Sail Komodo 2013 dan Pelabuhan Aimere

Alfred Tuname

 

Sail Komodo 2013 sedang dirayakan oleh seantero masyarakat NTT dan bahkan seluruh dunia. Semua mata negeri nyaris tertuju pada event akbar ini. Event beraroma internasional ini berpuncak pada 14 September 2013 di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Presiden republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), bersama rombongan menteri Indonesia Bersatu Jilid II akan hadir pada event itu. Sail Komodo 2013 digadang-gadang menjadi momentum penting untuk mempromosikan pariwisata NTT.

Bahwa obyek pariwisata NTT terlalu indah untuk ketahui oleh masyarakat Indonesia dan seluruh dunia, bukan hanya varanus komodoensis. Wisata alam dan senibudaya sangat unik dan menarik. Setiap wisatawan yang mengunjungi tanah Flobamora pasti akan sangat berkesan dan hampir pasti akan kembali.

20130325sail_komodo

Akan tetapi, event Sail Komodo 2013 masih meninggalkan beban urusan dapur yang begitu legit. Event ini bahkan terlalu besar jika dibandingkan keteteran urusaan rumah tangga NTT itu sendiri. Boleh jadi, besar pasak dari pada tiang. Tiang-tiang fasilitas publik seperti jalan raya, listrik,air minum, terminal, dermaga, bandar udara, etcetera masih kocar-kacir dan terbengkelai. Aroma malpraktik kebijakan dan korupsi terlalu kuat menusuk hidung. Sementara, pariwisata membutuhkan kesiapan fasilitas pubik. Lalu, bagaimana mungkin pariwisata NTT akan bisa berkembang baik tanpa fasilitas publik yang layak?

Pelabuhan Aimere merupakan salah satu fasilitas publik penting di bumi Flores dalam kaitannya dengan pelayaran antar-pulau. Pelabuhan Aimere merupakan pelabuhan kapal feri yang mengangkut penumpang dan barang dari daratan Flores ke pulau Sumba dan Kupang. Rute pelayaran kapal feri Kupang-Flores, Flores-Kupang, Flores-Sumba, dan Sumba-Flores dijadwalkan masing-masing satu kali seminggu. Sebagai contoh, masyarakat Flores yang hendak ke Kupang hanya bisa belayar satu kali dalam seminggu, yaitu pada hari Rabu. Rute pelayaran seperti ini menimbulkan jumlah calon penumpang yang membludak. Tidak jarang, jumlah penumpang yang membludak itu terpaksa sebagian ditolak dengan alasan jumlah tiket penumpang yang terbeli melebihi kapasitas muatan kapal. Atau kapal feri harus delay sebab dibuat kebijakan mendadak pindah jalur pelayaran. Karena itu, penumpang yang berasal dari daerah jauh, harus bermalam berhari-hari untuk menunggu jadwal keberangkatan.

Penumpang yang berhasil membeli tiket pun tidak merasa aman dalam pelayaran ke Kupang. Mereka harus rebut-rebutan untuk mendapatkan kursi yang layak dalam pelayaran. Hanya sebagian saja penumpang yang berhasil mendapatkan fasilitas kapal yang layak. Selebihnya, penumpang harus membawa atau membeli tiket sendiri untuk beristirahat pada jalur-jalur kosong yang seharusnya digunakan untuk jalan. Tidak ada ruas-ruas deck yang kosong sebab semua terisi manusia dan barang. Akibatnya, setiap penumpang yang hendak ke kamar kecil, misalnya, harus melewati banyak tubuh penumpang yang sedang berbaring di koridor deck.

Bukan hanya calon penumpang yang ditolak, kendaran dan barang-barang dagangan dan ternak kadang harus mengantri berminggu-minggu menunggu jadwal keberangkatan. Kerugian waktu dan materi sering pula dialami oleh para pedagang dari daerah Flores yang akan berniaga di tanah Timor. Pedagang dan penumpang sangat sering dikecewakan oleh sistem pelayaran fery yang tidak memadai dan tidak layak bagi penumpang.

Sistem pelayaran fery yang tidak mengakomodasi penumpang dan barang-barang ekonomis seperti ini sering terjadi sejak pelabuhan Aimere diresmikan. Tidak ada kebijakan yang berarti untuk sebuah pelayaran feri penumpang yang lebih baik. Penumpang dan barang harus mengantri dan berdesak-desakkan di dalam kapal. Mahasiswa asal Flores menjadi begitu susah untuk berlayar menuju Kupang. Pedagang pun demikian. Terlalu banyak risiko yang harus mereka peroleh dengan sistem pelayaran feri pelabuhan Aimere-Kupang. Dengan teleskop kebijakan publik di atas, kita dapat melihat bagaimana kebijakan pemangku kebijakan yang semborono.

Inilah salah satu bentuk ironi event Sail Komodo. Sementara parawisatawan terpesona dengan keunikan tanah Flobamora, pemerintah daerah justru tidak memperhatikan nasib rakyat. Pemipin keciprat narsis dan bahkan ada yang kian bersinar dalam politik pencitraan. Rakyat Flobamora pada dasarnya tidak sedang menyambut perayaan Sail Komodo sebab eventitu tidak banyak melibatkan orang-orang NTT. Hanya orang-orang extra NTT saja-lah yang sedang mengeskploitasi dan memperdaya sumber-sumber daya alam dan budaya di NTT. Atas nama Sail Komodo, aktivasi eksploitasi itu semakin genjar dan berjamaah. Bagi rakyat kecil, Sail Komodo pun berubah menjadi “sial komodo”.

Sail Komodo tidak membawa dampak apa-apa bagi rakyat kecil selain efek megalomania para pemimpin lokal. Triliunan uang negara dihabiskan untuk pesta para pejabat sekaligus mendekatkan diri dengan para pejabat negara. Di situlah terjadi lobi-lobi politik dalam kerangkeng nepotisme di antara para pemimpin.

Sementara itu, pemimpin tidak pernah serius mengurus rakyatnya. Setiap pemimpin daerah berlomba-lomba membangun bandar udara tetapi tidak memperhatikan jalan penghubung antar kampung yang merupakan nadi ekonomi rakyat. Beberapa pulau kecil di sekitar Labuan Bajo sudah dijual kepada orang asing. Hotel dan hunian mewah dibangun sekitar tempat destinasi pariswisata beikut hak monopolinya. Orang Manggarai bBrat sendiri tidak punya akses ke tempat-tempat itu. Bandar udara Labuan Bajo “dipersolek” bukan untuk kepentingan rakyat Manggarai Barat atau Flores, tetapi untuk pencitraan sebab presiden SBY akan hadir di Labuan Bajo. Begitu juga dengan perbaikan jalan raya. Semua itu dilakukan karena event dengan tujuan pencitraan. Jadi, kebijakan publik hanya merupakan bagian dari politik pencitraan pemimpin, bukan karena kepemimpinan.

Fenomena ketidakbecusan kepemimpinan di NTT terlihat pada pelayaran feri Aimere Kupang. Menajemen pelabuhan di Aimere dan Kupang sangat tidak memuaskan para calon penumpang. Boleh dikata, sangat semrawut. Nepotisme berkeliaran di tempat ini. Zaman sudah maju dan modern tetapi warga NTT masih begitu susah menikmati pelayaran yang layak dan modern. Para awak kapal feri boleh bangga sebab menjadi “jembatan” antara pulau dalam semangat kebangsaan. Tetapi tidak berhenti di situ saja tentunya. Praktik“ekonomi kapal” ternyata juga ramai-ramai mereka rayakan. Fasilitas-fasilitas kapal yang seharusnya diberikan secara gratis kepada penumang justru diperjual-belikan. Dalam urusan bepergian dengan kapal laut, feri khususnya, masyarakat NTT semakin terhimpit dan “tertimpa tangga”. Lalu dimana para pemimpinnya? Mereka masih berpesta.

 

Kupang, 13 September 2013

Alfred Tuname

 

7 Comments to "Sail Komodo 2013 dan Pelabuhan Aimere"

  1. J C  24 September, 2013 at 11:32

    Yaaahhh begitulah…

  2. djasMerahputih  21 September, 2013 at 07:52

    Nice post…

    Sabar… sabar…

    Semua pesta akan ada akhirnya.. mari menunggu bersama saat-saat “Party is over” itu..
    Ibu Pertiwi tak akan diam saja…. alam memiliki logikanya sendiri…

    Salam Nusantara

  3. Dewi Aichi  21 September, 2013 at 02:49

    Eh maaf, komen no 4 bukan penyebab tertinggal ya wilayah dalam banyak hal ya…Indonesia kan sudah tau, pembangunannya belum merata, masih banyak tempat atau wilayah yang tidak dipedulikan Pemerintah pusat, bahkan yang dekat dengan ibukota saja masih ada wilayah yang belum ada aliran listriknya….

  4. Dewi Aichi  21 September, 2013 at 02:47

    Pak Iwan..orang orang cerdasnya pada keluar wilayah NTT , coba berapa banyak orang cerdas yang justru tinggal diluar NTT, saya punya 4 kenalan orang NTT yang tinggal di Brasil, lain state, hanya satu yang dekat dengan tempat saya dan sudah btemu sekali..mereka, saya tau, sarjana s3 yang menyelesaikan kuliahnya di usa, tetapi entah kenapa bisa nyasar ke Brasil.

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 September, 2013 at 02:37

    Oh…mengapa NTT tertimggal dalam banyak pembangunan infrastruktur disebabkan hal-hal seperti dalam artikel ini. Saya tidak kaget. Hanya terkejut.

  6. Linda Cheang  20 September, 2013 at 14:46

    selalu ada sisi positif dan negatif dari hal apapun, termasuk Sail Komodi yang bisa jadi Sial Komodo.

  7. James  20 September, 2013 at 14:37

    SATOE, Sail Komodo 2013

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.