Satu Rahim, Tiga Cinta (1)

Endah Raharjo

 

Seminggu lalu, menjelang petang, Raysa muncul di teras dituntun supir taksi. Ia lemas dan lesi. Kata supir taksi, Raysa menangis sejak dari Surabaya, sepanjang perjalanan, nyaris 8 jam.

Baru keesokan harinya, di antara rinai air mata, anakku dari suami kedua itu mau bicara. Tidak banyak, hanya intinya saja. Ia diputus Aryo, pacarnya, begitu orang tuanya tahu aku pernah bercerai tiga kali. Orang tua Aryo tak sudi bermenantukan anak janda penggemar kawin-cerai – begitu mereka menyebutku. Mereka jeri, curiga jangan-jangan Raysa mewarisi bakat ibunya. Sungguh aku tak tahu bahwa perceraian itu suatu bakat yang bisa diturunkan atau diwariskan pada anak-cucu.

three-love

Raysa dan Aryo sudah berpacaran dua tahun. Cukup lama. Kukira Aryo sudah mengenalkan Raysa pada orang tuanya. Sama sekali tak terpikir olehku kalau dosen perguruan tinggi swasta di Surabaya itu dirundung ragu tiap kali hendak mempertemukan Raysa dengan orangtuanya. Alasannya hanya satu: aku, Erlina, ibu Raysa, telah tiga kali menjanda.

“Ini bukan salah Mama. Juga bukan salah Ray,” ujar Ferina, anakku dari suami pertama. Kami berbicara lewat ponsel, membahas keputusan Raysa pulang ke Jogja, meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Sebagai apoteker, Raysa bekerja di sebuah klinik kecantikan terbesar di Surabaya. Ia mahir meracik berbagai krim perawatan kulit.

“Kebanyakan orang tua masih percaya bibit-bebet-bobot kalau milih mantu,” tambah Ferina, “makanya aku sampai sekarang sendiri, orang sudah takut duluan hanya karena aku anak janda cerai tiga kali,” dengusnya.

“Ray tidak seperti kamu, Fer,” kataku datar. Komentar sinisnya itu kuabaikan meskipun telingaku nyeri.

“Ia lemah seperti bapaknya.”

Kutarik napas mendengar rutukan Ferina. Hati Raysa memang mudah patah. Aku jadi ingat kalau aku belum menghubungi Diantoro, ayah Raysa yang kupanggil Mas Toro. Aku harus segera menyampaikan perkara ini. Ia perlu tahu kalau anaknya sudah seminggu tidak mau keluar kamar kecuali ke kamar mandi. Aku ingin ia menengok anaknya, menunjukkan perhatiannya. Keinginan itu kusampaikan pada Ferina.

“Terserah Mama. Ini bukan urusanku,” jawabnya enteng. Si lajang 31 tahun itu benar-benar titisanku. Selain mandiri, ia keras hati, penuh percaya diri, dan bicaranya blak-blakan. “Tumben Mama minta pendapatku.”

“Ini menyangkut perasaan Ray. Mama harus hati-hati, kuatir dia sakit.”

“Mungkin ini tanda-tanda Mama udah makin tua,” ledeknya.

“Kalau suatu saat kamu punya anak, kamu akan tahu.”

“Saat itu tidak akan pernah datang, Ma. Tidak kutunggu,” sergahnya.

“Jangan bicara begitu.”

Beberapa menit kemudian kami mengakhiri pembicaraan. Ponsel kudekap dengan dua tangan. Aku sebenarnya hapal, bicara dengan Ferina tidak banyak membantu. Namun aku tetap ingin membagi perasaanku dengannya, seperti biasanya bila aku punya masalah. Mungkin Ferina benar, aku menua, aku jadi lebih hati-hati dan – mungkin – bijaksana. Bulan November tahun 2012 ini usiaku genap 51 tahun. Ya. Aku pertama menikah di usia 19 tahun – masih belia – dan Ferina lahir dua bulan sebelum ulang tahunku yang ke-20.

Kutengok jam dinding di ruang makan. Pukul 10 kurang 5 menit. Sudah larut untuk menelepon Mas Toro. Istrinya marah bila ada perempuan meneleponnya di luar jam kerja. Ia juga suka mengatur segala kebutuhan suaminya, termasuk jadwal tidurnya. Mungkin itu justru yang disukai bekas suami keduaku itu: perempuan yang tunak memperhatikannya, yang tiap jam menanyakan keberadaannya lewat ponsel. Tidak seperti aku yang bahkan menjerang air untuk kopi pun tak ada waktu.

Dulu Mas Toro selalu memintaku menyeduhkan kopi dengan air yang dijerang hingga mendidih dan berbuih. Tiap pagi dan sore. Aku tak bisa menuruti kemauannya karena aku selalu berangkat kerja lebih pagi dan tiba di rumah lebih lambat darinya. Itulah awal pertengkaran kami, hanya beberapa minggu selepas bulan madu.

“Istri macam apa kamu ini? Bikin kopi saja tidak becus,” sungutnya, suatu pagi. Aku tengah raba-rubu, menyeduh kopi dengan air dari dispenser.

“Istri yang membelikanmu mobil baru,” jawabku, ringan hati.

“Jadi kamu menghitung barang-barang yang sudah kamu berikan?” Matanya hendak mencelat dari rongganya, merusak wajah tampannya.

Mungkin gurauanku kelewatan, tapi itu kenyataan. Aku membelikannya mobil baru agar ia lebih tenang bekerja. Sebagai orang yang sedang mengawali usaha jual-beli mobil bekas, Mas Toro sering kerepotan bila mobilnya laku. Setelah kubelikan, ia jadi punya dua mobil, satu untuk dijual dan satu untuk dipakai sendiri.

“Oh… aku pengusaha. Aku menghitung setiap rupiah yang keluar-masuk dompetku. Kalau tidak, aku nggak bisa menghidupi pegawaiku.”

Pertengkaran pagi itu disusul pertengkaran malam, disambung lagi keesokannya. Hal-hal kecil – seperti keliru cara menyeduh kopi, tidak menaruh kaus kaki di dalam laci, atau salah melipat celana – jadi pemicu cekcok. Buatku itu kekanak-kanakan. Lima bulan berikutnya kami pisah ranjang. Beberapa minggu menjelang ulang tahun Raysa yang pertama, di pertengahan 1986, pengadilan agama menerbitkan surat cerai kami.

Mbakyuku menudingku sebagai perempuan pongah yang tak mau melayani suami. Aku tak mengerti, mengapa aku harus melayani semua kebutuhan pribadinya setelah kunafkahi hidupnya? Bukankah istri yang hidupnya ditanggung suami wajib melayani suaminya? Mengapa tak berlaku sebaliknya?

Aku berkeras kalau aku tidak melakukan kesalahan apapun. Lagi pula apa beratnya menyeduh teh atau kopi sendiri? Apa rumitnya menyimpan kaus kaki yang habis dicuci ke dalam laci dengan tangannya sendiri? Bagiku Mas Toro lelaki manja dan lemah. Ia tak becus mengurus diri sendiri lalu menuduh istrinya tak mau melayani. Lupa bahwa sebagian besar isi rumah, juga makanan dan minuman yang tersaji di meja makan, dibeli dengan uang jerih payahku. Menurutku, itu bentuk pelayanan dan pengabdianku pada keluarga, juga pada dirinya.

Sebelum Mas Toro rajin mencercaku, aku sama sekali tak keberatan menjadi tiang penopang ekonomi keluarga. Itu sudah jadi peran utamaku sejak remaja.

Mulai SD aku sudah pintar cari uang. Selesai mengerjakan PR aku akan sibuk membuat kartu-kartu bergambar lukisanku sendiri, dengan cat air, tinta, dan pastel. Pesanan dengan ucapan dan gambar khusus, harganya lebih mahal. Menginjak SMP usahaku berkembang, aku juga membuat kotak, tabung, kantung penyimpan pernak-pernik, dan wadah kue. Aku tak lagi minta uang jajan, Bapak dan Ibu senang.

Menjelang ujian SMP, Bapak meninggal karena sakit diabetes. Uang pensiun janda yang diterima Ibu cupet, tak cukup untuk hidup berempat: Ibu, mbakyuku, aku, dan adik lelakiku. Kegiatanku yang awalnya sekedar mencari uang saku tiba-tiba harus bisa untuk menghidupi keluarga. Dan ternyata aku mampu. Pengalaman menggendong keluarga sejak remaja itu serupa cemeti yang melecutku, si kuda beban, menjadikanku kuat, cepat, dan sigap.

Kala perceraian kedua terjadi usiaku 25 tahun. Usahaku di bidang desain interior mulai berkembang. Kini aku mempekerjakan 70 pegawai dan punya kantor cabang di Denpasar. Ferina kupasrahi semua urusan di kantor cabang itu. Ia sama gigih dengan ibunya. Tiga tahun terakhir ini ia sepenuhnya mandiri.

Para lelaki hanya melihat penampilanku dan – mungkin – keberhasilan bisnisku. Mereka tak menyana, di dalam tubuh lampai dan wajah manisku tersimpan karakter maskulin: kuat, teguh, kukuh. Tiga suamiku gagal mengimbangi kekuatanku. Hubungan kami jadi berat sebelah, condong ke arahku. Mereka tak bisa menerima kenyataan itu. Dengan gobar hati, mereka kulepas pergi.

Namun jangan salah. Aku perempuan setia. Bila sudah menjalin hubungan dengan lelaki, aku tidak tolah-toleh lagi. Hubunganku dengan tiga suamiku terjalin satu persatu, tak ada yang tumpang-tindih, semua berawal baik meskipun berlangsung singkat dan berakhir pilu. Kala itu aku masih muda dan praktis; bila sudah saling cinta, sesegera mungkin menikah tidak masalah.

Lamunanku terhenti oleh dentang lonceng jam dinding. Tepat pukul 10. Kuketuk pintu kamar Raysa. Tak ada jawaban. Mungkin anak keduaku itu tertidur di atas bantal yang basah oleh air mata, seperti enam malam sebelumnya. Ia belum makan malam, hanya minum segelas coklat panas.

“Ray,” kuketuk pintu lagi. Sepi. “Ray … masih ada sup kacang merah. Kalau kamu lapar bisa Mama panaskan.”

Pintu tidak dikunci. Pelan-pelan kubuka. Lampu kamar tidak dipadamkan. Anak gadisku itu tidur miring, membelakangi pintu. Kulihat sebuah botol – seperti botol obat batuk – tergeletak di samping bantal, di belakang kepalanya. Tutup botol itu terbuka, ada sedikit tetesan noda hitam di sarung bantal. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang salah. Suasana kamar begitu nyenyat, nyaris mati. Aku melompat ke tempat tidur.

“Ray …,” kuguncang tubuhnya. “Ray!” suaraku meninggi, kuguncang tubuhnya lebih keras. Tangannya dingin, leher jenjangnya terkulai, wajahnya pucat. Jeritanku mengoyak malam. Rumahku seolah goncang. Bang Daud, supirku, dan Yu Nik, pembantuku, muncul di pintu kamar. Mata mereka mencelang.

*****

 

19 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (1)"

  1. elnino  27 September, 2013 at 18:44

    Hahaha..sori, silap mata. Udah jelas ada tulisan (1)
    Pantes kok rasane ngganjel

  2. Endah Raharjo  27 September, 2013 at 16:05

    @Chandra: waaaah… banyak virus cinta kayaknya, bertebaran dr pacaran sampai perceraian
    @Elnino: ini cerber, bukan cerpen. Itu baru bagian 1 kan

  3. elnino  27 September, 2013 at 15:54

    Di pernikahan ke-3, si tokoh gak punya anak mbak? Menggambarkan dramatisnya kehidupan dg 3x perceraian dalam sebuah cerpen memang tidak gampang ya, kesannya diburu2 harus cepat selesai

  4. Chandra Sasadara  27 September, 2013 at 14:49

    waahhhh.. bisa gayeng ni di Baltyra..
    omong2 soal bakat yg “diturunkan”, selain kawin-cerai.. apakah kebiasaan “putus nyambung dg pacar” juga bakat turunan??

  5. Endah Raharjo  27 September, 2013 at 12:33

    Mawar: heheheheeee…. jangan2 cerai itu mengandung virus, bs menular dan ditularkan. Kira-kira obatnya apa, ya

  6. Mawar09  27 September, 2013 at 11:17

    Endah : wah….. asyik nih ada serial baru. Kalau pendapat saya sih, perceraian itu ngga akan menular! pandangan orang kan lain-lain, lagi pula mereka kan tidak tahu pokok pangkal masalahnya apa, yg bisa cuma menilai saja. Para suami kalau ngga mau hidup dari penghasilan istri, ya harus bekerja lebih giat lagi supaya bisa menopang keluarga. Memang banyak suami yg minta dilayani istri, tapi kan bisa bicara dgn baik, lagian sudah tahu istrinya wanita karir yg selagi muda harus menghidupi keluarganya. Mestinya kalau week end masuk dapur berdua dan tunjukkan cara seduh kopi yg di inginkan, kan beres! he…he… Ini cuma pendapat saya saja loh, bukan untuk berdebat dengan siapapun.

  7. Endah Raharjo  27 September, 2013 at 10:27

    Haiii… terima kasih banyak Aji dkk di Baltyra, mengijinkan sy nulis lagi di sini.
    Ini cerber yang gagal dalam lomba Femina tahun 2012/2013. Mungkin ada yg bisa dipelajari kekurangannya: premisnya, temanya, plotnya, karakter2nya, settingnya… atau apa saja.
    @Linda: Karakter Ferina ini diilhami oleh seorang teman, yang hingga kini memang sendiri. Saya hadirkan dlm cerita dgn tiga suami hahahaaaa…
    @James: naaaah… udah mulaiiiii…. hihihihiiii

  8. James  27 September, 2013 at 09:38

    maka sebaiknyalah suatu perceraian itu dipikirkan dan dipertimbangkan secara masak-masaok sebelum melaksanakannya, karena memang sebenarnyalah perceraian itu menular ke anak sendiri dengan kata lain turunan, percaya atau tidak akan tetapi banyak sekali kenyataannya

  9. Linda Cheang  27 September, 2013 at 08:40

    Perempuan seperti Mamanya Ferina mending nggak usah nikah aja… amat jarang ada lelaki yang mau punya istri maskulin apalagi bikinkan kopi aja nggak mau?

  10. J C  27 September, 2013 at 08:33

    Asik, asik, asik, serial baru…judulnya lumayan ‘nendang’ dan ‘provokatif’ (kok jadi ingat Kang Anoew baca judul ini )

    Pembukaannya sudah menggigit ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.