[Serial Negara Kapitalis] Hari-hariku di Taman Farragut Square

Dian Nugraheni

 

Summer, jelas musim paling “berat’ yang kurasakan selama tinggal di negara 4 musim ini, Amerika, dibandingkan dengan musim-musim lainnya, Fall yang berangin kencang, atau Winter yang cantik dengan salju putihnya, atau Spring dengan hawa sejuk yang berbunga-bunga.

Di musim Summer, musim Panas, dari sekitar bulan Juni, hingga akhir Agustus, bahkan awal-awal bulan September nanti, hawa akan terus meningkat menjadi panas. Bukan hanya panas menyengat, tapi juga “humid”, di mana udara mengandung uap air dalam kadar yang cukup tinggi, hingga rasanya panas semakin menyesakkan, karena bagaikan masuk kamar sauna dengan uap air panasnya. Tak urung, bila sedang berjalan di udara terbuka, akan terasa sesak nafas pula.

Tapi tak ada pilihan lain, semua harus dihadapi dan dijalani. Apalagi anak-anak sekolah libur Summer  selama 104 hari. Setiap orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah akan sudah mempersiapkan sejak sebelum Summer, untuk membuat mereka “keep busy”. Yaa, mau ngapain libur puanjang seperti itu, selain akan bosan di rumah, juga bahaya membiarkan anak tanpa kegiatan positif. Bisa-bisa mereka hanya akan nonon TV atau internetan sepanjang masa liburan. Dan bagi anak-anak usia di bawah 13 tahun, dia tidak boleh tinggal sendiri di rumah, harus ada yang menjaganya.

Maka, si Kakak yang sudah 13 tahun, memilih mengikuti Summer School yang diselenggarakan sekolah Middle School di kota kami, Arlington. Sedangkan si Adek, yang baru 10 tahun, serba nanggung, bila harus ikut Summer School di sekolahnya, karena program ini usai jam satu siang, lalu selebihnya, pastinya dia perlu Nanny untuk menjaganya di rumah. Itu berati keluar uang lagi. Dan yang lebih susah, karena toh tak mudah mencari Nanny yang hanya kita “pocok” 2 atau 3 jam untuk menjaga si Adek di rumah, menunggu hingga aku, Ibunya, pulang kerja.

Akhirnya, aku putuskan untuk memasukkan si Adek di Summer Camp di sebuah Yayasan Sosial di Washington, DC, yang salah satu komitmennya adalah, “turning no one away due to the inability to pay (the program)”, jadi, bagi aku yang termasuk masyarakat low income di Amerika, tentu saja berhak mendapat “financial assistance” alias bantuan biaya untuk memasukkan si Adek di Summer Camp. Inilah salah satu keramahan Amerika untuk anak-anak khususnya. Mau miskin mau kaya, boleh masuk Camp ini dengan status yang sama. Dan aku berhasil memasukkan si Adek di Camp ini dengan biaya yang sangat terjangkau bagi kantongku.

Begitulah, setiap pagi jam 7.15 menit,  si Adek sudah kugandeng, dengan sedikit kuseret-seret agar cepat jalannya, karena harus mengejar kereta di Ballston Station, Virginia, Stasiun kereta terdekat dengan rumahku. Sampai di kereta, biasanya akan ada yang memberikan tempat duduk buat si Adek, dan dia meneruskan tidurnya di kereta barang 15 menit, dan kami akan turun di stasiun Farragut West, Washington DC.

Dari Farragut West, kami akan jalan sekitar 7 blok  melewati taman Farragut Square menuju YMCA*, Yayasan milik organisasi Kaum Kristiani yang menyediakan berbagai program dalam Summer Campnya, dari olahraga macam Rock Climbing, Renang, Basket, atau Art, membuat prakarya, kelas Konseling, dan masih banyak lagi.

Farragut_square

Setelah mengantar si Adek, aku akan setengah berlari menuju daerah Foggie Bottom di mana aku bekerja. Dari YMCA sekitar 10 blok. Tentulah sampai Deli, tempat kerjaku itu, aku sudah gemrobyos berkeringat. Kalau sudah begitu, aku akan ngadem sejenak di deretan cooler dekat kotak es krim…wuiih, suejuk rasanya…hixixixi…

Jam 4 sore, saatnya menjemput si Adek dari Camp. Kembali kutempuh 10 blok berjalan kaki, kemudian 7 blok berikutnya menuju Stasiun Faragut West. Jam 4 sore pun masih sangat benderang, matahari masih sangat panas, setara jam 2 siang di Indonesia ketika matahari garang memancar dari langit.

Sambil kugandeng si Adek, aku bilang, “Dek, pulangnya naik bis aja ya, biar ngirit…'” Yaa, naik kereta sekali jalan dari Washington, DC ke Virginia bisa bayar sekitar $ 2.65, kalau naik bis hanya $.1.50. Jarak tempuh sama, cuma waktu tempuh tentunya akan beda. Naik kereta hanya 15 menit, naik bis bisa 45 menit.

Si Adek hanya mengangguk. Anak ini memang hebat menurut ukuranku, aku sering “memujanya” dalam hatiku. Dia, capek kayak apa, tidak pernah mengeluh berlebihan, bahkan masih sering sempat menghibur aku, atau mengucapkan kalimat-kalimat indah dari mulutnya, “Mamah capek banget ya..?”

Atau, “ohh, Mamahku sayaaang…'” katanya sambil memeluk-meluk aku di jalan.

Atau, “Sini aku bawain tas Mamah, berat ya..?”

Kalau sudah mendengar kalimat-kalimat “sakti”nya, atau menatap wajahnya yang selalu menunjukkan penghiburan buatku, tentu saja berpuluh-puluh blok yang kutempuh dengan berjalan kaki di hari yang panas menyengat, akan luntur, berubah menjadi suatu yang sejuk yang datang dan bertahan dalam hati dan jiwaku.

“Nunggu bisnya di sini, Dek, di Taman Farragut Square…,” kataku.

Dan kami berbelok menuju taman, memilih bangku kosong yang dinaungi teduh pohon besar, dan menghindari pepohonan bunga, karena aku dan anakku ini alergi polen, serbuk lembut yang berasal dari kepala putik bunga. Apa pasal pula, dulu di Indonesia, toh bebungaan berpolen juga, kenapa nggak pake alergi ya..? Kenapa ketika di Amerika, serbuk-serbuk bunga itu pun menaklukkan kami, mengikuti “trend” masyarakat Amerika, ikutan alergi polen…, dan membuat hidung kami ngocor melulu…, benar-benar akan sangat mengganggu kalau sudah kena alergi polen ini, he…he…he……

Sebentar duduk di rindangnya naungan pohon, ternyata aku dan si Adek tertidur, sangat pulas. Aku terbangun gara-gara ada dua orang yang bercakap cukup ribut di sekitar bangku yang kami duduki. Dalam bahasa Inggris, satu lelaki dan satu perempuan berkulit hitam ini sedang berdebat sambil sedikit-sedikit tertawa terbahak. “Bagaimana aku tega menyuruh mereka pergi, lihatlah Gadis Kecil yang manis ini, dia tertidur dengan sangat damai bersama Ibunya di bangkuku…, ha..ha..ha..ha.., bangkuku ini memang sangat spesial..!”

Kemudia si perempuan menimpali, “Ya, sebaiknya kau mengalah sementara, biarkan mereka tertidur di bangkumu, mereka hanya tidak tau.., mereka juga kelihatannya kecapekan…”

Setelah aku terbangun, mencoba menilai keadaan. Tengok kanan, kulihat dua buah koper pakaian dan banyak barang lain diparkir di situ. Dan dibangku tepat di seberangku yang hanya berjarak 2 meter, kulihat dua orang yang bercakap cukup ribut tadi.

Melihat aku sudah bangun, Sang Lelaki berkata, “Tak apa, Madam..istirahatlah.., meski.., sebenarnya itu bangkuku. Semua orang tau, petugas taman pun tau, itu bangkuku..,” katanya..

Woahh, aku segera tersadar bahwa Sang Lelaki ini adalah salah satu  Kaum Homeless, kaum tak punya rumah yang sehari-harinya tidur di taman ini. Koper-koper di sebelah bangku itu tentulah miliknya. Dan Taman Faragut Square memang terkenal Taman yang banyak Homelessnya. Jangan-jangan dia Sang Penguasanya…hmmm….

“Ohh, maafkan kami. Kami nggak paham kalau ini bangku anda. Sebenarnya kami hanya akan menunggu bis Nomer 38B tadi, tapi kami tertidur…” kataku.

“Ha..ha..ha.., sudah lima buah bus 38B datang dan pergi ketika kalian tertidur,” katanya.

“Yaa, maafkan kami….,” kataku lagi. Aku segera membangunkan gadis kecilku yang tertidur sambil mengulum jari-jarinya, itu memang kebiasaannya sejak bayi.

Si Adek terbangun, “Dek, pindah sana yok, di bangku dekat halte itu, ini bangkunya si Bapak, dia akan pakai…,” kataku.

Si Adek tergeragap, tapi segera tersenyum, “Oke, Mamah…” Segera si Adek mengemasi barang-barang bawaannya. Sebelum pindah bangku lain, tak lupa aku ucapkan terimakasih pada “Pemilik Bangku” itu…he..he…

Di bangku lain, sambil menunggu bus datang, aku keluarkan kue-kue kering dan kacang goreng yang sengaja aku beli di warung tadi, kami nikmati semilir angin yang cukup ramah menemani hari panas sore ini. Kue-kue dan kacang goreng itu bukan buat aku dan anakku, tapi kami remah-remah dan disebarkan di depan kami, maka burung-burung akan datang berebut remah-remah itu. Dan kacang goreng ini khusus buat Squirrel, si Tupai yang gampang dijumpai di sekitar pepohonan, bahkan di tengah kota metropolitan macam Washington, DC ini sekali pun. Dan Squirrel ini bagaikan kucing liar di Indonesia, mau saja mendekat bila kita kasih makanan.

Farragut_square_from_southeast

Tak terasa waktu berlalu, sudah 2 buah bus nomer 38B yang lewat kami abaikan, karena kami masih asyik bercengkerama dengan burung dan tupai. Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, kali ini kami benar-benar beranjak pulang ketika bis datang, saatnya meninggalkan DC menuju Virginia. Itu berarti sudah sekitar 1.5 jam kami tertidur dan bermain di Taman Faragut Square…..

Dan besok-besok pun, InsyaAllah kami akan masih banyak mampir berteduh di Taman Farragut Square, baik untuk menunggu bus 38B, atau sekedar bercengkerama bersama burung dan tupai…

Salam bermain dengan Burung dan Tupai…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Selasa, 26 Juli 2011

(Ketika panas Summer selalu luntur oleh kasih dan sayangmu, Anakku…)

 

5 Comments to "[Serial Negara Kapitalis] Hari-hariku di Taman Farragut Square"

  1. J C  27 September, 2013 at 08:26

    Dian, baca keseharianmu di rantau memang selalu asik, menyentuh dan sarat pesan… salam untuk bocah-bocahmu yo…

  2. Mawar09  26 September, 2013 at 23:30

    Dian : saya juga disini jadi alergie terus, terutama polen dari pohon besar kalau dari bunga2 di tamanku ngga gitu. Terima kasih ya artikelnya.

  3. Linda Cheang  26 September, 2013 at 19:51

    apa karena pola hidup kelewat bersih, jadi mendadak alergi serbuk sari, ya?

  4. Sierli FP  26 September, 2013 at 14:40

    Huk..huk..huk terharuu..so sweeettttt….mbrambang aku mba, baca artikel ini..

  5. James  26 September, 2013 at 12:44

    SATOE, Farragut Square

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *