Kenapa Saya Tidak Suka Homo

Patrisius Djiwandono

 

Homoseks itu mungkin makin lumrah tapi tetap saja salah. Coba cari di Kitab Suci mana pun, apakah ada Nabi yang merestui hubungan sesama jenis. Pasti tidak ada. Seandainya manusia tidak pernah mengenal Kitab Suci pun, pasti akan sepakat bahwa dari segi fisik saja amatlah aneh kalau seorang pria tertarik secara seksual kepada pria lain, atau sesama wanita saling tertarik secara seksual. Itu sudah jelas penyimpangan. Penis dan vagina diciptakan untuk saling mengisi, supaya manusia punya keturunan. Maka memang secara fisik saja Sang Alam sudah mentakdirkan bahwa pria jodohnya adalah wanita. Lain daripada itu pasti sudah menyimpang.

no-gay

Ketika saya menulis status di FB: “Straight Only”, seorang friend bertanya: “Homo gak boleh, dong?”; saya jawab: “Ya, ndak boleh. Hanya terima yang normal (straight)”. Dia balik bertanya: “Gimana pendapat Bapak tentang pernyataan yang mengatakan bahwa homoseksual itu penyakit?” Saya jawab langsung: “Ok, kalau sudah tahu itu penyakit, bukankah akan lebih masuk akal kalau yang sakit mencari pengobatan atau terapi supaya sembuh, dan bukannya mencari-cari  pria normal untuk dijadikan kenalan atau pacar, atau bahkan mendirikan asosiasi homo seperti Gaya Nusantara itu?”

Untung saya tidak menjadi warga Amerika. karena ternyata bangsa yang konon besar dan hebat ini juga mengalami penyimpangan tingkah laku. Semakin banyak negara bagiannya merestui dan melegalkan perkawinan homo dan lesbian.

Yang lebih menyedihkan, orang-orang puritan yang masih normal dan mencoba mengingatkan kebijakan menyimpang ini malah dikecam. Lho ini gimana to ya? Yang benar malah dimusuhi, yang sudah jelas menyimpang malah direstui. Bukan hanya sampai disitu: kebijakan terakhir adalah mengijinkan pasangan-pasangan aneh ini mengadopsi anak!

Bayangkan, bagaimana seorang anak kecil tumbuh menjadi dewasa dalam lingkungan yang sudah nyeleneh dan menyimpang itu. Mereka pasti tidak akan mempunyai persepsi seks yang normal; buat mereka yang “normal” pastilah sesama lelaki atau sesama perempuan berciuman, saling membelai, saling mengungkapkan gejolak nafsu. Jadi kalau anak-anak ini nantinya tumbuh menjadi homo juga, itu ya karena sejak kecil sudah ditanamkan dalam alam bawah sadarnya bahwa homo itu “normal”.  Menyedihkan, tapi itulah Amerika. Sesat.

Direstuinya perkawinan homo akan merangsang  penyimpangan-penyimpangan lain untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Maka jangan heran kalau nanti makin banyak orang pedophilia (orang yang secara seksual terangsang pada kanak-kanak) meminta legitimasi  juga untuk hidup layaknya suami istri dengan kanak-kanak yang disukainya. Lalu tak lama kemudian orang-orang yang mengalami penyimpangan dalam hal lain entah apa lagi juga akan meminta perlakukan yang sama, dan begitu seterusnya. Mengerikan.

Indonesia masih terus berjuang menegakkan eksistensinya, memerangi borok-borok korupsi dan etos kerja yang rendah. Rakyatnya masih bergulat dengan kekerasan atas nama agama, korupsi, dan sebagainya. Amit-amit jangan ditambah dengan masalah homoseks yang dibiarkan bertumbuh subur baik dalam skala maupun kevokalannya meminta pengakuan. Homo Indonesia cukup tiarap aja, pacaran backstreet, masang foto-foto cabul di socmed, cari teman di socmed, dan siap-siap mendapat verbal abuse dari seorang anti homo seperti saya.

 

Patrisius Djiwandono

http://machungaiwo.wordpress.com

 

30 Comments to "Kenapa Saya Tidak Suka Homo"

  1. deran siswanto  26 October, 2013 at 01:55

    kaum guy paling menjijikan saya pernah masuk penjara cipinang percayalah kaum guy yg masuk di situ rata2hukumanya paling kecil10tahun mutilasi gigit kemaluan membunuh bukan cara biasa di mutilasi dulu parah

  2. Patrisius  18 September, 2013 at 10:18

    Pak DjasMerahPutih,

    Terima kasih untuk komentar sekaligus dukungannya. Yang Bapak katakan sepenuhnya saya setuju. Nah, apakah ada babon homo saya kurang tahu dan tidak berani menduga2 takut nanti dikomentari oleh para babon yang merasa tidak terima, sama seperti beberapa orang yang memprotes saya di posting ini.

    Patrisius

  3. djasMerahputih  18 September, 2013 at 10:00

    25: Sangat setuju dengan kesimpulan bang Patrisius. Tuhan menciptakan alam dengan penuh keseimbangan. Manusia jugalah yang sadar maupun tidak telah merusak keseimbangan tersebut.

    Menyangkut HIV Aids.. mungkin perlu ditelusuri juga perilaku babon sebagai “penemu” penyakit tersebut, apakah dalam komunitas babon ada juga perilaku seks sejenis ini..?? Atau mungkin juga Sang Pencipta hanya ingin berpesan dan mengibaratkan para kaum homo sebagai babon…??

    Sebagian orang memang “ditakdirkan” mengalami kelainan genetis ini, dan sebagai manusia biasa (normal) sebaiknya kita bersikap toleran dan berempati kepada mereka. Walaupun kita sebaiknya juga bersikap tegas terhadap tuntutan yang berlebihan dari kaum homo. Pengakuan terhadap eksistensi mereka akan berdampak semakin cepatnya penyebaran trend dan gaya hidup menyimpang tersebut…

    Dan jangan sampai kita turut berperan dalam mengundang murka Sang Pencipta alam semesta. Bercerminlah pada sejarah…

    Salam damai…

  4. ah  18 September, 2013 at 07:17

    kawan2 baik saya banyak yggay. mereka toleran, sensitif, dan loyal. pernah juga saya punya sahabat dari kalangan lesbi, tapi tak lama. dia naksir saya. aduh!

  5. indri  15 September, 2013 at 15:23

    “Mbak Indri, pertama2 terima kasih sudah mengubah nama saya. Haduuh, nama bagus2 kok ya diganti2 ora nganggo selametan jenang abang, ha ha haa!”

    Lho padahal di otak saya nama Pak Patrisius, kok jadi Partius hehehe……. nyuwun pangapunten……namanya sungguh buaaagus pak……

    “live their lives as gays or lesbians, but dont push for the rights that heterosexual,people have been entitled to.”

    Saya setuju itu, sepertinya homo dan lesbi sudah menjadi trend, yang tadinya hetero jadi ikut-ikutan ngetrend, ini yg membuat saya kawatir karena kebetulan di sekolah anak saya yg bungsu, ada salah satu muridnya yang orang tuanya terdiri dari “Ibu dan Ibu…..”

  6. Patrisius  15 September, 2013 at 09:34

    Mbak Indri, pertama2 terima kasih sudah mengubah nama saya. Haduuh, nama bagus2 kok ya diganti2 ora nganggo selametan jenang abang, ha ha haa!

    Untuk kasus yg ganti kelamin, komen saya adalah mereka sungguh sangat tidak beruntung terlahir dalam kekacauan identitas sex. Yang kedua juga kurang lebih sama. Nah, yang membuat saya tidak suka bukan semata2 nasib yang tidak beruntung itu, tapi karena pada tititk tertentu mereka lalu kebablasan meminta hak yang sama dengan pasangan hetero: mengadopsi anak, membesarkan keluarga. Dampaknya terhadap tataman sosial di masa depan itu lho yang saya prihatinkan.

    Solusinya secara agak umum sudah saya singgung di posting: kalau memang merasa tidak normal, ya carilah terapi supaya jadi normal. Kalau hetero bisa berubah jadi homo, kenapa tidak bisa sebaliknya? Kalau memang sudah ndak bisa diobati, ya sudah, live their lives as gays or lesbians, but dont push for the rights that heterosexual,people have been entitled to.

    Btw, kenapa virus AIDS yg dulunya hanya menjangkiti babon bisa berpindah ke manusia, yang hampir semuanya homo? Bukannya itu seperti pertanda bahwa alam murka karena kaidahnya dijungkir balikkan?

    PID

  7. EA.Inakawa  15 September, 2013 at 04:34

    Pastinya……Homo & Lesbian sudah menyalahi kodrat Illahi, tapi seyogiyanya juga patut kita kasihani, kadang kadang tidak semua orang MAMPU melawan keinginan yang menyimpang tersebut, semuanya kembali lagi ke RUMAH, rumah adalah tempat dimana Akhlak mulai dibentuk oleh ayah & ibu serta saudara sekandung lainnya yang seharusnya mampu mengawal pertumbuhan si anak tsb, salam sejuk

  8. Indri  14 September, 2013 at 18:37

    Pak Partius, ada lagi artikel yg pernah saya baca. Pria instruktur karate, merasa dirinya wanita, ketemu sama muridnya yg tomboy. Mereka saking jatuh cinta dan akhirnya menikah setelah punya anak, status mereka ganti, yg pria berubah jadi Ibu dan yg wanita setelah melahirkan anak berubah jadi bapak. Saya lupa apakah mereka operasi kelamin apa tidak.

    Bagaimana pendapat anda dengan situasi ini? Pada prinsipnya mereka pasangan pria dan wanita.

  9. Indri  14 September, 2013 at 18:31

    Pak Partius, saya pernah baca artikel, ini kejadiannya di England, pria merasa dirinya sebagai wanita, selalu berpakaian ala wanita dengan segala asesorisnya, dan dia merasa dirinya sebagai lesbian, karena sama pria dia tidak nafsu. Apakah anda juga menentangnya?

  10. djasMerahputih  13 September, 2013 at 15:54

    Jika dihubungkan dgn cerita surga dan neraka, akan lucu membayangkan seorang pria dikelilingi 7 bidadara.. he he he… piss..

    Bagaimanapun kita tetap dianjurkan utk menyampaikan kebenaran sesuai versi masing2..

    Salam sejuk..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.