarnya serta sistem dan atau kebijakan pemerintah” hanya sebatas konsep tanpa mau merelaisasikan secara optimal……pemerintah bisanya hanya nuntut, nuntut dan nuntut saja

  2. Hadie Itoe P'tunjuks  14 September, 2013 at 12:23

    masTok….sayangnya aq gk punya relasi untuk bergabung dengan masTok. dkk. secara langsung…..kalo bisa langsung alangkah senangnya aqbisa mem”flour”kan nalar aqyang walaupun hanya pas2an ini

  3. J C  10 September, 2013 at 10:26

    Infrastruktur di Indonesia belum sepenuhnya siap untuk e-learning nasional. Yang lebih parah lagi adalah mentalitas dan kesiapan sumber daya manusianya. Masyarakat lebih fasih dengan Facebook, Instagram, BBM dibanding dengan yang seperti ini…

  4. masTok  10 September, 2013 at 08:16

    Estetika SDM…. mungkin ini yang Di sebut CULTURE TRANSACTION

    > Mengembangkang Masyarakat ( Social Development )
    >Memnekali Masyarakat ( Sosial Engineering )
    >Aksi Masyarakat ( Social Actions )

    pas banget buat seminar,,,,,trus aplikasikan ke tinggat kampung…..

  5. Dj. 813  10 September, 2013 at 02:13

    Satu seminar yang sangat bagus.
    Terimakasih dan salam.

  6. Sumonggo  9 September, 2013 at 21:35

    Pak Hadi, saya teringat mengenai cerita dari seorang sahabat yang kebetulan menjadi dosen perguruan tinggi dan juga ditugaskan untuk menjadi “kader penggerak” e-learning di kampusnya. Setelah bersusah payah dari perencanaan, pengembangan dan sosialisasi berbagai fasilitas e-learning, ternyata masih minim dosen yang “berkenan” untuk memanfaatkannya. Ironisnya karena alasan enggan mempelajari cara baru dan lebih memilih “cara manual”. Bisa kejadian, yang malas belajar di kampus bukan mahasiswanya, tetapi (maaf) dosennya … Jadi e-learning yang dipahami sekedar menjadi papan pengumuman nilai, tugas,

  7. Hadie Itoe P'tunjuks  9 September, 2013 at 19:49

    @ HANDOKO, benar mas….tapi sangat sedikit para (tutor,guru, dan bahkan dosen) yang belum mengimplementasikannya.
    @ SUMONGGO : sebenarnya para pembuat kebijakan sudah berpikir sejauh itu mas, tapi realisasinya yang tidak maksimal….jadi kadang, orang2 yang ada “di bawah” (para tutor, guru, dan bahkan dosen) hanya menjadi “obyek penderita” ketika kebijakan itu tidak terlaksana belum maksimal
    @ [email protected]: BETUL mas…harus belajar dari pengalaman hidup …karena pengalaman hidup adalah guru yang paling pengharga….tapi kok “EMPIRISME” banget…..coba dikembangkan menjadi domain “KRITISISME” atau lebih luas lagi “INTUITISISME”, sehingga…epistimologi, ontologi, aksiologi akan bisa berjalan dengan baik

  8. Handoko Widagdo  9 September, 2013 at 18:13

    Sudah ada beberapa software e-learning yang bisa dipakai oleh guru dan murid-muridnya.

  9. Sumonggo  9 September, 2013 at 10:09

    Semoga saja yang berwenang dan pembuat keputusan di bidang pendidikan juga bisa berpikir sejauh ini, tapi entahlah, sehingga tak ada kasus semacam kuesioner ukuran kelamin siswa ….

  10. [email protected]  9 September, 2013 at 08:55

    selamat belajar…….
    saya sih…..

    nggak deh….
    belajar dari pengalaman hidup saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.