Solahudin si Petualang

Tarsisius Sutomonaio

 

Tanggal 21 Juli 2011, saya bertemu dengan seorang teman baru. Namanya Solahudin asal Tasikmalaya. Usianya baru 25 tahun, 3 tahun lebih muda dari usia saya. Dia tidak termasuk golongan orang pintar atau cerdas. Maklum, dia mengecap dunia pendidikan hanya sampai kelas dua sekolah dasar (SD). Jauh di bawah status sarjana yang saya raih.

Tak adil memang mengukur tingkat kecerdasan seseorang hanya dengan menilik sejarah pendidik formalnya. Kenyataannya, Solahudin memang begitu. Tidak percaya?

Saya punya bukti tentang ini. Solahudin pernah memamerkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) kepada saya. Ia mengaku punya motor hadiah dari seseorang. Ia lalu menunjuk jadwal pembayaran pajak motor itu. 10 September 2011, demikian tertera di STNK itu. Kami pun terlibat dalam pembicaraan kecil.

“September bulan sepuluh ya,” Solahudin mulai bertanya.

“Bukan. Bulan sembilan.”

“Berarti, sebelum Lebaran dong.”

“Bukan. Lebaran kan akhir Agustus.”

“Agustus itu kapan? Saya puasa dua minggu lagi.”

“Sekarang bulan Juli. Bulan depan Agustus lalu September.”

“O.. Berarti, saya bayar pajaknya setelah lebaran, ya.”

Saya punya bukti lain lagi meski tak ada sangkut paut dengan pendidikan. Solahudin tidak tahu bagaimana pakai deodorant.

“Bagaimana cara pakainya?” ia bertanya lagi.

“Di ketiak, sehabis mandi biasanya.”

“O, begitu.” Lantas Solahudin membuka tutup deodorant itu dan mengoles deodorant itu di bajunya. Persis bagian ketiak.

“Bukan begitu. Bajumu dibuka lalu gosokkan deodorant itu di ketiakmu.”

“Iya. Saya baru pertama kali punya ini.”

Saya tersenyum geli dengan dua kekonyolan Solahudin tadi. Jangan salah sangka dulu. Saya tidak sedang meremehkan Solahudin. Bahkan, saya berharap, dia hanya pura-pura bodoh. Kalaupun Solahudin benar-benar tak mengerti dua hal itu mungkin itu hanya kepolosan. Bagian lain dari cerita hebatnya.

Solahudin pernah kena polio, pada usia 3- 6 tahun. Kakinya mengalami lumpuh. Namun, justru dari situ cerita Sohahudin berawal. Ia dan kedua orang tuanya bernazar. Jika Sohahudin sembuh, Sohahudin bakal bersepeda keliling nusantara. Tekad yang luar biasa. Saya pun mulai kagum lantaran belum punya tekad sebesar itu. Mungkin hanya sedikit orang seperti Sohahudin.

adventurer

O iya, polio itu penyakit ganas lho. Setidaknya, itu yang saya dapat ketika berselancar di internet, Begini kata website itu:

Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan.  http://id.shvoong.com/

Nah, Solahudin melawan penyakit itu bukan dengan keluhan tapi dengan tekad besar. Bocah lemah dan lugu yang yakin bisa menjadi sangat kuat. Saya berharap, dia bukan orang paling kuat yang pernah saya temui. Namun, sementara ini dia orangnya. Solahudin yang ingin sembuh total dengan nazar edan.

Akhirnya, Solahudin sembuh tapi masih terlalu belia untuk berpetualang sesuai nazarnya. Masih tujuh tahun. Namun, keluarganya membingkai nazar itu dalam benak dan hati mereka. Ketika Solahudin berusia 18 tahun, barulah keluarganya merestui pemuda ini menjalankan nazar.

Saat itu tahun 2004. Solahudin belum punya sepeda dan tak bisa membeli sepeda lantaran lahir dari keluarga kurang mampu. Tapi tekad tetaplah tekad. Solahudin tak kurang jalan keluar. Keluarganya melaporkan niat dan nazar itu kepada ketua RT dan ketua RW di lingkungan keluarga itu menetap.

Proposal itu melewati perjalanan panjang dari kepala desa, camat, bupati, dan akhirnya gubernur. Sebulan kemudian, Solahudin mendapatkan sepeda gratis dan langsung menuju Indonesia bagian barat. Ia berpetualang ke daerah-daerah di pulau Sumatera. Ia mengaku terpaksa tiga kali tidur di hutan karena kemalaman saat menempuh perjalanan menuju ke kota. Pemuda ini mengatakan tak pernah khawatir dengan situasi itu. Mantap!

Solahudin bercerita pernah dicegat beberapa orang saat melintas satu kota di Palembang. Ternyata, mereka itu penodong. Mereka, kata Solahudin, membonggar semua barang bawaannya tapi tak sepeser uang pun mereka temukan. Malah Solahudin yang tak malu meminta bantuan siapa pun, termasuk penodong. Akhirnya, ia menerima uang senilai Rp 50.000 pemberian para penodong itu.

“Saya bilang tidak punya uang dan cerita kenapa saya bersepeda dengan banyak bawaan,” kata Solahudin mengenang masa itu. Kelompok itu hanya meminta doa dari sang petualang. Bukan doa mohon sukses menodong tentu saja. Melainkan mohon doa agar bisa berganti pekerjaan dengan yang lebih baik. Saya sedikit terharu dan geleng-geleng kelapa di bagian cerita ini.

Ternyata, bukan itu cerita terburuk Solahudin. Ia mengaku mengalami kesulitan besar saat berada di Papua. “Nyamuk besar-besar, nyamuk malaria. Orang di sana hampir semua makan daging babi,” ujarnya sambil tersenyum.

Ada satu kisah yang membuat saya malu. Solahudin juga pernah berkeliling di pulau Flores, tempat asal saya. Ia bercerita tentang Nusa Bunga itu dari ujung barat ke ujung timur dan ujung utara ke ujung selatan. Saya hanya mengangguk karena sebagian besar tempat-tempat yang diceritakan itu belum saya kunjungi. Saya hanya nyambung pada bagian yang saya tahu dari bacaan dan hasil berbagi dengan teman-teman dari Flores sebelumnya.

Lucunya, teman-teman sekantor mau cross check cerita Solahudin itu kepada saya. Terpaksa sekali saya harus jujur dan menanggung malu besar. “Solahudin jauh lebih tahu tentang Flores daripada saya,” kata saya saat itu. Teman-teman saya sontak tertawa dan wajah saya memerah.

Suatu saat, Solahudin memamerkan betis dan pahanya yang berotot. Tentu saja, salah harus mengalah daripada memamerkan perut yang sedikit buncit. Kala lain, ia memamerkan albumnya untuk melihat koleksi foto-fotonya bersama orang-orang terkenal di negeri ini. Yang paling ia pamerkan adalah fotonya bersama Menpora Andi Alifian Mallarangeng. Foto itu adalah satu pajangan terbesar di sepedanya.

O ya, sepeda milik Solahudin berat sekali. Kira-kira seperti Honda Tiger. Semua barang keperluan petualang itu ada di sana. Ada tiga tas besar, dua persis di sisi kiri dan kanan roda depan sepeda, satu lagi di belakang jok. Ada juga accu, sumber energi untuk klakson dan lampu. Ada rangga rusa dan tanduk domba yang menghiasi bagian depan sepeda.

Selain tas, ada kotak amal di belakang jok bagi yang bersedia menyumbang. Selain itu, ada juga dua tulisan, satu mengenai profil Solahudin dan lainnya permohonan Solahudin agar ada yang bersedia menyumbang.

Kata-kata “luar biasa, hebat” tak berlahan lama bersarang di mulut saya. Mereka terbang keluar. Namun, Solahudin hanya tersenyum kecil. Entah mungkin kata-kata itu tanpa arti atau Solahudin sudah terlalu sering mendengarkan pujian seperti itu.

Di titik ini pula, saya harus mengakui koleksi pengalaman milik pria Tasik ini jauh di atas milik saya. Melakoni sebuah peluangan gila tapi juga luar biasa tanpa modal uang. Solahudin mengaku hanya bermodal nekad dan keyakinan bahwa bakal banyak orang membantu usahanya. Dan, memang Solahudin tak tampak seperti orang susah.

Solahudin saat mampir di kantor saya bekerja, Jalan Sekelimus 2- 4, Bandung. Ia jadi artis lantaran banyak yang minta foto bersama.

 

7 Comments to "Solahudin si Petualang"

  1. elnino  29 September, 2013 at 06:49

    Very inspiring… Sepertinya, minimal sekali dalam hidup, orang harus pernah melakukan sesuatu yang ‘gila’ utk membuat hidupnya lebih bermakna.

  2. Linda Cheang  28 September, 2013 at 16:15

    amat memberi inspirasi ( lihat JC, teruyata Bahasa Indonesianya nggak mendingan, hehehe) .

    satu hal amat kecil yang bisa sedikit saya banggakan, saya akhirnya sering bersepeda, sepoerti halnya Solahudin

  3. J C  27 September, 2013 at 08:25

    Sangat inspiring dan bagian yang paling menyentuh memang yang pas ketemu begal di jalan itu…mantaaappp…

  4. Dewi Aichi  27 September, 2013 at 01:37

    Salut dan mengharukan sekali, terutama bagian ini:

    ““Saya bilang tidak punya uang dan cerita kenapa saya bersepeda dengan banyak bawaan,” kata Solahudin mengenang masa itu. Kelompok itu hanya meminta doa dari sang petualang. Bukan doa mohon sukses menodong tentu saja. Melainkan mohon doa agar bisa berganti pekerjaan dengan yang lebih baik. Saya sedikit terharu dan geleng-geleng kelapa di bagian cerita ini”

  5. Mawar09  26 September, 2013 at 23:39

    Tekad yang bulat dan niat yang baik pasti akan membawa hasil. Salut dengan Solahudin.

  6. ariffani  26 September, 2013 at 19:15

    saya pernah melihat beliau di wawancara di salah satu tv swasta. saya terharu dgn kegigihan beliau dan tekatnya yg kuat, bahwa tanpa uang banyak beliau mampu berkeliling indonesia. padahal saya yg masih di bilang mampu , namun belum bisa seperti solahudin, malu rasanya jika melihat beliau.

  7. James  26 September, 2013 at 12:47

    SATOE, Petualang

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.