Seni dan Budaya Bali Kehilangan Roh

Putriatra K Senudin (Atra Lophe)

 

Manusia yang berlebihan meladeni kebutuhan fisikalnya, nafsu biologis dan materialistis, cenderung menjadi hedonis. Kecendrungan pada gilirannya membuat manusia itu alpa pada dimensi rohaniah atau kejiwaannya, sebagai bagian utama dalam perkembangan kepribadian. Jika kemudian sisi-sisi intuitif, emosional, atau kreatif ini melemah, wajar jika kemudian hidup menjadi kian tumpul. Bukan hanya memahami hidup sekitarnya, menghayati diri, tetapi lebih-lebih lagi dalam soal menginovasi realitas yang menghidupi dan dihidupi.

Semua menjadi “lumrah” tatkala manusia menyadari  dengan standar kapitalisme dan liberalisme dalam mengukur keberhasilan.  Fenomena inilah yang sedang menggerayangi roh dari seni kebudayaan Bali. Seni dan budaya seakan telah terpisah oleh kepentingan individu dan kelompok. Tetapi untung saja, agama masih menjadi tembok yang kokoh untuk mempertahankan  kebudayaan itu sendiri.

Nengah Merdeka; Seni Dan Budaya Bali Kehilangan Roh

Obrolan saya bersama seniman Bali Nengah Medera, mengumpamakan kebudayaan Bali seperti pohon. Akarnya adalah  sastra, aksara, dan bahasa. Ketiganya menjadi  modal hidup sebuah ke-seni-an. Batangnya adalah desa adat.  Maka dari batang inilah akan tubuh ranting, daun, bunga dan buah.   Bunga dan buah inilah yang akan menjadi beberapa cabang kesenian seperti tabuh, tari, lukis dan lainnya.  sedangkan yang menjadi roh dari kebudayaan Bali adalah agama Hindu. Keterikatan beberapa aspek tersebut yang menyebabkan budaya Bali bisa berkembang dalam era apapun sekarang.

Bahasa, sastra dan aksara Bali akan menjadi jiwa penghidupan bagi cabang kesenian lainnya. Jika ketiga hal itu mengendur, maka secara otomatis  cabang kesenian pun akan punah. Untuk sampai pada generasi yang akan datang, sastra menjadi batu loncatan untuk memperkenalkan kebudayaan Bali. Sebab, dengan begitu budaya itu akan semakin dicintai.

Namun pada kenyataannya, perintis Utsawa Dharmagita provinsi Bali dan tingkat nasional ini menilai, kebanyakan orang saat ini hanya berebut untuk menjadi buah dan bunga dari kebudayaan. Memang tak bisa dipungkiri, bahwa cabang-cabang seni seperti yang telah disebutkan di atas  mampu  memberikan nilai material yang tidak sedikit. Dengannya, para pegiat seni  yang berkutat pada akar lama kelamaan akan mati.

Ia mengatakan, tantangan pegiat seni saat ini adalah bertahan dalam kerapuhannya sendiri. seni  dan budaya Bali  bergeser dari ritual adat yang dijiwai agama Hindu menjadi tontonan wisata. Orang melakukan kegiatan kebudayaan betul-betul hanya menjadi seni pertunjukan bukan bentuk tanggung jawab spiritual.  Alasan ekonomi telah membentuk pandangan ini sedemikian rupa. Lama kelamaan pun, pergeseran makna seni kebudayaan Bali menghilang. Pada saat yang bersamaan, Masyarakat membutuhkan pemerintah untuk mengontrol  keadaan  tersebut.

bali-art

Pada sisi lain, pemerintah seakan tidak mau peduli. Cerita klasik  pun muncul ke permukaan. Sejarah kembali mengulang dirinya. Setiap orang yang tamak selalu membungkus rapi ambisinya dengan kata-kata manis bak madu yang menyesatkan. Pria kelahiran 15 september 1943 ini mengatakan, dalam banyak kesempatan para elite dan pemegang kekuasaan menjadikan budaya sebagai tameng untuk mendapatkan simpati.  Budaya hanya pemanis bibir dan akan pahit jika kita berada dalam realitas sesungguhnya. Pemerintah, menurutnya, masih saja lalai dalam membentuk mental rakyatnya.

Realitas yang terjadi saat ini  malah jauh dari yang diharapkan. Korupsi yang kian mengurat-mengakar, kepandiran dan kebebalan para penguasa, premanisme yang menyebar rata, budaya yang kehilangan rohnya, menjadi penanda bahwa lunturnya nilai spiritual hidup manusia.  Dalam kondisi seperti ini, pemerintah belum juga mau peduli. Seharusnya sikap tenggang rasa dibangun bukan dari masyarakat  kecil. Tetapi penguasa sebagai  pemegang kekuasaan mesti memberi contoh.

Dalam kondisi dengan pemerintah yang supresif, untungnya masih ada beberapa pegiat seni dan masyarakat yang peduli. Sementara tak ada logika material apapun yang dapat mendukung seniman berdasar kompensasi finansial yang meraka dapatkan. Sudah saatnya, pemerintah memperhitungkan para pegiat seni.  Seni kebudayaan Bali sudah pasti menjadi pacuan ekonomi untuk mensejahterakan rakyatnya.

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Seni dan Budaya Bali Kehilangan Roh"

  1. atra Lophe  13 September, 2013 at 09:19

    terimakasih untuk semua tanggapan teman-teman…

    salam,

  2. ah  12 September, 2013 at 22:15

    aku sik nemu yang masih pegang identitas bali kok, jadi ga bisa digeneralisasi hehehe.. dan setuju pendapat JC

  3. J C  12 September, 2013 at 05:27

    Biar bagaimana pun, kondisi ini masih jauh lebih baik dibandingkan situasi dan kondisi dimana sekelompok gali dan preman yang mengatasnamakan agama mayoritas negeri ini untuk memuaskan ego dan sepak terjang premanisme mereka sekaligus memuaskan logika perspektif selangkangan mereka…

  4. Mawar09  11 September, 2013 at 23:43

    Setuju dengan komentar Alvina! Slogan “kembalikan Bali-ku padaku” itu harus di dengungkan terus, jangan biarkan Bali di-komersialkan seperti sekarang. Contohnya beberapa tempat di Ubud, dulu sangat gampang sekali menemu toko ciri khas Bali tapi sekarang berubah seperti boutiqe yg menjual barang2 dari luar negeri. Alasannya mungkin karena banyaknya tourist mancanegera yg berkunjung. Sangat di sayangkan, belum lagi sawah yg indah dan tanah kosong sekarang berubah jadi bangunan mewah dan villa. Mungkin 2 tahun lagi akan lebih parah lagi. Semoga saja tidak !! Terima kasih tulisannya Bp. Atra Lophe.

  5. Alvina VB  11 September, 2013 at 21:26

    Bp. Atra Lophe,
    Turut prihatin…….KOMERSIALISASI berkembang terlalu pesat di Bali, sehingga dgn sendirinya Bali kehilangan rohnya, sangat disayangkan…Semoga Bali menemukan rohnya kembali…Peace!!!

  6. djasMerahputih  11 September, 2013 at 17:02

    Nice post, Atra Lophe

    Turut prihatin. Keprihatinan yang sama diungkapkan oleh Guruh Soekarno Putra dengan menyoroti kebijakan pemerintah saat ini. Mereka lebih fokus kepada seni yang bersentuhan langsung dengan industri pariwisata seperti seni tabuh, tari dan lukis. Sedangkan akar kesenian yang berperan dalam regenerasi kebudayaan nasional tidak mendapatkan porsi perhatian yang selayaknya.

    Kesimpulan ini bisa dilihat dari berkurangnya minat masyarakat dalam mengapresiasi seni pertunjukan teater..

    Salam..

  7. Nur Mberok  11 September, 2013 at 16:27

    setuju :

    “Sudah saatnya, pemerintah memperhitungkan para pegiat seni. Seni kebudayaan Bali sudah pasti menjadi pacuan ekonomi untuk mensejahterakan rakyatnya.”

  8. atra Lophe  11 September, 2013 at 15:51

    terimakasih bung DJ… yang lebih memprihatinkan adalah ketika sikap tidak mau tau dan tidak mau peduli itu menggerogoti jiwa mereka yang seharusnya memiliki kapasitas untuk mempertahankannya…
    salam.

  9. Dj. 813  11 September, 2013 at 14:21

    Atra Lophe…
    Terimakaksih untuk artikel diatas.
    Kalau saya orang Bali, saya juga akan berpikir demikian.
    Bahkan bukan orang Balipun, saya kadang bisa merasakan perasaan ini.
    Ada dua sisi, baik dan buruknya.
    Kalau kaum muda tidak bisa mempertahankan kebudayaan ini, budaya Bali akan sangat luntur.
    Tapi disisi lain, apapun yang telah terjadi, budaya Bali dapat dikenal diseluruh muka bumi.
    Apakah itu sebagai hal positiv, itu terserah penilaian orang Bali sendiri.
    Semoga Rooh Bali tetap ada pada budaya di Bali.
    Salam,

  10. James  11 September, 2013 at 12:05

    SATOE, Seni dan Budaya Bali

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.