Legenda Pulau Giliraja (1)

Faiz Hasiroto

 

Pada suatu masa di kerajaan Soengenep (Sumenep) Madura, bertahta seorang Raja bernama Raden Rama. Raden Rama mempunyai putra laki-laki yang sudah menginjak dewasa bernama Raden Ahmad. Tumbuh sebagai Putra Mahkota, Raden Ahmad tentu menjadi perhatian tidak saja dari Raja dan Permaisurinya, tetapi harapan sebagai Putra-Mahkota yang mumpuni terbersit pula pada segenap Abdidalem Keraton Soengenep. Karena harapan, kelak Kerajaan Soengenep akan menjadi lebih baik apabila dipimpin oleh seorang raja yang baik dan berilmu tinggi pula.

Peta_Sumenep_Kepulauan

Dengan didampingi Permaisuri dan sejumlah menterinya, Raden Rama nampak sumringah melihat Putra Mahkotanya pulang saat libur sekolah datang. Kebahagiaan pun bertambah tatkala mendapati Putranya yang sudah beranjak dewasa itu, gagah, dan tampan pula. Maka tak sabar rasanya sang Raja ingin langsung bertanya, tentang apa saja ilmu yang telah putranya kuasai selama belasan tahun masa belajar ditempuhnya.

Hingga pada suatu hari…“Anakku Ahmad, beberapa hari ini Ayah dan Ibumu merasa sangat bahagia melihat keadaanmu, dan keberadaan kami semua disini, tak lain untuk mengetahui hasilmu belajar dari tempat yang jauh itu,” ungkap Raden Rama, membuka pembicaraan.

Sepintas Raden Ahmad melihat kearah datangnya suara…

“Iya, Ayahanda” balas Raden Ahmad singkat, sambil melirik kesekitarnya sebelum menundukan kepala seperti semula. Akan tetapi dari sikap dan roman mukanya, nampak sekali kalau Raden Ahmad menggelisahkan sesuatu.

 

Seorang Menteri pun memulai pertanyaan yang sudah disiapkan kepada Raden Ahmad sesaat setelah mendapat perintah isyarat dari Rajanya.

Namun sejumlah pertanyaan yang diajukan tak satu pun yang bisa terjawab dengan benar oleh Raden Ahmad. Hal ini menciptakan suasana di ruang pertemuan mulai tegang.

Hingga seorang menteri berikutnya bertanya, dari disiplin ilmu yang lain…

Tetapi tetap saja sang Putra Mahkota tak mampu menjawab, bahkan kali ini nyaris tanpa reaksi sedikit pun, kecuali tetap tertunduk dan keringat yang mulai menetes dari ujung dagunya.

 

Padahal konon, segala keperluan dan perbekalan untuk mencari ilmu, Raden Ahmad diijinkan mengambil sendiri oleh Ayah dan Ibunya, setiap kali pulang. Semua itu demi maksud kasih-sayang, sebagai timpal dari yang seharusnya di dapat Raden Ahmad, kalau saja ia mau belajar di lingkungan kerajaan dan mendapat pelayanan semestinya sebagaimana seorang Putra Mahkota. Tetapi, mendapat kenyataan anaknya jauh dari perkiraan dan harapan, Ayahanda pun tak terelak murka:

Dengan wajah yang terlihat memerah karena menahan amarah dan rasa malu, Raden Rama yang mulai renta itu bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Raden Ahmad.

Geram yang di kepal,langkah yang di hentak, dan tangan yang mengejang-kaku, menandai hardik sang Ayah kepada Anak tunggalnya itu, “Kamu tak akan pernah lagi kembali ke tempatmu belajar! Dan besok sebelum matahari terbit, aku tak ingin melihat tampangmu yang bodoh itu terlihat di istana ini lagi, pergiii…! Pergi yang jauh kamu dari Istana ini!,” lantang sang Ayah dengan suara bergetar memecah lengang isi ruangan.

Sejurus kemudian sang Raja menatap satu-persatu seisi ruangan, termasuk kepada Permaisurinya yang sedang bersedu-sedan…

”Ini Perintah!,” pungkas sang Raja sabelum akhirnya berbalik badan meninggalkan ruang pertemuan.

 

Menjelang pagi Raden Ahmad benar-benar meninggalkan istana. Dan atas perintah sang Raja pula, Raden Ahmad tidak boleh di kawal siapa-siapa.

Namun secara diam-diam Permaisuri memerintahkan dua orang pengawal pribadinya untuk membuntuti tujuan perjalanan Raden Ahmad, anaknya.

Raden Ahmad yang memang tak punya tujuan pengusiran, hanya melangkahkan gontai kakinya saja ke arah barat, menyusuri pantai sebelah tenggara Pulau Madura.

Dadanya masih terasa sesak oleh apa yang sedang terjadi, tatapannya kosong menerawang, jarak tempuh menjadi samar berbayang oleh airmatanya yang terus berlinang.

Raden Ahmad tidak merasa sakit-hati oleh keputusan Ayahandanya yang telah mengusir dirinya, namun Ia merasa menyesal harus berpisah kembali dengan orang-orang yang di cintai, dalam rentang waktu tak menentu kini.

Dalam pijak-langkah yang gamang, terbayang pula bagaimana harta benda orang-tuanya dihabiskan….

Terkenang juga bagaimana waktu belajarnya terbuang, hanya dipergunakan untuk jalan-jalan.

 

Petang menjelang, malam pun bersemayam. Tetapi Raden Ahmad tak juga bisa memejamkan mata, Ia hanya duduk termenung menghadap ke lautan sambil menatap pulau-pulau membentang berdekatan, yang terlihat begitu anggun di bawah cahaya bintang-gemintang.

Dalam benak Raden Ahmad kemudian timbul pertanyaan;”adakah pulau-pulau itu sudah berpenghuni manusia?.” Tetapi belum sempat Raden Ahmad berfikir untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, tiba-tiba sebuah cahaya sebesar mahkota, meluncur dari langit sebelah timur dan seakan mendarat tepat di atas pulau yang sedang di perhatikannya. Cahaya itu begitu terang cemerlang, sampai-sampai sinau cahayanya seperti menerpa dirinya yang jauh di seberang pusat kejadian.

Sejak peristiwa itu Raden Ahmad kemudian merasakan kantuk lalu tertidur begitu saja di atas pasir pantai.

 

Menjelang matahari pagi Raden Ahmad terbangun, bukan lantaran ia pulih dari penatnya setelah seharian berjalan menyusuri tepian pantai, tetapi karena ia kaget oleh kakinya yang basah tersapu ombak pasang.

Di saat itu pula Raden Ahmad dikejutkan oleh sebuah biduk yang mengayun di atas ombak menepi,tepat di depannya. Setelah di periksa,ternyata biduk yang telah ber”kater” itu sudah dilengkapi pula oleh sebilah dayung. Hal ini membuat Raden Ahmad langsung mengingat kejadian cahaya yang jatuh di atas pulau semalam. Lalu dengan sebuah biduk tersebut, segeralah Raden Ahmad berdayung ke halauan, ke sebuah pulau yang telah membuatnya penasaran.

 

 

Lepas tengah hari, sampailah Raden Ahmad di pulau tempat dimana sebuah cahaya di duga bersemayam.

Beberapa saat sosok Pemuda yang dalam pengusiran Ayahnya itu terdiam sambil memperhatikan sudut-sudut pulau yang rimbun oleh pepohonan dan semak-belukar.

Rasa penasaran yang terus mengusik, membuat Raden Ahmad tak mau membuang banyak waktunya. Sekali pun hari sudah semakin sore, Raden Ahmad memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan, yaitu menyisir keberadaan pulau yang masih berupa hutan itu dari tepian pantainya yang berpasir putih.

 

Keesokan hari, Raden Ahmad nampak begitu sangat kelelahan setelah semalaman mengitari tepian “alas-pulau”(hutan-pulau) itu. Hasilnya, Ia tetap belum menemukan apa yang di lihatnya dari sebrang.

Rasa haus dan perut yang mulai keroncongan membuat Raden Ahmad semakin merasakan letih yang teramat-sangat, dan untuk mencari sumber mata-air saja, dirinya seakan sudah tak sanggup melangkahkan kaki lagi. Ia hanya bisa duduk lemas bersandar pada batang pohon rindang di tepian pantai alas-pulau.

 

Tetapi ketika matanya hendak terpejam, berada antara tertidur dan terjaga, tiba-tiba Ia dikagetkan oleh hentakan suara menyeramkan yang bergelombang datang dari kedalaman hutan.

Mencoba bangkit Raden Ahmad malah terhuyung dan ambruk, terduduk kembali. Seketika itu pula segerombolan kera sebesar manusia-dewasa telah mengepungnya dari segala arah.

Dua diantara gerombolan itu mendekati Raden Ahmad yang lemah seakan tanpa daya. Sambil menampakan taring dan lototan mata merahnya, kedua kera tersebut menyerigai tepat didepan wajah Raden Ahmad. Raden Ahmad bergeming, membuat kedua kera tersebut semakin berani menyentuh dan mengguncang-guncang badan Manusia, tamunya itu. Bahkan salah-satunya menempeleng wajah Raden Ahmad, hal itu menarik perhatian kera-kera lain untuk semakin mendekat, lalu melakukan hal yang sama kepada Raden Ahmad secara bergantian.

 

Hari semakin sore, kera-kera besar itu masih dalam formasi mengepung Raden Ahmad yang tak berdaya. Kemudian sekonyong-konyong kedua Kera yang pertamakali mendekati Raden Ahmat, berlalu meninggalkan gerombolannya. Kedua Kera tersebut terlihat masuk kedalam hutan sambil berloncatan diantara lebatnya pepohonan.

Namun tak begitu lama berselang, seekor Kera yang jauh lebih besar muncul dari balik rimbun pepohonan, di susul oleh kedua Kera yang sudah tak asing lagi di mata Raden Ahmad.

Raden Ahmat terkejut, matanya sempat terbelalak karena kera yang satu itu belum pernah terbayang sebelumnya. Selain begitu besar, Kera yang satu itu mempunyai bulu yang sangat lebat istimewa, berwarna kuning keemasan, serta mempunyai bola-mata yang bening cemerlang bak intan-berlian.

Lalu kera-kera yang lain nampak menyingkir memberi jalan bagi Kera Istimewa yang tanpa basa-basi langsung menuju ke tempat Raden Ahmad berdiam. Mengambil ancang-ancang seperti kera-kera sebelumnya, Raden Ahmad terlihat membetulkan posisi duduknya, dan sebelum ayunan tangan dari mahluk- besar itu sampai di wajahnya, Raden Ahmad dengan sigap dan cekatan menangkis.

Kera-besar itu terkejut lalu mundur selangkah…”Kenapa kamu menangkis tanganku, padahal sebelumnya engkau tak melakukan itu pada murid-muridku,” tanya Kera-besar dengan sikap keheranan…

Sekarang berbalik Raden Ahmad yang kaget bukan kepalang, karena menyaksikan juga Kerabesar didepannya itu bisa berbicara seperti manusia. Namun sebelum pertanyaan pertama di jawab, Kera Istimewa sudah melontarkan pertanyaan kedua: “Siapa namamu, lalu kenapa bisa berada di tempatku ini,” tanyanya.

“Aku Ahmad…”Jawab Putra Mahkota yang di usir itu, dengan tenang. Namun sebelum R A melanjutkan jawabannya, Kera-besar itu sudah langsung memotong jawaban Raden Ahmad dengan pertanyaan berikut: ”Apakah kamu anak dari Raden Rama?,” sergahnya.

Lagi-lagi Raden Ahmad dibuat terkejut, karena ia tahu pula siapa nama Ayahnya.

Raden Ahmad dengan sikap terperangah mengangguk saja, sebagai jawaban atas pertanyaan tak nyana itu.

“Baiklah, sekarang ikuti aku… Aku sudah tahu siapa Pangeran, dan kenapa bisa sampai di tempat ini… Panggil saja aku Bu Adjah,” pungkas sang Kera sambil berlalu masuk kedalam hutan.

Raden Ahmad yang masih tampak kebingungan segera di bimbing oleh kedua Kera pengikut Bu Adjah, lalu menyusul masuk ke dalam hutan dikawal para kera lainnya.

 

Tujuh tahun sudah berlalu, Bu Adjah yang pertamakali oleh Raden Ahmad dianggap sebagai kera yang istimewa saja, kini dalam kehidupannya sudah menjelma sebagai mahaguru sekaligus orangtua yang memberikan kasih-sayang penuh kepada dirinya. Ilmu dan kemampuan Bu Adjah sebagai seorang guru sangat mumpuni, tak kalah dengan tokoh-tokoh mahaguru yang sakti mandaraguna di masalalu.

Bu Adjah pun terlihat puas mendapati Raden Ahmad telah berhasil menyerap ilmunya tanpa kesulitan berarti.

Hingga pada suatu hari, di saat Sang Guru telah berhasil melaksanakan upacara “Mandi Kembang Sebelas Rupa” untuk Raden Ahmad, sebagai penasbihan ilmu yang telah di turunkan dan telah dikuasai oleh muridnya itu:

Bu Adjah dengan mata berkaca-kaca, berkata kepada Raden Ahmad: “Baiklah anakku, sekarang sudah waktunya aku ijinkan engkau keluar dari pulau ini.

Tetapi engkau jangan dulu kembali kekerajaanmu, karena Ayahmu sebenarnya telah tiada. Ia meninggal karena sakitnya saat engkau baru tiba di pulau ini beberapa tahun yang lalu. Ibumu pun sedang menyesaikan semedinya di sebuah gua tempat para Leluhurmu biasa bertapa.”

Raden Ahmad sempat tergagap mendengar berita sedih dari gurunya itu, namun dengan segera dia dapat menguasai gejolak perasaannya.

Lalu sekonyong-konyong Bu Adjah mencabut beberapa helai bulu-hidungnya yang berwarna kuning keemasan, dan terlihat merumbai hampir menutupi mulutnya. “Bakarlah satu persatu helai-helai ini dari ujungnya, bila di suatu saat kamu terdesak dan membutuhkan kembali kepadaku.

Lalu ucapkanlah Mantra ini ketika helai pertama sudah engkau nyalakan,” seru Bu Adjah sambil mengucapkan mantra kepada Raden Ahmad untuk dihafal.

Tak lama berselang nampak sang guru melanjutkan wejangannya, “….. Raden Ahmad anakku, juga aku ingatkan dalam perjalananmu nanti, engkau jangan sekali-kali mandi di air yang bening tak mengalir.” Pesan Bu Adjah singkat, sambil beranjak dari tempat duduknya. “Ikutlah denganku..!” ajak Bu Adjah kepada Raden Ahmad, sambil berjalan menuruni tebing yang ada di belakang padepokan.

Sesampainya di bawah tebing yang berbatas langsung dengan pantai sebelah tenggara pulau, Guru dan Murid itu langsung memasuki sebuah gua.

Gua tersebut tidak asing bagi Raden Ahmad walau memasuki baru pertamakalinya. Sebab gua yang biasa disebut “Gua Panyantren” itu, biasa digunakan oleh gurunya sebagai tempat menyendiri, menyendiri yang kadang memakan waktu berhari-hari.

Gua yang apabila memasuki harus berjalan setengah jongkok itu, ternyata mempunyai ruang yang cukup besar di dalamnya.

giliraja

bersambung…

 

Note Redaksi:

Faiz Hasiroto, selamat datang dan selamat bergabung! Make yourself at home ya…semoga betah dan kerasan di rumah ini…ditunggu artikel-artikelnya yang lain. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkan Baltyra kepada Faiz Hasiroto…

 

7 Comments to "Legenda Pulau Giliraja (1)"

  1. Linda Cheang  25 September, 2013 at 10:33

    ada kelanjutan ceritanya, nggak?

  2. mawar09  24 September, 2013 at 22:46

    Selamat bergabung di Baltyra Faiz, terima kasih ceritanya dan ditunggu lanjutannya.

  3. Handoko Widagdo  24 September, 2013 at 18:35

    Terima kasih untuk ceritanya Fais. Selamat bergabung dengan warga Baltyra.

  4. Faiz Hasiroto  24 September, 2013 at 17:36

    trimakasih atas apresiasinya. Semoga sy masih bisa menghadirkan hal yang semacam, mengingat di madura (Kab. Pamekasan, misalnya) hampir tak ada secara kesejarahan tercatat oleh manuskrip atau pun inskripsi. Padahal Kab. Pamekasan pernah menjadi pemerintahan tersediri di masalalu selain menjadi bagian dari Keraajaan Soengennep. Sekali pun demikian, ternyata Sumenep dan Pamekasan khususnya, kaya dengan budaya cerita lisan hingga kini. Salam.

  5. Dj. 813  24 September, 2013 at 14:11

    Wadoh…
    Baru asyik-asyiknya baca, kok sudah diputus…???
    Terimakasih bung Hasiroto, ditunggu sambungannya.
    Semoga betah di rumah kita ini.
    Salam,

  6. J C  24 September, 2013 at 11:42

    Selamat datang dan selamat bergabung…

    Asik menyimak legenda Giliraja yang dulu belum pernah mendengar atau membacanya…

  7. James  24 September, 2013 at 11:27

    SATOE, Giliraja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.