Berguru pada Alam: Air (2)

djas Merahputih

 

 

Artikel sebelumnya: Berguru pada Alam: Air (1)

 

Komunikasi Dengan Air

Dalam tulisan sebelumnya kita mengenal sebuah peran tidak biasa dari sesuatu yang disebut air. Yaitu perannya sebagai pembawa pesan. Pertanyaannya adalah dengan cara apakah pesan tersebut bisa dibaca atau dimengerti oleh manusia sebagai objek yang dititipi pesan tersebut? Bahasa apa yang digunakan dan seberapa mudah bisa ditafsirkan oleh kita semua?

 berguru-pada-air (1)

Image 01: Gerak dan reaksi air

Jawaban dari pertanyaan tadi bisa kita dekati dengan memperhatikan cara berkomunikasi dua orang dalam acara TV yang bertema tebak kata. Salah seorang memegang tulisan di atas kepalanya dan seorang lagi mengarahkan kawannya tersebut melalui gerakan dan jawaban-jawaban terbatas, seperti kata ya, tidak, dan boleh jadi. Bedanya, berkomunikasi dengan air memerlukan suasana yang lebih tenang, hening dan intim sehingga setelah mencapai kadar konsentrasi tertentu suara-suara alam sekitar dapat terdengar dan terdeteksi dengan baik di pikiran kita.

Pengalaman Bung Karno saat pengasingan di Ende mungkin bisa sedikit menguak kenyataan bahwa manusia mampu berkomunikasi dengan alam dalam menterjemahkan sebuah permasalahan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Setelah duduk lama dan merenung di tepi sebuah tebing mengarah ke laut sambil memikirkan permasalahan bangsanya tiba-tiba muncul sebuah kalimat dalam pikiran Bung Karno seperti dalam kutipan biografi beliau yang ditulis oleh Cindy Adams berikut ini:

“Revolusi kami, seperti juga samudera luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu… aku harus tahu sekarang…. bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada.”

 berguru-pada-air (2)

Image 02: Soekarno, Archimedes dan Newton

Di lain waktu seorang filsuf dari Yunani, Archimedes, menemukan hukum daya apung di dalam air setelah memperhatikan tumpahan air yang keluar dari bak mandi tempatnya berendam. Ada juga seorang ahli fisika asal Inggris bernama Sir Isaac Newton yang menemukan defenisi gaya grafitasi sesaat setelah kepalanya tertimpa oleh sebuah apel dari pohonnya.

Agar lebih mudah lagi dalam berkomunikasi dengan air dan benda-benda lain di alam semesta ini bisa ditempuh sebuah usaha antara lain dengan cara personifikasi. Yaitu dengan cara menganggap atau membayangkan benda tersebut sebagai sosok seseorang dalam wujud manusia yang mampu berbicara dan berperilaku seperti kita manusia. Sehingga bisa dibayangkan saat-saat Bung karno merenung di tepi tebing tersebut telah terjadi percakapan imajiner yang kira-kira seperti ini:

Air :  “Ketemu lagi Bung..! Apa kabar di pagi yang tenang ini…?”

Bung Karno (dalam hati)  :  “Baik-baik saja Om. Alangkah damainya suasana tempat ini, tapi ada apa denganmu wahai samudera? Mengapa engkau tetap saja berisik dan bergemuruh?”

Air :  “Aku hanya menjalankan tugasku untuk menyapa pantai dan tebing serta sekali-kali bercanda dengan hewan-hewan kecil di tepi pantai. Kalaupun terdengar suara berisik dan gemuruh tak lain hanyalah sebagai penyemarak dan pemecah suasana sebagaimana suara genderang dan petasan menyemarakkan sebuah acara hajatan. Nampaknya Bung sedang gelisah? Ada apakah gerangan?”

Bung Karno:  “Aku lagi memikirkan nasib bangsaku. Memikirkan tentang sebuah revolusi.”

Air :  “Tenang saja Bung, jalani saja hari-hari Bung dengan penuh rasa syukur dan tawakkal kepada-Nya. Sebab segala sesuatu di alam raya ini berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada.”

 berguru-pada-air (3)

Image 03: Gelora Samudera

Dan kalau kita membayangkan sosok air yang sedikit nyeleneh dalam peristiwa yang dialami oleh Archimedes, maka bisa saja kita mendengar umpatan sosok air tadi seperti ini:

Archimedes :  “Eureka…! Eureka….! Eureka…!!”

Air  : “Aneh juga nih Bang Medes, seenaknya aja mengganti nama gue jadi Eureka… nama gue kan Paprika…?? Lagian pake ngaku-ngaku segala menemukan hukum daya apung. Padahal kan gue yang ngasih tau ke Bang Medes. Lagi pula, udah lama gue ngajarin orang-orang kalo ngisi bak tuh jangan penuh-penuh..!! Tumpah kan…?? Becek dehh… untuk ngga diliat sama Cinta Laura. Bisa dicipratin pake ban Oudjueck (ojek) lu orang…”

Jadi lucu kan..? Nah, kalo kasusnya Newton silakan anda berimajinasi sendiri-sendiri, kira-kira apa yang dikatakan oleh apel tadi sebelum jatuh  dan “menabok” kepala Newton.

Jika gambaran di atas sedikit berbau fiksi maka lain halnya dengan seorang ilmuwan dari Jepang yang mengungkapkan potensi komunikatif air dalam hasil eksperimennya. Dr. Masaru Emoto bisa membuktikan bahwa partikel air mampu merespon rangsangan dari luar berupa suara-suara dari lantunan sebuah lagu, doa, beragam jenis musik, umpatan dan bahkan sekedar sebuah tulisan. Bentuk partikel air berubah-ubah bentuk sesuai dengan beragam jenis dan karakter rangsangan yang diberikan.

 http://www.jongjava.com

Image 04: Beragam respon air

Kisah-kisah perbincangan antara manusia dengan alam semesta banyak terjadi dan sudah berlangsung lama sejak zaman dahulu. Bisa diperhatikan keahlian para penyanyang binatang ketika berinteraksi dengan hewan piaraan mereka. Juga kisah benda-benda pusaka seperti keris yang bisa menimbulkan suara gaduh di malam hari jika terlambat dimandikan dalam prosesi ruwatan. Atau bencana yang diyakini bakal datang jika sebuah perkampungan penduduk alpa dalam menaruh sesajen kepada leluhur mereka. Hal ini mungkin bisa menjelaskan kepada kita tentang eksistensi kepercayaan nenek moyang dahulu yang kita kenal sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme.

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

Sumber:

Image 01 : NiceFun.net

Image 02 : 2bp blogspot.com, edu.pe.ca, contradicaosocial.files.wordpress.com

Image 03 : banggaindonesia.com

Image 04 : jongjava.com

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Berguru pada Alam: Air (2)"

  1. djasMerahputih  18 September, 2013 at 09:41

    11: Sama-sama…. Thanks sdh mampir Mawar09

    Air memang teduh, sejuk dan bening.. begitulah seharusnya…

    Salam Sedjuk…!!

  2. Mawar09  17 September, 2013 at 23:59

    Kesan air itu teduh ! terima kasih tulisannya Djas Merahputih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.