Budaya Mandi dari Umum Menuju Private

Joko Prayitno

 

Beberapa bulan ini matahari bersinar cukup terik membuat udara terasa panas menyengat, tidak seperti biasanya. Kata beberapa ahli ini dampak dari pemanasan global yang mempengaruhi lingkungan, sehingga cuaca menjadi ekstrem. Tetapi toh panas merupakan anugrah dari kehidupan kepulauan tropis yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Sepanas apapun matahari tentunya dapat disegarkan dengan kebiasaan mandi yang telah menjadi budaya masyarakat kita sejak dahulu untuk menghilangkan cuaca panas di atas kepala. Kita dapat mandi di kolam renang, kamar mandi, sungai atau pemandian-pemandian umum tradisional lainnya yang biasanya adalah sumber-sumber mata air alami.

wanita-sedang-mandi-di-jogjakarta-1890

Wanita sedang mandi di Jogjakarta 1890 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

illustrasi-ms-a-m-steenbergen-van-santen-di-kamar-mandi-di-batavia-1948

Illustrasi Ms A.M. Steenbergen-Van Santen di kamar mandi di Batavia 1948 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Apa yang menarik dari aktivitas mandi untuk dibicarakan di sini? Mandi bukan semata-mata membasuhkan air ke seluruh badan, dan bukan pula sekedar masalah kebersihan personal tetapi ia memiliki sejarah panjang yang dibangun oleh masyarakat. Mandi merupakan konstruksi sosial yang memperlihatkan perbedaan kelas dalam masyarakat. Aktivitas mandi pada masa lampau di Eropa merupakan domain publik dimana masyarakat melakukan aktivitas mandi diberbagai pemandian umum yang telah disediakan oleh pemerintah terutama di kota-kota kerajaan Yunani, Roma dan Turki.

Pemandian ini merupakan tempat relaksasi sosial bagi masyarakat dan dibangun khusus bagi kaum laki-laki. Pemandian umum dan spa pada abad ke-18 dan abad ke-19 menawarkan sebuah kesenangan dengan memberikan layanan kesehatan dan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat kelas atas untuk minum-minum daripada sebagai tempat untuk membersihkan diri. Pergeseran aktivitas mandi terjadi ketika masa industrialisasi dimana air mulai dialirkan melalui pipa ke dalam rumah-rumah penduduk di Eropa. Maka aktivitas mandi terjadi di dalam ruangan tersendiri dan mandi menjadi aktivitas membersihkan diri. Ketika mandi pada masa lampau di ranah publik menjadi gaya hidup kelas elit Eropa maka lambat laun hal tersebut ditinggalkan digantikan dengan mandi di ruangan tertutup dengan berbagai peralatan mandi yang serba mewah sebagai penanda kelas elit. Akhirnya pemandian publik menjadi milik masyarakat kelas bawah yang tempat tinggalnya belum memiliki ruang mandi tersendiri.

perempuan-dan-anak-anak-mencuci-dan-mandi-di-sungai-buitenzorg-1920

Perempuan dan anak-anak mencuci dan mandi di sungai Buitenzorg 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Di Indonesia, konsep mandi menunjukkan sebuah pilinan berbagai budaya yang hingga saat ini masih dipertahankan. Pada masa kolonial, sebelum masyarakat Eropa masuk secara besar-besaran, berbagai laporan dalam berbagai bentuk menunjukkan aktivitas masyarakat yang sedang mandi diberbagai tempat umum. Mulai sungai, pancuran, kanal, hingga tempat pemandian yang bersifat religius. Ketika penetrasi masyarakat Eropa semakin kuat dengan budaya yang dibawanya maka lambat laun, mandi di tempat umum mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia dan berganti dengan mandi di sebuah ruang khusus yang dibangun di belakang rumah. Berbagai peralatan mandi pun diadopsi dengan gaya Eropa mulai dari bak mandi, sabun, sikat gigi hingga toilet.

uborampe-pada-acara-siraman-pengantin-jawa

Ubarampe pada acara siraman pengantin Jawa

Tetapi selain itu, mandi khususnya dalam masyarakat Jawa, dapat dikatakan juga sebagai bentuk aktivitas religius masyarakat dalam menerapkan sebuah slogan agama yaitu “Kebersihan sebagian dari Iman”. Dan tidak hanya berhenti sampai disitu saja, mandi dapat dikatakan juga sebagai ritual pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi beberapa kepercayaan masyarakat terutama di Jawa. Budaya kungkum di sungai pada malam dan hari-hari yang telah ditentukan merupakan manifestasi dari kepercayaan ini.

Lebih jauh mandi pada masyarakat Jawa juga berkenaan dengan berbagai ritual kehidupan seperti siraman sebelum acara pernikahan dengan maksud membersihkan diri agar menjadi suci dan murni, siraman dalam upacara Mitoni yaitu ketika seorang wanita hamil untuk pertama kalinya, pada bulan ketujuh kehamilannya diadakan ritual Mitoni. Mitoni berasal dari kata pitu artinya tujuh. Ritual mitoni  diadakan dengan maksud untuk memohon berkah Gusti, Tuhan, untuk keselamatan calon orang tua dan anaknya. Biasanya pelaksanaan siraman diadakan dikamar mandi atau ditempat khusus yang dibuat untuk siraman, dihalaman belakang atau samping rumah. Masih banyak lagi ritual mandi yang menjadi bagian kehidupan masyarakat dan hingga saat ini masih dilaksanakan.

illustrasi-djola-toenda-makam-dan-pemandian-suci-di-lereng-pegunungan-penanggoengan-1815

Illustrasi Djola Toenda, makam dan pemandian suci di lereng pegunungan Penanggoengan 1815 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Memang aktivitas mandi di dalam masyarakat mengandung berbagai esensi yang terkadang tidak kita sadari. Perubahan dari aktivitas publik menjadi aktivitas private juga bukan hanya didasarkan pada konstruksi sosial mengenai kelas masyarakat tetapi juga mengenai pandangan agama. Tetapi yang paling penting adalah bahwa mandi apapun wilayahnya merupakan aktivitas yang menyegarkan, tinggal bagaimana kita memaknainya…

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/09/17/budaya-mandi-dari-umum-menuju-private/

 

12 Comments to "Budaya Mandi dari Umum Menuju Private"

  1. Swan Liong Be  9 October, 2013 at 15:21

    @Dewi Aichi, no.6: Waktu baca komen² aku juga sudah pikir kalo orang sering bilang: Mau kebelakang, jebulè jalan kedepan. Dulu juga orag belanda atau mereka yang berbahasa belanda juga selalu bilang: “Ik ga even naar achteren”
    Saya ketawa waktu baca komentar Elnino yang tulis: atret, maksudmu tentu achteruit ya, alias mundur. Kalo orang malaysia bilang: Reverslah!

  2. Handoko Widagdo  28 September, 2013 at 06:58

    Mandi bersama itu asyik kok.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.