Orang-orang Borong: Meskena

Alfred Tuname

 

Pasar Inpres (Paris) Borong di kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, belum selesai direhab. Sepertinya memang masih lama Paris Borong akan rampung direhap. Paris Borong pun dipindahkan ke lapangan dekat pasar itu. Suasana pasar begitu ramai dan sedikit porak-poranda, maklum bukan di tempat yang sebenarnya. Setiap hari calon konsumen tampak mondar-mandir di dalam Paris. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, anak sekolah, pegawai, masyarakat biasa dan lain sebagainya nyaris berjubel di Paris. Paris memang selalu ramai sejak dulu.

Yang menarik adalah pasar ikan. Ada dua tipe ikan yang dijual yaitu ikan kering dan ikan segar. Di Borong, produksi ikan kering masih sangat kurang. Ikan kering lebih sering didatangkan dari kabupaten Bima (NTB), Riung dan Sulawesi. Hal yang sama juga terjadi di pasar ikan Labuan Bajo. Penjual ikan kering kebanyakan terdiri dari orang-orang yang berasal dari Bima. Dampaknya pun terjadi harga ikan kering. Harga ikan kering biasanya lebih mahal dari ikan segar dengan jenis ikan yang sama. Konsumen ikan kering adalah orang-orang yang berasal dari dearah yang jauh dari kota Borong (daerah pesisir pantai). Tentu saja, karena ikan kering lebih tahan lama (durable) jika sudah dibawa ke kampung-kampung.

pasar

Sementara, ikan segar tidak tahan lama kalau disimpan. Oleh karena itu, penjual dan pembeli harus sesegera mungkin untuk melakukan transaksi jual beli. Untuk pasar ikan Borong, seakan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pasokan ikan segar akan tersedia pada waktu pagi dan sore hari. Pasokan ikan segar pagi berasal dari nelayan yang melaut di malam hari dan kembali di pagi hari. Sementara ikan segar sore hari berasal dari nelayan yang melaut pagi dan kembali sore hari.

Bagi nelayan Borong, melaut diistilahkan dengan “turun” atau wa’u dalam bahasa Ende. Lalu, pasokan ikan segar sore berasal dari nelayan yang wa’u di pagi atau di siang hari. Nelayan menggunakan perahu bermotor untuk mencari ikan. Sebuah perahu motor terdiri dari beberapa orang penjala dan satu orang nahkoda. Nahkoda perahu motor ikan biasanya disebut dengan penggawa.

Ketika perahu motor ikan merapat, masuk sungai Wae Bobo para penjual berbondong mendekati perahu. Para penjual mendapat jatah ikan yang hampir sama. Tetap ada rasa keadilan di sini. Sistem takarannya menggunakan ulu (dari bahasa Ende yang berari kepala). 1 (satu) ulu terdiri dari 40 (empat puluh) ekor ikan. Kalau 2 ulu berarti 80 (delapan puluh) ekor ikan. Tetapi sistem takaran ini hanya berlaku untuk ikan-ikan kecil saja atau ikan besar yang jumlah sangat banyak. Kalau jumlah ikan besar hanya sendikit, sistem penjualannya per ekor saja.

Para penjual ikan juga merupakan sanak saudara atau tentangga. Para penjual biasa perempuan. Jadi, kaum pria melaut, kaum perempuan menjual. Pembagian ini sudah menjadi semacam tradisi yang terus terjadi, meksipun tidak selamanya begitu. Sebab, diantara para sanak saudara itu ada juga yang memilih jenis usaha lain dan menjadi pegawai pemerintah.

Nelayan Borong adalah orang-orang keturunan Ende (ata Ende). Baik pelaut maupun penjual, semuanya orang keturunan Ende. Hanya sendikit saja, bisa dihidung dengan jari, orang Manggarai berprofesi nelayan. Nelayan keturunan Ende ini sudah lama mendiami daerah Borong, khususnya Borong bagian pesisir pantai. Para nelayan ini mendiami daerah Kampung Ende (sebelah timur sungai Wae Bobo), Kampung Nggeok (sebelah barat sungaiWae Bobo) dan Watu Reku (sebelah timur pantai Cepi Watu). Mereka sudah menjadi bagian dari realitas kehidupan di tanah Manggarai. Mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Ende-bahasa ibu, dan bahasa Manggarai. Ini berarti peleburan budaya terjadi seiring intensitas komunikasi yang akrab.

Dalam jalinan komunitas akrab itulah, istilah meskena menjadi kian paradoks. Istilah meskena sering ditujukan kepada orang Ende sendiri dan orang-orang pendatang yang tidak berasal dari tanah Manggarai. Meskena berarti sendiri atau sendirian dalam bahasa Ende. Boleh jadi, secara psikososial, nenek moyang orang Ende di Borong merasa sendiri dan terasing dari lingkungan sosial orang manggarai yang ada di Borong. Lambat-laun, Borong menjadi begitu ramai dan batas keterasingan itu sudah sirna. Semua bernaung di rumah yang sama yaitu Borong. Jadi, istilah meskena hanya sebutan tanpa intensi apa-apa.

Di pasar ikan Borong, ikan tembang Borong menjadi ikon untuk semua hasil laut. Ikan tembang Borong banyak diminati baik orang Borong sendiri maupun orang di luar Borong, misalnya orang ruteng. Ikan Borong selain enak di lidah, ukurannya juga cukup besar dan murah. Oleh karena itu, ketika orang berbelanja di pasar ikan Borong, orang akan sering mendengar, “… mari sudah enu/nana/mama/kraeng tua, temang Borong, 15 ekor Rp 10.000,-… Tembang Borong-tembang Borong, 15 ekor Rp 10.000,-… Mama, cakalang baru ni… Nara ikan terbang baru, terbang bersama indosiar dan seterusnya, et cetera and so on”.

Kalimat ini adalah bahasa persuasif kental promosi. Setiap penjual saling bersahutan dalam bahasa persuasif sehingga pasar ikan pun menjadi semakin menarik dan unik. Sebuah komunikasi tanpa spasi nan akrab. Kompetitif tapi menawan. Bahasa seperti inilah yang disampaikan kepada calon pembeli, bahwa harga ikan tembang borong adalah Rp 10.000,- per 15 (lima belas) ekor. Tentu, tidak hanya ikan tembang yang dijual di pasar ikan Borong. Masih ada ikan kombong, tongkol, ero (anak tongkol), tepe, boge dan lain sebagainya. Ikan boge sebenarnya adalah ikan besar dengan jenis apa saja yang cara penjualannya dengan dibelah dan dibagi bagian per bagian. Sehingga, ikan bagian per bagian itu disebut boge dalam Ende yang berarti bagi/bagian.

Pasar Inpres Borong belum selesai direhap, masih sebagian lagi. Demikianlah halnya dengan pasar ikan Borong. Tetapi para nelayan borong tidak akan pernah selesai mencari ikan. Ikan adalah sumber gizi bermutu tinggi yang diperlukan oleh semua manusia. Demikian sedikit bait dari lagu lama yang bercerita tentang pak nelayan yang tak gentar melawan gelombang dan angin.

 

Borong, September 2013

Alfred Tuname

 

10 Comments to "Orang-orang Borong: Meskena"

  1. atra Lophe  13 September, 2013 at 09:31

    catatan seorang nelayan… hehhehehe

  2. djasMerahputih  12 September, 2013 at 09:39

    Betul Kang JC… Indonesia Negara Maritim tapi diurus dengan cara dan rasa Negara Daratan.. Ini sama saja masak ikan dengan bumbu rendang…

    he he he… piss…!!

  3. J C  12 September, 2013 at 05:24

    Sudah sepantasnya, sentra-sentra ikan di Indonesia lebih ditingkatkan lagi gaungnya. Negeri maritim yang berlimpah hasil lautnya, tapi salah urus. Masalah terbesar adalah infrastruktur dan transportasi…

  4. Mawar09  11 September, 2013 at 23:52

    Harga ikannya murah ya! salah satu makanan favorit saya ! Baca judulnya saya kira “orang-orang borong(beli dlm jumlah banyak)” ternyata setelah dibaca itu adalah nama daerah.

  5. Dewi Aichi  11 September, 2013 at 22:07

    Yang nulis sedang maruk makan ikan nih…

  6. Alvina VB  11 September, 2013 at 21:47

    Ikan segar lebih baik dari ikan yg sudah dikeringkan….
    Ini daerah perikanan-kah?

  7. Dewi Aichi  11 September, 2013 at 21:05

    Lhooo..alfred sedang ke Flores ini?

  8. Dj. 813  11 September, 2013 at 14:36

    Bung Alfred Tuname….
    Terimakasih, sungguh sangat menarik…
    Dj. membayangkan, kalau Dj. hidup disana, bisa setiap hari makan ikan bakar.
    Apalagi sangat murah, Rp. 10.000,- dapat 15 ekor.
    Walau mungkin ikan kecil-kecil ya…
    Ikan besar, mungkin hanya dapat 1 ekor.
    Karena ikan mamang faforit Dj.
    Kalau ada ikan, yang lain mesti nunggu…. hahahahahaha….!!!

    Sekali lagi, terimakasih dan salam, semoga sehat selalu.

  9. James  11 September, 2013 at 12:10

    SATOE, ikan-ikan laut segar

  10. James  11 September, 2013 at 12:10

    SATOE, ikan-ikan laut segar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.