Berguru pada Alam: Air (1)

djas Merahputih

 

Mengenal wujud, peran dan manfaat air

Pepatah pengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik. Dalam banyak hal pengalaman (experience) merupakan proses pembentukan dan pematangan sesuatu untuk menjadi lebih baik. Sekumpulan pengalaman yang tercatat akan berubah bentuk bergantung fungsi dan kegunaan serta tujuan dokumentasinya. Catatan-catatan pengalaman tersebut akan menjadi Curriculum Vitae, Track Record, jam terbang, jurnal sains, autobiografi (his story), sejarah (history) atau sekedar catatan perjalanan seorang traveller. Seluruhnya mengacu pada pengalaman yang terjadi baik dalam rentang waktu pendek maupun yang berlangsung dalam tempo lama dan lintas generasi hingga lintas masa dan peradaban manusia.

Kata pengalaman dalam bahasa Indonesia berdekatan dengan kata mengalami yang walaupun berbeda watak (pasif dan aktif) keduanya berasal dari akar kata yang sama yaitu alam. Sehingga pesan dari pepatah “pengalaman adalah guru yang terbaik” menuntun kita agar mampu belajar dan berguru pada ALAM.

Alam semesta adalah tempat maha luas dan sumber tak terbatas bagi seluruh ilmu pengetahuan manusia. Karena begitu luasnya manusia harus membagi-bagi pengetahuan itu ke dalam disiplin-disiplin ilmu yang lebih kecil agar mudah dipelajari dan dicerna oleh setiap individu. Setiap disiplin ilmu kemudian diperkecil lagi untuk mendapatkan fokus terbaik tentang sebuah objek dalam alam semesta ini. Dan salah satu yang akan kita ulas adalah tentang objek alam bernama air.

air01Mengapa kita perlu berguru pada air? Salah satu jawabannya adalah dengan menyimak pepatah berikut: “Andaikan kita mampu membedah hati sebutir air, maka di dalamnya akan kita temukan samudera yang maha luas”. Sebuah gambaran sempurna tentang kehebatan dan kebesaran ciptaan Tuhan yang disebut air. Air yang kita maksud bukan hanya air (H2O) atau air (water) dalam sains dan bahasa Inggris, melainkan air dalam arti luas. Air dan juga Angin (Udara) adalah penggerak kehidupan. Keduanya bekerja tanpa henti dalam evolusi maupun revolusi alam semesta. Dan juga entah kebetulan atau tidak kata udara dalam bahasa Inggris adalah AIR.

Siklus air menjadi uap air dalam skala besar akan membentuk awan, kemudian berkondensasi dan akhirnya menjatuhkan kembali air tadi ke permukaan bumi kita dalam bentuk hujan. Air yang kemudian digunakan oleh makhluk hidup yang ada,  baik pohon dan tumbuh-tumbuhan, binatang buas dan hewan ternak hingga milliaran ummat manusia di seluruh permukaan bumi. Sebagian lagi terbuang dan mengalir kembali melewati sungai-sungai dan bermuara ke laut dan danau yang luas.

Berguru pada air  berarti berusaha memetik hikmah dari dua hal yaitu bentuk (wujud) air dan sifat atau karakternya. Dari wujud penampakan air akan kita peroleh pengetahuan tentang pemanfaatan air dalam kehidupan sehari-hari dan dari karakternya bisa kita dapatkan petuah dan pesan-pesan tersirat yang akan sangat berguna dalam perjalanan manusia menjalani harinya di lingkungan masing-masing.

Secara fisik air di kehidupan kita sehari-hari sudah sering kita temui. Yang paling dekat tentunya adalah saat kita haus maka suka tidak suka, rindu ataupun dendam, kangen atau benci air akan menjadi Dewa Penolong bagi kita. Begitupun saat kita akan mandi, berenang, mencuci mobil kita, memancing ikan, berselancar, memadamkan kebakaran, membubarkan massa pendemo atau bahkan hanya sekedar iseng menyiram wajah teman kita yang lagi tidur (asal jangan digunakan menyiram lawan bicara di TV), maka air adalah bagaikan air (udara) bagi kehidupan kita. Bisa juga kita dapatkan dalam aktifitas pertukangan dimana air dalam sebuah alat “waterpass” merupakan hal mutlak yang harus ada dalam kotak peralatan mereka. Dari sekian banyak kegunaan air dalam keseharian kita dapat disimpulkan paling tidak bahwa air berperan penting sebagai mobilisator, katalisator, indikator dan bisa juga sebagai eksekutor dalam berbagai hal di kehidupan manusia. Menariknya, dalam dunia fauna spesies ikan archer bahkan menggunakan semprotan air untuk menjatuhkan mangsanya di atas ranting pohon yang menjulur dekat ke permukaan air.

air02

Selain peran-peran seperti disebutkan tadi ternyata air juga dapat dimanfaatkan dengan baik saat teknologi dan seni dipertemukan. Jika sebuah bendungan sebagai pembangkit listrik adalah wujud keterlibatan teknologi pemanfaatan tenaga air saja, maka lain halnya dengan air mancur di kolam-kolam kota. Pertunjukan air mancur seperti yang ada di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan tempat-tempat spesial lainnya di seluruh dunia menggugah rasa kekaguman kita akan keindahan “tarian” dan semburan berirama di dalam kolam tersebut. Seni dan ilmu pengetahuan/teknologi telah berkolaborasi memberikan nilai tambah cukup tinggi terhadap hal-hal remeh dan sederhana dalam kehidupan kita. Teknologi menyiapkan sarananya dan seni memoles keindahannya. Begitulah seni dan ilmu pengetahuan selalu beriringan untuk membentuk peradaban manusia dari zaman ke zaman.

Air…., dan juga hal-hal lain di alam semesta kita, sebaik-baik kegunaan dan manfaat yang diberikannya bagi kehidupan tetaplah akan tunduk pada hukum alam dari Sang Pencipta. Bahwa segala yang kurang pasti takkan mencukupi namun semua yang berlebih belum tentu menambah kesenangan. Banjir dan Tsunami bisa menjelaskan keadaan tadi.

air03

Air yang tadinya bersahabat dengan sampan, berteman dengan nelayan, bercengkerama dengan kupu-kupu di air terjun, bermain dengan ikan-ikan salmon di dalam sungai atau sekedar diam menunggu dalam secangkir kopi di meja sebuah kafe, tiba-tiba menjadi monster yang sangat mengerikan. Tidak tampak lagi senyum dan candanya. Air akhirnya memberikan pelajaran kepada kita bahwa ia juga mampu berperan sebagai pembawa pesan. Pesan dari alam semesta agar manusia harus selalu menjaga keseimbangan alam yang indah ini. Bukan malah merusak hutan, mencemari laut, mengotori udara serta tindakan-tindakan ceroboh perusakan lingkungan lainnya. Sebuah pesan yang harus benar-benar dicamkan oleh manusia itu sendiri agar tetap bisa bersahabat dengan sesuatu yang bernama – AIR.

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Berguru pada Alam: Air (1)"

  1. djasMerahputih  14 September, 2013 at 08:49

    19: trims sdh mampir bang inakawa

    Ngomong2 lagi kedinginan ya bang..?? He he he.. brrrrrr…!

    Salam sejuk..

  2. EA.Inakawa  14 September, 2013 at 03:20

    Saya minum air karena TUBUH saya membutuhkan airrrrrrrrrrrr dan saya juga TER CIPTA dari Airrrrrrrrrrrr

  3. djasMerahputih  11 September, 2013 at 16:44

    15: Thanks sdh mampir mas Chandra.

    Post Link yang menggugah kesadaran kita. Keserakahan manusia salah satunya adalah tidak memperdulikan kehidupan penerus species manusia itu sendiri. Mereka lebih mementingkan ego pribadi, kelompok, ras, bangsa dan kepentingan-kepentingan parsial serta sempit lainnya. Mereka lupa Bumi merupakan sebuah sistem yang utuh dan saling mempengaruhi. Kerusakan di belahan bumi tertentu akan mengganggu stabilitas lingkungan bumi secara keseluruhan.

    Sebuah bukti kalau alam bisa merespon kelakuan manusia walaupun tanpa bahasa yang verbal..

    Salam sejuk…!!

  4. djasMerahputih  11 September, 2013 at 16:30

    14: Alam raya sekolahku
    ——————————————

    Sekolah yang tidak memaksakan seragam dan tetek bengek perlengkapan yg berlebihan..
    trims sdh mampir mas Handoko.. salam sejuk..!!

  5. djasMerahputih  11 September, 2013 at 16:26

    13: Thanks sudah mampir mawar09,

    Memang seharusnya kira terus belajar berhemat dalam segala hal termasuk dalam hal penggunaan air. Sebagai contoh air buangan dan air hujan sebaiknya kita tampung dan dipergunakan seadanya sebelum kembali mengalir ke selokan kota. Dalam skala besar akan menunda dan mengurangi debit air mengalir saat hujan deras. Saat ini juga sdh disosialisasikan penggunaan biopori di permukiman perkotaan.

    Salam sejahtera selalu…

  6. chandra Sasadara  11 September, 2013 at 09:48

    semoga Bumi tidak terlalu cepat berubah seperti yang di tulis di artikel ini : http://baltyra.com/2012/10/11/air/

  7. Handoko Widagdo  11 September, 2013 at 07:07

    Semua orang itu guru

    Alam raya sekolahku

    Sejahteralah bangsaku

  8. Mawar09  11 September, 2013 at 02:17

    Menghemat air (dalam arti dipergunakan seperlunya dan tidak di hambur-hambur) sedang kami praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua tanaman dihalaman rumah kami siram setiap hari, ada yg bisa bertahan tanpa disiram selama 4-5 hari, kecuali tanaman gantung. Air itu adalah sumber kehidupan ! Tulisan yang bagus DjasMerahPutih !

  9. djasMerahputih  10 September, 2013 at 20:55

    10: Setuju mba Dewi, GO GREEN…!!!

  10. djasMerahputih  10 September, 2013 at 20:53

    9: ha ha ha… bener om Dj.. sayur favorit saya..

    Sesuai dengan kegemaran, menyukai segala yg bening-bening… hi hi hi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.