Tiga Sahabat (21): Mereka Pergi

Wesiati Setyaningsih

 

Tidak seperti biasanya, hari ini bangku Lukito kosong. Juwandi dan Aji ingin tahu ke mana gerangan Lukito, tapi tidak ada yang tahu. Sms dari Juwandi tidak dijawab.

“Ke mana sih nih anak?” keluh Aji.

Juwandi juga gelisah sepanjang pelajaran. Syukurlah ketika pelajaran usai dan mereka sedang akan keluar dari kelas, Juwandi menerima sms dari Lukito.

“Dia nyuruh kita ke warung Tante Lani.”

Aji heran. “Ngapain sih? Perasaanku jadi enggak enak.”

“Kita langsung ke sana aja.”

Aji dan Juwandi bergegas ke tempat parkir dan melarikan Aji melarikan motornya ke warung kweetiau Tante Lani. Di sana Lukito sudah menunggu bersama Tante Lani. Begitu mereka datang Tante Lani mempersilakan mereka duduk dan dia pergi.

“Kenapa nggak masuk hari ini, Luk?” Juwandi tak sabar lagi.

Lukito tersenyum penuh arti seperti menyembunyikan sesuatu.

“Duduk dulu,” katanya. “Mau dibikinkan kweetiau?”

Aji menggeleng. Juwandi, tidak seperti biasanya, ikut menggeleng. Mereka sedang tidak tertarik untuk makan.

“Aku mau pindah sekolah,” kata Lukito.

“Hah? Ke mana?” seru Juwandi.

“Ke Semarang. Mau balik lagi.”

“Kenapa?” Aji yang bertanya.

“Mamaku mau aku pulang lagi. Sekarang pekerjaan Mama sudah mapan. Setidaknya bisa untuk menghidupi aku dan Mama sendiri, juga untuk urusan sekolah. Urusan keuangan sudah beres.”

Juwandi memandang Aji. Aji menunduk berusaha menyembunyikan hatinya.

“Kemarin Iyem. Sekarang kamu.”

“Mbak Iyem mau pulang?” Lukito ikut kaget.

Aji mengangguk lesu.

Juwandi dan Lukito saling berpandangan dengan tatapan menyesal.            Mereka sedih karena ramalan orang pintar yang mereka tanyai kemarin ternyata berbeda dengan kenyataan yang sekarang sedang terjadi.

“Kamu memang teman baru Luk. Baru satu semester. Tapi entah kenapa aku sedih berpisah dengan kamu.” Juwandi menunduk.

“Aku pikir kalian tidak akan terpengaruh dengan kepergianku,” kata Lukito.

“Bisa-bisanya kamu berpikir begitu,” keluh Aji.

“Kamu memang.. mmm..” Aji mencari kata yang tepat.

“Wagu?” tanya Lukito.

“Wagu itu apa?”

“Wagu itu, aneh..lucu..juga enggak biasa. Semacam itulah.”

“Nah, itu.” Aji menunjuk ke arah Lukito. “Wagu!”

Aji dan Juwandi tertawa. Lukito ikut terkekeh.

“Yang wagu itu yang ngangenin, kok,” kata Lukito.

“Memang,” kata Juwandi.

Aji mengangguk mengiyakan.

“Kapan kamu berangkat?” tanya Juwandi.

“Besok aku ke sekolah dulu, minta surat-surat. Besoknya ke Semarang cari sekolah. Pengenku besok kalo sudah dapat sekolah di Semarang, hari Minggu aku ke rumah Aji. Boleh Ji? Aku mau pamitan.”

Aji mengangguk sambil menelan ludah. Tampak dia menahan kesedihannya. Juwandi mengulurkan tangannya dan berdiri. Lukito menyambut tangan Juwandi dan menggenggamnya erat lalu menarik Juwandi ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan lama. Dari jauh Tante Lani melihat anak-anak itu sambil mengusap matanya yang basah.

Lukito melepaskan pelukannya pada Juwandi setelah menepuk-nepuk punggungnya. Juwandi melepaskan diri sambil mengusap sudut matanya. Giliran Aji memeluk Lukito erat.

“Kapanpun kamu mau, kamu bisa main ke rumahku Luk. The Lucky Luke.” Aji menepuk punggung Lukito.

Lukito tertawa. Dia melepaskan pelukan dan menatap Aji.

“Kalian tetap sahabatku. Meski aku nanti pindah. Pengalamanku sama kalian benar-benar memperkaya hidupku.”

Juwandi berdiri dan memeluk keduanya. Dari jauh Tante Lani menatap ketiganya dan tersenyum seraya menyusut sudut matanya. Dia melangkah mendekati mereka.

“Pokoknya, kalo pengen kweetiau mampir aja! Buat kalian gratis, wis. Ndak bayar. Kalo bawa teman, temannya yang bayar. Kalian gratis.”

Ketiganya melepas pelukan dan tertawa.

***

Pulang dari rumah Tante Lani, Aji mendapati Iyem sudah duduk di ruang tamu bersama Pak  Handoko. Sebuah tas besar diletakkan di lantai dan tas tenteng di pangkuannya. Mereka sedang berbincang-bincang. Pembicaraan segera terhenti ketika Aji masuk rumah.

“Eh, Mas Aji dari mana saja?” Iyem langsung menyambut.

“Dari rumah Tantenya Lukito. Lukito pamitan mau balik ke Semarang lagi.” Wajah Aji tampak seperti orang linglung.

“Untung kamu pulang duluan. Ini Iyem sudah mau pulang travelnya bentar lagi datang” kata Pak Handoko.

Baru saja Pak Handoko selesai bicara, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Iyem melongok yang lain ikut berdiri. Iyem bergegas ke luar dan mendapati mobil travel yang menjemputnya sudah sampai. Segera dia kembali ke ruang tamu.

“Itu travel yang jemput Iyem sudah datang, Iyem pamit dulu ya?” kata Iyem lalu menyalami tangan Pak Handoko dan menciumnya.

Lalu Iyem menyalami Aji. Tanpa diduga Aji segera memeluk Iyem. Iyem yang tidak siap gelagapan.

“Aih, Mas Aji kenapa? Nggak usah sedih. Nanti ada pengganti Iyem kok. Semoga minggu depan sudah dapat nanti Iyem antar ke sini. Sabar ya?”

Aji melepaskan pelukannya dan tersenyum terpaksa.

“Hati-hati ya Yem.”

Iyem mengangguk. Lalu dia beralih ke Sekar yang berdiri di pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah.

“Mbak Sekar, yang rajin ya?”

Sekar cemberut. Lalu tiba-tiba dia menangis.

“Iyem…”

“Mbak Sekar, nggak usah nangis,” Iyem memeluk Sekar. “Kalo Mbak Sekar nangis nanti saya ikut nangis. Sudah…”

Mereka berdua malah bertangisan. Sopir travel berdiri di ambang pintu dan bertanya apakah ada bawaan yang akan dimasukkan bagasi. Iyem segera melepas pelukan Sekar dan menyerahkan tas besarnya. Sekali lagi Iyem menatap Aji, Pak Handoko dan Sekar yang masih sesenggukan.

“Iyem pamit.”

Aji, Pak Handoko dan Sekar mengikuti Iyem sampai pintu gerbang dan tetap di sana sampai mobil travel yang ditumpangi Iyem menghilang di ujung jalan. Setelah itu mereka masuk rumah.

“Nanti makan di luar, yuk,” kata Pak Handoko pada kedua anaknya yang murung.

Tak tega dia melihat kedua anak itu murung sepeninggal Iyem.

“Iyem nggak masak dulu tadi?” tanya Sekar.

“Kayanya sih sempat masak. Tapi apa salahnya kita makan di luar. Masakan Iyem masukkan kulkas aja. Siapa tahu bisa dipanasi untuk sarapan besok.”

“Asiik.”

Sekar segera berlari ke dalam dan memasukkan masakan yang sudah disediakan Iyem untuk makan malam di meja makan. Meski akan pergi Iyem masih sempat memikirkan makan malam keluarga Handoko. Sekar sempat tergugu melihat goreng ikan gurame dan sayur lodeh di meja. Bahkan Iyem masak lodeh, bukan sayur asem karena lodeh bisa dihangatkan lagi besoknya.

Ketika berbalik Sekar menyempatkan diri menengok kamar Iyem. Dia lihat tempat tidur yang biasa ditiduri Iyem. Tempat tidur kapuk yang sudah kempes. Betapa berbeda dengan kasur yang dipakai oleh dia, Aji dan Pak Handoko. Lemari kayu bekas dengan cat yang sudah mengelupas di sana sini.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada dus-dus di lantai milik Iyem.

“Lah, kok ini masih ada dus-dus punya Iyem, sih?” Sekar menggumam.

Dengan menggaruk-garuk kepala bingung dia naik ke kamarnya untuk ganti baju. Masalah dus Iyem yang tertinggal sudah terlupakan berganti dengan kegembiraan akan makan di luar.

Setelah meja bersih Sekar berlari ke kamarnya dan berganti baju sementara Aji menunggu di luar dan Pak Handoko mengeluarkan mobil yang hanya dipakai kalau dia sedang di rumah.

Titip-rindu-buat-ayah

Malam itu Pak Handoko dan kedua anaknya memilih tempat makan yang mereka inginkan. Sekar ingin ke restoran fast food tapi Aji tidak mau. Pak Han kemudian mengusulkan restoran yang punya menu ikan favorit mereka bertiga. Begitu sampai di sana, hampir semua tempat duduk terisi. Beruntung mereka masih menemukan tempat yang lega.

“Ini dulu tempat favorit mama kamu,” kata Pak Handoko begitu mereka mendapatkan tempat.

Pelayan datang dan menyerahkan daftar menu.

“Kung Pao ikannya enak. Ada juga ca kangkung. Kalian mau apa?”

Sekar sibuk memilih makanan yang dia inginkan sementara Aji memutuskan mengikuti Papanya dan memesan jus alpukat.

“Aku mau mie bakso, deh,” kata Sekar akhirnya.

“Adduh. Selera kamu enggak berubah juga. Jauh-jauh ke sini pesan menu kaya menu kantin sekolah.” Aji gemas pada Sekar.

Sekar menjulurkan lidah, “Biarin. Yang penting aku suka.”

Aji mencibir. “Dasar selera rendah.”

“Apaan, sih?” Sekar sudah mengangkat tangannya siap memukul kakaknya.

“Ssh… Sudah, “ sergah Pak Han berbisik. “Enggak malu diliatin orang mau berkelahi di tempat ramai begini?”

Sekar menurunkan tangannya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Aji melengos. Pelayan datang mencatat pesanan selengkapnya sebelum masuk lagi untuk menyerahkan pesanan pada koki.

“Ngomong-ngomong Papa enggak kangen sama Mama?” tanya Aji.

Pak Handoko tersenyum. “Kangen, lah. Tapi mau apa? Cuma bisa kangen saja.”

“Itu makanya Papa nggak mau nikah lagi?” tanya Sekar.

“Bukan. Papa cuma mikir, kalo Papa nikah lagi juga buat apa? Papa jarang di rumah. Masak Papa nikah cuma buat nyari baby sitter? Kasian istri Papa nanti. Punya istri kan juga butuh ditunggui. Malah ribet. Begini aja, lah.”

“Kenapa enggak sama Iyem aja?” tanya Sekar lugu.

Aji kaget mendengar pertanyaan adiknya. Tapi dia menoleh ke arah Papanya ikut menanti jawaban.

“Iyem?” Pak Handoko balik bertanya.

Tampak lelaki setengah baya itu bingung harus menjawab apa.

“Kenapa dengan Iyem? Apa Papa keliatan jatuh cinta sama Iyem? Enggak kan?”

“Memang enggak. Aku yang jatuh cinta sama Iyem,” kata Sekar. “Dia baik, perhatian dan meski dari desa dia enggak norak meski kadang agak bodoh.”

“Hush!” Aji memprotes kata adiknya. “Bodoh itu tidak pantas buat Iyem. Dia lugu.”

“Iya, maaf. Habis dia suka tanya-tanya yang mestinya dia udah tau.” Sekar membela diri.

“Itu bukan karena dia bodoh. Itu karena dia tidak tahu dan dia tidak malu bertanya. Ya dijawab aja.” Aji menjelaskan panjang lebar.

“Iya, iya. Maaf.” Sekar berharap kakaknya berhenti menyalahkan dia atas kata ‘bodoh’ yang terlanjur kelepasan. “Balik ke Papa, aja. Kenapa enggak sama Iyem aja?”

“Iyem itu.. “ Pak Handoko berpikir keras. “Enggak ada dalam pertimbangan Papa. Dia seperti kolega Papa. Gitu aja. Nggak ada perasaan apa-apa.”

“Meski itu demi kami juga?” tanya Aji.

“Demi kalian? Maksudnya apa, ini?” Pak Handoko bingung Aji ikut mendorong dia menikahi Iyem.

“Kami suka sama Iyem.” Tampak mata Aji yang murung. “Kalo Papa enggak nikahi Iyem ya begini ini jadinya. Dia pergi dari rumah.”

“Lah, masak Papa harus menikahi Iyem biar dia tetap tinggal di rumah kita? Kalian ini payah. Menikah itu soal hati, bukan masalah menahan seseorang agar tetap tinggal di rumah kita.” Pak Handoko menggeleng-geleng tak mengerti dengan jalan pikiran kedua anaknya.

Aji dan Sekar berpandangan lalu mengangkat bahu.

“Ah, Papa yang enggak ngerti. Ya kak?” Sekar menatap kakaknya.

Aji mengangguk. “Papa yang payah.”

“Wow. Apa ini? Tiba-tiba kalian kompak sekali. Wah, kalo begini caranya mendingan kalian bertengkar aja, deh.”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Tiga Sahabat (21): Mereka Pergi"

  1. wesiati  1 October, 2013 at 22:50

    haha… JC gaya…

  2. J C  1 October, 2013 at 22:38

    Membaca serial ini, membuat perasaan teraduk-aduk…

  3. Chandra Sasadara  1 October, 2013 at 20:54

    TOP.. semakin seru (Y)

  4. wesiati  1 October, 2013 at 19:39

    heheh…. tulisan saya lumayan juga ya?

  5. Dewi Aichi  1 October, 2013 at 18:20

    wahaaaaaaa…..mengharukan kisah ini…lanjutannya segera ya Yem….

  6. Linda Cheang  30 September, 2013 at 13:37

    ayo, berantem

  7. Hennie Triana Oberst  30 September, 2013 at 13:31

    Sedih, lucu dan haru. Penasaran menunggu lanjutannya.

  8. [email protected]  30 September, 2013 at 13:27

    WOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOH…. saya pindah ke semarang….
    ihiks… sedih…. tidak bisa berjumpa dengan adiknya aji….
    hiks…
    hiks…

    ahh… kwetiau….. tante lani….

    hmmm….
    demi tahu pong dan bandeng…. tak apalah….

  9. elnino  30 September, 2013 at 13:13

    Penasaran kisah selanjutnya.. Siapa kah pengganti Iyem?

  10. James  30 September, 2013 at 12:08

    SATOE, Mereka Pergi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.