Kayak Saya

Wesiati Setyaningsih

 

Kadang-kadang anak-anak mengatasi masalah dengan caranya sendiri hingga mata kita tertipu dengan apa yang mereka tampilkan dalam keseharian.

Ada seorang anak yang heboh sekali di kelas. Dia suka sekali bertanya ini itu bahkan ketika sudah dijelaskan berulang-ulang. Teman-temannya sampai kesal. Dari awal dia sudah berusaha menarik perhatian saya dan mungkin guru-guru yang lain.

Karena suka bertanya tentang latar belakang murid-murid saya, suatu ketika saya tanya di mana tempat tinggalnya. Itu merupakan pertanyaan standar pertama. Berikutnya biasanya adalah pekerjaan ayahnya, pekerjaan ibunya, lalu berapa saudaranya.

Dengan anak ini, begitu sampai pertanyaan pertama jawabannya sudah banyak sekali. Dia bilang dia di sini tinggal sama Om-nya. Dia berasal dari luar kota dan kedua orang tuanya bercerai. Mereka lantas mengikuti jalan hidup mereka masing-masing dan tinggallah dia dengan saudaranya di kota ini.

Saya langsung simpati karena dia tidak mengatakan dengan sedih. Sikapnya yang sehari-hari tampak gembira dan aktif, membuat saya salut. Biasanya anak-anak seperti ini gemar membuat masalah di kelas, atau kalau seringkali pasif dan kehilangan semangat belajar. Tapi anak ini tidak. Dia malah semangat dalam pelajaran apapun meski kemapuannya tidak terlalu bagus.

Dia memang mengakui ini. Di awal-awal saya masuk kelasnya dia sudah bilang, “Bu, saya nggak bisa bahasa Inggris, tapi saya pengen bisa.” Saya bilang nanti saya bantu. Jelas sebagai guru itu tugas saya.

Kemarin waktu ulangan harian pertama, saya belum sempat koreksi karena sibuk kemah dan urusan buku yang baru saja terbit. Jadi saya minta tolong anak-anak untuk membantu mengoreksi. Biasanya kalau satu kelas sudah ikut ulangan semua, mereka saya minta untuk membantu mencocokkan pekerjaan temannya. Selain mereka jadi tahu jawaban benar dari soal yang kemarinnya mereka kerjakan, mereka juga ikut bertanggung jawab atas pekerjaan temannya. Menurut dosen saya waktu di UNNES, ini bagus dan bermanfaat.

Pada soal ulangan harian yang saya buat kemarin terdapat teks naratif yang ceritanya saya ambil dari film : Hating Alison Ashley dan Bruce Almighty masing-masing untuk bagian kanan dan kiri. Saya tidak pernah memberikan soal yang sama untuk barisan kanan dan kiri. Selalu berbeda.

Sampai di bagian pertanyaan dari teks bacaan ‘Hating Alison Ashley’ : ‘why Erica thought that she was happier than Alison?’ anak-anak menjawab, “because she had an attentive family”. Itu memang jawabannya.

Jadi ceritanya, ada Erica yang membenci Alison si anak baru yang cantik, langsing lagi pintar serta kaya raya. Alison menggagalkan impian Erica untuk jadi bintang utama dalam drama yang akan dimainkan dalam acara kemah dan ini membuat Erica sakit hati. Beruntung Erica mendapat kesempatan menjadi penulis skenario drama tersebut.

Pada saat pementasan drama, keluarga Erica hadir semua : ibunya, ayah tirinya, serta kakak-kakaknya. Sementara tidak satupun dari orang tua Alison datang. Pada saat itulah Erica sadar bahwa dia tidak perlu iri lagi pada Alison karena dia punya sesuatu yang tidak dimiliki Alison : keluarga yang perhatian dan menyayangi satu sama lain.

“Jadi Erica merasa dia lebih beruntung dari Alison karena keluarganya datang semua sementara keluarga Alison entah ke mana saking sibuknya kerja,” kata saya.

Tiba-tiba ada anak yang menyahut, “kayak saya ya bu, orang tua saya nggak tau ke mana.”

just like me

Saya menoleh. Anak itu, yang kemarin bercerita dia tinggal bersama saudaranya dan orang tuanya berpisah, menatap saya dengan tatapan apa adanya. Tak ada kesedihan yang berlebihan di matanya, tak ada kegetiran dalam suaranya. Semua tampak biasa saja.

Entah kenapa hati saya yang perih, rasanya seperti habis kena tendangan tepat di dada. Sejenak saya bingung harus mengatakan apa. Akhirnya saya katanya, “ya nggak gitu juga. Keluarga kamu di sini siapa? Maksudnya, kamu di sini tinggal sama siapa?”

Saya tergeragap ragu.

“Sama Om saya, Bu.” Suaranya masih mantap seperti sebelumnya.

“Nah, Om kamu itu keluarga kamu, kan.”

Anak itu mengangguk. Saya sendiri rasanya masih saja tercekat dan tak yakin dengan kalimat saya ucapkan barusan. Tapi anak itu mengangguk-angguk mendengar kata-kata saya. Dalam hati saya berdoa semoga kata-kata saya benar-benar membesarkan hatinya.

Siang itu saya ditunjukkan bahwa beberapa anak ternyata punya cara sendiri yang luar biasa untuk menyembunyikan kesedihan mereka.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Kayak Saya"

  1. wesiati  24 September, 2013 at 14:02

    JC : wong kebak dosa kuwi perasaane alus. wekekekeke… Mosok yo nek ana bocah uripe ketula-tula ketali ora ikut ngenes?

  2. J C  24 September, 2013 at 11:36

    Wesi, aku ikut terharu membaca ini…(dan yang heran, tak disangka ternyata perasaanmu sehalus ini… )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *