Guru Slamet

Chandra Sasadara

 

Dingin pagi sedang kuat-kuatnya menggigit kulit. Embun putih masih mengambang di pucuk-pucuk padi yang siap panen. Masih pagi Slamet telah menggenjot sepedanya. Ia memang berniat datang ke sekolah lebih pagi. Hari itu ia berjanji membantu penjaga sekolah untuk membersihkan tampungan air belakang sekolah yang menggenang sebelum pergi ke Kantor UPT Dinas Pendidikan untuk mengambil dokumen pensiunnya.

Belum sampai di belokan jalan desa, lajang tua itu terhempas dari sepadanya. Kendaraan itu terlempar beberapa meter dari tubuhnya. Hempasan yang begitu kuat membuat tenaganya seperti lepas. Slamet tidak lagi merasakan rasa sakit yang menderanya. Tubuhnya diseret oleh tiga orang bertopeng ala ninja. Tidak ada keinginan untuk melawan. Slamet pingsan.

*****

Rapat dewan guru pagi itu berjalan alot, bahkan cenderung memanas. Guru agama bernama Bakar tidak setuju kalau kegiatan membaca surah-surah pendek Al-qur’an di awal jam mata pelajaran dihilangkan di sekolah.

“Kita hidup di lingkungan masyarakat Muslim, anak-anak harus dibiasakan membaca Al-qur’an!” Suara keras Bakar terdengar hingga di luar ruang guru.

“Maaf Pak,  saya tidak mengahalangi anak-anak untuk membiasakan diri membaca Al-qur’an.” Slamet menjawab pelan.

“Jadi maksud usulan saudara apa dengan gagasan  menghilangkan kebiasaan membaca surah-surah pendek Al-qur’an di jam pertama pelajaran?”

“Pak Bakar jangan salam paham dulu…” Slamet berusaha menjelaskan.

“Bagian mana yang tidak saya pahami Pak Slamet?” Bakar menyambar ketus.

“Pak Bakar, membaca dan belajar Al-qur’an sudah menjadi tradisi di masyarakat kita.” Slamet meneruskan kalimatnya yang terputus.

“Di setiap musholah, masjid bahkan di beberapa rumah kyai di desa ini mengajarkan membaca Al-qur’an, anak-anak mengaji setelah Asyar dan Magrib.” Slamet menjelaskan sedikit panjang.

“Jadi maksud saudara, karena mereka sudah belajar membaca Al-qur’an di mushalah, masjid dan rumah kyai kemudian tidak perlu lagi belajar membaca Al-qur’an di sekolah?” Bakar tidak sabar mendengar penjelasan Slamet.

“Bukan tidak perlu Pak, tapi ada sesuatu yang…” Kalimat Slamet terpotong lagi.

“Pak Slamet! Sejak pertama saya masuk sekolah ini, saya telah meragukan keislaman anda.” Meskipun sedikit dipelankan, tapi kalimat itu tetap memberikan tekanan kuat bagi guru lainnya di ruang rapat. Tak urung semua guru terperanjat dengan penilaian Bakar terhadap Slamet. Guru tua itu diam dan tidak tertarik untuk menanggapi hujatan Bakar. Kepala sekolah berusaha menengahi agar tidak berlanjut saling menghujat sesama guru.

manunggaling kawula gusti

“Ibu Kepala sekolah, ijinkan saya melengkapi penjelasan yang terpotong.”  Slamet meminta waktu untuk menjelaskan gagasan menghilangkan bacaan surah-surah pendek Al-qur’an di awal jam pelajaran. Kepala sekolah mengangguk.

“Saya menganggap anak-anak kita telah cukup belajar membaca Al-qur’an di mushalah, masjid dan di rumah kyai setiap hari, apalagi sebagian murid kita juga ikut pelajaran diniyah di rumah Kyai Somad.”  Slamet melanjutkan penjelasanya.

“Belajar Al-qur’an tidak pernah cukup!” Bakar memotong penjelasan Slamet.

“Pak Bakar! Tolong dengarkan penjelasan Pak Slamet sampai selesai.” Kepala sekolah mulai tidak sabar dengan ulah guru agama itu.

“Pak Bakar dan saudara-saudara guru yang lain tahu bahwa sebagian besar anak-anak kita, kelas satu sampai kelas empat tidak cukup bagus berbahasa Indonesia. Kita terpaksa menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran. Saya mengusulkan supaya 10 menit pertama di awal jam pelajaran digunakan untuk membiasakan berbahasa….” Penjelasan Slamet kali ini juga tidak selesai. Bakar menyambar dengan keras.

“Kita tidak bisa menukar jam belajar membaca Al-qur’an dengan berlatih bahasa Indonesia, pendapat seperti itu hanya keluar dari mulut manusia yang anti Al-qur’an!” Kali ini kalimat Bakar itu diucapkan sambil menuding ke arah Slamet.

“Pak Bakar jaga bicara anda!  Guru sekolah ini tidak ada yang anti Al-qur’an. Dan buat Pak Slamet silakan tulis gagasan bapak biar saya yang memutuskan. Rapat ini saya tutup.” Kepala sekolah menutup rapat dengan suara parau.

*****

Seperti sedang menghitung jumlah buku, sebenarnya tidak. Ia sedang mencari buku baru kiriman temanya dari Yogyakarta yang berjudul Ajaran Sangkan Paraning Dumadi. Buku itu tidak ada di antara tumpukan buku di atas mejanya. Mungkin dipinjam guru lain tapi tidak sempat meminta ijin dirinya. Tapi ia juga ragu, jangan-jangan buku itu tertinggal di rumah. Ah tidak, buku itu ada di atas meja di tumpukan paling atas. Biarlah kalau memang ada guru lain yang berminat untuk membaca  pikirnya. Sesaat kemudian ia sudah tenggelam dengan buku di tangannya, buku terjemahan berjudul Serat Suluk Seloka Jiwa.

Entah apa yang dipikirkan guru itu, tiga bulan terakhir ini ia seperti sibuk mengumpulkan buku-buku tentang membersihkan hati, tentang Ketuhanan dan hal-hal yang terkait dengan kematian. Guru-guru lain memandang aneh kesibukan baru yang dilakukan oleh Slamet, ia tetap ramah tapi mulai jarang bercanda. Setiap pagi tetap datang ke sekolah meskipun sudah tidak mengajar lagi. Hari-hari di sekolah ia habiskan membaca buku dan membantu kepala sekolah untuk meyiapkan laporan keuangan sekolah sampai jam kerja habis.

Hari itu tidak ada kegiatan yang berarti, sejak masuk tahun ajaran baru tiga bulan lalu Slamet sudah tidak menjadi guru kelas lagi. Dua minggu lagi ia pensiun, hal itu yang membuat kepala sekolah tidak lagi memberikan tugas untuk menjadi guru kelas satu. Hampir setengah masa tugasnya sebagai guru ia habiskan sebagai guru kelas satu. Berkali-kali pindah sekolah ia tetap bertugas sebagai guru kelas satu. Slamet adalah guru abadi kelas satu.

Ia dicintai anak-anak, juga mencintai anak-anak. Slamet bukan hanya ramah, juga pandai bercerita tentang kisah nabi-nabi, tentang Mahabarata dan Ramayana, tentang raja-raja Nusantara dan pandai memancing anak-anak untuk bertanya. Ia guru yang suka bercanda dan tidak menolak dicandai.

Namun tidak semua guru suka kepada Slamet. Salah seorang guru menyebut Slamet adalah manusia yang tidak beragama meskipun ber-KTP Islam dan rajin ke masjid. Slamet dianggap bukan muslim yang bertauhid sebab ia mencampurkan ritual Islam dengan perilaku sesat di luar Islam sebab ia masih mau menjalankan puasa mutih dan pati geni seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beragama. Ia juga masih memiliki puluhan keris dan tombak yang katanya bertuah. Di mata guru itu, Slamet tidak pantas disebut sebagai orang Islam.

Bagi Slamet, penilaian seperti itu tidak penting untuk ditanggapi. Dalam keyakinannya, penilaian dan sangkaan orang lain tidak menjadi bagian yang diperhitungkan Tuhan di akhirat nanti. Hal itu yang membuat Slamet tetap tenang dan tidak sedikitpun sakit hati meskipun dihujat di depan guru dan kepala sekolah di dalam rapat resmi.

Slamet justru khawatirkan Bakar tidak bisa menahan marahnya dan berteriak sebab hal itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Dalam kayakinannya, tidak boleh mempermalukan diri sendiri apalagi orang lain. Namun Sesuatu yang dikhawatirkan Slamet justru tengah berada di dekatnya.

“Pantas saja saudara anti Al-qur’an, bacaan saudara juga buku-buku tentang ajaran sesat seperti ini.” Orang itu tiba-tiba telah berada di depan meja Slamet dan membanting buku. Itu adalah buku berjudul Ajaran Sangkan Paraning Dumadi yang hilang di meja Slamet.

“Masya Allah Pak Bakar.” Slamet kaget.

*****

Kepala sekolah hilir mudik menunggu Slamet datang. Berkali-kali perempuan setengah baya itu bertanya kepada penjaga sekolah di mana Slamet. Laki-laki tua penjaga sekolah itu tidak bisa menjawab, ia hanya bisa mengatakan bahwa “Pak Slamet berjanji untuk datang pagi Bu”. Kepala sekolah menunggu Slamet untuk memberikan sejumlah berkas yang harus diserahkan kepada Kepala UPT Dinas Pendidikan di Kecamatan terkait dengan kelengkapan dokumen pensiun yang sedang diurusnya.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 10.21 dan orang yang ditunggu kepala sekolah itu belum datang. Kejengkelen dan kekhawatiran bergantian mengisi pikiran kepala sekolah. Tidak biasanya Slamet telat dan ingkar janji. Ia selalu datang paling pagi, bahkan dirinya sering malu ketika masuk ruang guru dan  Slamet telah berada di mejanya. Slamet harusnya datang lebih pagi, katanya mau ke Kantor UPT? Apalagi ini hari terakhir ia kerja. Ada di mana ia? Kepala sekolah berusaha untuk tidak khawatir berlebihan.

Mengapa Slamet tidak kirim kabar kalau tidak bisa datang ke sekolah. Telepon genggam guru tua itu juga tidak aktif. Jangan-jangan Slamet, oh tidak. Kepala sekolah menarik kembali pikiran yang baru saja melintas. Perempuan itu sempat memutar kembali ingatanya tentang keributan dalam rapat dewan guru antara Bakar dan Slamet. Kepala Sekolah mengkhawatirkan keselamatan Slamet sebab ia tahu watak Bakar. Meskipun telah paruh baya, Bakar bisa meledak-ledak kalau berbicara tentang sesuatu yang dianggap berbeda dengan keyakinannya.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar. Seorang guru perempuan berlinang air mata meminta ijin untuk masuk. Kepala sekolah tidak mau berpikir buruk tentang kabar yang akan disampaikan oleh guru yang baru masuk ke ruanganya. Ia berusaha menenangkan guru perempuan itu. Namun guru itu justru menangis, meraung dengan tubuh bergoncang-goncang.

“Tenangkan dirimu Bu.” Kepala sekolah masih berusaha meredahkan tangis guru perempuan itu. Namun guru itu tetap menangis dengan suara serak.

“Ada apa kamu ini?” Kepala sekolah mulai tidak sabar. Ia menebak bahwa nasib buruk telah menimpah Slamet.

“Pak Bakar luka parah, sekarang ada di Puskemas Bu’.” Suara guru itu terdengar samar di antara isak tangisnya.

“Apa maksud kamu Pak Slamet yang luka parah?” Kepala sekolah berusaha meyakinkan dirinya bahwa guru perempuan itu tidak salah ucap.

“Bukan Pak Slamet Bu, tapi Pak Bakar yang luka para..” kalimat itu putus, ia  tidak sanggup meneruskan kalimatnya.

Di antara kepanikan yang menekan kesadarnya, ingatan kepala sekolah menghadirkan wajah Bakar dan Slemat secara bergantian.

“Apakah ada kabar tentang Pak Slamet?” Kepala sekolah penasaran tentang nasib yang guru yang ditunggunya sejak pagi.

“Pak Slamet pingsan ketika ditemukan warga desa, ia tidak luka sedikitpun.” Kalimat itu diucapkan dengan goncangan perasaan yang mulai stabil.

Beberapa saat kemudian kepala sekolah mendapat informasi utuh tentang peristiwa yang menimpa dua orang gurunya. Disebutkan bahwa Warga desa memergoki tiga orang bertopeng menyerat tubuh seseorang dalam keadaan pingsan. Warga pun mengepung dan memukuli kawanan bertopeng, bahkan hampir membakarnya. Tubuh yang ditolong oleh warga itu kemudian dikenali sebagai seorang guru ngaji Al-qur’an di kampung. Ia adalah Guru Slamet.

 

36 Comments to "Guru Slamet"

  1. uli  27 November, 2013 at 15:06

    bagus, tapi tidak seru,

  2. probo  23 September, 2013 at 23:24

    nih mantra buatan anak-anakku…..
    semoga bisa meracuni mereka dan teman-temannya,
    (dari workshop acapela mataraman)

  3. chandra sasadara  23 September, 2013 at 09:34

    Kang anoew, slamet ki cen ampuh tenan. Bukan hanya ga luka sedikitpun tapi juga bikin penulisnya terkeju..jut..hehehe

  4. chandra sasadara  23 September, 2013 at 09:33

    Klo anak saya diajarin mantra pengasihan aja mbakyu probo..
    Matur nuwun..

  5. chandra sasadara  23 September, 2013 at 08:57

    Terima ksih bu iin telah mampir ..

  6. anoew  22 September, 2013 at 21:19

    Lho Kang Makin? Penulisnya sendiri kok ikut terkejut jut kiy piye

    Komennya mbak Probo mak jleb, menohok hok, mak blessss. Tosssss! Untuk yang ini saya juga sedikit terkejut. Jut.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *