Keajaiban Screen Saver

Wesiati Setyaningsih

 

Ciptakan realitamu lewat mimpi-mimpimu. Itu yang selalu dikatakan mereka yang sudah paham bahwa semua yang kita alami selalu berawal dari mimpi-mimpi. Bahkan karena saya tertarik dengan cara mencipta realita lewat mimpi-mimpi dari buku macam ‘Law of Attraction’ atau ‘The Secret’, saya berusaha menciptakan mimpi-mimpi saya dengan cara visualisasi. Caranya, saya kumpulkan gambar-gambar dari semua keinginan saya, lalu saya jadikan screen saver laptop.

Saya juga mengajarkan murid-murid saya membuat ‘dream book’ sebagai tugas di sekolah. Saya ingin mereka paham bahwa apapun yang mereka angankan bisa menjadi nyata. Dan hari ini, saya dihadapkan bahwa tanpa teori ini itu, asal seseorang tahu benar apa yang dia inginkan dan yakin, maka,“BAM!” Jadilah.

Ceritanya hari ini saya diajak ibu untuk hadir di rumah anak tetangga yang pamitan naik haji, diadakan di kompleks rumah mewah dekat rumah ibu. “Kemarin sampai dipesen-pesen suruh datang,” kata ibu. Saya dan keluarga tinggal cukup lama di rumah orang tua saya sebelum akhirnya pindah ke rumah sendiri. Bahkan sebenarnya saya belum pindah status penduduk ke tempat tinggal saya yang baru. Jadi kalau ada acara-acara seperti ini saya masih diundang.

Karena kebetulan saya sedang tidak ada acara, saya setuju. Sore tadi akhirnya saya berangkat bersama ibu-ibu di sekitar rumah ibu berbondong-bondong ke rumah tetangga yang akan berangkat haji tersebut. Segalanya sudah ditata rapi. Suami istri, pasangan muda pemilik rumah, yang akan berangkat berdua ke Tanah Suci menyambut para tamu. Kursi-kursi tertata rapi di jalan depan rumah mereka memanjang hingga depan rumah tetangga sebelahnya. Tenda putih dengan hiasan kain hijau dibuat rumbai-rumbai meneduhkan tempat duduk para tamu. Meja prasmanan sudah disiapkan di teras rumah mereka dan sebagian lagi di teras rumah tetangga.

Acara segera dimulai begitu kursi mulai penuh. Diawali dengan pembacaan Al Fatihah bersama-sama, lalu pembacaan ayat suci kemudian siraman rohani dari ustad. Kami memilih tempat duduk sesukanya. Ibu saya duduk di depan saya bersama ibu-ibu lain. Saya duduk di sebelah tetangga saya yang bekerja di perumahan tempat anak tetangga saya ini tinggal.

Sudah cukup lama Ibu ini bekerja pada keluarga di kompleks ini. Waktu itu beliau harus menyambung hidup karena suaminya pergi entah ke mana dan tak pernah mengirim sepeser uang pun. Pekerjaan sebelumnya di sebuah toko elektronik terhenti karena tokonya tutup. Kedua anaknya masih sekolah dan butuh biaya. Akhirnya beliau merelakan diri bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kompleks rumah mewah ini. Apapun kata orang diabaikan saja. Hidup harus terus berjalan dan omongan orang tidak akan menolong apapun.

Akhirnya anak-anaknya lulus SMA dan sudah mulai bekerja, tapi keluarga yang menggunakan tenaganya sudah terlanjur sayang dan beliau juga terlanjur suka bekerja di situ. Bagaimanapun sebuah pekerjaan itu sangat berharga. Apalagi anak-anaknya beberapa kali keluar dari tempat kerja karena memang pekerjaan yang mapan tidak mudah didapat. Kebutuhan hidup juga selalu ada. Kalau dulu bekerja karena harus membiayai anak sekolah, kini berganti dengan rencana menikahkan anak-anak dan itu butuh biaya banyak.

Mengisi waktunya di akhir pekan, Ibu itu ikut sebuah pengajian yang diadakan agak jauh dari rumah tapi dengan ustad yang beliau suka. Beliau juga masih tetap rajin ikut pengajian di kampung sendiri. Begitu banyak pelajaran untuk menjadi ikhlas dan itu sangat berguna untuk membuat beliau makin kuat menjalani hidupnya.

Suami yang bertahun-tahun tak pernah ada kabarnya tahu-tahu pulang meski tanpa pekerjaan yang layak dan nafkah yang jelas. Tapi ibu itu menerima saja dengan ikhlas. Kini mereka hidup bersama lagi. Kalau ada orang yang salut dengan bagaimana beliau menjalani hidupnya, orang itu salah satunya adalah saya.

Beberapa waktu lalu saya dengar bahawa rejeki datang pada beliau. Majikan tempat beliau bekerja di kompleks ini mengajak beliau untuk umroh! Ini kejutan. Beliau yang dipandang orang tidak punya kemungkinan berangkat umroh karena untuk menghidupi keluarga saja pontang panting, tiba-tiba akan berangkat umroh.

Saya teringat untuk menanyakan hal ini ketika ustad mulai ceramah.

“Njenengan (= anda dalam bahasa Jawa halus) berangkat kapan, Bu?”

“Februari tahun depan. Nunggu yang haji ini pada pulang.”

Saya mengangguk paham.

“Dari satu keluarga itu yang berangkat siapa saja?” tanya saya.

“Bosku berdua, sama anaknya satu. Jadi nanti di sana bapak (maksudnya si suami) sama ibunya (maksudnya istri), aku nemenin anaknya. Tadinya yang diajak anaknya yang sulung. Tapi karena tidak mau, aku yang diajak.”

Begitulah kalau sudah rejeki, tidak perlu dikejar, tidak juga bisa ditolak.

Ketika ustad mengatakan bahwa tetangga saya yang akan pamitan haji ini akan berangkat tanggal 2 Oktober nanti, saya berkata pada ibu ini, “Itu berarti Rabu depan, depannya lagi ya?”

“Ya Rabu depan ini, to,” tukas beliau.

Setahu saya Rabu depan belum berganti bulan, tapi saya tidak terlalu menanggapi. Akhirnya beliau mengambil hapenya. Hape biasa, bukan hape mewah dengan kamera atau yang bisa digunakan untuk internetan, yang masih mulus sampai saya kagum. Ternyata tangan satunya memegang kantong hape. Pantas masih mulus, pikir saya, lha dikantongin gitu. Beda dengan hape saya yang asal saja masuk saku jins bercampur dengan uang koin, atau dalam blus seragam kantor bercampur dengan bolpoin dan kunci motor. Alhasil hape saya sudah tergores sana sini. Saya malu hati melihat betapa beliau menjaga miliknya dengan hati-hati.

Saya kembali menyimak ceramah ustad yang memang cukup menarik sore itu. Tiba-tiba beliau menggumam lagi.

“Ini lho,” kata ibu tersebut sambil memegang hape dan membuka kalender. “Rabu besok, besoknya lagi. Oh iya.”

Dia menyadari bahwa saya yang benar. Saya mengiyakan saja. Beliau masukkan hapenya ke dalam kantong lagi. Sempat terlihat oleh saya di layar hapenya gambar Ka’bah yang penuh dengan orang dengan cahaya lampu yang bersinar di mana-mana.

kabah-kaba-beautiful-cities

Beberapa detik kemudian ketika hape itu sudah masuk ke dalam tas lagi, saya tersadar, itu kan cara yang paling sering dilakukan kalau seseorang ingin mimpinya terjadi. Menempelkan gambarnya di mana-mana yang bisa kita lihat, lalu meyakininya. Apapun situasi kita saat itu.

Tanpa teori macam-macam ibu itu membuat gambar Ka’bah sebagai screen saver di hapenya. Dan Februari tahun depan dia akan berangkat umroh. Seserhana itu. Sore itu saya diyakinkan bahwa saya tinggal melanjutkan semua yang selama ini saya percaya : ambil mimpimu dan yakini. Serahkan sisanya pada Tuhan. Selesai.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Keajaiban Screen Saver"

  1. Linda Cheang  26 September, 2013 at 19:41

    kalo mimpiku, kepingin injakkan kakiku di Roma. Kupasang lukisan Colloseum hadiah dari kawan di dinding kamarku.

    kelak 1 saat nanti aku akan beneran injakkan kaki di Roma.

  2. Dewi Aichi  25 September, 2013 at 21:51

    Duluuuuuuuuuuuuuuuuuu…banget, jauh sebelum suamiku mengenalku dan belum terpikir untuk menikah dengan orang Indonesia, semua dinding kamarnya ditempeli gambar2 surfing dan pemain surfing yang lokasinya di Lombok, Uluwatu, Padang-Padang dan beberapa pantai di sumatera…keinginan dia adalah 1 yaitu mengunjungi Indonesia….dan kesampaian, mengunjungi Uluwatu dan Padang-Padang…menyakskan beberapa temannya main surf di sana..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.