Kisah Suatu Masa (6): Mantra

Anastasia Yuliantari

 

Hidup di pedesaan bagian tenggara Jawa Timur membuatku terbiasa mendengar tentang mantra atau hal semacamnya. Sering kali para tetangga dan teman-teman bermain mengatakan, “Eh, aja dijupuk, panganane wis didongani.” Atau dalam logat Jawa Timur bagian selatan tersebut biasa dilafalkan dengan “diduwai (baca: diduwoi)” Misalnya makanan yang dkirimkan oleh lelaki yang ditengarai menyukai seorang perempuan. Atau, walau tampak tak masuk akal tetapi cukup dapat menakut-nakuti anak nakal yang suka belusukan ke kebun orang, buah-buahan yang diletakkan di sudut kebun sehingga tak menyerupai buah yang jatuh secara alamiah. Juga bila melihat uang yang jatuh di jalanan.Pokoknya sesuatu yang dicurigai mempunyai tujuan tertentu pasti diasumsikan telah dimantrai.

asap-mantera

Setelah kembali melanjutkan studi, barulah aku tahu bila ada pembedaan istilah mantra dan sihir. Kebetulan salah seorang teman mengangkat mantra di kalangan orang Using dari daerah Banyuwangi sebagai tema disertasinya. Menurut terminologi orang Using atau banyak juga yang mengatakan Osing, mantra digunakan untuk tujuan baik, sedang sihir adalah semacam tenung untuk tujuan mematikan atau membuat sakit lawan. Masing-masing bagian juga ada spesifikasinya berdasarkan keperluan dengan ahli yang berbeda-beda.Tapi beliau bukan mengkaji tentang mantra itu sendiri, melainkan dalam kerangka tradisi lisan Nusantara.

Mantra juga menjadi sesuatu yang sering aku dengar dalam percakapan sehari-hari saat KKN. Di desa itu, mantra dipergunakan untuk perjodohan atau mencari pasangan. Sesuatu yang tak bisa didapat dengan cara biasa dapat diperoleh dengan dopingan mantra. Seperti syair dalam lagu: cinta ditolak, dukun bertindak. Hal tersebut menjadi perbincangan yang hangat suatu malam dengan bapak dan ibu kost yang bersemangat sekali menuturkan banyak kisah.

“Jadi dik, di sini tidak bisa sembarangan menolak lamaran orang. Kalau memang sudah jodoh, bisa saja dipakai cara halus (dengan mantra).” Kata Bapak kost dengan logat yang kental.

Kami hanya meringis antara excited dan ngeri mendengarnya. Terutama karena pembicaraan Bapak kost bernuansa gender. Merujuk pada kami para perempuan yang mungkin dianggap sedikit menye-menye terhadap lelaki. Sampai umur dua puluh tahun belum punya suami, bahkan pacar pun masih pilih-pilih.

“Berarti kalau tak jodoh kan bisa meleset toh, mantranya Pak?” Sekar menegaskan kalau tak setiap tindakan memantrai akan mengenai sasaran.

“Tapi sulit itu, dik. Banyak kenanya daripada meleset.” Ujar lelaki pertengahan empat puluhan yang istrinya hampir sepantaran dengan kami.

“Iya,dik. Saya juga didapat dengan bantuan mantra.” Kata si ibu dengan rupa tanpa sesalan, bahkan sedikit bangga.

Kami melongo dan bersama-sama berkata, ”Masak, sih?”

“Iya,dik. Kami kan beda jauh usianya. Apalagi dia cantik sekali.” Lelaki itu tertawa terkekeh sambil memandang istrinya. Kami semua mengakui bahwa ibu kost sangat cantik. Kulitnya kuning langsat dan bersih, rambutnya mengombak, dan tubuhnya langsing semampai walau sudah punya dua anak. Sementara si bapak kurus kering,hitam legam, berwajah sedikit seram dengan kumis jarang-jarang, dan rambutnya sudah mulai memutih. Kami menduga beliau hanya mendapat keberuntungan ketika mempersunting si ibu.

Teman-teman lelaki, walau semuanya sudah punya pacar, menjadi bersinar-sinar matanya mendengar kisah ini. Pertanyaan pertama yang muncul adalah, “Bagaimana caranya?” Mungkin mereka pikir memantrai itu seperti menaruh garam ke dalam sayur.Tinggal tuang maka reaksinya akan sama. Dan hal itu dibuktikan dengan ketawa terkekeh si bapak. “Saya datang ke orang pintar. Dia yang mendoai, dik.”

Nah,tahu rasa kalian. Kami para perempuan nyukurin mereka dengan rasa puas.

“Memangnya apa yang dirasakan oleh ibu ketika dimantrai?” Hal yang tak masuk akal juga untuk ditanyakan, tapi kan kami ingin tahu juga hal-hal semacam itu. Selain merintang-rintang waktu menghabiskan malam, cerita yang agak penuh thriller selalu menarik untuk diperbincangkan.

“Dia ingat saya terus, dik. Mimpi ketemu saya bermalam-malam.” Pak kost menjawab mantap.

Kami saling memandang dengan wajah penuh arti sebelum menujukan pandangan pada si ibu yang tersenyum-senyum penuh misteri. “Gimana, Bu?”

“Jadi begini, dik.” Kata si ibu. “Waktu itu saya, kan tidak begitu suka sama bapaknya anak-anak ini. Lha kami kan tidak saling kenal, dia bukan teman selingkungan dan tak pernah main dengan kami.” Jelas, dong kan lain generasi. “Namun suatu hari saya tiba-tiba pingin sekali ketemu dia, selain itu bermalam-malam saya membaui harum parfumnya di sekeliling saya. Padahal tak ada orang di rumah yang memakai parfum seperti itu.”

Wah,terus? Terus? Kami semakin tenggelam dalam dongengannya.

“Saya bahkan sampai mengajak teman untuk menonton pertunjukan orkes yang ada di desa tetangga agar bisa ketemu dan melihat Bapak.”

Jadi pasti mau, dong saat dilamar?

“Jelas mau,” tawa renyah keluar dari mulut mereka.

“Tapi, kan mantra seperti itu akan hilang setelah 40 hari. Masa Bapak seumur hidup mesti memperbaharuinya agar Ibu selalu cinta?” Budi bertanya. Pertanyaan yang agak tidak sopan tetapi tidak dipermasalahkan tuan rumah, bahkan membuatnya bangga karena terlihat seperti expert  di hadapan para mahasiswa.

“Saya hanya satu kali saja ke orang pintar. Mungkin karena memang jodoh, Ibu tetap cinta sampai sekarang. Hahahaha.” Tawanya menggema membelah malam.

“Tapi memang banyak yang begitu, dik. Sepupunya bapak juga mendapat istri dengan cara demikian.”

“Ah,ya. Solihin istrinya cantik sekali, lebih lagi dari Ibu,” Bapak kost terkekeh memandang istrinya sebelum melanjutkan, “Padahal dia cacat, tangannya sebegini, dik.” Dia menunjukkan lengan yang hanya sampai siku. “Tapi dasar jodoh, ya langgeng sampai sekarang.”

“Jadi dasarnya karena jodoh, kan Pak?” Tanyaku membuat lelaki itu menatap bingung sejenak sebelum menjawab, “Ya, tapi kalau tidak pakai doa belum tentu juga kena, dik.”

Kami manggut-manggut saja.

Takmengherankan bila beberapa hari kemudian Ibu kost tampak khawatir melihatku pulang ke rumah dengan seorang anak tetangga yang cantik sekali. “Aduh, dik saya cemas sekali ketika tahu adik pulang dari rumah Rohayah.” Ditunjuknya anak kelas empat sekolah dasar yang baru saja berlalu setelah mengantarkanku pulang.

“Kenapa, Bu?” Tanyaku.

“Bapaknya itu orang pintar.”

Aku menatap bingung.

“Dia sekarang sedang tidak beristri. Ibu si Rohayah pulang kampung karena suaminya kawin cerai dengan beberapa perempuan. Dulu dia juga mengejar saya, sampai hampir berkonflik dengan bapaknya anak-anak.”

Ah, rupanya si Ibu punya story dengan bapaknya Rohayah.

“Tadi disuruh makan apa di rumahnya? Atau minum?”

Aku menggeleng, “Tidak,tuh tidak disuguhi apa-apa.”

“Syukur kalau begitu.” SiI bu mengajakku duduk di bangku depan warungnya. “Dia omong apa saja? Disuruh apa?” Lanjutnya penasaran.

“Hmm, tidak disuruh apa-apa.” Jawabku.

“Masa?”

“Ya, kami hanya omong-omong. Terus dia bilang saya bakal jadi ‘orang besar’ kalau mau melafalkan doa yang dia ajarkan sama saya.”

“Doa apa?” Tanyanya.

“Saya sudah lupa.”

Si Ibu mengelus dada, “Kalau memang tidak tahu tak usah dibaca. Kita kan tidak tahu mantra apa itu.”

Aku tersenyum. Masih terngiang perkataan Rohayah, “Jangan lupa, ya Mbak untuk baca doa yang Bapak ajarkan tiap pagi dan malam.”

“Benar, lho Dik.” Si Ibu menegaskan.

“Iya, Bu saya memang sudah lupa. Tadi tidak bawa catatan.”

Perkara ini sampai juga ke telinga teman-teman. Mereka kembali ingin tahu detail kisahnya. Setelah itu muncul kisah-kisah bagaimana para pemuda desa mengidolakan para mahasiswa KKN yang kelihatan lebih canggih dibanding para kembang dusun. Adalah Hari yang membesar-besarkan kabar itu hasil pergaulannya dengan para pemuda saat acara kerja bakti.

“Si Sekar ditaksir si A.” Ujarnya. “Kalau Dwi untuk rebutan antara si C dan D.” Tentu saja Sekar dan Dwijadi mengkerut sekaligus jengkel. Dan aku tertawa karena merasa lolos sensor.

“Kalau Tia ditaksir si E, tuh adiknya Bu Kepala Desa. Dia kemarin menungguimu saat mengajar di program pemberantasan buta huruf.”

Haaaaaa????

Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari keinginan orang lain yang tak sesuai dengan keinginan kita?

Bapak kost sebagai expert menasehati, “Jangan menyakiti hati laki-laki yang naksir. Kalau memang tidak suka, ya biasa saja. Harus tetap ramah. Dan para Mas ini yang harus membentengi dengan doa untuk teman-teman perempuannya. Anda tahu, kan perempuan itu ada saat-saat lemahnya ketika mereka tidak bisa sembahyang.”

“Oh, begitu.” Kata kami bersama-sama.

Jadi bagaimana menurut anda sekalian, kaum lelaki yang ikut KKN?

“Tidak masalah.” Kata Budi. “Sholat dan mengaji setiap hari sudah menjadi kewajiban bagi kami. Maka berdoa bagi keselamatan kita selama KKN juga sudah menjadi bagian dari doa-doa setiap kalinya.”

Wah, terima kasih kalau begitu. Saling mendoakan demi kesuksesan dan keselamatan masing-masing selama KKN memang merupakan keharusan. Di luar segala macam rumor tentang mantra yang semakin hari semakin sering kami dengar kisahnya selama tinggal di kampung itu.

 

 

20 Comments to "Kisah Suatu Masa (6): Mantra"

  1. Anastasia Yuliantari  15 September, 2013 at 13:10

    Pak EA, adduuuhhh kl diperlakukan seperti itu, sih mantra yg paling mujarab buat perempuan. Bakalan lengkeeeettt terus sampai kapan pun, hehhee. Thanks, ya Pak.

  2. Anastasia Yuliantari  15 September, 2013 at 13:08

    Anoew……wooohhhhh……pantas segala kampret menghilang dr dunia persilatan. Ternyata dirimu yg memantrainya, ya?

  3. EA.Inakawa  15 September, 2013 at 05:01

    Anastasia : Saya mah kagak pakai mentera : saya peduli dengan dia,saya perhatikan maunya apa,dia marah saya diam saja,dia lapar saya masakin,dia masak saya bilang enak ( walaupun tidak enak ) lalu saya bilang saya sayang kamu, ahirnya jadi dehhhhhhhh

    Hennie : benar sekali wanita itu semakin menarik diusia 35…..pastinya semakin berpengalaman dan dewasa eheheheh salam sejuk

  4. anoew  14 September, 2013 at 13:39

    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…
    Mbul gombal gambul…

    *mantra tolak kampret*

  5. Anastasia Yuliantari  14 September, 2013 at 05:43

    @Henny…….oh gitu, ya? Aku kira selama ini Max hanya melancarkan rayuan gombal…..hahaha. Thanks, ya Hen.

  6. Hennie Triana Oberst  13 September, 2013 at 21:43

    Ayla, wanita itu cantiknya mulai usia 35 lho. Coba tanya Max.
    Kalo jaman KKN masih culun. Percaya aku!!!

  7. Anastasia Yuliantari  13 September, 2013 at 20:30

    Mbak Meita…..eeeeiiittttssss……jgn diingatkan kembali.

  8. Anastasia Yuliantari  13 September, 2013 at 20:29

    @Hennie, iya Hen. Kl ngebayangin dulu serem banget. Apalagi kan jaman segitu msh lagi cakep2nya, hehhee.

  9. Nur Mberok  13 September, 2013 at 16:45

    Sist, mantra badak…hahhaa

  10. Hennie Triana Oberst  13 September, 2013 at 14:45

    Ayla, untunglah kamu tidak terkena akibat mantra-mantra ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.