Murca

Kurnia Effendi

 

Aku lenyap di sana

Dalam kerumun manusia, di tengah gerimis dan cahaya

 

Saling menghampiri antara yang nyata dan niskala

Saat beradu pandang dalam gigil dan nyalang: nyali terbang

Kucermati bahasamu yang sebagian melekat pada dinding candi

Lempeng yang bercerita: sejak luh, mani, darah, dan takdir

Insan yang memilih samsara, melangkah lurus menuju mahahening

 

Aku lenyap di sana

Di balik stupa, tangga gaib ke langit

 

Segala yang tumpah di atas tanah tumbuh sebagai tubuh

Untuk menerima, mengalami, merasakan, dan memahami

Selalu terbit sesal di ujung ajal, seiring cinta yang ingin kekal

Pesan yang terbang ke nirwana mungkin murca di perjalanan

Namun ada Mata yang sigap membaca bahkan sebelum aksara tertera

 

Aku lenyap di sana

Memusar tak tentu arah. Musnah

murca

 

Kurnia Effendi

 

4 Comments to "Murca"

  1. J C  24 September, 2013 at 11:36

    Wuuusss…hilang sudah…

  2. Handoko Widagdo  23 September, 2013 at 19:38

    Apa bedanya murca dengan muksa?

  3. Dewi Aichi  22 September, 2013 at 23:10

    Dahsyatnya bahasa sastra …

  4. James  22 September, 2013 at 15:34

    SATOE,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.