Lagi-lagi Logika Dangkal Perspektif Selangkangan

Josh Chen – Global Citizen

 

SELANGKANGAN 1

Mungkin hanya satu-satunya di dunia yang ada kuesioner di SEKOLAH yang menanyakan ukuran peranti selangkangan dan dada (baik wanita ataupun pria), hanya ada di Indonesia, di satu tempat yang namanya Aceh. Sepertinya memang wilayah ini para pejabatnya adalah kelompok pemuja selangkangan. Hampir semua dibahas dan ditelisik dari perspektif selangkangan.

http://health.detik.com/read/2013/09/05/173731/2350566/763/kisah-kuesioner-vulgar-bagi-siswa-smp-di-aceh-yang-mendunia?l771108bcj

http://health.detik.com/read/2013/09/05/173921/2350565/763/tak-cuma-di-aceh-kuesioner-vulgar-siswa-smp-juga-ada-di-sleman?l771108bcj

http://health.detik.com/read/2013/09/06/080137/2350804/763/beredar-juga-di-sleman-ini-riwayat-kuesioner-vulgar-siswa-smp?l771108bcj

http://health.detik.com/read/2013/09/06/105120/2350970/763/selain-menanyakan-ukuran-kelamin-apa-saja-isi-kuesioner-vulgar?991104topnews

http://regional.kompas.com/read/2013/09/06/1057269/Kuisioner.Alat.Vital.Dievaluasi.agar.Tak.Lawan.Syariat.Islam

Yang menarik adalah link terakhir di atas. Sekali lagi mengatasnamakan agama mayoritas negeri ini untuk kepentingan para pemuja selangkangan. Sudah tercatat jelas bahwa di provinsi paling utara negeri ini yang paling hobi mengurus masalah ditinjau dari perspektif selangkangan: bonceng sepeda motor, pakaian yang tidak sesuai syariat, tarian dilarang (http://www.tempo.co/read/news/2013/05/25/058483176/Majelis-Ulama-Aceh-Haram-Perempuan-Dewasa-Menari) dsb. Ujungnya? Adalah untuk mencegah selangkangan lelaki di sana jadi njendol dan terangsang.

Gambar-gambar berikut yang diambil dari kuesioner yang menggegerkan dan menggemparkan dunia ini sudah lebih dari cukup bahwa memang para pemuja selangkangan semakin hari semakin marak di negeri ini.

2148189Kuisioner-ukuran-kelamin780x390 remaja_putri remaja_putra

ukur-kelamin

Dan Selangkangan 1 ini ditutup oleh puisi indah yang dikutip dari seorang sahabat:

“Selangkangan, padanya mereka menyerah, amarah teredam, kesucian menjadi nisbi, muhrim atau bukan tak ada hukumnya, yang ada hanya tubuh telanjang , siap menyembah selangkangan…”

ukuran-endog

sayur-dan-buah

ukuran pisang

 

SELANGKANGAN 2

Membaca berita-berita di situs media online Indonesia beberapa hari ini kembali membuat jengah dan muak. Seakan-akan Indonesia adalah milik sekelompok tertentu yang kebetulan mengaku beragama mayoritas negeri ini. Klaim kelompok-kelompok ini begitu kencang menggelora untuk menolak penyelenggaraan ajang Miss World 2013 di Bali dan Jakarta, pembukaan tanggal 7 September 2013 dan puncak acara di Sentul International Convention Center tanggal 28 September 2013 – yang akhirnya dipindahkan semua ke Bali.

Seperti biasa, satu wadah sekumpulan manusia dangkal berpikir mengeluarkan fatwa ini dan itu. Bahkan secara tidak langsung sudah menebar ancaman dan provokasi seperti dikutip dari: http://nasional.kompas.com/read/2013/08/31/1904419/PKS.Setuju.Sikap.MUI.Tolak.Miss.World.di.Indonesia

Sebelumnya  Ketua MUI, KY Muhyiddin Junaidi, pekan lalu, mengatakan, MUI pada rapat terakhir, 5 Agustus 2013 menyatakan menolak Indonesia sebagai tuan rumah Miss World. Menurutnya, setelah dilakukan peninjauan dari berbagai aspek seperti aspek ekonomi, agama, dan budaya tidak ada yang mendatangkan manfaat bagi Indonesia. MUI menilai lebih banyak mendatangkan kerugian.

Muhyiddin mencontohkan, belajar dari kasus Miss Word tahun 2000-an di Nigeria, di mana masyarakat muslim menolak karena saat itu perwakilannya divonis cambuk karena melakukan perzinahan.

Namun, kontes tetap diselenggarakan. Pada hari H, kata Muhyiddin, terjadi kekerasan mengakibatkan 200 orang meninggal. Akhirnya, panitia memindahkan acara ke London.

darin-mumtazah-luthfi

pks-sapi

Tak ketinggalan tentu saja partai yang babak belur diterjang sapi dalam link berita di atas yang jelas tidak akan ketinggalan mengharamkan acara seperti ini. Masih ditambah dengan berita ini: http://nasional.kompas.com/read/2013/08/26/1017573/PKS.Miss.World.Merendahkan.Perempuan sedikit mengutip:

Anggota Komisi X asal Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Surahman Hidayat berkomentar tentang penyelenggaraan kontes kecantikan Miss World di Bali, September mendatang. Ia menilai, pelaksanaan event ini merendahkan budaya Indonesia.

“Miss World bernuansa merendahkan martabat perempuan. Saya pikir banyak kegiatan yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia dan juga sesuai dengan ajaran agama untuk menggali dan meningkatkan potensi wanita Indonesia. Tidak hanya Miss World,” kata Surahman, dalam pernyataan tertulisnya, Senin (26/8/2013).

Surahman mengatakan, adopsi budaya luar belum tentu sesuai dengan budaya yang dimiliki Indonesia.

Dari mana bisa dikatakan “merendahkan martabat perempuan”? Kegiatan mana saja yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia dan juga sesuai ajaran agama? Adopsi budaya luar belum tentu sesuai dengan budaya yang dimiliki Indonesia? Mungkin yang lebih sesuai dan cocok adalah logika perspektif selangkangan yang diadopsi dari budaya padang pasir, yang dasar pemikirannya diukur dari aurat sepasang paha mulus, kaki jenjang dan payudara sekal dengan tolok ukur apakah menyebabkan otak error dan selangkangan lelaki pating greges dan njendol.

Menganggap perempuan hanyalah objek seksual di atas tempat tidur, ber-haha-hihi-pustan-pustun dalam rekaman percakapan, mengoleksi perempuan sebagai istri (atau pemuas nafsu?) dari yang seusia sampai yang masih kempling-kinyis-kinyis umur 18 tahun, lulus sekolah pun belum, dianggap lebih meninggikan dan menghargai martabat perempuan (surga ganjarannya menurut mereka) dibanding penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia. Sungguh nyata memang logika berpikirnya berdasarkan perspektif selangkangan semata.

Tak ketinggalan ormas bernafaskan preman yang sampai hari ini masih untouchables juga bersuara lantang menolak ajang internasional ini. Ditambah lagi ormas yang gemar juga menebar kekerasan tak mau ketinggalan bersuara http://regional.kompas.com/read/2013/06/30/1747106/Muslimah.HTI.Tolak.Miss.World.2013.di.Bali:

Kaum muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD Jawa Timur menolak kontes kecantikan Miss World 2013 digelar di Indonesia, tepatnya di Bali, September mendatang. Jika kontes itu tetap digelar, maka Indonesia dinilai mendukung upaya sistematis untuk melegitimasi pelecehan terhadap martabat perempuan.

Yang begini dianggap melecehkan martabat perempuan, namun dikoleksi jadi pemuasan syahwat tokoh besar berkedok agama diyakini mendapat surga sebagai pahalanya.

Yang paling nyata dan jelas bahwa pemikiran kelompok ini berdasarkan logika dangkal perspektif selangkangan ada di: http://www.hidayatullah.com/read/2013/09/02/6177/islam-barat-dan-cara-kita-memandang-fashion.html

Jangan-jangan ketika suatu hari nanti di Bali menjadi tempat ajang (maaf) sebuah kontes pemilihan vagina terindah, “The Most Beautiful Miss V Contest”, sebagaimana pernah diselenggarakan oleh sebuah klub di Portland, Oregon tahun 2011,  si Putu juga mengklaim sebagai budaya lokal lagi, sebagaimana dia menulis di TEMPO.

Nyata dan jelas bahwa memang pemikirannya semata-mata didasari selangkangan.

Cukup mengejutkan tentangan dari lembaga yang seharusnya netral dan bebas dari cara berpikir selangkangan, ternyata menggunakan dalil HAK ASASI MANUSIA sebagai cara berpikirnya: http://news.detik.com/read/2013/08/27/073918/2341341/10/komisioner-komnas-ham-penyelenggaraan-miss-world-di-indonesia-langgar-ham?9911012

“Sesuai pasal 28J UUD 45, kebebasan dibatasi oleh UU, susila, agama. Bagi masyarakat Indonesia, wanita adalah ibu, kehormatan bangsa. Kecantikannya bukan untuk dipertontonkan dan diperlombakan. Budaya kita lekat dengan santun, tata krama, dan menjunjung tinggi kearifan,” ujarnya.

“Kalau sampai pemerintah mengizinkan lembaga kontes kecantikan dunia menyelenggarakan perhelatan Miss World di Indonesia, ini jelas melampaui keadaban kita sebagai bangsa,” imbuh Maneger.

 

Ungkapan kemuakan nyata sekali dalam tulisan Putu Setia, seorang redaktur senior di Majalah TEMPO. Dalam tulisan  berjudul, “Kolom Cari Angin: Miss World” (Edisi 01 September 2013).

Yang saya hormati Menteri Agama Suryadharma Ali, saya mengabarkan kepada Bapak bahwa ada kemungkinan pergelaran Miss World tetap berlangsung di Bali. Dengan sangat menyesal, kami penduduk Bali tak bisa mengikuti saran Bapak agar memperhatikan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang isinya menolak keras penyelenggaraan Miss World itu.

Ormas-ormas Islam yang dimotori Front Pembela Islam (FPI) sudah jelas pula sikapnya menolak Miss World ini, bahkan menyebutkan akan dilaknat Allah jika pergelaran yang tak ISLAMI itu dilangsungkan. Ternyata panitia Miss World bersama pemuka adat Bali sudah datang ke Pura Besakih untuk mohon restu ke hadapan Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Di media massa disebutkan, jika Miss World tetap digelar, FPI akan menguber panitianya. “Kalau aparat masih melindungi, akan kita tolak,” ujar Misbahul Anam, Sekretaris Majelis Syuro DPP FPI, dikutip dari media massa. Saya sempat takut. Tapi syukurlah, di media massa juga dikutip ucapan Jero Gede Suwena, Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali, yang mendukung kontes Miss World. Ini membuat ketakutan saya sirna karena MUDP punya ribuan pecalang (petugas keamanan desa adat) yang siap mengamankan Bali dengan semangat “perang puputan”. Apalagi Kepolisian Daerah Bali siap mengamankan Perhelatan International itu. Gubernur Bali Made Mangku Pastika, yang juga mantan petinggi polisi, mendukung penuh acara budaya yang bersifat internasional ini. Rasanya tak mungkin FPI datang ke Bali dan main uber-uberan ???

Pak Menteri Agama, saya dan mungkin seluruh pendeta di kalangan Hindu sejatinya tak ada urusan dengan perhelatan Miss World itu. Jangankan ikut jadi panitia, diundang pun ogah !!! Betapapun cantiknya wanita-wanita yang datang dari penjuru dunia, pasti tetap lebih cantik jika cucu saya didandani. Itu urusan duniawi, bukan urusan agama. Kalau kita menekuni spiritual dan setiap hari bergelut dengan ayat-ayat suci, rasanya aneh jika masih mengurusi atau tergiur atau tergoda oleh kecantikan visual. Ini ranah budaya.

Jika urusan budaya, kenapa agama dibawa-bawa? Miss World digelar di Bali, yang konon penduduknya mayoritas Hindu. Lha, kenapa fatwa MUI harus diperhatikan??? Mestinya fatwa Parisada Hindu Dharma Indonesia–dan pasti mustahil ada fatwa seperti itu untuk acara budaya yang tidak melanggar agama. Kalau saran Pak Menteri kebablasan, nanti setiap acara  apa pun di Bali–termasuk main layang-layang atau pesta ogoh-ogoh–jangan-jangan disuruh memperhatikan fatwa MUI.

Budaya itu beragam di Nusantara ini, dan NKRI dengan empat pilarnya–kayak menceramahi murid SD–menjamin keberagaman itu. Miss World dipadukan dengan budaya Bali, pembukaannya dengan tari Kecak  yang pemainnya bertelanjang dada–padahal peserta Miss World akan pakai kebaya. Mereka mengunjungi obyek wisata dengan pakaian Adat Bali, karena ada obyek yang sekaligus menyatu dengan tempat suci. Apakah budaya lokal ini bertentangan dengan budaya nasional??? Atau, budaya nasional harus menutup seluruh tubuh seperti budaya di Timur Tengah??? Lalu, apakah budaya harus diseragamkan???

Tapi okelah, tak ada ruangan kalau saya curhat berkepanjangan, apalagi terkesan saya ngotot supaya Miss World digelar, padahal saya tak ada urusan dengan itu. Yang saya ngototkan adalah mari hormati kebhinekaan dan keberagaman dalam payung NKRI. Mari gunakan fatwa majelis agama untuk pengikut agama yang bersangkutanbukan untuk masalah berbangsa dan bertanah air. Saya malu masalah seperti ini muncul setelah 68 tahun Merdeka !!! Wassalam.

 

MANTAP!

Salam Indonesia (bukan Indonestan)!

 

 

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

56 Comments to "Lagi-lagi Logika Dangkal Perspektif Selangkangan"

  1. Napoleon  18 February, 2014 at 15:06

    Pertama, masalah kuisioner (itu). Kuisioner itu namanya kuisioner kesehatan reproduksi. Kuisioner ini sebenarnya bertujuan untuk survei tentang maturitas (kedewasaan) fisik seseorang. Menurut saya, data kuisioner ini diperlukan untuk mengetahui bagaimana maturitas fisik masyarakat Indonesia. Data ini penting untuk membuat standar maturitas seseorang (gambar pada kuisioner itu standar yang disebut dengan Sexual Maturity Rate – SMR atau Tanner Score) yang dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang itu mengalami keterlambatan pubertas atau pubertas dini. Data sementara ini menggunakan data Amerika Serikat yang tentunya tidak sesuai jika digunakan di Indonesia.

    [Sejujurnya saya sudah berulang kali melihat kuisioner itu dan saya masih heran kenapa ada orang yang berpikiran pornografi tentang kuisioner tersebut – mungkin yang terangsang perlu periksa ke dokter jiwa]

    Kedua, masalah miss world.
    Miss World, saya kira saya tidak punya urusan untuk miss world. Setidaknya para perempuan lebih dihargai jika memiliki ajang untuk berkompetisi dibandingkan hanya untuk sekedar ditangkarkan di rumah masing-masing.

    Salam Pancasila!

  2. Jenny  24 December, 2013 at 00:29

    Hi Aji,
    I’m really amazed as well as LOST thinking abt. as why some Indo Muslims are so obsessed with VAGINA…???!!! And why linking vagina to some islamic teaching & culture?? It sounds very ‘unnatural’ to me, I must say!!
    Best regards
    Jenny

  3. Linda Cheang  25 September, 2013 at 10:28

    komentar 50 & 51 : bwaahahahahaha….

  4. anoew  25 September, 2013 at 09:10

    4900 virgins – 1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *