Nyanyi

Awet Tua

 

Yang disebut dengan istilah demam panggung itu aku sudah memilikinya sejak dulu, ketika masih seorang anak kecil. Padahal waktu itu aku juga pasti tidak merasakan apa-apa oleh karena memang aku tidak pernah dekat-dekat dengan sebuah panggung yang seperti apapun. Kerumunan orang yang ada panggungnya, pun aku hanya melihatnya baru setelah berumur 12 tahun. Tidak ada ingatan istimewa soal ini. Meskipun aku pernah berkenalan  dengan Boeng Tomo karena dia sering mengantarkan koran untuk ayahku ke rumah, tidak setiap hari, akan tetapi beberapa kali seminggu, aku juga tidak pernah mendengarkan pidatonya di depan khalayak ramai, berorasi menggebrak bersemangat melawan aggressor belanda nica.

Aku merasa tersiksa bilamana lebih dari lima orang memandangi aku, meskipun tidak ada yang salah kubuat. Umur bertambah dan pada waktu aku duduk kelas satu ESEMPE teman-temanku  sekelas terlibat dengan sebuah sandiwara yang dipanggungkan di halaman sekolah. Sebelum tau apa tugaskupun aku sudah bilang aku tidak mau muncul di dalam panggung, yang nama dan judul sandiwaranya adalah : Insan Kamil. Jadi aku memang duduk di belakang layar dan apa tugasku? Hanya memegang sebuah jam yang ada suara alarmnya. Tugasku hanya membunyikan alarm, apabila di dalam adegan akan menggambarkan ada bunyi telepon masuk. Itu saja, sederhana sekali. Yang demikian sederhanapun menyebabkan jantungku berdegup lebih keras dari biasanya. Itu adalah momen yang penting karena aku mempunyai peran sesuatu dalam bersosialisasi dengan teman-teman lain antar kelas. Mungkin hanya itu pengalaman pertamaku sampai aku selesai Esema.

Demam-Panggung

Ketika mendalami business penjualan langsung, maka otomatis aku belajar banyak mengenai ilmu menjual, dari cara menjual barang sampai asuransi dan menjual idea (ini yang paling sulit). Menjual produk berupa barang/benda adalah lebih mudah bila dibandingkan dengan menjual idea atau investasi modal dan asuransi. Di dalam ilmu pelajaran menjual diajarkan tata cara sejak mengetuk pintu sampai kekuatan menggenggam tangan ketika bersalaman dan membuka pembicaraan dan seterusnya sampai cara berkata-kata dan bersikap mengambil tempat duduk yang strategis sehingga calon pelanggan akan bisa mengerti dengan baik apa yang kita tawarkan.

Bilamana bertemu dengan seseorang yang matanya penuh sinar wibawa, dan kita tidak tahan memandang langsung ke arah matanya, diajarkan agar memandang ke arah dahinya atau ke arah tepat di antara kedua matanya.  Pembiacaraan bisa dianjurkan agar secara sepadan dan bisa serius serta mangkus (effective atau berhasil-guna). Jelasnya dalam percakapan jangan sekali-kali kita merendahkan diri dari lawan bicara. Tetapi juga menjadi pantangan keras untuk berkata-kata yang bersifat menggurui. Itu berlaku terhadap siapa pun lawan bicaranya, orang biasakah atau setingkat Gubernur bahkan para Jenderal Pitak dan para Ulama serta Pendeta sekalipun.

Ada juga kerja sukarela yang aku jalani, tentu saja tanpa gaji atau fasilitas apapun, iku tserta menjadi aktivis Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) yang memberi bantuan segala bentuk keperluan mereka yang kurang beruntung karena menderita kondisi stroke. Sempat juga aku ditunjuk menjabat menjadi salah satu Ketua dari Yayasan Stroke Indonesia untuk DKI Jakarta. Aku bukan seorang dokter syaraf meski para aktivis yang lain adalah dokter-dokter syaraf dan para physiotherapists. Saya gunakan sebaik-baiknya bila datang kesempatan seperti ini, untuk bergaul dan menggali ilmu dari kalangan lain atau umum.

Sebisanya aku terus menerobos masuk ke lingkungan para dokter dan para physiotherapist itu dalam bekerja menangani kondisi stroke. Aku satu-satunya yang bukan para professional seperti mereka itu.

Ada juga sih beberapa jenderal yang ikut aktif, karena RS Gatot Soebroto juga salah satu di mana ada Club Stroke, perkumpulan para Insan Pasca Stroke ( I.P.S.)

Begitulah aku mengisi kegiatan dan menjalani hidup setelah sekian tahun bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Ternyata semua yang ditulis tadi bisa menjadi pegangan dalam menjalani hidup manusia, di manapun dia berada. Aku juga sering mengingat hal-hal itu di dalam bergaul sehari-hari di manapun aku sedang berada. Termasuk di dalam tata cara mengatasi demam panggung yang di dunia modern disebut dengan menggunakan kata lebih keren: Stage Fright.

Di dalam upayaku mengatasi stage fright yang selalu bisa datang  kapan saja, aku sering “terselamatkan” karena mengingat hal-hal itu. Sejak beberapa tahun yang lalu, aku menjalani hidup baru tanpa kerja tetap, karena aku telah menghentikan bekerja mencari nafkah yang setiap hari, pada waktu umurku sampai di angka 60 tahun. Di kurun waktu selama 15 tahunan terakhir inilah aku sering bertemu kangen-kangenan dengan bekas teman sekolah ES ER, ES EM PE dan ES EM A. Bergaul dengan teman-teman yang hampir semuanya sudah mencapai sedikitnya umur 65 tahun, tentu mencari kegiatan yang sesuai yakni apapun yang secara fisik tidak mengganggu kemampuan. Selain bernostalgia dan melucu yang selalu menuju ke arah membuat senangnya hati, yang menonjol adalah kegiatan menyanyi. Aku tidak tertinggal dalam ikut serta dalam “penyakit menular” yang disebut dengan menyanyi itu. Ada yang bermodal hanya berani.

Itu jelas sekali suaranya tidak bagus sampai yang jelek, tak tertolong. Tidak apa-apa dan disilakan terus pamer-pameran suara yang ebret-ebret dan fals.

Karena menyanyi inilah aku bisa agak berangsur-angsur percaya diri dan sudah sanggup bernyanyi di depan 200 plus hadirin yang  umum, menyanyikan lagu-lagu Born Free (Matt Monroe) atau Let me Try Again (Frank Sinatra) atau Balada Pelaut gaya Manado. Sekarang aku bisa bilang dengan sombong sedikit serta  berani berkata: Apa sih Stage Fright itu? Ternyata stage fright itu situasional saja (sesuai suasana). Bisa saja menjadi salah tingkah meskipun sudah biasa menguasai panggung. Misalnya apabila ada yang kita segani tampak duduk di antara para hadirin. Alihkan ke arah lain pandangan mata kita, di mana terasa tidak ada beban. Perhatian, utamakan yang penting dan mutlak, yaitu menyanyilah dengan cara dan suara yang tidak dibuat-buat. Untuk bisa mencapai yang seperti itu, maka pandanglah ke arah penonton, tetapi dengan pandangan mata yang meliput daerah di atas kepala mereka. Mereka tidak akan mengetaui atau merasakan hal seperti ini.

Suara merdu atau tidak terlalu merdu juga bukan masalah utama tetapi tiap-tiap lagu sebaiknya diupayakan agar mampu dijalani saja dengan memerhatikan irama yang sesuai.

Seorang penyanyi kondang, almarhun Pranadjaja, juara beberapa kali Bintang Radio Repoeblik Indonesia, membeberkan beberapa kiat menyanyi kepadaku:

1.  Menyanyi yang benar akan mengakibatkan sakit pnggang bagian belakang, karena harus menghisap dan juga menghembuskan udara dengan menggunakan diafragma rongga perut, bukan rongga dada.

2.   Pada waktu melafalkan huruf A bukalah mulut selebar mungkin, jangan setengah- setengah. Ucapkanlah huruf-huruf M dan N seakan-akan dua kali seperti MM dan NN.

Dua hal itu telah aku pakai sebagai trick untuk menutupi kekurangan kemampuanku dalam menyanyikan lagu meski belum setaraf seorang penyanyi profesional. Meskipun demikian sebelum pertunjukan yang sesungguhnya di depan khalayak ramai, latihan dengan iringan pemusik tunggal maupun sebuah band adalah suatu hal yang mutlak perlu. Terkecuali tentu saja apabila anda memang seorang yang sudah amat paham dalam bersinergi dengan seorang pemusik atau band yang mengiringi. Di atas semua trick di atas, ternyata masih diperlukan tambahan cita rasa seni suara yang cukup tajam. Berminggu-minggu atau bulan waktu diperlukan, malah sepanjang masa dengan tekun. Tidak akan sempurna? Ah, tidak apa-apa, yang penting tidak terlalu banyak kesalahan.

Hati gembira karena telah menyanyi, adalah salah satu bentuk keluaran dari tubuh kita secara psikis dan mental, yang biasanya akan mampu menata ulang kea rah yang menjadi lebih baik, banyak hal yang memang memerlukan perbaikan bagian-bagian kehidupan.

 

Awettua  —  2013/09/26

 

7 Comments to "Nyanyi"

  1. Linda Cheang  28 September, 2013 at 10:13

    saya malah bingung, kenapa mesti mengalami demam panggung, ya? biar cuma sekali..

    sekarang, tampil di panggung? siapa takut?

  2. EA.Inakawa  28 September, 2013 at 00:06

    Siapapun pasti pada walnya selalu nervous jika berpidato ditempat yang khusus hanya saja tidak semua orang MAMPU mengendalikan dirinya menjadi tenang. Saya pernah melihat sesorang yang gemetaran karena berpidato dengan teks tanpa mimbar, kalau ada mimbar biasanya bisa menyelamatkan rasa gemetar tsb dengan memegang sisi mimbar.

    salam sehat…….

  3. probo  27 September, 2013 at 21:05

    kalau saya beraninya ngomong sama nari saja…kalau nyanyi….bakal semaput….

  4. Chandra Sasadara  27 September, 2013 at 14:37

    sebelum berlatih berbicara di depan umum, dulu saya suka membaca sajak/puisi.. namun pada saat pertama kali diminta memberikan tausiah saat walimah al-urus (kotbah nikah)…berkeringat sebab saat itu belum nikah..

  5. Handoko Widagdo  27 September, 2013 at 11:36

    Kalau saya tidak masalah bicara di depan orang banyak, soalnya orang tidak akan bisa melihat saya karena terlalu pendek.

  6. Dewi Aichi  27 September, 2013 at 09:34

    saya tetap ngga punya keberanian berbicara secara formal di depan umum, ketika semua mata seakan-akan melihat hanya kepada saya.

  7. J C  27 September, 2013 at 08:34

    Duluuu saya memang sering mengalami grogi, nervous ketika bicara di depan umum…sekarang…ayoooo saja…bicara, pidato, tanya jawab, argumentasi, debat, nyanyi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.