Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (2)

Nyai EQ – sedang tour ke neraka

 

Artikel sebelumnya:

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)

 

Pada kepercayaan Mesir, seiring dengan munculnya pemujaan terhadap Osiris, kebebasan beragama menawarkan kebijaksanaan akan adanya kemungkinan hidup abadi, dengan syarat moral yang baik dan benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Bagi orang mati, jiwanya akan diadili oleh 42 dewa hakim. Jika si jiwa mati menyerahkan hidupnya pada kekuasaan dewi Maat, yang merupakan Dewi dari hidup yang baik dan benar, maka jiwa mati tersebut akan dipersilakan memasuki sebuah tempat yang disebut dengan nama Dua Padang (bukan sejenis rumah makan) untuk dinilai lebih lanjut.

Jika ternyata ditemukan kesalahan dan dosa, maka jiwa tersebut akan dilempar ke sebuah tempat lain di mana ia tidak memiliki kesempatan untuk untuk hidup abadi. Di tempat tersebut ia akan disiksa dan kemudian dikosongkan jiwanya. Penyucian bagi jiwa-jiwa yang bersalah ini berada di sebuah tempat yang disebut dengan nama Pulau Api, dimana jiwa manusia akan diuji melawan setan. Jika menang atas setan, ia akan dilahirkan kembali. Namun jika kalah, bisa dipastikan akan segera dimusnahkan dan tidak pernah dilahirkan kembali. Dalam kepercayaan ini tidak disebutkan adanya siksaan abadi. Kebaikan dan kebesaran hati penguasa dunia bawah seringkali membawa pengampunan terhadap jiwa yang bersalah. Selalu ada perma’afan. Dalam kepercayaan Mesir modern, pengertian tentang neraka berdasarkan pada 6 buku catatan yang berasal dari catatan kuno, yaitu :

  1. The Book of Two Ways (Book of the Ways of Rosetau)
  2. The Book of Amduat (Book of the Hidden RoomBook of That Which Is in the Underworld)
  3. The Book of Gates
  4. The Book of the Dead (Book of Going Forth by Day)
  5. The Book of the Earth
  6. The Book of Caverns

Masing-masing buku memuat tentang ajaran moral dan kehidupan yang baik dan benar, juga tentang ilmu pengetahuan mengenai bumi, surga dan neraka.

Pada mitologi Yunani yang sangat terkenal, jauh di bawah Surga, Bumi, Pontus ada suatu tempat yang disebut dengan nama Tartarus atau Tartaros. Dalam huruf Yunani kuno disebut Τάρταρος, yang artinya adalah tempat yang sangat dalam. Selain dalam juga gelap dan menyeramkan, mengerikan sebagai tempat untuk penyiksaan dengan segala bentuk kesakitan dan penderitaan yang dihuni oleh para Hades. Tartarus adalah komponen utamanya. Hades kemudian dipakai untuk menyebut nama penguasa dunia bawah. Dalam buku The Gorgias, karya Plato ( 400 SM), dituliskan bahwa setelah mati, orang-orang berdosa akan dikirim ke Tartarus. Sebagai tempat penyiksaan jiwa-jiwa yang telah mati, bisa dikatakan bahwa Tartarus tak lain adalah neraka.

Lain lagi dengan kepercayaan yang ada di Africa, khususnya bagi mitologi Swahili yang disebut Kuzimu. Agama mereka dinamai agama Serer. Agama ini menolak sebutan surga dan neraka. Bagi penganut agama Serer, orang-orang yang telah mati akan diterima oleh nenek moyang mereka di suatu tempat yang tidak jauh dari surga. Jika setelah perjalanan panjang, dan kemudian ternyata tidak boleh lagi menetap di tempat penantian, jiwa-jiwa mati ini menjadi pengembara yang dekat dengan neraka. Mereka harus mencari jalan menuju Jaaniw, yaitu tempat suci untuk berkumpulnya para jiwa. Hanya mereka yang semasa hidupnya mengikuti jalan dengan cara agama Serer sajalah yang memiliki kemungkinan untuk melakukan perjalanan penting ini, dan hanya jika mereka diterima oleh para pendahulunya. Dan bagi jiwa yang gagal mencapai Jaaniw, jiwa tersebut akan selamanya mengembara dan hilang arah (bahasa Jawanya : nglambrang), namun mereka tidak akan pernah masuk ke dalam tempat yang disebut sebagai “neraka jahanam”.

Orang-orang Indian mempunyai cerita yang berbeda. Termasuk juga suku Aztec yang memiliki “Mictlan”. Suku Inuit dengan: Adlivun dan suku Yanomami dengan: Shobari Waka. Suku Maya memiliki kepercayaan yang menyebutkan bahwa Xibalbá adalah nama untuk dunia bawah yang terdiri dari 9 tingkat. Dikuasai oleh 2 iblis yang bernama Vucub Caquix dan Hun Came. Jalan menuju tempat ini dikatakan sangat sulit, berbahaya dan dijaga sangat ketat. Level yang paling berbahaya dan paling mengerikan disebut Metnal, di pimpin oleh iblis bernama Ah Puch. Untuk mencegah supaya seseorang tidak dilempar ke dalam Metnal, suku Maya melakukan upacara pembersihan dosa yang disertai dengan doa-doa khusus. Sebuah manuskrip yang bernama Popol Vuh menceritakan tentang 2 pahlawan kembar suku Maya yang melakukan perjalanan berbahaya dan perjuangan mereka melawan para penguasa Xibalbá.

Suku Aztec mempunyai kepercayaan yang berbeda. Dikatakan bahwa orang yang sudah mati, jiwanya akan melakukan perjalanan menuju Mictlan, sebuah tempat yang netral yang terdapat di suatu wilayah yang jauh di utara. Dikatakan pula dalam legenda Aztec ada sebuah tempat yang ditumbuhi bunga-bunga putih. Tempat tersebut selalu dalam kegelapan, yang merupakan kediaman dari Dewa Kematian yang bernama Mictlantecutli (duh!! Namanya susah banget) bersama istrinya Mictlantesihuatl. Nama dewa tersebut, yang susah sekali diejanya, artinya adalah “Dewa Penguasa Mitclan”. Perjalanan ke Mitclan memerlukan waktu 4 tahun, dan sepanjang perjalanan itu akan banyak sekali ujian-ujian sulit yang harus dihadapi, seperti misalnya melewati gunung-gunung yang saling bertabrakan satu sama lain (gunungnya saling bertabrakan terus menerus), melewati sebuah padang luas di mana angin yang bertiup kencang juga membawa pisau-pisau tajam, dan sungai darah yang dijaga oleh para jaguar yang ganas.

Kembali ke masa Kekristenan, pada awal masa Judaisme tidak dikenal adanya konsep neraka, meskipun konsep kehidupan setelah kematian telah disebutkan sebelumnya pada masa periode Hellenic. Hal ini bisa diketahui dari Kitab Daniel. Dalam Kitab Daniel 12:2 disebutkan : “Dan siapa saja yang tertidur dalam debu tanah akan dibangkitkan, beberapa diantaranya akan diberikan kehidupan yang kekal, yang lainnya akan menerima hukuman abadi” (tolong dibetulkan jika kurang tepat). Judaisme atau kepercayaan Juda (Jahudi) tidak mengenal doktrin yang spesifik mengenai kehidupan setelah kematian, tetapi mereka memiliki semacam kepercayaan mistik yang berkenaan dengan tradisi Orthodox, yang didekripsikan sebagai Gehenna.

Gehenna bukan neraka, namun lebih menyerupai kuburan atau yang kemudian disebut sebagai tempat penebusan, di mana seseorang diadili sesuai dengan amal ibadahnya selama masa kehidupan. Kabbalah menjelaskannya menjadi semacam tempat penantian, atau secara umum diterjemahkan sebagai pintu masuk bagi semua jiwa. Sebagian besar Rabbi mengatakan bahwa sebuah jiwa (sebuah? Apa sebutan satuan untuk satu jiwa, yang tepat?) tidak akan selamanya berada di Gehenna, paling lama hanya akan berada di sana 12 bulan, meskipun begitu selalu ada perkecualian. Beberapa pendapat mengatakan bahwa Gehenna adalah tempat jiwa bersuci sebelum mencapai dunia baru yang disebut Olam Habah atau dalam huruf Hebrew dituliskan : עולם הבא, yang dianalogikan sebagai surga. Dalam Kaballah juga disebutkan bahwa jiwa-jiwa murni tersebut akan menjadi seperti cahaya lilin yang saling menerangi. Jiwa yang berhasil menyala terang akan menjadi jiwa yang murni, sedangkan jiwa yang gagal bersinar akan dilahirkan kembali.

Berdasarkan ajaran Yahudi, neraka tidak ada hubungannya dengan siksaan secara fisik, namun lebih kepada perasaan bersalah yang sangat dalam. Seseorang yang merasa sangat bersalah, sangat dalam perasaan bersalahnya, akan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang mendalam, dan ini merupakan penyiksaan yang menyakitkan dan memalukan.

Ketika seseorang dihukum oleh Tuhan, ia akan ditempatkan di Gehinom. Hal ini tidak ada hubungannya dengan masa depan, namun lebih kepada kekinian. Gehinom lebih menyerupai konsep rasa bersalah dan penderitaan batin seketika. Pintu gerbang Teshuva (pintu kembali) akan selalu terbuka lebar dan memberikan kesempatan pada siapapun untuk meminta ampunan pada Tuhan. Dalam ajaran Torah disebutkan bahwa melanggar perintah Tuhan adalah hukuman itu sendiri, artinya, bahwa seseorang yang melanggar perintah Tuhan akan mengalami penderitaan yang merupakan sebab akibat.

Dalam ajaran Kristiani, neraka adalah doktrin yang berasal dari ajaran Perjanjian Baru, menggunakan istilah yang diambil dari akar Tartarus atau Hades atau Gehenna.

Hades, menurut ajaran Kristus memiliki kesamaan dengan istilah pada Perjanjian Lama, Sheol (kata lain untuk menyebutkan Hades dalam mitologi Yunani) berarti “tempat para orang mati”. Keduanya menggambarkan tempat yang mengerikan di mana angin kencang berhembus tanpa henti. Gehenna mengacu pada “Valley of Hinnon” atau bukit Hinnon, yang terletak di luar kota Jerusalem, tempat jin buang anak. Bukit ini merupakan gunungan sampah yang sangat besar, di mana orang-orang membakar sampah setiap saat, sehingga tampak selalu ada api yang menyala di sana. Tak hanya sampah dan anak jin yang dibuang di sana, namun juga orang-orang yang dianggap berdosa, saat mati mayatnya akan dilempar ke sana, seperti misalnya orang mati karena bunuh diri.

Dalam Perjanjian Baru, Gehenna menjadi metafora dari tempat terakhir di mana hukuman akan diterima tanpa ampunan.

Sementara itu, kata “Tartaro” (kata kerja dari “buang ke Tartarus”) disebutkan satu kali dalam Perjanjian Baru dalam Peter 2:4 yang ternyata paralel dengan kalimat pada Enoch 1, yaitu tempat pembuangan 200 malaikat berdosa. Tapi tidak disebutkan sedikitpun tentang jiwa manusia yang dikirim ke tempat tersebut setelah kematian.

Katolik Roma menyatakan bahwa neraka adalah “sebuah pernyataan atau keputusan diri sendiri untuk memisahkan dari komunitas Tuhan dan berkahNya”. Jika seseorang sudah masuk dalam neraka, dan tidak mau mohon ampun serta kembali menerima karuniaNya, maka selamanya ia akan terpisah dari Tuhan dan itu adalah pilihan bebas setiap orang, segera setelah ia mati. Bagi Gereja Katolik Roma, dan gereja-gereja Katolik lainnya, seperti Baptist dan Episcopalians dan beberapa Orthodox Yunani, neraka adalah semacam tujuan akhir bagi mereka yang tidak lolos dalam hari penghakiman terakhir, dimana seseorang akan menerima hukuman abadi dan terpisah dari semua berkah Tuhan. Beberapa dari kaum Protestan mengajarkan bahwa siapapun yang berdosa akan terampuni dengan menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya, sementara gereja-gereja Katholik Roma dan Orthodox Yunani mengajarkan bahwa pengadilan terakhir juga merujuk pada kesetian dan karya (Ora et Labora).

Beberapa ahli teologi Kekristenan menyebutkan adanya Kondisi Imortal, yaitu kepercayaan bahwa jika seseorang meninggal, maka jiwa dan tubuhnya akan menghilang dan tidak akan hidup kembali sampai pada Hari Kebangkitan. Pengampunan dosa ada sebuah bentuk kepercayaan di mana jiwa itu bersifat fana, keculi jika ia mendapatkan karunia kehidupan kekal, sehingga memungkinkan adanya penghancuran jiwa dalam neraka, bagi jiwa-jiwa yang tidak terpilih untuk hidup kekal.

Rekonsiliasi universal adalah sebuah kepercayaan yang mengatakan bahwa jiwa semua mahluk (termasuk juga iblis dan malaikat yang berdosa) akan menerima pengampunan Tuhan dan diperbolehkan masuk ke surga. Tentu saja ini menurut pandangan kaum unitarian-universalist.

 

12 Comments to "Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (2)"

  1. Nyai EQ  13 September, 2013 at 10:53

    yang mau ndaftar tour ke neraka bisa mendaftar dari sekarang, hahahha..brosurnya bisa diambil dimana saja, bisa juga hubungi kanjenge lurah JC
    saya lebih suka jadi ahli neraka ketimbang ahli surga, hahhahaha……..

  2. J C  13 September, 2013 at 10:21

    Nyai, membaca ini sudah serasa diajak tour keliling neraka dalam berbagai versi menurut budaya-budaya di dunia…wah, kowe bisa jadi tour guide neraka, pakar neraka sekaligus nanti dipanggil Kick Andy mbahas neraka di acaranya…

  3. djasMerahputih  12 September, 2013 at 21:31

    Menunggu kejutan di tulisan selanjutnya…

    Nice Post… analisanya sangat detail… thanks //Salam sejuk

  4. Linda Cheang  12 September, 2013 at 17:11

    ditunggu sambungannya….

  5. Dj. 813  12 September, 2013 at 15:28

    Okay, Dj, sudah berpikir demikian…
    Artikel yang sangat menarik.
    Ditunggu sambungannya ya.

  6. Nyai EQ  12 September, 2013 at 15:20

    Om DJ, yang dari Arab dan Indonesia ada di bagian ke 3, sabar ya om..soalnya artikel ini sebenarnya puanjaaaaang byanget….

  7. Dj. 813  12 September, 2013 at 13:31

    EQ…
    Terimakasih,satu uraian yang bagus…
    Dari beberapa kepercayaan yang EQ uraikan, dari Mesir, Yunani, Afrika, Maya, sampai kekristenan.
    Mana yang dari arab…???
    Kan mereka juga percaya ada sorga dan neraka, bahkan ada hadiah istimewa, kalau membunuh
    orang kafir…???

    Mana yang Hindu…??? Buda….??? Kongfuciu atau yang animisme…???

    Dj. menganbil kesimpulan demikian.
    Walau jarak Mesir, Yunani ( mungkin tidak begitu jauh ), Afrika ( sudah sedikit jauh, tapi suku Maya, ( sangat jauh ),
    Apalagi kalau ditambah dengan Budha, Hindu dan keperjayaan kejawen ?
    Dj. melihat, manusia sudah sejak awalnya memiliki rasa ( naluri ) jati dirinya sendiri.
    Siapakah manusia kita ini, dari mana kita datang dan akan kemana kita akan pergi.

    Walau dari tempat yang jauh dan berbada budaya, tapi naluri tersebut ADA dalam kehidupan kita.
    Disni bisa dilihat, bahwa jiwa kita ini memang ada dan “mungkin” juga berasal dari tempat yang sama.

    Okay, ditunggu kelanjutannya.
    Salam manis dari Mainz.

  8. [email protected]  12 September, 2013 at 11:19

    hmmm…. 72 bidadari perawan ada dimana?

  9. chandra Sasadara  12 September, 2013 at 11:16

    DUA : well come to the hell..

  10. James  12 September, 2013 at 11:11

    SATOE, Heaven please …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.