Sing Waras Ngalah, Sing Lawas Waras

Fire – Yogyakarta

 

“Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
Ku telepon di rumahmu sedang apa sayangku
Ku harap engkau mendengar
Dan katakan rindu”

Kalo malam minggu ndengerin lagu ciptaan almarhum Gombloh tadi sambil bergaya di depan cermin sebelum apel ke rumah si dia, boleh juga sih … Asal jangan menunggu sampe selesai lagu soalnya ujungnya nggak happy-ending … “Ku gadaikan cintaku ….” Yakkk .. masih untung ketimbang kugadaikan radioku …

R1

Saya masih ingat, dulu sesakti apapun Brama Kumbara, Gardika, Panglima Ringgit, atau Patih Gotawa, tetapi bila Kang Mitro “mau lewat”, maka mereka semua harus menghentikan dulu pertarungannya, tak peduli sudah sampai adu ajian Serat Jiwa tingkat berapa-pun.

R2

“Oalah … Kang Mitro iki nggedebus omonge …. “ Begitu potongan dari iklan obat flu yang populer saat itu. Gara-gara “ulah Kang Mitro” ini pada saat itu kalo ada teman yang omongannya dianggap membual maka akan dikomentari, “Halahh … Mitro ….” Jadilah “mitro” = “ndobos”. Padahal bukan salah Kang Mitro, bisa saja kontroversi hati dalam situasi labil ekonomi mengalami konspirasi kemakmuran akibat ketiadaan harmonisisasi … Halah .. halah .. boso opo iku mbulet tenan .. kakean nonton infotainment … Wis balik ndengerin radio maneh ….

R3

Waktu era sehabis Saur Sepuh, muncul sandiwara radio Misteri Nini Pelet. Awalnya saya demen ndengerin ceritanya, tetapi gara-gara suara ketawanya Nini Pelet itu kental dengan nuansa spooky, saya nggak lanjut lagi ndengerinnya.. lagian ketawanya panjang banget … Sepertinya suara ketawanya Nini Pelet cukup manjur bagi yang lagi diet untuk mengurangi nafsu makan ..

R4

Mungkin priyayi jaman dulu mengisi sore hari duduk berdua sambil mendengarkan radio. Saat dulu saya keranjingan Saur Sepuh, mau sambil tidur , mau sambil makan, radio terus dideketin. Sebenarnya saya cuma beda dikit dengan Brama, kalo Brama Kumbara adalah Satria Madangkara, sedang saya adalah Satria Madang Sego …

R5

Dulu tahun 80-an, kita masih sering titip pesan (kadang plus lagu) lewat radio. Kalo lewat telpon, tentunya mesti sedia 50 perak buat telpon umum ke stasion radio. Kakakku malah sengaja pulang sekolah langsung mampir ke stasion radio, dan ngisi formulir pesannya di sana. Waktu itu isi pesannya, ya semacam, “Dari Bobo, buat Nirmala, Coreng, Ucrit, Usro, Cuplis, Den Kendar, Ableh, ….” (diabsen semua teman sekelas, pokoknya kalo dibaca semua bisa-bisa napas penyiarnya perlu diisi-ulang dulu). Setelah nitip pesan, nanya, “Jam berapa dibacakan?” “Mulai jam 2 siang Dik”. Di rumah ndengerin dari mulai jam 2, nggak peduli mau BAB sekalipun radio dibawa ke kamar mandi, kuping dipanteng terus dengerin nggak sedetikpun ada yang terlewat, sekedar untuk pesan yang akhirnya tiga jam kemudian dibaca, nggak lebih dari semenit …. Tapi rasanya puas bener pesannya udah dibacain … Besoknya di kelas nanya, “Hoiii … kemarin aku kirim pesan di radio … Ada yang denger …?”

R6

“Sampurasun … ” “Rampes ….” Gara-gara Saur Sepuh bunyi ucapan salam ini jadi nge-trend. Meski terus terang waktu jadi pilem saya agak kecewa tokoh-tokohnya nggak sesuai imajinasi saat ndengerin radio, masak Brama Kumbara kok posturnya cungkring? Untungnya sosok Lasmini yang diperankan Murti Sari Dewi sesuai dengan angan-angan saya … Sstt … angan-angan opo…?

R7

Pembacaan cerita berbahasa Jawa oleh Abbas CH, adalah salah satu favorit saya. Tak bosan saya mendengarnya, mungkin karena tak banyak dipotong iklan yang sering membanjiri sandiwara radio seperti Tutur Tinular atau Babad Tanah Leluhur. Masak baru saja Arya Kamandanu dengan pedang Naga Puspa-nya hendak berbenturan dengan aji Segoro Geni-nya Mpu Tong Bajil, kok tiba-tiba “ada yang mencret” atau “ada yang gatal kakinya” …

R8

Kalo masa Orde Lama pernah ada kisah musik yang dicekal karena dianggap cengeng, maka pada masa Orde Baru, sempat juga kehilangan suara Betharia Sonata yang sedang melengkingkan, “Pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku ….” Kurang tahu apakah Pak Menpen waktu itu melakukannya juga sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden ….

R9

Nggak cuma lagu yang dianggap cengeng saja yang kena cekal. Dulu pernah populer lagu dari grup PMR (Pengantar Minum Racun) yang syairnya dianggap ngajari jelek. Tetapi meski sudah nggak diputar di radio, tetap saja lagu tersebut berdentam di angkot, karena banyak sopir yang demen nyetelnya. “.. . ini lagu .. lagu lagu an… judulnya pun.. judul judulan … maaf ya neng… ini kan cuma maenan… Torerojing torejing torejing.. Torerojing torejing …

R10

Di antara sandiwara-sandiwara radio waktu itu, yang saya pikir paling panjang mungkin hingga ribuan episode adalah yang judulnya “Butir-butir pasir di laut”. Gimana nggak panjang? Kalo mau ngitung butir pasir di laut kapan selesainya? Taon piro?

R11

Selain adu kesaktian, pendengar radio juga bisa merasa gemas pada Baskoro “si kucing buduk” yang playboy, beradu lihai dengan tokoh antagonis Sasongko, di sandiwara radio Ibuku Malang Ibu Tersayang. Ketinggalan satu hari saja dari drama penuh intrik karya Edi Suhendro ini, hari berikutnya ndengerin sudah bingung, soalnya ceritanya nggak lempeng …

R12

Begitulah teman-teman, melihat sosok radio-radio lawas yang dipamerkan di gedung Bentara Budaya sore itu, membawa kenangan ke masa lalu. Saat batere radio saya cepat habis karena radio sering dipanjer sampe pagi, soalnya kita sudah bobok tapi radionya masih bicara sendiri …. Saat ayah menaruh radio di atas tipi untuk “numpang” antene tipi, agar radio bisa menjangkau siaran VOA, BBC, dan ABC. Saat nguping orang sedang ngebrik yang nyasar di radio. Saat kami bergembira karena berhasil mendapati stasion radio yang menyiarkan cerita Saur Sepuh lebih awal ketimbang yang lainnya, sehingga di sekolah bisa ndobos duluan kelanjutan cerita yang teman lain belum pada tahu.

R13

Siapakah gerangan wanita di depan corong radio ini? Apakah dia penyiar yang sesuatu banget ataukah penyanyi yang suaranya cetar membahana?

R14

Ah sedap sekali penataannya, apalagi kalo leyeh-leyeh sambil ndengerin suara Ki Manteb Sudarsono, “Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap ….” Pancen oye …

R15

Ahay … Radio yang ini tutup speakernya mantap betul … Kira-kira bisa dipake buat jungkatan nggak ya?

R16

Bagaimanapun dowernya Mick Jagger, bibir pentolan Rolling Stone itu masih tetap kalah dengan yang ini …

R17

Ini betoel-betoel iklan jadoel. Apa terjemahannya ya? Jangan-jangan bunyinya begini, “Piye kabare, Bro, isih penak jamanku tho?”

R18

Lebih “senior” yang manakah, radionya apa tiang lampunya?

R19

Dalam posisi wuenak di sini, afdolnya ndengerin sambil ikut rengeng-rengeng, “Yen ing tawang ono lintang cah ayu … Aku ngenteni randhamu …”

Pletakk … tiba-tiba ada irus mendarat darurat …

R20

Biarpun di tempat nyaman begini, kalo yang didengar sandiwara radio Trinil, ya bisa sulit merem … “Trinil ….. Trinil ….. balekno gembungku Nduk ….”

R21

Jebrettt … Nggak mesti di sofa empuk, selonjoran disini juga nikmat, boleh mlumah, tapi jangan mbegagah. “Para pendengar yang berbahagia maupun yang sedang tidak berbahagia, dimanapun berada. Berikut harga sayur-mayur di Pasar Inpres: kol gepeng, kol mlenyek, wortel tanpa daun, wortel tanpa bentuk, cabe keriting, cabe kriwil, cabe re-bonding, kentang ukuran abc …”

R22

Sinar mentari sore ini menembus suara dari masa silam.

R23

R24

“Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka …”

Tapi lihat ini saya malah jadi ingat iklan legendaris yang selain muncul di radio juga kerap tampil di bioskop sebelum pilem diputar, kurang-lebih potongan dialognya:

“Dik, kalo di Jogja tidak boleh buang sampah sembarangan …”

“Lho, tapi Pak Kusir, itu tadi kudanya kok buang kotoran di jalan …”

“Iya .. ya … Loh .. tapi kuda kan binatang …”

R25

Kelihatannya inilah sosok para “junior” untuk kurun waktu tersebut. Saya ingat dulu waktu kecil suka iseng mainin narik-narik antene radio, sampe ada yang ujungnya copot. Nah, waktu antenenya saya tekan masuk ke dalam memendek, setelahnya saya bingung gimana narik keluarnya lagi …

R26

“Tuning itu apa sih maksudnya?”, begitu tanyaku dulu pada kakak, sewaktu melihat-lihat tombol radio yang kami punya.

“Untu kuning”, jawab kakakku ngasal saja.

“Lho kok bisa?”, tanyaku nggak percaya.

“Kalo keseringan ndengerin radio ntar untumu kuning …”,

“Hayahhh … mitro ….”

R27

“Kresekk … Kresekk … Putar kanan dikit … Putar kiri dikit …” Begitulah seni mendengarkan radio, ada yang berdekatan, ada yang berhimpitan. Putar kanan dikit ketemu Mantili, putar kiri dikit ketemu Mak Lampir …

R28

“Masih bisa diperbaiki, nggak, Pak?”

“Masih …”

“Ini umurnya sudah tua banget lho … Dari jaman saya belum lahir …”

“Jangankan yang lebih tua dari saya, yang seumuran buyut saya, juga masih bisa diperbaiki …”

R29

Para jawara service radio lawas, sigap memperbaiki bermacam radio berkategori ABG, Angkatan Buyut Gue. Sepertinya saya juga bisa sih kalo cuma untuk urusan bongkar-pasang radio, tapi hanya terima bongkar, tidak terima pasang …

R30

Bapak ini sepertinya sedang berpikir keras, bagaimana cara memperbaiki kerusakan radio. “Ah, coba istirahat sebentar sambil nyaut sego kucing di Raminten, siapa tahu dapat wangsit …”

R31

Gimana ya kalo semua radio ini dinyalain bareng-bareng. Kalo gelombangnya beda-beda bisa kayak gini ceritanya:

“Selamat pagi, ibu-ibu di rumah, kali ini kita akan belajar memasak dengan mempergunakan …”

” …. ajian Serat Jiwa tingkat kesembilan, untuk itu Brama segera mempersiapkan ….”

” ….. shuttle cock, pengembalian dari Han Jian terlalu tanggung, ya saudara .. saudara … langsung di-smash oleh King dan masuk ke …. “

” …. dalam panci. Sambil menunggu, wortel diiris kecil-kecil dengan menggunakan ….”

” …. Pedang Setan. Ciat … ciat … Tring …. Mantili turun dari kuda sebelum musuhnya melakukan …..”

” …. permainan net. Liem Swie King terus mengejar perolehan angka Han Jian … Lakukan service pendek saja .. arahkan ke … “

” …. dalam wajan. Kecilkan sedikit apinya agar masakan kita tidak …. “

” …. gosong terkena pukulan Brama. Gardika belum mau menyerah sehingga terjadi ….”

” … pergantian service, wasit memberi peringatan pada Han Jian untuk segera melanjutkan …”

” …. menanak nasi, setelah itu kita potong-potong daging dari …….”

” … Rajawali Sakti, terbang mendekat memenuhi panggilan Brama, dan mendarat di ….”

” …. bidang permainan sendiri …. saudara-saudara … game point untuk Liem Swie King ….. King siap melakukan service, tapi Han Jian meminta pergantian ….. “

” …. minyak goreng, agar masakan tetap sehat, tambahkan secukupnya beberapa ….”

” … prajurit Kuntala …. Pasukan segera bergerak mengepung …”

” …. penjaga garis, tetapi wasit memutuskan bola keluar dan angka bertambah untuk Liem Swie King, Han Jian mencoba melakukan protes karena … “

” …. nasinya belum matang …. “

 

(selesai, batrenya habis semua …)

R32

Baiklah teman-teman, kutitipkan artikel ini, rawatlah baik-baik jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat … tringg… tringg …

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

34 Comments to "Sing Waras Ngalah, Sing Lawas Waras"

  1. Lani  3 October, 2013 at 14:19

    KANG GENI : apakah sdg jadi pemandu wisata masuk ruang pamer radio, gramaphone?????

  2. EA.Inakawa  28 September, 2013 at 00:52

    wah senang sekali melihat koleksi Radio Antik ini………dalam beberapa kesempatan saya suka mencarinya dipasar loak Afrika, salutttttt

  3. Chandra Sasadara  27 September, 2013 at 14:55

    ingat radio Cawang milik bapak yang tiap malam dengarin wayang kulit dari RRI Pati, Rembang, Tuban, Tayu, Bojonegoro dan Surabaya..

  4. elnino  27 September, 2013 at 10:34

    Buto, Zuraida itu tokoh di Butir2 Pasir di Laut itu toh?

    Dewi jadi Lasmini mah salah casting. Cungkring. Sekali bettt…ngglangsar sak nalika. Cocoke untuk Iyem yang badannya sehat sentosa..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.