Sepatu Tua

Tarsisius Sutomonaio

 

Aku kira ia tak kan protes sekeras ini setelah bertahun-tahun kami jalan bareng. Cukup lama kami menikmati romantika menyusuri jalan-jalan di Jakarta, Yogyakarta, lalu dua bulan terakhir menjejali beberapa tempat di Bandung. Dua tahun lalu, aku mengenalkan padanya kampung halamanku. Aku bangga bersamanya. Sampai-sampai aku selalu mengajaknya ke mana pun aku pergi.

Aku memang senang menggandengnya ke kantor, gereja, kos-kosan teman, dan sekedar jalan-jalan. Dia tak pernah menolak atau mungkin aku yang kelewatan tak mengerti bahasa diamnya. Tapi kami memang tak pernah bertengkar. Dia tak pernah marah saat kami terpaksa menyusuri jalan-jalan yang panas juga berkerikil, bahkan saat tiba-tiba kami mengejar angkot bersama.

Pernah sekali waktu, kubawa dia ke hutan dan meninggalnya di sisi air terjun. Mataku awas memastikan dia tetap di tempatnya dan dia tersenyum simpul. Kali ini, aku ingin jujur, sejujur-jujurnya. Aku sangat berterima kasih karena ia membuat telapak kakiku tidur nyenyak meski beberapa kali menempuh perjalanan sangat panjang. Aku juga minta maaf karena sering memaksakannya bermain futsal dan menerobos hujan serta genangan air. Padahal, aku tahu, temanku ini begitu alergi dengan hal-hal itu.

old-shoes

Edannya, aku nyaris tak pernah membersihkannya. Tak pernah kuberi krim “kiwi” kesukaannya, hingga ia berusia tiga tahun saat ini. Kini, ia mulai membiarkan kerikil menusuk tumitku melalui luka yang menganga di bagian punggung yang selama ini mengendongku. Beberapa bulan lalu, kuantar dia ke tukang sol, sekedar melakukan “operasi” dan jahitan kecil pada lukanya. Aku senang saat dia sembuh. Ia kembali kuajak jalan seperti saat ia muda dulu. Langkah kami serasi melewati jalan-jalan yang pernah kami lalui, pun jalan-jalan baru yang kelak kami kenang.

Tapi dasar sakit kronis (bukan jantungan saat hendak diadali), luka lama itu mulai terkuak lagi. Aku ragu apa ia bisa sehat kembali. Atau mungkin, memang, saatnya kubiarkan ia menikmati masa pensiunnya. Toh, tulang-tulangnya pasti mulai rapuh untuk memanggul badanku yang naik beberapa kilogram. Ia tentu tak sanggup lagi. Aku pasti selalu merindukannya. Karena itu, aku ingin pengganti di kakiku setegar sang “sepatu tua”.

 

June 13, 2011

 

4 Comments to "Sepatu Tua"

  1. Dewi Aichi  20 September, 2013 at 20:53

    Tarsisius …terima kasih sebuah renungan yang bagus…

  2. elnino  20 September, 2013 at 18:21

    Nice writing..

  3. chandra Sasadara  20 September, 2013 at 17:02

    bagus sekali, memberikan jiwa pada sepasang sepatu tua..
    terima kasih Tasisius..

  4. James  20 September, 2013 at 14:38

    SATOE, Sepatu Tua semakin enak dipakainya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.