Tiga Sahabat (20): Pulang

Wesiati Setyaningsih

 

“Jadi gitu. Aku pikir benar juga kata si Lukito, selama Iyem masih di sini, nikmati aja situasinya. Enggak usah bete duluan.”

“Benar juga. Tumben anak itu waras.” Aji tersenyum. “Eh, tapi, benar kalian pergi ke dukun?” Aji tertawa.

Juwandi mengangguk.

“Lukito tuh. Gila tu anak.”

Aji terbahak. Juwandi tersenyum melihat temannya tertawa lagi setelah beberapa hari ini wajahnya murung.

“Kamu tertawa karena senang ada dukun yang bilang Iyem enggak akan ke mana-mana, atau ngetawain Lukito yang aneh itu?” tanya Juwandi.

Tawa Aji mereda. Ditatapnya Juwandi seolah berpikir.

“Dua-duanya,” Aji tersenyum. “Cuma aku kuatir. Iyem jadi suka ngelamun sekarang. Liat tuh.”

Mereka melihat Iyem yang sedang mengalirkan air selang ke arah tak jelas. Harusnya selang dialirkan ke tanaman di depannya, tapi dia melamun sehingga air tidak sampai ke tanaman yang dituju.

“Iyem!” teriak Juwandi memanggil.

Iyem tak bergerak.

“Yem! Iyem!” Juwandi berteriak lebih keras.

Iyem tergeragap. “Eh, apa?”

“Ngapain?”

“Nyiram.”

“Nyiram apa?”

Iyem melihat selang air yang dipegangnya. “Nyiramin tanaman.”

“Enggak tuh. Nyiramin apa? Tanamannya di mana, selangnya di mana..”

“Oh,” Iyem tersadar.

“Sini aja Yem! Kita ngobrol.” Juwandi menggeser pantatnya agar ada tempat di sebelahnya untuk tempat duduk Iyem.

Iyem mematikan air dan mengikuti ajakan Juwandi.

“Iyem mikirin apa?”

Iyem terdiam sejenak. “Iyem bingung mas Juwandi.”

“Kenapa?”

“Iyem belum pernah lihat uang segitu banyak. Tiba-tiba Iyem punya uang segitu. Untung kemarin sudah dimasukkan bank sama Mas Aji. Kalo enggak, bisa bingung sendiri Iyem. Kaya orang linglung.”

“Tarik nafas dalam, Yem. Biasakan dengan situasi ini. Memang semua di awal kali pasti bikin bingung. Tapi selanjutnya biasa aja.”

Iyem mengangguk. Aji ikut mendengarkan saja.

“Uangnya mau buat apa, Yem?”

“Itu dia. Masih bingung Mas. Banyak yang ingin dibeli.”

“Apa saja?”

“Iyem pengen beli perhiasan. Tapi Iyem nggak suka pake perhiasan. Terus gimana enaknya?”

“Ya jangan beli yang kamu nggak suka.”

“Kan kata Emak kalo pake perhiasan bisa kelihatan kaya. Iyem pengen keliatan kaya.”

“Ah cuma keliatan kaya, buat apa? Jadi Iyem yang biasa aja. Lebih nyaman buat kamu, nyaman juga buat orang di sekitar kamu.”

“Iya, ya.”

“Beli sawah gitu, Yem,” usul Juwandi.

“Iya deh. Iyem mau beli sawah aja. Juga kerbau.”

“Sapi juga, Yem.”

“Iya, sapi juga.”

“Ayam?”

“Enggak. Repot. Kalo kerbau sama sapi kan nggak terlalu ribet. Ada yang bisa dimintai tolong. Harganya mahal nanti kalo pas lebaran haji.”

“Benar juga.”

Aji diam saja mendengarkan Iyem dan Juwandi bicara. Matanya menerawang.

“Mas Aji mikirin apa? Akhir-akhir ini Mas Aji murung.” Iyem menoleh ke arah Aji.

“Takut kamu pergi dari sini Yem.” Juwandi yang menjawab.

“Oh, memang kenapa kalo Iyem pergi?”

“Pak Han jarang di rumah. Kalo Iyem pergi, siapa yang urus anak-anak hilang ini?”

Aji melotot ke arah Juwandi. Juwandi meringis.

“Nanti Iyem carikan ganti. Siapa tahu ada teman Iyem yang mau ikut di sini. Itu juga kalo Iyem jadi pulang dan tidak ke sini lagi. Kan Iyem sudah kaya sekarang.” Iyem tertawa lebar.

Aji mendengus. Juwandi tertawa.

“Iya, Iyem sudah kaya. Nggak pa-pa Yem. Kalo Iyem pulang nanti pas liburan kami yang ke sana. Boleh?”

“Wah, boleh sekali. Iyem senang dengernya.”

Tepat pada saat itu ada taksi berhenti di depan rumah. Seorang laki-laki setengah baya yang tidak terlalu tinggi keluar dari taksi, membayar, lalu mengeluarkan tas dari bagasi. Aji berdiri dan mendapati ayahnya.

“Papa pulang!” serunya gembira.

Juwandi ikut keluar dan menyalami Pak Handoko.

“Wah, ada kabar apa nih? Lama nggak ketemu kamu, Juwandi.”

“Iya, Om. Ada berita besar tuh tentang Iyem.”

“Iya, kemarin Aji kasi tau juga lewat sms. Ini nanti sekalian dibicarakan Iyem mau gimana.”

“Wah, bakal ada perundingan keluarga, nih. Saya pamit aja, Om.”

Pak Handoko tertawa. “Sebenarnya tidak usah pulang. di sini aja nggak pa-pa. Kamu kan keluarga juga.”

“Enggak, Om. Sudah hampir Maghrib. Nanti Ibu nyariin.”

“Oh, Ibu kamu masih nyariin kamu juga ya?” goda Pak Handoko.

Juwandi terbahak. “Masih Om. Limited edition soalnya. Mau bikin lagi udah nggak bisa.”

Giliran Pak Handoko yang terbahak.

***

Di meja makan Pak Handoko, Aji, Sekar dan Iyem duduk melingkar. Bekas makan malam sudah dibereskan Iyem dibantu Aji dan Sekar.

“Jadi gimana?” tanya Pak Handoko pada Iyem.

“Gimana apanya?” Iyem malah bertanya balik.

“Sekarang Iyem sudah punya banyak uang. Dulu kan Iyem bekerja di sini karena Iyem ingin menafkahi Emak di desa. Sekarang Iyem sudah tidak perlu kuatir lagi masalah uang karena di bank sudah ada uang seratus juga. Kami tidak bisa menahan Iyem di sini cuma karena kami butuh orang untuk mengurus rumah ini. Kami serahkan semua pada Iyem saja.”

pulang

Iyem menunduk. Aji dan Sekar menatap Iyem menanti jawaban.

“Gimana, Yem?” ulang Pak Handoko.

“Iyem..” Iyem mulai bersuara.

Aji dan Sekar tampak cemas.

“Gimana, Yem?”

“Iyem mau pulang besok, Pak Han. Sebenarnya Iyem memang ingin pulang sejak kemarin. Iyem pengen nungguin Emak. Iyem pengen santai-santai di desa. Makanya Iyem sudah memberesi kamar. Semua barang sudah Iyem masukkan kardus. Tinggal bawa aja.”

Pak Han menarik nafas dalam. Sebenarnya ada yang memberati pikirannya tapi tak hendak dia sampaikan.

“Ini mumpung Pak Han pulang, saya pamit dulu. Iyem juga tanggung jawab enggak mau pergi gitu aja. Nanti di desa Iyem carikan pengganti. Harapannya sebelum Pak Han pergi sudah ada pengganti Iyem. Jadi Pak Han bisa tenang pergi.”

Pak Handoko tersenyum. “Baguslah.”

Beliau lalu menoleh ke arah Aji dan Sekar bergantian. “Kalian gimana?”

“Sekar sih gimana Iyem ajah. Nggak bisa menghalangi kalo memang mau pulang. Memang berat kalo mikirin siapa nanti yang ngurus pakaian, urus rumah, urus makan. Iyem sudah hapal kebiasaan kita. Kalo ada pengganti juga belum tentu senyaman kalo saya Iyem. Cuma kan kita nggak bisa mikirin diri sendiri. Sudah saatnya Iyem mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.”

Sekar bicara panjang lebar dan berhenti ketika suaranya makin serak.

“Aji?” Pak Handoko menoleh pada Aji.

Aji cuma mengangkat bahu.

“Kok cuma mengangkat bahu. Rela enggak Iyem pergi?”

“Rela nggak rela, sih.”

“Kok rela nggak rela? Ya sama aja enggak rela, itu.”

“Ya, gimana lagi?”

Pak Handoko mengangguk lalu menatap Iyem. “Jadi gitu, Yem. Semua terserah kamu.”

Iyem mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Di sana Iyem menatap seluruh ruang yang selama ini sudah dia tinggali. Dipan kecil, lemari kayu, meja dan kursi kayu, lalu dus-dus berisi pakaian dan barang-barang yang dia beli selama ini.

Iyem mengusap meja yang biasa dia gunakan untuk menulis. Diraihnya buku tulis biru cap banteng yang telah mengubah jalan hidupnya. Lalu dibawanya buku itu sambil duduk di dipan. Diusapnya lembar paling depan dengan tatapan sedih.

***

Aji segera masuk kamar begitu Iyem meninggalkan meja makan. Diambilnya hape dan memencet nomor Juwandi.

“Ada apa Ji? Tumben malem-malem nelpon.”

“Ju, Iyem akhirnya pulang. Orang pintar itu bohong! Bohong!”

Tidak ada jawaban dari seberang sana.

“Ju!”

Tak ada jawaban juga. Dengan kesal Aji menutup telpon dan melemparkan hapenya ke pinggir tempat tidur lalu dia sendiri membanting tubuhnya di sana.

Malam semakin kelam.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Tiga Sahabat (20): Pulang"

  1. J C  24 September, 2013 at 11:36

    Terus? Piye iki kelanjutannya…

  2. Hennie Triana Oberst  23 September, 2013 at 20:37

    Iyem akan kembali lagi nanti “kata orang pintar”.
    Makin asyik nih ceritanya…seru…

  3. P@sP4mPr3s  23 September, 2013 at 08:45

    waduh….. ada gelagat buruk di cerita berikutnya…. juwandi akan ke tempat ku nih…. menanyakan tentang si orang pintar….

    wuuuiiiihhh…

    kabur dulu ahh… daripada ketangkep ama si juwandi

  4. elnino  22 September, 2013 at 23:26

    Aaaah…sediiiiih…huwaaaa….

  5. Dewi Aichi  22 September, 2013 at 22:52

    woooo…Iyem sudah kaya ya..pinjem duit dong wwkkww…bakal ditinggal pembantu nih keluarga pak Handoko, nanti semoga cepat ada penggantinya ….Iyem sudah sukses..banyak tawaran talk show ha ha…

  6. James  22 September, 2013 at 15:31

    SATOE, 3 Sahabat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *