Travel Light in Life

Ucique Klara

 

Ini semua gara-gara Andria Vita-salah satu konco di Jogja sana yang paling setia berkabar tentang apapun. Dia membuat mata saya semakin terbelalak tengah malam menjelang pagi begini. Betapa tidak, setelah mengobarkan gairah untuk backpacking bareng dan memadamkannya seketika, saya malah diajak chat yang berat-berat.. hmm.. Bingung saya dibuatnya-karena saya sudah berapi-api ingin memberikan ide dan sudah siap dengan jurus argumentasi biar rencana kami bisa terlaksana! Soalnya si Vita ini harus sering dikompori biar tetap semangat. hehe…

Ternyata bacpacking yang dimaksud hanya analogi semata. Katanya, “Your life, it’s just a backpack..itu beban yang kamu bawa. Kamu yang memilih apa yang kamu masukkan kebackpack of life-mu. “

“Oh mirip-mirip travel light gitu ya?” Saya mencoba mengimbangi biar tidak kebanting (gengsi bo! Masa kerja di travel agent tidak bisa lebih kerenan dikit??)

Travelling light adalah satu upaya agar kita lebih aman dan nyaman saat berpergian dengan membawa sedikit barang.

Trus saya tanya sama dia mau bawa apa saja di “ransel”-nya, tapi jawabannya malah melempem: “I don’t know.”

Ya….. untuk apa bahas topik hidup yang berat ini? Kamu saja tidak tau mau bawa apa di ranselmu….

But then we drowned into a fun chat. Tentang apa saja yang mau dibawa. Dan..tadaaa setelah dihitung-hitung dan diingat-ingat ..ternyata kami emang cenderung maruk! Semuanya mau dimasukan ke ransel! Awalnya kami masing-masing menyebut anggota keluarga, kemudian jadi ingat sahabat-sahabat dekat, trus gebetan yang cakep-cakep, rencana cadangan (bahkan cadangan pun lebih dari 1) eh mau juga bawa kenangan manis masa lalu..(ehm) dan harapan masa datang.. Masing-masing kami mengeluh ransel kami tidak cukup untuk menampungnya. Padahal sudah ditekan-tekan, dilipat kecil-kecil, digulung semini mungkin..masih banyak hal yang ingin kami masukan (paksakan) ke dalam ransel kami. Ranselnya pun makin berat dan malahan sobek! Siapa sangka, hal-hal kecil berakumulasi menjadi hal yang makan tempat dan berat!

Alternatif lain adalah mengganti ransel yang lebih besar! Eh ternyata semakin besar ransel baru, selalu ada saja yang ketinggalan. Ruangnya tak cukup..waktu berlalu, ransel rusak dan punggung kami bisa penyok karena lelebihan beban! Apalagi badan saya yang sepertinya makin tipis saja setiap hari.

Pada akhirnya saya mengajukan usul agar pakai koper saja plus tas-tas kecil dan ransel biar semuanya muat. Bila perlu kardus trus dikasi lakban and diikat pake tali dan ditulisi inisial pake spidol…. Yaaahhh… konsepnya kok mengarah ke mudik atau mau pindahan rumah.

Saya jadi teringat, banyak waktu yang lewat percuma karena mengkhawatirkan banyak hal yang tidak perlu. Menyesali yang sudah terjadi tanpa berusaha jadi lebih baik dan cemas berlebihan untuk apa yang akan terjadi akan datang. Padahal kita kan tidak tau apa yang akan terjadi. And then we ignore what we are having right now. We don’t appreciate lovely people around us who have been so loyal faithful, true persons who make us laugh! We say bad things ‘bout others who someday will be our saviors at our hard times (who knows..)

Termasuk juga membuat banyak rencana yang tidak realististis tanpa diimbangi komitmen untuk beraksi.

Percakapan saya dan Andria Vita terhenti karena gangguan sinyal… mata saya tiba-tiba tertuju pada koper saya yang belum dibenahi dan barang-barang berceceran seantero kamar. Beberapa hari lalu saya ke Bali dan ikut pelatihan 2 hari. Kalau mau bepergian agak jauhan dari rumah dan  lebih dari sehari, rasanya seisi lemari, seluruh kamar bila perlu rumah dan seisinya saja bawa juga. Bagaimana kalau hujan trus baju basah? Charge laptop/HP, batere cadangan untuk kamera? Bagaimana kalau mau jalan-jalan bajunya itu-itu saja di foto..dsb.. tas tenteng buat jalan-jalan, sepasang sepatu, kosmetik, krim malam, krim siang, lotion, minyak wangi bila perlu bawa selimut dan sarung juga.

Bawaan saya terbukti terlalu banyak untuk 3 hari karena pakaian yang terpakai hanya 2 hem, 2 t-shirt, 1 rok, 1 jeans dan 1 celana pendek plus some underwears! Saya sangat payah soal travel light! Nyatanya saya sama sekali tidak bisa jalan-jalan sama sekali, benar-benar hanya untuk pelatihan dalam ruangan dari pagi sampai malam. Dandanan saya juga just like daily-means no make up. Paling banter pelembab muka dan lotion. Hari pertam pakai sepatu kayak orang kantoran, hari ke-2 ganti pakai sandal sepatu soalnya orangnya ternyata santai-santai. Materi pelatihan disiapkan dalam flasdisk yang dibagi pada setiap peserta, juga ditampilkan dengan projector pada layar yang lebar sehingga tidak perlu laptop. Foto hanya sekali-bersama peserta pelatihan dan bukan dengan kamera saya. Makan malam pun rasanya hanya lewat saking ngantuknya. Dan lebih banyak sia-sianya segala peralatan yang dibawa.

backpacks

Tidak hanya soal bepergian, dalam hari-hari kita, rasanya selalu saja ada kemungkinan butuh ini-itu yang sebenarnya tidak perlu, kebutuhan yang mengada-ada karena cemas yang berlebih dan juga ketamakan. Ya, kita boleh mengelak bahwa manusia selalu rakus akan banyak hal yang ingin dicapai dalam hidup ini sehingga lupa akan hal-hal esensial dalam hidup: tertawa, senyum, lelucon, bermain, makan bersama keluarga, sms kerabat untuk menanyakan kabar, dengarkan curhat teman, or other million simple nice things around us.  Andaikan punya ransel seperti Dora atau punya saku ajaib kayak Doraemon,life would be so damn easy – no problems (but neither adventures).

Jadi anda mau bawa apa saja di ransel 2013?

 

8 Comments to "Travel Light in Life"

  1. ucique klara  22 September, 2013 at 09:06

    selamat berakhir pekan semua… terima kasih sudah dihadirkan di baltyra dan membaca serta berkomentar …
    saya jadi terharu karena catatan ini adalah catatan terakhir yg saya buat , sejak itu tdk pernah lagi nulis.. jadi pengen cerita lagi lewat tulisan.

    salam dari flores!

  2. djasMerahputih  19 September, 2013 at 10:10

    Nice post.. Hakikat hidup adalah memberi, sedangkan menerima adalah akibat logis dari memberi tadi. Manusia dan pohon saling memberi dalam siklus oksigen dan CO2. Tapi segolongan manusia membabat hutan seenaknya. Kita memberi penderitaan kepada hutan dan pada akhirnya kita harus siap menerima pemanasan gobal saat ini…

    Dengan memberi, beban “ransel” kita menjadi lebih ringan, “life is just a backpack”

    Salam Sedjuk..

  3. Mawar09  19 September, 2013 at 01:38

    Artikel yang bagus ! Saya kalau bepergian selalu ingin praktis dan tergantung tujuannya juga sih. Bawa saja baju yg anti lecek dan cepat kering kalau dicuci.

  4. Dj. 813  19 September, 2013 at 00:22

    “Your life, it’s just a backpack. ”

    dalam hari-hari kita, rasanya selalu saja ada kemungkinan butuh ini-itu yang sebenarnya tidak perlu, kebutuhan yang mengada-ada karena cemas yang berlebih dan juga ketamakan. Ya
    ——————————————————————————-

    Hallo Klara…
    Sangat benar, kita saat ini dalam pperjalanan….
    Semakin banyak yang kita kumpulkan dalan perjalanan hidup ini, maka akan semakin berat.
    Kita pikir dengan banyak nya apa yang kita kumpulkan, akan membikin kita bahagia.
    SALAH…!!!
    Karena kebanyakan barang yang kita pungut dalam pperjalanan hidup ini, maka lama-lama kita ankan menjadi
    bungkuk dan satu saat tidak bisa jalan lagi.
    Akhirnya, kita tidak bisa sampai ketempat tujuan.
    Karena dimana hartamu, disitu juga hatimu.
    Banyak orang yang bahkan sudah mau sekarat, masih juga mikir hartanya.
    Ini orang yang paling sial.

    Ingat, Yesus, Mahmad Gandi, Ibu Theresa, tidak memiliki harta dunia.
    Olehnya bisa jallan dengan tegab dan sampai tujuan.

    Salam manis dari Mainz

  5. ah  18 September, 2013 at 12:15

    saya jalan 2 bulan bawa pakaiannya maksimal 2 setel males membebani diri dg hal ga penting, karena memberatkan di jalan, pikiran pun ga fokus. demikian juga dalam menghadapi hidup. lepas, serahkan pada semesta, dan ihlas

  6. jingga  18 September, 2013 at 12:05

    Disajikan dengan ringan tapi luar biasa makna nya. .Ransel saya juga berat banget,pdhl sudah pilah pilih.

  7. J C  18 September, 2013 at 10:33

    Nyimak saja…saya dan istri belum bisa jadi backpacker murni…(lha masih sama anak-anak perginya)

  8. [email protected]  18 September, 2013 at 10:21

    gak mau bawa ransel….. bawa koper…. tinggal di tarik….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.