Rahasia

Fidelis R. Situmorang

 

Ada satu perasaan aneh yang entah apa namanya setiap kali aku melihat lukisan pohon randu yang kubuat itu. Aneh, karena ia sepertinya ingin menceritakan sesuatu. Ya, lukisan sebatang pohon randu yang menjulang tinggi di pinggir lapangan dekat rumahku itu seperti hendak menyampaikan sesuatu. Dahan-dahannya yang besar terentang menunjuk ke segala arah penjuru angin, membuatnya tampak seperti sosok yang kuat dan angkuh, tapi sekaligus juga seperti sedang dirundung sepi. Sepi? Apa sebatang pohon randu bisa merasakan sepi? Aneh. Apalagi ini hanyalah sebuah gambar. Tapi seperti itulah ia di mataku. Dan bukan hanya rasa sepi itu yang kurasakan setiap melihatnya. Ada sesuatu yang lain, yang entah apa namanya.

Sebelumnya aku tak terlalu memperhatikan pohon itu sedemikian rupa walau pun aku sering bermain di dekatnya. Bersama teman-teman, aku kerap bermain-main di lapangan tempatnya berdiri tegak. Bermain kelereng, dampu dan jaga benteng, juga bermain sepak bola di di dekatnya. Aku suka bermain sepak bola. Kami bermain dengan bertelanjang kaki. Gawang-gawang kecil kami buat dari tumpukan sendal-sendal kami. Tim yang lebih dulu bobol gawangnya harus bermain tanpa baju. Itu untuk membedakan mana teman dan lawan dalam bermain. Teman-teman yang belum mendapatkan giliran main atau yang hanya ingin menonton saja, memilih duduk-duduk bersandar di pokok randu yang besar itu.

Aku selalu memilih posisi sebagai penjaga gawang di setiap pertandingan. Ada perasaan bangga setiap kali menangkap dan menghalau bola yang mencoba menerjang gawang yang kujaga. Jatuh bangun dalam mempertahankan gawang adalah hal yang biasa. Pada akhirnya, luka dan rasa sakit tak ada artinya dibandingkan dengan tawa gembira kemenangan. Setelah puas bermain, kami melepaskan lelah duduk-duduk minum es teh manis dalam bungkus plastik yang kami beli berpatungan sambil membicarakan gol-gol yang dibuat oleh teman-teman. Kemudian bersamaan dengan berkumandangnya suara azan magrib, kami semua pulang kembali ke rumah masing-masing. Dan tinggallah pohon randu itu sendiri.

Kupandangi lagi gambar pohon randu itu. Ya, jelas sekali menyimpan rasa sunyi di setiap garis gambarnya. Gambar itu kubuat di atas atap rumahku. Melalui pohon jambu susu di halaman rumah yang beberapa dahannya menjulur sampai ke atap rumah, aku bisa memanjat dengan mudah sampai ke atap rumahku. Tentu saja itu kulakukan saat ayah dan ibu tidak berada di rumah. Awalnya aku merasa ngeri berada di atap rumah, takut jatuh. Tapi rasa penasaran membawaku sampai ke puncak atap. Dari sana aku seperti mendapatkan sesuatu yang baru. Mataku bisa melihat begitu banyak bentuk yang tidak bisa kulihat jika berada di bawah. Mataku bisa memandang sampai ke kejauhan termasuk kantor ibu dan pohon randu itu. Lalu aku melukisnya. Sekitar pukul 3 sampai jam 5 sore, aku bisa bebas melukis di atas atap rumah, dan harus segera turun dari sana sebelum ayah dan ibuku pulang dari kerja.

Ayah berkantor di daerah Pluit, agak jauh dari rumah. Sering pulang sampai malam karena lembur. Sedangkan ibu berkantor di BAKN, Cililitan, tak terlalu jauh dari rumah. Bisa dicapai dengan berjalan kaki. Kadang-kadang, sepulang sekolah, aku mampir ke kantor ibu untuk meminta tambahan uang jajan. Kantornya yang adalah gedung tinggi dapat terlihat jelas dari atap rumah. Aku melukisnya dan kutunjukan pada Martha, kakakku. “Ini kantor ibu? Ini beneran kamu yang bikin?” dia bertanya sambil tersenyum. Aku mengangguk. “Keren!” katanya. Lalu kutunjukan juga gambar pohon randu di tanah lapang itu. Martha melihatnya cukup lama, lalu dia bilang, “sepertinya dia kesepian. Gambarlah satu atau dua pohon lagi di dekatnya.” Aku mengangguk dan melihat lagi warna sepi dari pohon itu. Aku jadi bertanya dalam hati, apa mungkin sepi diriku sendirilah yang kulukis pada pohon itu.

Selain bermain sepak bola, aku lebih suka bermain sendiri. Aku bisa asyik sendiri bermain perahu-perahuan di kalenan belakang rumah, mencari ikan sepat dan ikan cere di parit komplek perwira angkatan laut di dekat rumah, atau asyik membaca komik-komik yang dibelikan ibu untukku.

Aku memiliki banyak sekali komik. Dari komik-komik Marvel sampai komik-komik Djair dan Tatang S. Saat libur kerja, ibu sering mengajakku menemaninya belanja ke proyek senen. Lalu berlanjut ke pasar inpresnya, membeli teri medan kesukaan ayah, dan tentu saja aku menggunakan kesempatan itu untuk minta dibelikan komik-komik kesukaanku. Sebelum pulang, kami selalu terlebih dulu menikmati nasi kapau di rumah makan kesukaan ibu.

Mungkin begitulah cara ayah dan ibu menukar kehadiran mereka untukku dan Martha. Yaitu dengan uang, mainan dan komik-komik. Mainan baru dan buku cerita apa saja yang aku dan Martha minta selalu dibelikan oleh ibu. Di rumah, ibu mempekerjakan seorang perempuan untuk membantu mengurus rumah dan memasak makanan untuk keluarga. Orangnya baik. Aku dan Martha memanggilnya Mbak. Ada juga seorang keponakan ibu dari kampung yang juga tinggal di rumah kami untuk mencari kerja. Tentu juga sekaligus untuk menjaga aku dan Martha.

Pada suatu hari minggu pagi yang hangat, aku ingin minta dibelikan raket Yonex pada ibu. Hari sebelumnya seorang teman meminjamkan raketnya kepadaku. Ringan sekali dan mengeluarkan bunyi ting setiap memukul kok. Aku suka dan ingin memiliki raket yang sama. Di ruang keluarga, aku lihat ayah dan ibu sedang berbicara pelan sepertinya satu pembicaraan yang serius. Wajah ayah dan ibu nampak tegang. Apa yang mereka bicarakan, tanyaku dalam hati. Ayah memegang amplop berwarna coklat berlogo dan bertuliskan Rumah Sakit UKI. Seminggu sebelumnya aku memang diajak ibu menjalani beberapa pemeriksaan di sana.

“Ibu…” panggilku memotong pembicaraan mereka. Ibu seperti terkejut mendengar suaraku. Matanya terlihat seperti mata Marta kalau ingin menangis. Kenapa ibu, tanyaku dalam hati. Aku jadi ragu untuk mengatakan maksudku. “Apa, Sayang?” jawab ibu menyambutku. Aku menatap mata ibu, ragu-ragu untuk mengatakannya. “Kenapa, Ruben,” kata ayah ganti bertanya lalu menarik pelan tanganku ke arahnya, mengusap kepalaku dan menempatkanku duduk di tengah mereka. “Aku pingin punya raket baru, Ayah… yang Yonex,” kataku pada ayah. Ayah mengangguk. “Iya, nanti kita beli ya…” jawab ayah. Ibu mengusap-usap kepalaku dan menarikku masuk ke dalam pelukannya. Ibu menangis. Aku heran, kenapa ibu menangis. “Ibu kenapa?” tanyaku memandang wajah ibu. “Nggak apa-apa, Sayang… Nanti sore kita beli ya…” jawab ibu merapatkan pelukan.

Aku rasa ayah dan ibu sedang menyimpan suatu rahasia dariku. Apa setiap orang tua memiliki banyak hal yang dirahasiakan? Hal-hal yang ingin disimpan sendiri, tak mau diceritakan dengan orang lain termasuk pada anaknya sendiri? Atau mungkin memang setiap orang memiliki rahasia, seperti juga aku dan Marta yang merahasiakan kegiatanku melukis di atas atap rumah dan bermain-main di kalenan belakang rumah. Aku jadi berpikir, apa pohon randu itu juga banyak menyimpan rahasia?

Aku rasa aku mulai merasa bosan berbaring terus di sini. Kupandangi sekali lagi gambar pohon randu itu dan meletakkannya di atas perutku. Selang-selang kecil yang menancap di lengan kananku dan yang menempel di hidungku terasa sangat mengganggu. Aku ingin duduk dan melukis sesuatu saja daripada terus menerus berbaring. Tapi sepertinya tubuhku tak lagi menuruti perintah otakku. Jadi aku cuma bisa berbaring saja. Melihat aku berusaha untuk bergerak, ibu membelai kepalaku.

Aku tak tahu kenapa aku bisa ada di sini ketika terbangun. Kata ibu aku pingsan di sekolah. Ya, aku jadi ingat lagi, hari senin itu aku bertugas membacakan janji murid pada upacara sekolah. Sebelum upacara memang aku merasakan sakit di kepala. Tapi sepertinya rasa sakit itu bisa kutahan seperti rasa sakit-rasa sakit sebelumnya yang memang sudah sering datang. Yang kuingat aku berdiri bersama teman-teman di barisan para petugas upacara. Lalu rasa sakit itu semakin kuat, tubuhku limbung dan aku tak ingat apa-apa lagi.

“Cepat sembuh ya, Ruben, biar nanti jadi duta besar,” kata ibu membelai kepalaku. Aku menjawab dengan senyuman. Ibu ikut tersenyum. Tapi matanya terlihat seperti mata Martha ketika habis menangis. Oh iya, di mana kakakku itu? Aku tak melihatnya sejak tadi. Tak lama kemudian kulihat ayah masuk dan mendekat ke arahku lalu mengusap-usap kepalaku. Di tangan kirinya ada kantung plastik yang segera diletakkan ke rak pasien. Sepertinya kantung itu berisi obat dan botol infus. “Udah bangun ya? Enak tidurnya?” tanya ayah. Aku menjawabnya dengan anggukan. Lalu ayah berbisik ke telinga ibu. Satu rahasia lagi, pikirku. Kemudian ibu bangkit berdiri mengikuti ayah, bergerak sedikit menjauh dariku. Wajah mereka terlihat cemas dan lelah. Ya, satu rahasia lagi, kataku dalam hati. Tak lama kemudian ibu kembali duduk di samping ranjangku. Kulihat ada titik air di matanya. Ayah kemudian mendekatiku, memegangi telapak tanganku.

Memandang wajah ayah yang lelah, aku jadi teringat kembali bahwa ayahlah yang pertama kali menanamkan minat menggambar kepadaku. Ayah mengajariku menggambar gunung. Dua gunung dan separuh matahari di antara keduanya. Matahari yang memiliki sepasang mata dan satu senyuman. Lalu dari tengah gunung itu ada gambar jalan memanjang yang di sebelah kanan dan kirinya ada sawah yang berbentuk kotak-kotak dan ada satu rumah berjendela kotak juga dipinggir jalan. Lalu setiap hari aku mulai menggambar gunung yang selalu sama bentuknya, matahari yang selalu sama bentuknya, sawah-sawah yang selalu sama bentuknya sampai akhirnya aku bosan dan menggambar hanya satu gunung saja bukan dua, matahari yang bulat penuh dengan pancaran sinar seperti lidah api bukan matahari separuh yang sinarnya digambarkan dengan garis-garis yang kaku menurutku, dan menggambar pantai sebagai ganti sawah. Ayah tersenyum melihat hasil gambarku yang berbeda dari yang ia ajarkan. “Bagus!” kata ayah meniru suara Pak Tino Sidin.

Ayah juga yang mengajariku membuat pesawat terbang dari kertas. “Nanti kalau kamu jadi pilot, kamu akan bisa terbang seperti burung-burung di udara,” kata ayah sambil menerbangkan pesawat kertas dengan tangannya. Tapi sejak duduk di SMP aku sudah bercita-cita jadi duta besar. Pesawat kertas yang diterbangkan ayah dengan tangannya melayang tinggi dan tersangkut di atas pohon jambu susu di halaman depan rumah. Ayah tertawa. “Hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan,” katanya, lalu membuatkan lagi beberapa pesawat kertas untukku.

Kurasakan tangan ayah semakin erat menggenggam tanganku. Ayah memandangi mataku dan kemudian melihat gambar pohon randu yang tergeletak di atas perutku. Aku ingin menceritakan padanya bahwa gambar pohon itu adalah gambar buatanku. Dan aku ingin menceritakan perasaan sunyi yang aneh setiap aku memandangi kembali gambar itu. Tapi sepertinya aku sudah sangat mengantuk lalu perlahan mataku terpejam.

 

8 Comments to "Rahasia"

  1. Fidelis R. Situmorang  17 October, 2013 at 04:16

    Terima kasih, J C, Pak EA.Inakawa, Bu Matahari, Mbak Elnino, Mbak Dewi. Senang oret-oretan ini mendapat tempat di Baltyra.

    Salam kompak selalu (kayak di radio aja ya… Hehehe)

  2. Dewi Aichi  2 October, 2013 at 08:23

    Trenyuh baca cerita ini.

  3. Matahari  29 September, 2013 at 11:43

    Eh…Elnino…kabar baik…thanks udah disapa…

  4. elnino  29 September, 2013 at 06:34

    Eh, ada Matahari, apa kaba?

  5. elnino  29 September, 2013 at 06:33

    Baca komen JC tadinya kupikir dia agak lebay
    Tapi demi membaca sendiri cerpen Fidelis, akupun disergap perasaan aneh itu. Sepi, murung, hampa meskipun masih ada kasih sayang mama papa… Ah, semoga Ruben nantinya jadi duta besar seperti cita-citanya.

  6. Matahari  28 September, 2013 at 15:51

    Tulisan bang Fidelis selalu….dalam maknanya…saya jarang membacanya sekali…sering saya ulang agar yakin bahwa yang ingin disampaikan dalam tulisan tulisan beliau…saya mengerti kemana arahnya..Tulisan yang sering minim komen…tapi kaya makna…

  7. EA.Inakawa  28 September, 2013 at 00:31

    Rahasia itu ……. sesuatu yang sahdu dan hanya Tuhan yang tau, kita kadang mengalaminya dan tidak tau kemana arahnya,selalu sepi dan sepi dalam kesendirian seperti seseorang yang ingin pergi jauh menjeput kematiannya tapi tidak seseorang pun tau maknanya, terkecuali rasa sepi itu sendiri. salam sehat

  8. J C  27 September, 2013 at 08:32

    Membaca tulisan Fidelis memang punya warna tersendiri…terkadang ada perasaan aneh menyelinap dalam hati ketika membacanya, apalagi dengan model yang seperti ini…memang mantaaappp…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.