Kematian di Ujung Tebing

Adhe Nitha

 

Bau busuk itu menusuk indra penciuman Saskia dipagi ini, ”Bau sekali ini darimana sumbernya?”ujar Saskia dalam hati.

Saskia mencari sumber bau busuk yang menyangat itu darimana asalnya.

Ke arah kanan Saskia terus mencari sumber bau busuk itu dia bagaikan anjing pelacak yang mengendus, sumber bau itu semakin dekat sebab bau busuk itu semakin menyengat di indra penciumannya. Saskia menghentikan langkahnya saat dia melihat ada bangkai yang dikerumuti oleh lalat, Saskia pun mendekat dan sontak terkaget melihat sesosok mayat wanita dengan pakaian gaun pengantin berwarna putih yang bersimbah darah mengering membuat noda di gaun pada bagian perutnya. Rupanya mayat ini sudah beberapa hari di sini, karena baunya sudah sangat busuk dan darahnya mulai mengering, mukanya tak nampak jelas karena banyak bekas pukulan dan melebam biru di bagian wajahnya serta kepala bagian belakang hancur terkena bebatuan di pinggiran tebing. “Malang sekali nasib wanita bergaun pengantin ini” ujar Saskia saat itu.

Saskia bingung, dia harus berbuat apa yang ada di kepalanya saat ini adalah membawa mayat ini kekeluarganya agar dapat segera dimakamkan, tetapi dia tidak mengenali mayat siapakah yang terlantar itu dan akhirnya Saskia memutuskan untuk berteriak memberi tahu warga agar dapat membawa mayat ini ketempat yang strategis “ada mayat. . . . ada mayat. . . ” , tidak lama kemudia warga berdatangan dengan menutup indra penciuman mereka mencoba mengangkat mayat tersebut ke arah sisi jalan dan menelpon polisi terdekat untuk melaporkan penemuan mayat tersebut.

Setengah jam kemudian pihak kepolsian datang diikuti dengan mobil ambulan bersama tim medisnya.

Nguing. . . . nguing. . . nguing. . . . suara mobil polisi itu terdengar mendekat kearah warga berkerumun, dengan sigap polsi itu turun dari mobil dinasnya dan mobil ambulan pun menyusul dibelakangnya, petugasnya segera turun dan mengangkat mayat tersebut kedalam mobil lalu membawanya kerumah sakit untuk diotopsi.

Pihak polisi menanyakan “Siapa yang menemukan mayat ini?”

“Saya pak,” Saskia dengan lantang menjawab.

“Anda ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan” ujar seorang polisi.

“Baik pak,” Saskia menjawab dan mengikuti pa polisi memasuki mobil dinasnya.

Perjalanan menuju kantor polisi membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh tiga menit dari tempat warga berkerumun tadi.

“Silakan duduk de”petugas polisi mempersilakan pada Saskia untuk duduk di depan meja petugas yang akan mewawancarainya.

“Baik saya akan mulai mewawancarai tentang penemuan mayat tersebut?” petugas itu berbicara dengan sangat tegas.

“Saskia menceritakannya dengan sangat mendetail tentang bagaimana ia menemukan mayat wanita tersebut,” Saskia bercerita.

“Baiklah cerita anda sudah kami masukkan sebagai berita kami untuk nanti kami sampaikan pada keluarganya korban setelah kami mendapat laporan otopsinya nanti.” polisi itu berkata demikian sekaligus mengucapkan terimakasih pada Saskia karena berkenan menjadi saksi.

“Sama-sama pa.” Saskia menjawab ucapan terimakasih tersebut sambil berjabat tangan dengan polisi.

Saskia berjalan menuju rumahnya, yang memerlukan waktu empat puluh lima menit dari kantor polisi tersebut. Otopsi pun memerlukan waktu dua hari.

Dua hari kemudian, koran pagi ini memuat berita tentang apa yang terjadi dua hari lalu ternyata mayat itu mungkin lebih tepatnya adalah jenazah itu sudah teridentifikasi dan dia adalah Rosa putri dari pemilik perkebunan teh, dia merupakan putri satu-satunya dari lima bersaudara yang lainnya adalah laki-laki. Malang sekali nasib Rosa, seharusnya dia bahagia menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya tetapi dia harus meninggal dunia di tangan suaminya sendiri. Ternyata suami Rosa yang bernama Tyo yang selama ini dikenal sebagai pria yang santun dan sangat sopan tetapi ternyata mengidap gangguan jiwa yang biasa orang menyebutnya psikopat, dialah yang menembak Rosa di atas tebing yang tinggi itu sehingga mayatnya jatuh ke tanah perkebunan teh yang, selama seminggu ini dia bersembunyi di rumah tua yang berada di ujung perkebunan tapi kini dia mendekap di tahanan dan sesekali tim medis dari rumah sakit jiwa memeriksanya.

kematian di ujung tebing

Padahal selama ini Tyo tidak pernah menunjukan sikap yang aneh, entah darimana penyebab dia bisa menderita gangguan jiwa tersebut apa karena dipaksa menikah dan dia harus meninggalkan wanita yang dicintainya yang selama ini dipacarinya selama tiga tahun dan sudah berencana akan melamarnya mungkin saja terjadi tetapi pihak keluarga Tyo sama sekali tidak mengetahuinya dan sangat tidak menyangka anaknya hingga melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi seperti ini, keluarga Rosa pun tidak mengetahuinya dan kini keluarga Rosa sangat menyesal telah menjodohkan anaknya dengan pemuda yang telah membuat putri satu-satunya meninggal dunia.

Jenazah Rosa telah berada di dalam peti karena bagian kepala yang hancur tidak memungkinkan untuk dia dikafani seperti jenazah lain pada umumnya, setelah selesai disholatkan dan pihak keluarga telah berkumpul jenazah alm. Rosa diantar oleh rombongan pelayat beserta keluarga ke pemakaman umum untuk dikebumikan di desa kami, aku dan keluarga melayat kerumah duka di sana pun banyak warga yang berdatangan untuk berbelasungkawa. Di rumah bercat biru muda kini bermandikan air mata kesedihan dan dihiasi karangan bunga serta bendera kuning yang menandakan ada yang meninggal di rumah terebut.

“Bu, saya sekeluarga turut berduka cita,” ibu ku (Aminah) berkata pada Bu Ambar ibunda dari alm. Rosa.

“Terimakasih bu, oh ya Saskia terimakasih ya nan kamu telah melaporkan penemuan Rosa kepada polisi sehingga jelas pelakunya dan dia kini mendekap di penjara,” bu ambar berterimakasih pada ku.

“Sama-sama bu, saya turut beduka cita semoga Alm. Rosa diterima disisiNya dan ibu serta keluarga diberi ketabahan dan keikhlasan”ujarku kepada bu Ambar.

“Ya Siska, terimakasih. Kami sekeluarga ingin mengangkat mu sebagai anak kami sebagai ucapan terimakasih kami dan agar kami tidak terlalu sedih atas kepergian Rosa, apakah kamu mau nak jadi anak angkat kami?” ujar bu Ambar beserta suami.

“Saya, mau bu,” Siska menjawab dengan meminta persetujuan ibunya terlebih dahulu.

Seminggu kemudian, tanah pemakaman alm. Rosa masih merah dan basah bunga-bunga masih menghiasi di sana rasa kehilangan dan suasana duka masih terasa di rumah bu Ambar, tidak etis rasanya bila Siska menerima fasilitas yang diberikan bu Ambar dan keluarga yang dulu dinikmati oleh Rosa, Siska putuskan untuk menolak pemberian itu semua saat ini.

Setelah sebulan berlalu suasana kembali seperti biasanya, Siska mulai merasakan kehidupan lain bersama keluarga bu Ambar yang kini menjadi orang tua angkatnya, Siska merasakan kehidupan yang sedikit berubah dari yang dia rasakan saat dia belum menjadi anak angkat bu Ambar. Siska adalah gadis desa yang sangat tahu diri dia tidak aji mumpung dan serakah akan apa yang dia peroleh saat ini tetapi dia hidup seperti biasanya saja tapi yang berbeda kini dia bisa melanjutkan apa yang menjadi cita-citanya yaitu untuk berkuliah di jurusan ekonomi manajemen, semua biaya perkuliahan ditanggung oleh bu Ambar dan keluarga. Siska ingin membahagiakan ibu dan bapaknya serta meningkatkan taraf hidup keluarganya baginya orang tua boleh sebagai petani teh tetapi dia harus sukses agar kehidupan keluarganya bisa meningkat, dan membuat bu Ambar sekeluarga bangga padanya.

 

6 Comments to "Kematian di Ujung Tebing"

  1. Dewi Aichi  14 September, 2013 at 09:24

    Wuihh…akhirnya siska diangkat sebagai pengganti anaknya yang tewas…

  2. J C  13 September, 2013 at 10:16

    Waduuuhhh…

  3. EA.Inakawa  13 September, 2013 at 02:17

    siska, beruntunglah kamu nak…………Tuhan sudah menentukan jalan hidupmu seperti itu

  4. chandra Sasadara  12 September, 2013 at 11:32

    Saskia.. nasibmu bedah dengan si goyang bebek..hehehe

  5. [email protected]  12 September, 2013 at 11:23

    DOR!!!…..
    kasus tembak di tembak….
    ini jatuh dari tebing….
    sisanya… kebanyakan polisi jatoh dari motor (karena ditembak pas lagi naik motor)

  6. James  12 September, 2013 at 11:18

    SATOE, Sudah ditembak jatuh dari tebing pula

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.